
"Gimana kabar Bunda, Ayah?" Husein menatap bergantian ke-dua orang-tuanya.
"Seperti yang kamu lihat Nak, Bunda sehat begitupun dengan Ayah," jawab Fatimah mewakilkan suaminya.
"Kenapa tidak memberi kabar jika ingin pulang Bunda?"
"Ya, biar jadi kejutan untuk kamu dan istri kamu, Nak. Kalau kami beritahu itu bukan lagi kejutan namanya." Fatimah menggeleng mendengar ucapan putranya.
"Berapa hari Bunda sama Ayah di sini?"
"Kenaka kamu nanyanya gitu Sein? Padahal kami baru tiba loh?" Fatimah tidak suka dengan ucapan putranya. Seakan-akan kedatangan mereka kesini menganggu waktu putranya itu. Padahal menantunya saja sangat senang dengan kehadiran mereka.
"Bukan begitu Bun, aku hanya tanya saja. Berapa lama pun Bunda di sini ya silahkan," jawab Husein mengaruk tengkuknya.
"Mungkin satu minggu atau bahkan bisa lebih. Oh ya Bunda mau nanya, kamu tidak ada lagi berhubungan dengan kekasih kamu itu kan?" Fatimah menatap putranya dengan pandangan penyelidik. Sungguh dia tidak rela jika putranya itu masih saja berhubungan dengan wanita yang sering masuk club.
Fatimah pernah beberapa kali melihat Sinta memasuki club malam. Bahkan Fatimah juga pernah melihat wanita itu mabuk-mabukan keluar dari club tersebut.
"Emm, tidak kok Bun," jawab Husein bohong. Yang benar saja dia akan jujur, yang ada dia akan di coret dari harta warisan. Mana sanggup dirinya hidup jadi gelandangan di tengah jalan.
"Syukurlah kalau gitu Sein. Ingat apa yang pernah Bunda dan Ayah katakan sama kamu. Jika itu terjadi siap-siap---"
"Iya Bun, aku paham dan masih ingat kata-kata Bunda sama Ayah waktu itu. Jangan di ungkit lagi." Malas mendengar ucapan Fatima yang membuat hati Husein bersorak tak terima.
"Bunda sama Ayah tidak akan tidur di kamar tamu Sein, melainkan tidur di lantai dua tepat di samping kamar kamu." ujar Fatimah memberitahu putranya.
Deg!!!!
__ADS_1
Jantung Husein maupun Aida tengah berdetak dengan cepat. Semua pakaian Aida berada pada kamar itu. Jika saja Fatima langsung ke atas tamat riwayat Husein saat ini juga. Mata tegas itu menatap Aida yang masih duduk di sebrangnya. Memberikan kode kepada istrinya itu agar lekas pergi ke kamarnya dan memindahkan semua pakaiannya ke kamar miliknya.
"Bun, Yah, Mas, aku ke atas dulu ya. Soalnya kamar itu belum di bersihkan, karena bunda dan Ayah mau menggunakan kamar itu malam ini." pamit Aida yang mengerti dengan tatapan suaminya.
"Biar Bunda bantu Ai," Fatima ikut berdiri hendak mengikuti Aida.
"Tidak usah Bunda biar aku sendiri saja. Lagian tidak akan banyak yang akan di bersihkan,"
"Baiklah, Nak," Fatimah kembali mendudukkan tubuhnya di tempat semula. Membiarkan menantunya untuk membersihkan kamar itu.
Aida membereskan semua pakaiannya ke dalam koper dengan segera. Takut jika sewaktu-waktu ibu mertuanya itu menyusul dirinya ke kamar. Maka dari itu Aida lebih memilih memasukkan pakaian itu ke dalam koper dari pada membawa pakaian itu beberapa kali ke kamar Husein.
Dirasa sudah tidak ada lagi yang tertinggal dengan segera Aida memasuki kamar Husein. Bau maskulin khas suaminya itu menyeruak masuk kedalam indra penciuman Aida. Sangat menenangkan serta menyejukkan, itulah yang dirasakan Aida.
Puas mencium bau khas suaminya, Aida kembali ke kamar semula. Mengganti sprey dengan yang baru. Tak lupa Aida menganti pengharum pada kamar itu agar mertuanya tidak curiga jika kamar itu di huni dirinya karena baunya khas diri Aida.
"Sudah beres semua kok Mas. Apa masih ada kemari yang masih kosong untuk meletakkan baju-baju aku untuk sementara Mas?" Aida menatap suaminya itu. Tak mungkin semua pakaiannya akan berada di dalam koper itu untuk beberapa hari kedepan. Dia akan sedikit kesusahan untuk mengambilnya nanti.
"Di pojok kiri itu masih ada satu yang kosong. Kau bisa meletakkan baju-baju itu untuk sementara. Saya tidak mau jika suatu waktu Bunda masuk ke kamar ini dan melihat semua pakaianmu di dalam koper. Yang ada nanti saya yang akan kena marah."
"Iya Mas aku paham." Aida membawa kopernya menuju lemari yang sudah di beritahu Husein. Menyusun dengan tapi pakaiannya di dalam kemari itu.
"Kau jangan pernah ngadu sama Bunda atas perlakuan saya selam ini sama kamu. Ingat jika itu terjadi apa saja akan bisa saya lakukan kepadamu!" Husein menatap Aida dengan tajam. Husein tidak mau jika hal buruk terjadi kepadanya. Apalagi akan menyangkut hubungan dengan Sinta.
"Tidak kamu beritahu pun aku sudah paham kok Mas. Aku tidak akan mungkin mengumbar aib suamiku kepada orang lain termasuk kedua orang tuaku ataupun orang tuamu. Aib kamu juga aib aku, Mas," Aida menatap sekilas kepada suaminya. Setelahnya melanjutkan pekerjaan yang masih belum selesai.
"Bagus!! Kau nyatanya bisa di andalkan." puji Husein.
__ADS_1
****
"Bisa kita bicara Sein?"
"Bisa Yah," jawab Husein.
Kedua laki-laki berbeda generasi itu menuju taman belakang. Memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang terdapat kursi santai disana.
"Ayah mau ngomong apa?" Husein menunggu cukup lama karena Hamzah tidak membuka suaranya.
"Ayah tahu kamu tidak memperlakukan istri kamu dengan baik. Ayah tahu jika kamu masih berhubungan dengan Sinta, wanita yang tidak masuk dalam menantu idaman Ayah maupun Bunda," ucap Hamzah membuat saluran pernapasan Husein seakan terhenti. Tak menyangka jika Ayahnya itu tahu akan dirinya. Tapi dari mana? Apakah istrinya itu yang mengatakan kepada Hamzah, sang ayah?
"Kamu jangan menyalahkan istri kamu, Sein. Ayah tahu apa yang kini berada di pikiran kamu. Ini semua tidak ada hubungannya dengan Aida istri kamu. Ayah maupun Bunda tahu gimana kelakukan kekasih kamu itu di luaran sana. Jangan jadikan cinta itu untuk menutup mata kamu atas tingkahnya diluaran sana Sein. Ayah dan Bunda menikahkan kamu dengan Aida juga untuk kebaikan kamu nantinya. Ayah tidak mau kamu akan semakin terjerumus ke dalam dosa."
"Maafkan aku, Ayah tapi, aku sangat mencintai Sinta," Kata itu keluar mukus dari mulut Husein.
"Cinta? Apakah secinta itu kamu sama wanita itu Nak?" Kini Hamzah melirik ke arah putranya.
Husein mengangguk. "Iya Yah, aku sangat mencintainya."
"Apakah kamu yakin jika dia akan menjadi istri yang baik untuk kamu? Apakah kamu yakin jika dia akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak? Apakah dia sanggup mendidik anak-anak kamu dengan ilmu agama Nak?" Hamzah memborong pertanyaan itu kepada Husein. Membuat anaknya cukup terdiam.
Lidah Husein terasa kelu untuk menjawab ucapan Ayahnya. Jangankan untuk mengajarkan agama, sholat saja kekasihnya itu tidak pernah Husein lihat. Sama dengan dirinya yang sholat saja hanya saat ada ke-dua orang-tuanya.
"Kenapa diam Sein? Apakah begitu susah kamu untuk menjawab ucapan Ayah? Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Nak. Jangan sia-siakan Aida, gadis seperti itu sulit kamu dapatkan nantinya Nak. Jarang ada seorang istri yang rela melihat suaminya menggandeng kekasihnya memasukki kediamannya. Apa kamu pernah bertanya bagaimana hatinya saat kamu membawa kekasih kamu ke rumah ini Sein? Tahukan kamu jika perbuatan kamu itu sudah sama halnya kamu menzolimi istri kamu secara terang-terang."
TBC
__ADS_1