SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 32


__ADS_3

Husein duduk di kursi kebesarannya dengan pulpen yang setia berada diantara jari telunjuk dan hari jempolnnya. Tangan itu asik mencoret-coret kertas putih yang berada di depannya.


"Masuk!!" ucap Husein saat mendengar suara Fili dari luar ruangannya.


Husein mendongak sebentar menatap sekretarisnya lalu kembali lagi pada kertas yang ada di depannya.


"Ini ada beberapa file yang harus Bapak tandatangani," Fiki meletakkan berkas tersebut di depan Husein.


"Baiklah. Terima kasih untuk yang kemaren," Fiki yang hendak membalikkan tubuhnya terhenti mendengar ucapan bos serta sahabatnya itu.


"Maksudnya Pak?" Fiki tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Husein.


"Terima kasih sudah mengingatkan gue tentang masalah rumah tangga gue yang hampir saja di ujung tanduk. Mungkin kalau gue nggak cerita sama lo dan lo nggak ngasih gue pelajaran mungkin saja saat ini rumah tangga gue sudah kek kapal pecah bahkan nyaris hancur." lirih Husein menatap sahabatnya.


"Tidak masalah, tapi untuk kedepannya jika lo memang sudah tak sanggup lagi sama dia lebih baik lo lepasin, biarkan dia hidup dan mencari kebahagiaannya sendiri. Jangan lo sakitin dia apalagi sampai lo kembali nyakiti hati dan fisiknya yang bahkan orang-tua tak penah lakuin. Ingat saja jika itu Bunda lo karena lo nggak punya adik cewek atau pun Kakak cewek," ucap Fiki.


"Gue nggak akan pernah lepasin istri, gue. Apapun yang sudah menjadi milik gue nggak makan pernah gue lepasin apalagi ini sudah pasti sah dan halal buat gue. Terima kasih nasehat lo, pasti gue akan ingat terus,"


Fiki menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, terus bagaimana hubungan lo sama Sinta, kekasih lo? Nggak mungkinkan lo masih berhubungan sama wanita itu di saat lo sudah mau memperbaiki rumah tangga lo?" Fiki menatap sahabatnya. Fiki tidak akan rela Husein kembali berhubungan dengan wanita ular itu. Sejak dari awal Husein menjalin kasih dengan Sinta, Fiki lernah memergoki wanita itu berkencan dengan seorang laki-laki di sebuah hotel berbintang.


"Gue sudah putus sama dia. Lagian siapa yang mau sama wanita yang sudah celup celup sama laki-laki lain." tampak raut wajah Husein memerah. Bukan karena sedih tapi karena menahan amarah di dalam hatinya. Bahkan semenjak itu Husein mulai mengikis rasa cintanya untuk wanita tak tahu diri itu.

__ADS_1


"Syukurlah kalau gitu Sein, gue senang dengernya. Dari awal gua sudah mau ngomong sama lo jika dia memang bukan wanita baik-baik, tapi karena gue nggak punya bukti jadi gue nggak bisa ngomong sama lo. Ngomong pun gue sama lo sudah pasti lo nggak akan percaya sama gue, apalagi tanla bukti kek gitu,"


"Itulah salah gue dulu Fiki, gue nggak pernah berfikir buruk sama dia. Gue terlalu percaya sama dia hingga gue sendiri yang di bodohin. Gue di manfaatin sama dia dengan kebodohan yang gue miliki. Padahal Ayah sama Bunda sudah pernah mengatakan itu sama gue tapi, guenya saja yang selalu nganggap enteng dan tidak percaya sama ucapan mereka. Tapi, syukurlah sekarang gue sudah terbebas dari iblis betina itu," ujar Husein dengan melengkungkan senyumnya. Senyum yang jarang di lihat wanita lain, selain dirinya bersama Sinta. Tapi, sekarang dan untuk kedepannya senyum itu sudah menjadi milik istrinya, Aida.


"Sudahlah Sein, biarlah yang lalu itu berlaku dan untuk sekarang dan kedepannya tetaplah fokus sama satu wanita yaitu istri lo. Sulit nyari istri kek dia, Sein. Jika saja lo pisah dari dia mungkin saja gue mau sama istri, lo Sein," canda Fiki yang membuat Husein beranggapan itu serius.


"Berani lo?!" bentak Husein membuat Fiki tergelak.


"Lagian gue ngomong kan jika lo pisah sama istri lo, kalau lo nggak pisah ya gue nggak mungkin lah jadi pebinor di dalam rumah tangga lo. Bahkan dalam rumah tangga orang lain pun gue ogah jadi pebinor." ucap Fiki saat Husein yang hendak berdiri dari kursi kebesarannya. Lagian dia juga tidak mau baku hantam dengan hal yang merugikan dirinya. Padahal apa yang dia katakan juga tidak ada salahnya bukan? Dia hanya ingin istri sahabatnya itu jika laki-laki itu mau menceraikan istri.


Husein mendengus mendengar ucapan sahabatnya. Memang tidak ada salahnya jika Fiki menginginkan Aida jika dia sudah menceraikan wanita itu. Beda lagi ceritanya jika dia tidak menceraikan istrinya namun, sahabatnya malah berusaha merebut miliknya.


Husein hanya membiarkan Fiki keluar dari ruangannya. Bahkan Husein tak melirik ke arah sahabatnya itu, melainkan mengambil berkas yang dibawa Fiki untuk di tandatanganinya.


*****


Sedangkan di rumah Aida tengah duduk-duduk di teras rumahnya dengan memegang al-Quran kecil di tangannya. Menghafal ayat-ayat dalam kitab suci itu yang masih belum dia hapal dengan benar. Masih ada ayat-ayat yang Aida lupakan.


Dret!!!!!


Aida yang tengah memejamkan matanya langsung meraih gawai yang bergetar diatas meja. Menekan icon hijau setelah melihat siapa yang menelpon dirinya.

__ADS_1


("Hallo, assalamu'alaikum Zai,") Salam Aida kepada adik perempuannya.


("Wa'alaikumsalam Kak. Aku alihkan ke video call ya Kak,") Aida melihat benda pilih itu yang bergetar minta di hubungkan pada video call.


("Gimana kabar Kakak?")


("Alhamdulillah Kakak sehat Zai, kamu gimana kabarnya disana?") tanya Aida yang melihat adiknya yang sudah memakai penutup pada wajahnya yang biasa di sebut orang dengan cadar.


("Syukurlah Kak, aku bahagia mendengarnya. Alhamdulillah aku di sini juga sehat Kak.") jawabnya dengan menyipitkan matanya tanda gadis itu tengah tersenyum dengan cerahnya namun, tidak terlihat lantaran tertutup kain persegi itu.


("Gimana kuliah di sana Zai? Lancar bukan?")


("Alhamdulillah semuanya lancar Kak, tapi aku sudah tidak sabar untuk bertemu Ummi, Abi sama Kakak. Padahal aku belum lama berada di disini Kak,") jawabnya dengan nada lirih namun masih bisa di dengar Aida.


("Sabar saja Zai, kakak dulu saat di sana juga merasakan hal yang sama. Tapi saat sudah kembali lagi ke tanah air kakak jadi rindu dengan masa-masa di sana. Makanya kamu harus nikmati hari-hari kamu disana Zai supaya kamu tidak terlalu rindu dengan suasana disana saat kamu sudah pulang. Rindu itu pasti akan ada tapi kamu sudah menikmatinya dengan puas.")


("Hmmm, baiklah Kak, aku akan ngikuti ucapan Kakak.") jawabnya dengan mata menyipit karena tersenyum. ("Kak, aku tutup dulu ya soalnya kelas aku mau masuk. Assalamu'alaikum Kakak, jangan lupa salam buat suami Kakak,")


("Emm, baiklah Zai. Kamu belajarnya yang rajin jangan malas biar cepat lulus. Wa'alaikumsalam,") Aida mematikan sambungan telepon mereka setelah mengucapkan salam. Kembali meletakkan benda pipih itu diatas meja tempat semula dia meletakkan benda itu berada. Aida melanjutkan menghafal ayat-ayat al-Quran yang tadi tertinda karena telpon dari adiknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2