
"Nanti tolong antarkan makan siang ke kantor ya Ai?" pinta Husein saat dia sudah berada di depan pintu masuk.
"Iya Mas, kamu mau dimasakin apa nanti Mas?" tanya Aida kepada suaminya.
"Terserah saja yang penting itu masakan kamu. Asalkan tidak masakan yang tidak kamu beli saja Ai," ujar Husein membuat Aida menggeleng.
"Tidak lah Mas, lagian buat apa kedua tangan ini di kasih Allah jika tidak mau menyentuh alat-alat dapur? Masa suamiku harus makan dari masakan wanita lain? Kecuali dalam waktu terdesak itu wajar. In syaa Allah selagi aku sehat pasti aku akan masakin kamu, Mas,"
"Baiklah Ai, aku percaya sama kamu,"
Aida mencium tangan suaminya sebanyak tiga kali. Satu kali pada punggung tangan dan dua kali pada telapak tangan suami. "Mas hati-hati ngendarai mobilnya jangan terlalu ngebut. Ingat kesehatan itu nomor satu Mas," peringat Aida setelah suaminya itu mendaratkan bibirnya diatas dahi Aida.
"Iya Ai, aku pasti akan ingat pesan kamu. Ya sudah aku pergi dulu ya," pamitnya meninggalkan sang istri yang berdiri di tempat semula untuk melihat suaminya hingga mobil yang dikendarai Husein menghilang di telan gerbang rumah.
Setelahnya Aida kembali lagi ke dalam rumah. Duduk diruang tamu seperti biasanya dengan mengulang ayat-ayat al-quran yang dirinya hafal agar ayat-ayat itu tidak hilang dengan sendiri karena tidak diulang.
Sedangkan Husein kini sudah sampai ndi perusahaannya. Kaki panjang itu melangkah menuju ruangannya setelah menaiki lift khusus presdir.
"Pak di dalam ada kekasih anda," ujar Fiki saat Husein tepat berada didepan mejanya.
"Kekasih? Kekasih yang mana? Saya sudah tidak memiliki kekasih melainkan seorang istri. Ingat itu!" Husein menatap tajam sekretarisnya. Dia tidak suka kata-kata yang dikeluarkan sekretarisnya.
"Emm baiklah kalau gitu, didalam ada mantan kekasih anda, Pak," ralatnya.
__ADS_1
"Kenapa diizinkan wanita penghianat itu masuk?" tanya Husein menatap sengit wajah sekretarisnya.
"Dia memaksa Pak, kalau Bapak tidak mau tinggal usir saja." ujar Fiki santai. Lagian siapa juga yang mau wanita itu berada di kantor ini, wanita yang hanya mengejar harta dari seorang Husein. Wanita yang di cintai dengan tulus oleh bosnya malah berkhianat di belakang, sungguh hebat waktu itu mempermainkan hidup Husein.
Husein tak menanggapi ucapan Fiki melainkan pergi menuju ruangannya yang terdapat wanita penggoda di dalamnya.
"Sayang, akhirnya kamu datang. Aku sudah sejak tadi menuggu kamu di sini, Sayang," Sinta, wanita itu menghampiri Husein dan hendak menyentuh tagan kekar itu namun, dengan segera Husein menepis tangan Sinta. Rasanya dia sungguh jijik bersentuhan dengan wanita yang tak memiliki malu seperti ini.
"Ngapain lagi ke sini?" tanya Husein menatap nyalang wanita itu.
"Aku merindukan kamu Sayang, apa kamu tidak rindu sedikitpun sama diriku, Sayang?" tanyanya yang lagi-lagi hendak meraih tangan Husein. Untung saja Husein cepat tanggap sehingga tangan itu tak jadi meraih tangannya.
"Cih...! Rindu? Jangan harap saya akan merindukan wanita seperti kau!! Wanita yang layaknya seperti sa*pa*!" bentak Husein.
"Kenapa? Bukankah kau tak lebihnya seperti itu? Wanita yang dengan suka reka memeberikan kehormatannya pada laki-laki lain yang jelas bukan seorang suami? Lalu gelar seperti apa yang bagus untuk wanita seperti itu? Penghangat ranjang? Pemuas na*su? Atau ja*an*?" ujar Husein membuat raut wajah Sinta berubah merah. Merah karena menahan amarah serta malu secara bersamaan.
"Maafkan aku, Sayang, aku tahu aku salah, kemaren itu aku hanya khilaf Sayang. Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi untuk yang akan datang. Mari kita perbaiki hubungan kita, Sayang," bujuk Sinta dengan raut wajah sedih yang sangat kentara.
"Khilaf? Benarkah ada seseorang yang melakukannya berulang kali bisa di sebut khilaf? Benarkah seperti itu? Lalu apakah pendegaran saya salah jika kamu mencintai dua laki-laki sekaligus? Cihh...! Kau terlalu serakah Sinta!!" ujar Husein dengan nada menahan amarah.
Jangan tanyakan cinta itu sudah hilang, jawabannya belum. Bagaimana bisa Husein menghilang rasa cinta itu dalam sekejab. Tapi Husein sudah berjanji pada dirinya jika dirinya akan melupakan cinta itu untuk Sinta dan akan memberikan seluruh rasa cinta di hatinya untuk sang istri, Aida. Wanita yang memang pantas untuk mendapatkan segenap cintanya tanpa bisa di bagi pada wanita lain.
"Maafkan aku, Sayang, aku mengaku salah. Mari kita perbaiki hubungan kita dan aku hanya akan memilih kamu di bandingkan laki-laki kemaren Sayang. Aku janji." lirihnya penuh harap.
__ADS_1
"Perbaiki hubungan dengan wanita sepertinya kau? Ckckck saya tidak akan pernah menerima bekas orang lain! Camkan itu!!" tekan Husein membuat Sinta mematung.
"Ta-tapi Sayang, aku sanangat mencintai kamu. Aku nggak mau hubungan kita berkahir Sayang." Air mata merembes keluar dari mata Sinta. Wanita itu benar-benar menangis karena Husein menginginkan hubungan mereka kandas namun, tidak bagi dirinya. Dirinya masih sangat mencintai Husein, bagaimana bisa dia menerima keputusan laki-laki itu.
"Tidak ada tapi-tapian. Waktu itu juga saya sudah mengatakan jika hubungan kita berakhir dan sampai kapan pun hubungan kita tidak akan pernah kembali. Maka berbahagialah dengan laki-laki yang sudah kau berikan kehormatan kau itu."
"Aku tidak mau Sayang, aku hanya mau kamu, aku hanya ingin bersama kamu tanpa laki-laki lain Sayang. Aku mohon mari kita perbaiki hubungan kita seperti semula. Mari kita bentuk dan kita eratkan hubungan kita, Sayang," bujuknya yang tetap bersikeras.
"Keluarkan dari ruangan saya dengan cara baik-baik sebelum kau di seret satpam dan jangan pernah lagi menginjakkan kaki ke kantor saya sampai kapan pun. Hiduplah bahagia dengan cara kau sendiri dan jangan lagi hadir di kehidupan saya yang sudah bahagia." pinta Husein lembut.
"Aku nggak mau Sayang, aku hanya mau kamu. Hanya kamu yang aku inginkan Sayang," ucap Sinta yang tak terima dengan ucapan Husein.
"Keluar dengan baik-baik atau dengan kekerasan?!" Husein menatal tajam wanita yang tengah menangis buaya di depannya itu. Wanita yang sangat cocok menajdi pemain sinetron.
"Sayang ak---"
"Fiki!!! Masuk keruangan saya segera!!!" teriak Husin yang membuat Fiki yang berada di luar segera berlari masuk kedalam ruangan bosnya.
"Ada apa Pak?" tanya Fiki saat dirinya sudah berada di ruangan Husen.
"Usir wanita ini keluar dan jangan pernah membiarkan dia masuk lagi ke perusahaan ini." ucapnya yang di angguki Fiki. "Dan kau, jangan pernah lagi memanggil saya Sayang dari mulut kotor kau itu!!" lanjut Husein menatap Sita tajam.
Fiki membawa paksa Sinta dari ruangan Husein. Seringkali wanita itu berontak untuk dilepaskan karena tidak terima dengan ucapan Husain. Tak terima di putuskan disaat dirinya sangat mencintai laki-laki itu. Meski dia mengaku salah sudah berkhianat dalam hubungan mereka.
__ADS_1
TBC