
Setengah tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam hubungan pernikahan Aida maupun Husein. Sudah banyak waktu yang berlalu dalam hubungan pernikahan mereka namun, tidak ada yang berubah di dalam hubungan mereka. Husein masih tetap pada pendiriannya dengan menjalin kasih dengen Sinta. Memupuk dosa yang semakin hari semakin bertambah.
Aida seorang istri denagn segala kesabaran dan ketabahan menghadapi suaminya yang tidak bisa berubah. Menerima dengan ikhlas setiap takdir Allah, dan berharap Allah membukan pintu hati suaminya untuk dirinya. Aida tidak pernah menyerah dalam mendo'akan kebaikan untuk sang suami yang tetap saja dingin kepada dirinya. Ucapan-ucapan baik yang selama ini Aida katakan kepada Husein seakan tidak ada artinya bagi laki-laki itu. Menganggap ucapannya hanya angin lalu yang tidak ada artinya.
"Jangan sampai kau mengadu kepada orang-tuamu bagaimana perlakuan saya selama ini," Husein melirik tajam istrinya yang dengan santai duduk di samping kemudi.
"Apa selama ini aku pernah mengadu kepada orang tuaku, Mas?" Mata Aida dan Husein bersirobok sebelum akhirnya Husein memutuskan tatapan mata mereka.
Husein terdiam, memang selama ini istrinya itu tidak pernah menceritakan bagaimana perlakuannya kepada orang tua mereka. "Saya hanya jaga-jaga saja. Mana tahu nanti kau malah mengatakan yang sebenarnya kepada orang-tua kau bagaimana perlakuan saya dan membuat citra saya buruk di hadapan mereka,"
Aida tersenyum kepada suaminya. "Kamu tidak perlu khawatir Mas, aku tahu bagaimana cara menjaga martabat seorang suami. Tidak mungkin aku mencertikan sesuatu yang tidak harus aku ceritakan Mas." jawab Aida yang masih menampilkan senyum manisnya.
"Awas saja jika di belakang saya kau berulah. Jangan harap saya akan mewujudkan keinginan untuk bertemu orang-tuamu lagi." ancam Husein membuat senyum Aida lagi-lagi melengkung.
Tak tahukah suaminya itu jika dia bukan istri yang suka mengadu. Dia bukanlah istri yang manja dan harus menceritakan kisah rumah tangganya yang tidak harmonis. Tak tahukah suamimu itu bagaimana dirinya selama ini? Apakah mata suaminya itu buta sehingga pikiran buruk itu selalu keluar dari kepala suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan Mas? Aku yang bakal ngadu sama Ummi dan Abi atas perlakuan kamu selama ini? Jika itu yang kamu cemaskan maka tidak akan terjadi Mas. Harusnya kamu tahu bagaimana aku, jika saja aku mau ngadu maka bukan sekarang Mas, mungkin saja sudah dari bulan kedua kita menikah. Aku bukan seperti wanita yang kamu pikirkan Mas, aku tahu mana yang baik untuk kebaikan rumah tangga kita dan mana yang tidak. Tidak mungkin aku akan menceritakan keburukan kamu sama Ummi dan Abi. Aku tidak akan melakukan hal hina itu Mas. Kamu suami aku, Mas, buruk tidaknya kelakuan kamu sama aku itu sebuah aib yang tidak bisa di katakan meski itu sama orang-tuanku ataupun orang-tuamu, Mas. Cukup aku dan kamu yang tahu. Jika telinga kanan tahu maka jangan sampai terdengar oleh telinga kiri." Dengan tenang Aida menjelaskan kepada suaminya.
__ADS_1
Mulut Husein bungkam karena penjelasan istrinya. Tak tahu apa yang harus dia katakan kepada istrinya yang tampak sangat tenang. Bahkan selama mereka menikah tak pernah Husein melihat wajah sedih dari istrinya. Padahal selama ini dia sudah sering meyakiti istrinya, mulai dari membawa kekasihnya bahkan tak menganggap dirinya sebagai seorang istri. Ntah terbuat dari apa hati istrinya itu, atau istrinya tidak memilki hati. Jadi menganggap semuanya itu biasa saja. Jika istri lain akan mengamuk, berbeda dengan Aida yang tetap tersenyum. Terlihat biasa saja seakan apa yang terjadi bukanlah masalah besar.
*****
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Aida maupun Husein membaca salam setelah menekan bel pada pintu rumah megah itu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Ai, Sein," Aisyah menampilkan senyum terbaiknya kepada anak dan menantunya. Dia sudah sedari tadi menunggu kehadiran anak dan menantunya itu. Sudah lama mereka tidak berjumpa secara langsung melainkan hanya dengan perantara benda pilih persegi.
"Ummi sehat?" Aida duduk di samping Aisyah sambil menyenderkan kepalanya di bahu wanita yang melahirkan dirinya itu. Kebiadaban yang tidak pernah hilang dalam diri Aida.
"Seperti yang kamu lihat Ai, alhamdulillah Ummi sehat," Aisya mengusap kepala putri sulungnya dengan lembut. Putri yang sangat dicintainya, putri hasil buah cinta antara dirinya dan sang suami.
"Abi masih di kamar Ai, mungkin saja sebentar lagi akan keluar," jawab Aisyah putrinya. "Sehat Nak Husein?" kini Aisyah beralih kepada menantunya yang hanya diam mendengar interaksi antara dirinya dan Aida.
"Alhamdulillah sehat Ummi," jawabnya sedikit canggung karema belum terlalu terbiasa. Apalagi ini pertemuan mereka setalah pernikahan dirinya waktu itu. Waktu yang terlalu sibuk membuat Husein tidak bisa meluangkan waktunya untuk sekedar datang ke rumah mertuanya.
"Alhamdulillah Nak, Ummi senang dengarnya."
__ADS_1
Aida dan Husein menyalami tangan Hasan yang baru saja sampai di ruang tamu. Bahkan Aida sampai memeluk tubuh cinta pertamanya itu dengan erat. Dia sudah sangat merindukan sang ayah yang telah lama tak bisa digapainya dengan tangan.
"Bagaimana kamar kamu, Sayang? Abi sangat merindukan putri kesayangan Abi ini," Hasan mencubit gemas pilih putrinya yang tampak sedikit tirus dari pada waktu terakhir mereka bertemu.
"Alhamdulillah aku sehat Abi, Abi bagaimana? Apa Abi sehat juga?" binar bahagia tampak memancar dari ke-dua netra Aida. Bahkan Husein yang berada di sana melihat dengan jelas binar mata istrinya yang selama ini tak pernah dia lihat. Hanya sekedar sebuah senyuman yang selama ini Husein saksikan dari istrinya itu.
"Alhamdulillah Nak, Abi sehat. Tapi rumah ini sangat sepi karena tidak adanya kehadiran kamu dan juga Zainab. Abi jadi kesepian bersama Ummi berada disini Ai," Wajah Hasan mendadak sendu saat mengakan itu. Pasalnya Zainab, putri bungsunya kini tengah berada di Mesir untuk menuntuk ilmu sesuai dengan impian putrinya itu. Tak mungkin Hasan melarang niat baik sang putri. Menuntut ilmu ke Mesir merupakan cita-cita terbesar Zainab sama dengan Aida. Kedua anak gadisnya itu memiliki mimpi yang sama. Jika Aida sudah tamat satu tahun yang lalu maka sekarang sang putri bungsu yang akan menyusul kesana. Ingin menambahkan ilmu agama yang dirasa masih banyak yang kurang.
"Sabar Abi, 2 setengah tahun lagi Zainab pasti gunakan kemabli kesini. Berkumpul bersama kita semua," Hibur Aida sambil mengusap punggung Hasan dengan lembut.
"Apa kamu tidak bisa tinggal di sini Ai? Abi sama Ummi sangat kesepian," Mata tua itu mengatakan sendu sang putri.
Aida menggeleng. "Maafkan aku, Abi. Aku tidak bisa tinggal disini. Dimanapun suami aku tinggal makan aku harus berada di sampingnya. Bukankah itu yang selama ini Abi ajarkan kepada aku mau lain Zainab?"
Hasan menunduk. Benar apa yang dikatakan Aida putrinya. Selama ini Hasan terus menanamkan nilai-nilai agama kepada kedua putrinya.Tak jarang nasehat rumah tangga akan terselip di dalam ucapannya. Contohnya saja seperti yang Aida katakan tadi.
"Baiklah Ai, Abi paham. Abi juga tidak mau putri Abi durhaka kepada suaminya. Abi tidak mau jika putri Abi malah memupuk dosa lantaran mengikuti perkataan Abi yang nyatanya sudah tidak ada hak lagi akan diri kamu semenjak ijab qobul dilaksanakan," Kembali Hasan menunduk. Menahan lajunya air mata yang hampir saja lolos dari mata tua itu.
__ADS_1
Hingga kini rasakan Hasan tidak menyangka jika putrinya sulungnya itu bukan lagi miliknya. Putrinya sudah diberikan kepada Husein, suaminya.
TBC