
Husein pulang ke rumah dalam keadaan gontai. Pikirannya saat ini sungguh kalut memikirkan masalah rumah tangganya, belum lagi masalah kantor.
Beberapa kali Husein menarik nafasnya dengan kasar. Menetralkan pikirannya agar tetap baik-baik saja. Mobil yang membawa Husein akhirnya sampai pada kediamannya bersama sang istri yang jelas tak dirinya anggap.
Langkah kaki Husein membawa dirinya ke dalam rumah. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Aida yang terbuka sebagian. Tampak wanita itu tengan berdo'a pada sang kuasa. Menengadahkan tangannya mengadukan segala sesuatu yang di rasakan wanita itu.
"Ya Allah, Kau yang maha mendengar lagi maha melihat. Buatlah hati hamba ikhlas ya Allah. Berilah hamba ketabahan dalam menjalani rumah tangga ini ya Allah. Ya Allah, bukalah pintu hati suami hamba agar dia bisa menerima kehadiran hamba ya Allah. Ya Allah ikhlaskanlah hati suami hamba untuk menerima setiap takdir yang engkau berikan kepadanya ya Allah. Aamiin," Husein mematung berdiri di depan kamar Aida. Itulah sepenggal do'a yang di dengar Husein yang di ucapkan mulut istrinya kepada sang Pencipta. Tak ada kata-kata jelek yang di adukan istrinya kepada Allah melainkan kata-kata yang amat baik bahkan membuat Husein tersentuh.
Melihat Aida yang berdiri membuat Husein terkejut. Langsung saja Husein melangkah dengan terburu-buru menuju kamarnya. Takut ketahuan oleh istrinya itu.
Sedangkan di dalam kamarnya Aida tidak langsung membuka mukenah yang dia pakai. Seperti kebiasaannya wanita itu akan membaca beberapa ayat al-Quran terlebih dahulu.
Setelahnya Aida langsung menuju dapur untuk memasak makan malam. Serapuh atau sehancur apapun Aida, dirinya tidak akan mungkin melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
****
Setelah sholat magrib Aida dan Husein sudah duduk diatas kursi meja makan. seperti biasa Aida melayani suaminya dengan penuh senyum. Seperti tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Seolah kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi atau lebih tepatnya mereka berusaha untuk menghilangkan sejenak.
Husein menikmati layanan yang djberikan istrinya. Tak ada cela bagi seorang Aida yang bisa Husein lihat. Wanita itu sangat telaten dalam melayani dirinya. Bahkan dicari pun tidak ada kelihatan celah kesalahan istrinya itu. Sanggupkah Husein melepaskan istri seperti Aida? Sanggupkah Husein tanpa istrinya itu? Bisakah Husein mencari istri seperti Aida? Pikiran Husein benar-benar tengah plin-plan.
Ucapan Fiki di kantor tadi jelas terekam di dalam kepala Husein. sungguh kata-kata itu bagaikan kaset rusak yang terus di putar tanpa henti.
Tanpa banyak kata Husein memakan makan malamnya. Husein tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi lantaran adu mulut antara dirinya dan juga Aida.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Husein saat mereka telah selesai makan malam.
"Bailah Mas, kamu duluan saja keruang tamu Mas. Aku mau beresin meja makan dulu," pinta Aida yang di angguki Husein.
Dengan segera wanita itu membereskan meja makan. Melap meja itu dengan kain basah agar tidak meninggalkan jejak kotor pada meja kayu itu.
"Kamu mau ngomong apa Mas?" tanya Aida saat dirinya sudah duduk tepat di depan laki-laki itu.
__ADS_1
"Mari kita mulai hidup yang baru dengan kebahagiaan," ucap Husein menatap istrinya.
"Maksud kamu, Mas? Aku benar-benar nggak ngerti Mas," ucap Aida yang memang bingung dengan apa yang dikatakan suaminya. Ntah itu hidup yang baru dalam rumah tangga mereka atau malah hidup dengan mencari kebahagiaan masing-masing yang artinya mereka akan berpisah.
"Mari kita mulai rumah tangga kita dari awal. Mari kita bentuk keluarga sakinah , mawaddah, warrahmah," ucap Husein yang masih setia menatap istrinya.
Husein sudah memikirkan pilihannya dengan matang. Husein memilih untuk memperbaiki rumah tangganya yang hampir di ujung tanduk. Apa yang dikatakan Fiki benar, dirinya memang bodoh, karena hampir saja melepaskan wanita itu. Wanita yang tidak akan bisa Husein temui meski dirinya sudah mencari ke ujung dunia. Ibaratkan membuang berlian demi seonggok pasir.
Mata Aida berbinar mendengar ucapan suaminya. sungguh ucapan ini yang sangat di sukai Aida. Meski berkali-kali laki-laki itu menyakitinya, Aida tetap menerima Husein dengan hati terbuka luas. Bukan Aida bucin akut sama Husein, tidak. Dirinya hanya ingat jika Allah membenci yang namanya perceraian. Apa salahnya memberi Husein kesempatan kedua? Bukankah Allah saja memaafkan kesalahan hambanya yang begitu fatal? Kenapa dirinya tidak bisa memaafkan suaminya sendiri?
"Kamu benar Mas?" tanya Aida antusias.
"Baiklah Mas, aku setuju." balas Aida dengan tersenyum begitu manisnya. Senyum yang baru pertama kali Husein lihat. Meski sebelumnya dirinya juga melihat senyum Aida tapi, tidak seperti saat ini. Ini sungguh senyum yang sangat lebar bahkan amat cantik terukir diwajah Aida.
"Tolong tegur saya jika melakukan kesalahan, dan tolong bimbing saya karena kamu tahu sendiri jika saya fakir akan agama." pinta Husein sedikit malu. Bukannya apa tapi, Husein sungguh malu dengan dirinya serta Aida. Sudah setua ini namun ilmu agama sangat minim dalam dirinya.
"Iya Mas, pasti aku akan ajarkan kamu, Mas. Ingat Mas, jangan hanya mencari ilmu itu dari aku saja karena, sekarang sudah sangat mudah untuk mengetahuinya Mas. Bisa melewati internet atau ceramah-ceramah yang bisa kamu dengar melalui hp atau televisi." ucap Aida dengan menerbitkan senyumnya. Sungguh dirinya saat ini sangat bahagia. Akhirnya doa-doa yang di ucapkan Aida setiap sholatnya diijabah sama Allah.
__ADS_1
'Ya Allah terima kasih. Terima kasih sudah mengabulkan doa-doa hamba. Sungguh ini suatu kejutan yang amat membahagiakan bagi hamba ya Allah,' ucap Aida dalam hatinya dengan tetap tersenyum ke arah suaminya.
"Malam ini pindahlah ke kamar saya. Malam ini kita akan memulai semunya dari awal," ujar Husein setelah sekian lama. Tak masalah bukan jika dirinya menginginkan Aida tidur dikamarnya? Jika di undur lantas kapan lagi mereka akan memulai hidup baru dalam rumah tangga mereka?
Wida menhangguk patuh. "Baiklah Mas. Emmm, apa pakaian aku di bawa juga ke sana Mas?" tanah Aida ragu.
"Iya, bawalah. Karena untuk selanjutnya kita akan tetap tidur dikamar yang sama." jawab Husein membuat Aida mengangguk saja.
••••√√√
Aida kini sudah berada diatas ranjang milik Husien masih lengkap dengan pakaian syar'inya. Setengah jam yang lalu Aida sudah selesai membereskan pakaiannya kedalam lemari. Menyusun dengan rapi semua pakaiannya agar tidak tampak berserakan.
Sedangkan Husein juga kini duduk diatas ranjang namun, berjarak beberapa jengkal dari Aida. Bahkan kamar itu terdengar sangat sunyi.
"Emm, apa kamu akan memakai pakaian seperti itu untuk tidur?" tanya Husein melihat sekilas kearah istrinya.
"Iya Mas, aku hanya belum terbiasa saja tidur satu kamar dengan laki-laki jadi agak tidak enak rasanya Mas," Jujur Aida.
"Jika saya yang meminta kamu untuk mengganti pakaian itu dengan pakaian tidur tanpa memakai hijab, apa kamu akan menurutinya?" Kini fokus Husein hanya istrinya. Husein ingin tahu apakah istrinya itu akan mengikuti ucapannya atau malah menolaknya.
__ADS_1
TBC