SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 17


__ADS_3

Akhirnya rantang yang berisi makanan yang tak disentuh husein sudah selesai di bersihkan Aida. Meletakkan rantang di itu lemari tempat dimana piring-piring bersih di letakkan agar airnya turun dan mengering.


"Apa makanannya di habiskan Husein, Ai?" Fatima yang kebetulan baru datang ke dapur melihat sang menantu meletakkan rantang ke dalam lemari.


"Alhamdulillah habis Bun," jawab Aida menampilkan senyum manisnya. Di dalam hati Aida terus meminta maaf kepada ibu mertuanya karena telah berbohong. Bukan maksud Aida ingin berdusta hanya saja Aida tidak ingin ibu mertuanya itu sedih lantaran masakan yang mereka buat tidak di sentuh sama sekali.


"Alhmadulillah Ai, Bunda bahagia akhirnya apa yang kita masak di habiskan Husein tanpa sisa. Bunda sudah yakin saat kamu mengantar makanan tadi ke kantor Husein, pasti anak itu akan menghabiskan apa yang sudah kita masak tanpa sisa. Kebetulan itu makanan kesukaan Husein, Ai," ucap Fatimah kepada sang menantu yang hanya bisa tersenyum pahit.


"Benarkah Bun?" tanya Aida antusias. Padahal jauh di lubuk hatinya dia tengah menangisi makanan yang sudah di buangnya. Aida teringat akan anak jalanan yang sering dia temui memilih sisa makanan yang terdapat di dalam tong sampah yang sangat bau. Jika biasanya Aida akan memberi mereka sekurang-kurangnya sepotong roti tapi, tapi kini dia malah membuang makanan yang bahkan bisa saja anak-anak jalanan itu bahagia menerima makanan seenak itu. Hatinya amat miris mengingat makanan yang sudah basi tanpa bisa di nikmati.


"Iya Ai, waktu itu saja pas Bunda membuat makanan yang sama seperti tadi Husein pasti akan selalu nambah Ai. Katanya itu sangat enak dan bikin perut minta tambah terus. Jika saja lambungnya sebesar ember mungkin sudah di habiskannya." Cerita Fatimah dengan binar mata bahagia. Membayangkan saat-saat Husein melahap makanannya tanpa henti.


'Anda saja Bunda tahu putra Bunda itu tak menyentuh makanan itu sama sekali. Pasti Bunda akan merasakan kekecewaan kepada putra Bunda seperti yang saat ini aku rasakan. Padahal aku sudah mengingatkan jika makanan itu juga ikut campur tangan Bunda. Tapi lihatlah bahkan Mas Husein tidak menyentuhnya sama sekali, Bunda. Makanan itu sudah teronggok di tong sampah Bunda,' batin Aida yang semakin menangis. Bahkan netra terang itu sudah tampak berkaca-kaca.


"Ehh, kamu kenapa nangis Ai?" Fatimah terkejut melihat mata menantunya berkaca-kaca.


"Emm tidak apa-apa kok Bun, aku hanya terharu saja dengan ucapan Bunda," jawab Aida menghapus air mata yang dengan lancangnya malah keluar dari mata itu.


"Kirain Bunda kamu beneran nangis Ai," ujar Fatimah tersenyum.


'Aku beneran lagi nangis Bunda, aku nangis karena makanan itu sudah teronggok secara mengenaskan di dalam tong sampah. Jika saja memang tidak akan di makan Mas Husein, aku akan rela membawa kembali dan memberikan untuk orang yang membutuhkan Bunda,' Lagi-lagi batin Aida berkata.


"Heheh nggak kok Bun, lagian buat apa aku menagis? Aku kan tidak sedang di marahin sama Bunda,"


"Kamu ada-ada saja Ai, Bunda tidak akan pernah marahin kamu, Ai. Kamu itu sudah seperti putri Bunda sendiri. Meskipun status kamu hanya seorang menantu tapi, Bunda sudah menganggap kamu lebih dari sekedar itu," Jujur Fatimah kepada menantunya.

__ADS_1


"Bunda bisa saja," Aida tersipu mendengar ucapan ibu mertuanya.


****


Husein, Aida serta kedua orang-tua Husein kini tengah duduk di ruang tamu sambil menikmati tontonan yang tengah tayang di televisi. Di temani teh manis serta kue kering yang di letakkan di dalam toples.


"Seim, Ai besok Ayah dan Bunda akan kembali lagi ke luar negeri karena pekerjaan disana sudah menunggu. Jadi Ayah dan Bunda tidak jadi menginap satu minggu di sini." Hamzah membuka pembicaraan saat mereka tengah menatap ke arah televisi.


"Kenapa cepat sekali Yah? Bukankah baru dua hari Ayah dan Bunda berada di sini?" Aida menatap Ayah mertuanya itu. Padahal Aida masih ingin menikmati kebersamaan dengan ibu serta Ayah mertuanya.


"Ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu lebih lama Nak, maka dari itu Ayah dan Bunda besok harus kembali lagi ke sana. Mungkin dalam waktu yang cukup lama karena, Ayah akan menyelesaikan tugas di sana dan akan pulang ke sini lagi tapi, in syaa Allah Ayah dan Bunda akan menetap di sini dan menyerahkan perusahaan di sama kepada orang kepercayaan Ayah," jelas Hamzah kepada menantunya.


"Tapi sebelum Bunda dan Ayah pulang, Bunda ingin kamu dan Husein sudah memberikan kabar bahagia untuk kami, Nak. Agar nanti kami bisa bermain dengan anak-anak kalian. Bunda sudah sangat ingin memiliki cucu," ungkap Fatimah menatap berganti anak dan menantunya.


"Iya Sein, Ai apa yang di bilang Bunda itu benar. Kami sudah tidak sabar untuk bermain dengan cucu kami yang tentunya lahir dari rahim istri kamu, Aida," Hamzah menekan kata Aida sambil menatap tajam sang putra.


"Ahh iya, do'ain saja ya Bun, Yah," jawab Husein sekenanya. Bahkan di lubuk hatinya tidak pernah menginginkan kelahiran seorang anak dari rahim istrinya itu. Husein hanya menginginkan anak yang ke kelur dari rahim sang kekasih, Sinta.


"Pasti, Bunda dan Ayah pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian, Nak," Senyum manis tercetak sempurna di wajah tua Fatimah yang alhamdulillahnya masih terlihat muda.


Aida tidak mengeluarkan mendapatnya. Tidak ada yang bisa di ucapkan Aida selain diam dengan pikiran yang terbang entah kemana. Mulutnya seakan terkunci dan enggan untuk menjawab ucapan sang mertua.



__ADS_1


"Kau jangan besar kepala saat Bunda mengatakan ingin memiliki seorang cucu. Harus kau ingat jika saya hanya ingin anak yang lahir dari rahim kekasih saya!" Tekan Husein kepada Aida yang kini mereka tengah berada di dalam kamar untuk bersiap tidur.



Aida menatap Husein dengan kening berkerut. Bahkan dirinya saja tidak membahas perihal anak yang dia ketahui pasti Husein tidak akan mau anak hang lahir dari rahimnya. Menyentuhnya saja Husein tidak akan mau bagaimana bisa dia akan hamil.



"Iya Mas, aku paham dengan apa yang kamu katakan. Tanpa kamu perjelaspun aku sudah mengerti," Aida sebisanya menampilkan senyumnya meski itu terpaksa.



"Bagus kalau kau paham. Jadi saya tidak akan capek-capek untuk mencari jawaban jika suatu saat Bunda dan Ayah menanyakan anak kepada kita. Saya akan cukup menjawab jika kita masih ingin menghabiskan masa berdua saja tanpa kehadiran seorang anak untuk waktu yang cukup lama." ucap Husein tanpa tahu bagaimana sakitnya hati Aida saat ini.



"Iya Mas," Hanya itu yang bisa Aida ucapkan. Hatinya sudah teriris dengan penolakan yang dilakukan Husein kepadanya.



Aida memilih untuk tidur dari pada memperpanjang masalah yang akan datang. Tubuhnya saat ini juga sudah sangat lelah termasuk hatinya. Maka dari itu Aida lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.



TBC

__ADS_1


__ADS_2