
Aida menenteng rantang berisi makan siang untuk suaminya, Husein. Langkah kaki wanita bergamis lebar itu menuju kantor pencakar langit milik suaminya. Tanpa melapor pada receptionis Aida menuju lift para karyawan. Bukan tidak mau menaiki lift petinggi perusahaan, hanya saja Aida lebih nyaman menggunakan lift karyawan.
"Apa Mas Husein ada di dalam Mas Fiki?" Tanpa melihat ke arah Fiki, Aida menanyakan suaminya sambil menunduk seperti biasa.
Fiki yang tengah mengetik pada keyboard komputer agak tersentak kala mendengar suara Aida. Langsung saja laki-laki itu menatap istri dari bosnya itu. "Ada Bu, silahkan masuk. Pak Husein sudah menunduk anda dari tadi," jawab Fiki.
"Terima kasih Mas," Setelah tu Aida berjalan menuju ruangan suaminya.
Mengetuk pintu keca itu beberapa kali dan masuk setelah mendengar instruksi dari dalam. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Zaujan," Dengan senyum mengembang Aida memasuki ruangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Zaujati," jawab Husein waktu menghentikan pekerjaannya.
Lekas Husein berjalan menuju istrinya yang sudah lebih dulu menuju sofa untuk meletakkan rantang yang di bawanya.
"Mau makan sekarang atau gimana Zaujan?" tanya Aida setelah menyalami tangan suaminya dengan takzim.
"Emm, sekarang saja Zaujati," Aida menganggukkan kepalanya. Dengan telaten tangan lentik itu menyusun makanan yang dibawahnya di atas meja.
Husein dan Aida makan bersama di dalam satu tempat yang sama. Awalnya Aida sudah menolak karena dirinya sudah makan sebelum berangkat ke kantor Husein. Namun, Husein memaksa istrinya agar ikut kembali makan bersama dirinya.
Tak mau mendapatakan dosa, Aida memilih mengikuti apa kata suaminya. Apalagi makan berdua suami juga merupakan sunnah yang tentunya mendapatakan pahala. Siapa yang tidak ingin mendapatkan pahala dengan hal kecil seperti yang di lakukan Husein dan Aida.
"Zaujati sudah bisa sholat kah?" tanya Husein saat melihat wajah istrinya basah habis keluar dari kamar mandi. Pasalnya semalam dirinya tahu jika istrinya itu masih datang bulan.
"Sudah Zaujan. Alhamdulillah tadi setelah memasak aku melihat sudah tidak ada lagi darah makanya aku langsung mandi wajib biar bisa sholat berjamaah bersama dirimu, Zaujan," jawab Aida jujur dengan malu-malu. Meski pernikahan mereka sudah menginjak tahun ke dua, sifat malu-malu Aida masih terlihat jelas.
Sifat itu membuat Husein gemas sendiri dengan istrinya. Apalagi jika wajah itu tampak bersemu merah membuat Husein ingin sekali mengigitnya seperti apel.
"Alhamdulillah Zaujati,"
Kini Aida dan Husein sholat berjamaah di kamar khusus untuk Husein yang memang di sediakan di dalam ruang kerja Husein. Mereka sholat zuhur berjamaah dengan khusyuk
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Husein melihat ke arah kanan dan kiri untuk mengakhiri sholat zuhur mereka.
Aida menyalami tangan suaminya, mencium telapak tangan itu sedikit lama dari pada salam biasanya yang Aida lakukan ketika suaminya pergi kerja. Setelah kemudian Husein yang mencium tangan istrinya lalu pada seluruh wajah sang istri yang tetap cantik dan imut. Dan bagian terkahir Husein mendaratkan ciuman pada perut istrinya yang masih sangat rata tanpa lemak.
__ADS_1
Mengusap perut itu lembut dengan tangannya yang besar. "Semoga bulan depan kita sudah mendapatkan kabar bahagia Zaujati," ujar Husein yang masih setia pada kerut istrinya. Menciumnya beberapa kali lagi hingga Husein puas.
"Aamiin allahumma aamiin Zaujan. Semoga saja bulan depan dia sudah berada di perutku. Dan memberikan kita kabar bahagia," Aida mengusap lembut rambut hitam pekat suaminya. Harapan Aida sama dengan Husein, segera memiliki seorang anak untuk pelengkap rumah tangga mereka.
"Aamiin, Zaujati."
\*\*\*\*\*
"Ya Zaujati, kau isteriku, cintaku belahan jiwaku.
Kau istri pilihan Ayah dan Bunda yang sudah Allah tuliskan di lauhul fahfuzd," Husein melangkah mendekatinya istrinya yang tengah duduk diruang tamu. Tampak wanita itu terperanjat dengan kata-kata suaminya.
Sungguh ini perkataan pertama yang di dengar Aida selama menikah. Tak pernah sekalipun suaminya itu berkata seromantis ini kepada dirinya.
"Syukron Zaujan," Aida malu-malu mendengar ucapan suaminya.
Aida melipat al-quran yang tadi sempat dia bawa. Meletakkan kitab suci itu di atas meja lalu menatap malu-malu suaminya yang kini sudah duduk di sampingnya. Menatap dirinya dengan senyum mengembang bak senyum pepsodent.
Aida menutup majahnya karena malu atas perbuatan suamimya. Bahkan wajah itu sudah tampak merah mendekati tomat yang mau matang.
"Kenapa, hmmm? Kenapa wajahnya merah gitu Zaujati?" goda Husein melepaskan tangan istrinya dengan lembut dari wajah merah itu.
"Aku malu Zaujan," ungkapnya jujur.
"Kenapa harus malu, hmmm? Bukankah itu kata-kata yang sangat bagus?" tanya Husein di jawab anggukan dari Aida.
"Iya, tapi tetap saja aku malu Zaujan," jawab Aida lagi.
__ADS_1
"Nggak perlu malu Ya Zaujati. Bukankah ini salah satu untuk memperkuat hubungan rumah tangga kita?"
"Iya aku tahu, Zaujan. Hanya saja kamu tak biasanya begini," Jujurnya lagi.
"Hehehe, biar hubungan kita semakin erat Zaujati. Apalagi Zaujan sangat suka jika wajah Zaujati merah seperti tomat. Dan wajah Zaujati yang tampak malu-malu seperti ini." Kembali Husein mencolek wajah istrinya dengan lembut.
"Zaujati apakah kamu ingin tahu sesuatu?" tanya Husein kepada istrinya.
Aida menatap bingung suaminya. Dirinya penasaran dengan apa yang akan di katakan
Husein. "Apa Zaujan?"
"Ketika melihat senyummu, aku teringat surat al-waqiah ayat 23 yang artinya, engkau laksana mutiara yang tersimpan dengan baik," Husein menatap wajah istrinya yang semakin merah mendengar ucapannya. Sungguh gombalan Husein membuat Aida tidak kuat. Gombalan maut yang membuat hati Aida mengeluarkan bunga-bunga yang bertebaran sampai mengelitik ke urat kepala.
"Aaa Zaujan, kamu membuat jantungku berdetak kencang." Aida menutup wajahnya setelah mengatakan kalimat itu. Sungguh jantungnya berdetak dengan kencangnya. Aida tak bohong dengan itu.
"Benarkah Zaujati?" tanya Husein mendekatkan telinganya ke depan dada Aida.
Husein mengembangkan senyumnya kala mendengar dentuman keras yang berasal dari jantung istrinya. "Wahhhh, Zaujati apa yang kamu katakan itu memang benar. Aku sungguh kagum dengan jantung kamu yang begitu lincahnya berdisco," Goda Husein lagi membuat Aida benar-benar semakin deg-degan, malu, bahagia bercampur menjadi satu.
"Sudah ihh Zaujan, jangan bikin aku tambah malu gini," rajuknya membuat Husein tergelak dengan kerasanya.
"Tapi Zaujati--" Husein menghentikan ucapannya. Menelisik mimik wajah istrinya yang sudah tampak penasaran. Menatap dirinya dengan padangan mata penuh tanya dan kening yang mengernyit.
"Tapi apa Zaujan?" tanya Aida.
"Meski tatapanku padamu seperti alif lam syamsiyah yaitu samar-samar tapi, cintaku padamu seperti alif lam qomariyah berarti jelas," jawab Husein yang kembali membuat wajah istrinya semakin merona. Sungguh suaminya itu sangat pandai menggombal. Ntah dari siapa Husein belajar seperti itu sungguh Aida tidak tahu. Intinya yang dirasakan Aida saat ini hatinya bahagia, bahagia dengan kelakuan suaminya yang membuat detak jantungnya semakin menggila.
__ADS_1
TBC