
Sudah dua hari setelah kepergian Hamzah dan Fatimah dari rumah. Rumah terasa sepi seperti semula. Tak banyak yang dilakukan Aida, tetap sama seperti semula. Tidurpun Aida sudah kembali lagi ke kamarnya. Bahkan semua barang-barang yang dibawa Aida ke kamar Husein kini sudah kembali pindah ke tempat ke kamarnya.
Aida menarik nafasnya dengan kasar lalu melepaskannya denga perlahan. "Ya Allah, emang yang maha tahu apa yang tengah hamba rasakan. Tolonglah hamba untuk tetap kuat dan bersabar dalam setiap ujian yang Engkau berikan, aamiin," Aida melanjutkan pekerjaan yang masih tinggal setengah.
Selesai dengan pekerjaannya, Aida memilih duduk di ruang tamu dengan di temani kitab suci al-quran di atas pangkuannya. Tak lupa benda pipih yang dia letakkan di atas meja kecil yang terdapat di tengah-tengah sofa.
("Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Zai,") Aida mengambil gawainya yang bergetar. Melihat siapa yang tengah menghubungi dirinya.
("Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Kak. Kakak lagi sibuk nggak?") tanya Zainab adik Aida di sebrang sana.
("Nggak Zai, ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan atau ada hal lain?") tanya Aida cukup penasaran. Tak bisanya adiknya itu menghubungi dirinya jika tidak ada hal yang dirasakan penting.
("Ehmm apa aku boleh datang ke rumah Kakak ngak? Aku sedang sendirian di rumah Kak, Ummi sama Abi lagi pergi,") ungkapnya yang jelas terdengar penuh harap di telinga Aida.
("Kenapa nanya gitu Zai? Kalau namun mau ke sini ya datang saja lagian kakak tidak akan mungkin melarang kamu datang ke sini. Kamu itu adik, Kakak,")
(Benarkah Kak?") tanyanya penuh harap.
("Iya Zai, datanglah ke sini. Lagian kakak juga sendirian di rumah. Mertua kakak sudah pulang dua hari yang lalu,") beritahu Aida kepada adiknya.
("Baiklah Kak, aku sebentar lagi berangkat. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kakak,")
("Iya Zai, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,") Aida mematikan sambungan teleponnya setelah menjawab salam dari sang adik
"Assalamu'alaikum Kakak, aku rindu!!" Zainab langsung memeluk tubuh Aida dengan erat. Semenjak menikah dirinya belum sekalipun bertemu langsung dengan Aida kecuali lewat video call.
"Wa'alaikumsalam Zai, Kakak juga rindu kamu Zai," Aida tak kalah eratnya membalas pelukan sang adik. "ya sudah yuk kita masuk Zai. Lagian nggak baik kalau kita berdiri di pintu terus," Aida menggandeng tangan adiknya untuk menuju ruang yang. Kebetulan saat di adiknya perjalanan tadi Aida sudah membuatku minuman serta cemilan kering.
"Gimana kabar Ummi sama Abi, Zai? Apa mereka sehat? Kakak belum bisa berkunjung ke rumah karena Mas Husein masih banyak pekerjaan," ujar Aida dengan sendu. Jujur saja dia sudah sangat merindukan ke-dua orang-tuanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah mereka sehat Kak. Tidak apa-apa kok Kak, lagian Ummi sama Abi pasti paham dengan keadaan Kakak kok," balas Zainab menampilkankan senyum manisnya.
"Iya Zai, tapi Kakak sudah dapat merindukan mereka Zai. Rasanya sudah lama kakak tidak bertemu dengan mereka," ujar Aida sendu. Rindu dengan canda tawa kebersamaan mereka saat di rumah.
"Sabar saja Kak, mungkin nanti Kakak bisa berkunjung sama suami Kakak ke rumah. Lagian suami Kakak orang sibuk, jadi wajar saja waktu luangnya nyaris tidak ada," Hibur Zainab mengusap lembut tangan sang kakak.
"Hmmm Iya Zai, semoga saja," balas Aida dengan tersenyum manis. "Sekolah kamu gimana Zai? Apa sudah selesai?" lanjut Aida.
"Alhamdulillah sudah Kak, sekarang aku nunggu waktu kelulusan saja Kak. Do'ain aku dapat b nilai tinggi ya Kak, agar cita-cita aku lekas tercapai,"
"Aku mau izin sama Kakak nih," celetuk Zainab membuat Aida mengerutkam keningnya.
"Izin? Izin apa Zai?" tanya Aida bingung.
"Aku mau pakai cadar Kak? Apa kakak membolehkan aku pakai cadar?" ujar Zainab lirih.
Aida tersenyum mendengar ucapan adiknya. "Boleh kok Zai, Kakak pasti akan dukung kamu. Yang terpenting itu kamu bahagia. Satu yang utama Zai, harus izin dulu sama Ummi dan Abi karena, ridho seoramg anak itu tergantung ridho orang-tuanya. Berbeda dengan kakak yang ridhonya sudah dari suami Kakak," ucapan Aida dengan tersenyum.
__ADS_1
"Aku sudah izin sama Abi dan Ummi, Kak. Alhamdulillah mereka ngizinin aku buat pakai cadar Kak. Makanya sekarang aku nemuin Kakak juga mau minta izin dari Kakak,"
Kembali Aida tersenyum. "Alhmadulillah jika Abi dan Ummi izinin kamu, Zai. Kakak ikut dengan mereka. Kakak juga mengizinkan kamu untuk memakai cadar,"
"Terima kasih Kak, aku bahagia banget," Zainab memeluk erat tubuh kakaknya. Rasanya dia sangat bahagia, akhirnya restu sudah di dapatkannya dari orang-tua serta kakaknya.
"Tapi ingat Zai, sebelum kamu memantapkan diri untuk memakai cadar harus siapin dulu mental kamu agar lebih kuat. Kakak nggak mau jika suatu saat kamu malah lepas cadar karena omongan orang yang mungkin saja bikin kamu sakit hati. Maka dari itu kakak minta dari kamu pikir dulu baik-baik. Kakak bukan nakut-nakutin kamu, Zai, hanya saja memang itu yang harus kamu lalui nanti. Tidak semua orang bisa menerima apa yang kita lakukan. Ada pro dan kontranya."
"Iya Kak aku paham apa yang Kakak katakan. Is syaa Allah aku sudah lahir batin siap untuk memakai cadar Kak. Aku juga in syaa Allah siap menerima ujian dari mulut orang-orang yang mungkin menilai sesuai dengan apa yang mereka lihat. Tanpa tahu apa makna dari yang kita pakai." jawab Zainab dengan tersenyum manis.
"Alhamdulillah jika begitu Zai. Kakak hanya takut itu saja, kakak tidak mau jika kamu hanya mempermainkan selembar kain segi empat itu Dek. Kakak tidak ingin itu terjadi di kemudian hari makanya kakak wanti-wanti kamu dari sekarang. Meskipun memakai cadar itu sunnah bukan berarti kita bisa seenaknya memberanikannya Zai," ucap Aida yang memang takut jika adiknya itu mempermainkan sunnah yang di pakai para istri Rosulullah.
"Iya Kak, aku paham kekhawatiran Kakak. In syaa Allah aku tidak akan pernah melepaskannya nanti jika aku sudah memakainya Kak. Aku pasti akan tetap mempertahankan cadar aku sampai akhir hayat ini nantinya Kak," balas Zainab dengan menampilkan senyum manisnya.
"Alhamdulillah jika kamu memiliki pemikiran seperti itu Zai. Rencananya kapan kamu akan pakai cadar Zai?"
"In syaa Allah setelah urusan aku di sekolah selesai Kak," Aida hanya mengangguk mendengar ucapan adiknya.
__ADS_1
TBC