
Husein menatap wajah istrinya yang sudah berkaca-kaca. Wanita itu dengan tegar menahan tangisnya agar tidak tumpah dari netra itu.
"Maafkan saya, saya tidak bisa memulangkan kamu kerumah orang-tuamu," jawab Husein. "tapi tolong kupakan apa yang terjadi kemaren antara kita berdua. Anggap saja itu tidak pernah terjadi" pintanya untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana bisa aku melupakan apa yang terjadi kemaren Mas, bagaimana bisa aku lupa jika kehormatan aku sudah kamu renggut, meski aku tahu kamu halal untuk itu. Tapi bisakah kamu menghilangkan memori kata-kata tentang kamu menyamakan aku dengan kekasih kamu, Mas? Bisakah kamu menghilangkan pikiran itu di kepala aku, Mas?" sakit, sangat sakit dirasakan Aida. Bagaimana cara berfikir suaminya itu sehingga dengan mudah meminta dirinya untuk melupakan sesuatu yang bahkan sampai mati tidak akan bisa Aida lupakan.
Kembali Husein terdiama. Dirinya bahkan tidak tahu apa saja yang dia katakan kepada wanita itu. Mulutnya terkunci tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan kata-kata itu dari pikiran kamu. Hanya saja saya minta tolong lupakanlah mimpi buruk yang terjadi kemaren." pintanya lagi yang tak menyerah.
"Hanya satu caranya Mas, pulangkan aku maka, mimpi buruk itu tidak akan pernah lagi aku ingat. Aku akan menganggap itu sebagai kenangan manis sebelum kita memang berpisah untuk selamanya." ujar Aida.
Husein menggeleng. "Saya tidak bisa memulangkan kamu," jawabnya.
"Kenapa? Beri aku alasan Mas, kenapa kamu tidak bisa memulangkan aku? Masalah Bunda atau Ayah? Atau masalah kedua orang-tuaku? Kamu tidak perlu memikirkan itu Mas, biarkan aku yang akan menjelaskannya nanti jika itu yang kamu takutkan. Percayalah aku tidak akan pernah memburukkan kamu, Mas. Aku akan mengatakan jika memang didalam rumah tangga kita, kita tidak cocok dan masih banyak cara lain yang bisa kita cari nantinya Mas. Bukanlah waktu di rumah ke-dua orang-tuaku juga mereka mengatakan jika mereka tidak keberatan jika kamu mengembalikan aku, Mas?"
"Maafkan saya, saya tidak bisa memulangkan kamu," Husein beranjak dari duduknya. Nasi yang tadi di ambilkan Aida tidak di sentuhnya sedikitpun.
"Kamu egois Mas, kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku!!" teriak Aida saat Husein sudah sampai di pintu dapur.
Husein dengan spontan menghentikan langkahnya. Berbalik dan menatap Aida yang masih duduk diatas kursi meja makan dengan air mata yang megalir dengan derasnya. Tampak bibir wanita itu bergetar menahan tangis yang hendak meledak.
"Iya saya memang egois, maka dari itu kamu harus mengerti dengan saya!" Setelahnya Husein meningalkan rumah menuju kantornya. Kebetulan pagi ini dia ada rapat penting dengan perusahaan kota sebelah yang bekerja sama dengan perusahaannya.
Aida menumpahkan tangisnya di atas meja dengan meletakkan kepalanya disana. Dadanya begitu sakit dengan keegoisan suaminya. Aida juga wanita biasa yang merasakan sakit sama seperti kebanyakan wanita.
"Huhhh, Allah," Aida menghapus air matanya kala menyebutkan kata Allah. Tempat dirinya banyak berkeluh kesah. Tempat dirinya menimpakan segala rasa yang dia miliki. Tempat yang membuat hatinya lebih tenang dan damai.
__ADS_1
Sedangkan Husein kini sudah sampai di kantornya. Dengan langkah lebar laki-laki itu memasuki kantornya agar lekas sampai di ruangannya.
Rapat pagi ini berjalan dengan lancar meski pikiran Husein di penuhi perkataan istrinya agar diantarkan pulang ke rumah orang-tuanya.
"Kenapa lo?" Fiki yang baru masuk keruangan bosnya dengan membawa beberapa berkas penting ditangannya, menatap laki-laki itu yang tengah memijit dahinya seperti banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya. Kadang kala Fiki memang memanggil Husein dengan kata Lo, Sein, Pak atau Bos.
Husein menjauhkan tangannya dari dahinya. "Gue mau ngomong sama lo, boleh?" tanya Husein.
"Gue semalam sudah melakukan itu sama istri gue," ujarnya mengawali ceritanya.
"Ya wajarlah lo ngelakuin itu lagian dia itu istri lo kali Sein," jawab Fiki mengatakan Husein sambil menggeleng kepala tak habis pikir.
__ADS_1
"Tapi gue minta dia pagi tadi untuk melupakan apa yang terjadi kemaren, gue nyuruh dia nganggap itu hanya sebuah mimpi buruk yang pernah terjadi. Lagian lo tahu sendiri gue kemaren itu mabuk. Jadi gue nggak ngelakuinnya dengan sadar bukan?"
Fiki langsung saja berdiri dari duduknya, menghampiri Husein yang masih setia duduk di kursi kebesarannya. Melayangkan bogeman pada wajah sahabatnya yang tidak punya hati. Husein yang tidak siap dengan serangan mendadak dari Fiki langsung saja oleng untung saja dirinya tidak jatuh dari kursi itu.
"Lo apa-apa sih Fik!!" bentak Husein tidak terima dengan tindakan sahabatnya itu.
"Lo yang apa-apaan? Setelah lo ngambil hal berharga dalam diri istri lo dan dengan seenak jidat lo minta dia buat lupain itu semua? Dengan egoisnya lo minta dia nganggep itu semua mimpi buruk? Dimana letak hati nurani lo, Sein? Dimana? Coba sekali saja lo berfikir untuk berada di posisi istri lo? Jika lo ngerasain sakit maka itu juga yang dirasain istri lo. Sumpah nggak nyangka gue punya bos serta sahabat brengsek kek lo!!" Dengan kasar Fiki melepaskan kerah baju Husein yang sudah tampak tak berbentuk.
"Lo kan tahu sendiri gue itu sedang dalam pengaruh alkohol Fik, lagian kalau gue dalam keadaan sadar gue juga nggak bakal ngelakuin itu sama dia,"
Fiki sangat geram dengan ucapannya bosnya yang tidak memilki hati. Andai saja bisa dia ingin sekali menjatuhkan bosnya itu dari sini biar terjuh bebas menuju kematian. "Sumpah lo nggak punya hati banget ya Sein? Lo nggak bersyukur memiliki istri seperti Aida. Lo dengan teganya menyia-nyiakan wanita sebaik itu, sesholehah itu. Kalau gue jadi lo, gue nggak bakalan pernah nyia-nyiain dia kek yang lo lakuin sekarang. Gue akan tetap bertahan sampai kapanpun sama dia karena, gue yakin sampai ke ujung dunia sekalipun gue ngak akan bisa nemuin wanita seperti dia. Dan lihatlah sekarang lo dengan tak punya hatinya berkata seperti itu. Mendingan lo kembaliin dia ke orang-tuanya, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri begitupun sama lo," Setelah mengatakan itu Fiki langsung saja keluar dari ruangan Husein karena, dirinya sungguh kesal dengan sahabatnya itu. Sahabatnya yang tidak memiliki hati nurani.
Sepeninggal Fiki, Husein meraup wajahnya dengan kasar. Dirinya saat ini sungguh bingung apakah yang dia lakukan itu salah atau benar. Untuk mengembalikan Aida kepada orang taunya juga Husein belum bisa. Dirinya takut jika setelah itu dirinya akan menyesal, menyesali apa yang tidak akan lagi dia dapatkan.
__ADS_1
TBC