
Kini usia kandungan Aida sudah pada bulan ke tujuh. Rumah Husein kini di penuhi bebeberapa anak-anak panti yang di undang ke acara syukuran 7 bulanan Aida. Beberapa tetangga dekat maupun jauh juga ikut hadir pada acara Aida. Bahkan Husein juga membawa anak-anak jalanan yang sering bertemu dengan Aida juga ikut andil di sana.
Senyum merekah terlihat jelas di mata Husein meski istrinya itu memakai selembar kain yang menutupi wajahnya. Namun dari mata istrinya yang menyipit itu Husein tahu jika istrinya tersenyum. Apalagi binar bahagia itu terlihat jelas pada mata cantik sang istri.
"Zaujati, alhmadulillah ya kini usia dedek bayi sudah 7 bulan dan 2 bulan lagi kita akan bertemu dengan dedek bayi," ujar Husein mengusap perut buncit Aida yang tak terlalu jelas. Apalagi Aida menggunakan gamis besar dan hijab lebar yang menutupi perutnya.
"Iya Zaujah, alhmadulillah. Aku sudah tidak sabar untuk melihat anak kita lahir ke dunia. Apakah nanti dirinya mirip kamu atau aku, Zaujan, ataukah mirip kita berdua," Aida ikut mengusap perut buncitnya dengan lembut.
"Iya Zaujati, Zaujan juga mikirnya gitu. Nggak sabar banget rasanya bertemu dedek bayi," ungkap Husein jujur. "Dia nendang Zaujati," kejut Husein kala merasakan tendangan dari perut istrinya ulah sang anak.
"Iya Zaujan, mungkin dedek bayinya senang di usap sama Babanya," jawab Aida membuat Husein terus saja mengusap lembut perut buncit itu.
"Anaknya Baba, di dalam perut Umma jangan nakal ya Nak? Jangan bikin Umma kesakitan ya Sayang? Lihatlah Nak, Bahkan Umma tampak meringis kala kamu menendang terlalu kuat Sayang," Husein berbicara pada pertama buncit sang istri dengan terus mengelus lembut perut itu.
Sedangkan Aida mengusap lembut kepala suaminya yang tertutupi peci hitam. Rasanya tidak enak saat mengadakan cara 7 bulanan Husein tak memakai peci, apalagi jika di lihat banyak bapak-bapak yang menggunakan peci.
"Nak sekarang saat kita mengadakan pengajian," Aisya menghampiri putrinya yang terangan duduk di teman suaminya.
__ADS_1
"Ahh, iya Ummi," Aida berusaha untuk bangun namun, agak sulit karena perutnya memang sangat besar meski di usia yang masih 7 bulanan.
Husein segera membantu istrinya yang kesusahan untuk berdiri. Memegang erat pinggang sang istri serta tangannya untuk memudahkan wanita hamil itu itu berdiri dengan tegap. "Apa kamu bisa Zaujati? Atau mau Zaujan temani hingga sana?" tunjuk Husein pada tempat duduk yang di sediakan untuk Aida.
Sedangkan Aisyah terharu melihat rumah tangga anaknya yang tampak harmonis. Bahkan tak bisa di tahan air mata Aisyah meluncur dengan mulusnya, bukan karena sedih melainkan bahagia melihat bagaimana bahagianya rumah tangga sang putri. Apalagi Husein yang juga sudah sangat banyak berubah dari yang dulu. Husein yang mau untuk terus belajar ilmu agama dan tak malu-malu untuk bertanya kepadanya bahkan kepada suaminya.
"Tidak usah Zaujan, lagian ada Ummi yang bisa menuntun aku hingga sana," jawab Aida tersenyum.
"Baiklah Zaujati, Ummi tolong jaga istri aku ya?" Husein beralih melihat ke arah ibu mertuanya. Menatap wanita paruh baya itu dengan penuh harap.
****
Serangkaian acara akhirnya berjalan dengan lancar. Banyak do'a untuk keselamatan bagi Aida maupun kandungannya dari para tamu yang hadir di acaranya.
Bahkan anak-anak panti tak segan untuk menghampiri Aida yang membacakan do'a di depan perut Aida. Meskipun mereka hanya mengucapkan dalam bahasa Indonesia, setidaknya Allah pasti paham dengan apa yang mereka katakan. Aida bahkan sampai terharu mendengar kata-kata anak-anak yang masih sekitaran umur 8 tahun itu. Meski mereka masih kecil, namun do'a mereka menurut Aida sangat-sangat menyentuh ke relung hati Aida.
"Alhmadulillah Nak, tak lama lagi Bunda akan memiliki cucu. Rasanya Bunda tidak menyangka jika sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang Nenek," Fatimah mengusap perut buncit menantunya.
__ADS_1
Akhirnya impiannya yang akan tinggal untuk selamanya di tanah kelahirannya tercapai. Meski dulu dirinya dan suaminya pernah berkata akan pulang beberapa bulan lagi dan akan menetap di sini nyatanya itu tak jadi lantaran banyak kendala pada perusahaan mereka yang ada luar negeri. Tapi, kini Fatimah tidak akan mau lagi kembali ke sana apalagi kini cucunya akan lahir 2 bulan lagi. Mau tak mau, Hamzah mempercayakan perusahaan di sana kepada orang kepercayaannya. Demi sang istri, maka Hamzah pasti akan melakukan yang terbaik. Bukan dirinya tak mau mengurus perusahaan itu hanya saja Hamzah tidak akan sanggup jika istrinya tak ada di sisinya. Menyemangat di dalam hidupnya.
"Iya Bunda, alhmadulillah. Aku juga sudah tidak sabar melihatnya hadir di dunia," jawab Aida dengan tersenyum manis.
"Iya Nak. Apa kamu jadi USG dia kemaren Nak?" tanya Fatimah lagi. Dirinya amat penasaran dengan jenis kelamin sang cucu yang belum lahir itu.
"Tidak Bun, aku sama Mas Husein tidak akan melakukan USG karena, kami ingin sebuah kejutan dari anak kami. Baik dia nanti perempuan maupun laki-laki itu tidak masalah. Yang terpenting di sehat itu saja sudah membuat aku bahagia Bunda," jawab Aida yang memang sudah sepakat dengan suaminya tidak akan melakukan USG. Hanya saja ibu mertuanya itu mendesak mereka untuk melakukan USG.
"Yahhh, padahal Bunda sudah sangat ingin tahu bagaimana jenis kelaminnya. Biar Bunda bisa beli Apapun yang penting sudah cocok untuk dirinya nanti. Tapi kalau masih kek gini pasti akan sulit membelinya jika Bunda beli sesuka hati Bunda," ujarnya cemberut.
"Hehehe, maaf Bunda. Tapi aku sama Mas Husein sudah sepakat tidak akan melihat jenis kelaminnya dulu. Lagian Bunda tidak usah dulu memikirkan itu, karena 2 bulan lagi dedek bayi k
Pasti lahir. Dan Bunda juga bisa membelikan apa saja untuknya nanti,"
"Baiklah Ai, jika memang itu kata kamu," jawab Fatimah akhirnya. Fatimah juga tidak akan mungkin memaksa anak dan menantunya itu untuk memeriksakan jenis kelamin anak meraka. Jika mereka sudah menjadikan itu sebuah kejutan pada saat lahiran nantinya.
TBC
__ADS_1