SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 27


__ADS_3

Aida hanya menganggukkan kepalanya. "Mas tolong antar Mas Husein kekamar ya, aku tidak kuat untuk memapah tubuhnya." pinta Aida yang tetap menunduk tanpa melihat sedikitpun ke arah Fiki.


Fiki menyanggupi ucapan Aida karena, Fiki yang sudah pernah beberapa kali ke rumah itu jadi, dirinya sudah tahu di mana letak kamar Husein. Sementara Aida pergi ke dapur untuk membuat teh manis untuk Fiki dan juga Husein. Mana tahu setelah itu Husein akan sadar.


"Terima kasih Mas, sudah membantu saya membawa Mas Husein ke kamar. Silahkan diminum dulu tehnya Mas,"


"Iya sama-sama Bu," Fiki mengambil teh itu lalu meneguknya hingga tandas. "terima kasih Bu, saya langsung pulang saja," Aida hanya mengangguk kepalanya tanpa menatap sedikitpun ke arah Fiki.


Fiki meninggalkan rumah bos sekaligus sahabatnya itu. "Beruntung banget lo, Sein. Punya istri lembut, baik, sholehah juga. Tapi kenapa lo tega-teganya menduakan gadis sebaik itu." Monolog Fiki sambil menaiki mobilnya.


Aida masuk ke dalam kamar Husein, membuka sepatu yang membalut kaki suaminya.


"Kenapa kamu khianati aku, Sayang? Apa ada yang kurang dari aku?"


"Kamu wanita mu*a*h*n, wanita si*l*n!!!" Maki Husein yang masih setiap memejamkan matanya.


Kini Aida paham kenapa Husein sampai mabuk dan mendatangi tempat terkutuk itu. Dari ucapan Husein jelas laki-laki itu ada masalah dengan kekasihnya yang jelas masalah itu sangat fatal.


Husein perlahan membuka matanya, menatap istrinya yang hendak pergi dari kamar itu. Langsung saja tangan panjang Husein meraih baju Aida hingga tubuh gadis itu terjatuh tepat di atas tubuh Husein.


"Mau kemana, hmmm?" ucap Husein tepat di telinga Aida membuat Aida merinding mendengar suara yang terdengar parau.


"Mas lepasin, aku mau keluar," pinta Aida berusaha melepaskan tangan Husein yang memeluk tubuhnya dengan erat.


"Lepasin? Jangan harap!!! Kamu tahu Sayang, aku begitu mencintai kamu, aku ingin memiliki banyak anak dari kamu, tapi kenapa kamu malah berkhianat di belakang aku? Apa salahku Sayang? Apa gara-gara aku tidak pernah mau menyentuh kamu makanya kamu berani berkhianat Sayang?" Husein semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Aida.

__ADS_1


"Mas tolong lepasin!! Aku bukan pacar kamu tapi, aku istri kamu, Mas. Sadarlah Mas sebelum akhirnya kamu menyesal Mas," Aida terus berusaha menyadarkan laki-laki yang tengah mabuk itu. Namun usahanya tidak berhasil sama sekali.


"Aku akan buktikan jika aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan laki-laki itu Sayang. Aku akan buktikan jika aku yang terbaik untuk kamu," Husein menggulingkan tubuh Aida hingga gadis itu tepat berada di sebelah Husein.


Tangis Aida semakin mengema di dalam kamar Husein. Berusaha sekuat tenaga lepas dari sauminya yang tengah berada di dalam pengaruh alkohol.


"Mas tolong lepaskan aku, Mas. Aku nggak mau kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan sekarang Mas. Mas tolong!!!" Aida terus berusaha menyadarkan suaminya meski itu mustahil akan terjadi.


Bukan Aida tidak mau memberikan hak suaminya, hanya saja sekarang suaminya itu dalam pengaruh alkohol. Aida tidak mau jika esok hari suaminya itu akan menyesali apa yang kini dia perbuat.


Jangan tanyakan Aida apakah dia masih tetap tegar, tidak!!! Aida menagis di bawah kungkungan suaminya. Aida tidak mau suaminya melakukan hubungan itu sedangkan suaminya menganggap dirinya kekasih suaminya itu.


"Mas tolong, lepaskan aku!!!" Usaha terkahir Aida sungguh tidak membuahkan hasil. Suaminya semakin menggila menyalurkan imajinasi yang berada di dalam dirinya.


Apa yang selama ini Aida jaga di rampas paksa oleh suaminya. Dirinya kini bukan lagi seorang gadis tapi sudah menyandang status seorang wanita. Berkat alkohol yang di teguk suaminya, Aida melepaskan kehormatan baik suka maulaun tidak. Nyatanya nyatanya kini dirinya memang tak lagi perawan, mahkotanya sudah tidak ada lagi di dalam dirinya.



Sampai di kamarnya Aida langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Berusaha menghapus jejak-jejak yang ditinggal Husein pada tubuhnya. Bukan Aida tidak rela suaminya melakukan hal itu kepada dirinya, hanya saja Husein melakukannya dengan terus menyebut nama kekasihnya.



Hati istri mana yang rela jika suaminya menyentuhnya dengan menyebutkan nama wanita kain. Wanita mana yang akan reka suaminya meneguk manisnya surga dunia dengan membayangkan jika tubuh itu milik wanita lain. Di caripun hingga ke ujung dunia tidak akan pernah ada wanita yang rela seperti itu.


__ADS_1


Tangis pilu menyayat hati terdengar didalam kamar mandi Aida. Sungguh dirinya kini sangat terluka. Tadi siang dirinya meminta di pulangkan dengan cara yang baik-baik namun, kini kesuciannya sudah di rengut suaminya.



Aida menyudahkan mandinya setelah setengah jam berada di dalam sana. Melirik pada jam yang tertera pada dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Waktu magrib sudah habis yang artinya Aida melewatkan sholat magribnya karena ulah suaminya.



Mengelar sajadah pada karpet merah itu. Memakai mukenah hasil mahar suaminya kala itu.



"Ya Allah, Engkau yang maha mendengar lagi maha melihat. Berikanlah hamba keihlasan dalam setiap takdir yang Engkau gariskan. Berikanlah hamba ketabahan dalam menerima setiap ujian yang Engkau berikan. Hamba percaya segala sesuatu yang terjadi didalam hidup hamba sejatinya itu adalah takdir yang Engkau yang harus hamba terima dengan ikhlas ya Allah."



"Ya Allah, izinkanlah hati suaminya hamba untuk menerima hamba didalamnya. Hanya Engkau ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati hamban-Mu. Bukalah pintu hatinya, berikanlah hamba rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah ya Allah," Aida menyelesaikan do'anya kepada sang pencipta.



Aida mengambil Al-Qur'an diatas meja lalu membaca beberapa lembar ayat suci itu dengan hati yang sudah mulai membaik. Sekuat apapun Aida tidak menerima perlakuan suaminya, tapi itu sudah terjadi. Tidak akan bisa lagi sesuatu yang berharga itu kembali seperti semula. Hanya ikhlas yang bisa Aida lakukan sekarang.



Aida membaringkannya tubuhnya diatas ranjang. Melewatkan makan malamnya yang memang dirinya tidak merasakan lapar. Rasa lapar itu seakan sirna begitu saja. Apapun yang akan terjadi esok hari Aida pasti bisa melewatinya.

__ADS_1


Memejamkan mata itu dengan rapat untuk memasuki alam mimpinya. Sebelumnya tak lupa Aida membaca beberapa surat pendek, ayat kursi dan yang terkahir membaca do'a mau tidur seperti yang biasa Aida lakukan. Berharap tidurnya dijaga malaikat sepanjang malam dengan membaca ayat kursi itu.


TbC


__ADS_2