SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 38


__ADS_3

Puas menggombali istrinya kini husein memilih tiduran diatas paha sang istri. Tangan Aida tak henti-hentinya mengelus lembut kepala suaminya yang menajamkan mata dengan damai. Bahagia rasanya melihat suaminya yang sekarang subah 360 derjat dari sebelumnya yang hanya 100 derjat.


Aida tak pernah menyangka jika suaminya akan jatuh cinta kepadanya, padahal Aida mengira rumah tangga mereka yang sudah di ujung tanduk akan berakhir dengan melepaskan untuk mencari kebahagiaan masing-masing. Tapi, nyatanya Allah tidak ridho jika mereka berpisah dengan membukan pintu hati Husein untuk memperbaiki rumah tangga mereka. Membuat hati laki-laki itu untuk menerima dirinya dan menjadikan dirinya bidadari di hatinya serta hidupnya.


Kini hanya satu harapan Aida di dalam rumah tangganya yaitu segera memiliki seorang anak agar menambah kelengkapan dalam rumah tangga mereka. Bukan Aida maupun Husein tak usaha, hanya saja Allah masih memberikan mereka kesempatan untuk menjalani hari-hari berdua mereka. Allah itu memang maha baik, Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.


"Zaujati," panggil Husein yang membuka kelopak matanya. Menatap istrinya yang masih setia mengelus rambutnya. Sesekali istrinya itu tersenyum dengan apa yang dia lakukan.


"Hmm, apa Zaujan?" Pergerakan tangan Aida terhenti sejenak. Melihat suaminya yang kini sudah menatap dirinya.


"Apa boleh aku meminta sesuatu Zaujati?" Husein mendudukkan tubuhnya dengan sempurna. Memegang erat tangan istrinya.


Kening Aida mengernyit. "Minta apa Zaujan? In syaa Allah jika aku bisa pasti akan aku kabulkan." jawab Aida yang tak lepas dari senyum di bibirnya.


"Aku tidak mau jika wajah ini di nikmati laki-laki lain selain aku. Aku tidak mau laki-laki lain akan tergoda dengan wajah kamu, Zaujati. Aku tidak mau laki-laki lain melihat dengan matanya yang penuh damba atas wajah cantik ini. Hanya aku, hanya aku yang boleh melihat wajag ini Zaujati," Husein mengusap lembut wajah istrinya.


"Bisakah Zaujati menutup wajah yang hanya milikku ini dengan selembar kain? Bisakah Zaujati memenuhi permintaan Zaujan?" Lanjut Husein mengelus lembut pipi istrinya.


Senyum Aida mengembang, Aida tahu apa yang dia maksud dengan selembar lain yang di ucapkan suaminya jika bukan cadar. "Baiklah Zaujan. Apapaun yang terbaik bagi dirimu dan juga Zaujan pasti aku akan turuti asalkan masih tetap dalam tahap baik." jawab Aida.


"Terima kasih Zaujati. Meskipun aku tahu jika menutup wajah dengan cadar bukanlah suatu hal yang wajib dan ada beberapa pendapat tentang memakainya cadar itu. Seperti halnya mahzab Syafi'i mengatakan bahwa aurat wanita di depan ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mewajibkan mereka untuk memakai cadar di hadapan laki-laki ajnabi."

__ADS_1


"Wanita memiliki tiga jenis aurat yang pertama aurat dalam sholat sebagaimana telah dijelaskan jika seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Yang kedua aurat terhadap pandangan ajnabi yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan. Dan yang terakhir aurat ketika bersama dengan mahram sama dengan laki-laki sekitar paha dan pusar (Hasyiah Asy Syarni 'Ala tahfatul Muhtaaj 1/122). Itu masih dalam pendapat iman Syafi'i beda lagi dengan pendapat mahzab Hanafi dan Maliki adalah sunnah (dianjurkan)." jelas Husein membuat Aida mengembangkan senyum manisnya.


Tak menyangka jika ilmu agama suaminya kini sudah semakin banyak, wakryu satu tahun lebih untuk belajar agama nyatanya bisa membuat Husein seperti saat ini. Meski belum semuanya yang Husein tahu tapi ini sudah cukup pada tahap yang banyak. Selagi mau untuk belajar, belajar dan belajar maka tidak akan ada kecewa yang menghampiri. Intinya itu usaha dan mau dari hati terdalam maka tidak akan sia-sia.


"Terima kasih Zaujan. Besok aku akan ke mall untuk membeli bebeberapa cadar lebih dahulu, nanti untuk yang lainnya bisa kapan-kapan di beli lagi,"


"Baiklah Zaujati, apa perlu Zaujan temani?" tanya Husein kepada istrinya.


Aida menggeleng. "Tidak usah Zaujan. Biar aku sendiiri saja yang pergi sekalian mau beli bahan-bahan masak yang sudah habis." tolak Aida halus. Bukannya apa, hanya saja Aida tidak ingin suaminya lalai akan perusahaan hanya karena menemani dirinya untuk membeli beberapa kebutuhannya dan kebutuhan rumah. Aida hanya akan membeli cadar di mall sedangkan untuk bahan dapur Aida lebih memilih di pasar karena harga yang tentunya murah meriah. Bukan pelit, karena di pasar Aida juga akan bisa berbagi dengan beberapa pengemis di sana.


Husein hanya mengangguk tanda setuju dengan yang di katakan istrinya. Husein juga tidak mau memaksa istrinya agar dirinya ikut bersamanya meski dirinya ingin.


******


"Enak Zaujati," Kini sudah potongan ketiga yang masuk ke dalam mulut Husein.


"Hmm iya Zaujan," jawab Aida yang juga tengah mengunyah nutrijjel di dalam mulutnya.


"Besok bawa juga ke kantor untuk makan siang ya, Zaujati. Apa ada rasa lainnya Zaujati?" Husein melirik sekilas istrinya sebelum mengambil potongan ke empat. Meski sudah malam begini rasanya tetap enak di lidah meski terasa dingin.


"Ada Zaujati. Mau rasa apa? Melon, mangga, stroberi, jeruk?"

__ADS_1


"Emm, rasa melon keknya enak Zaujati. Tapi jangan kasih biji ini ya," tunjuk Husein pada biji-biji hitam yang ada di dalam nutrijjel yang dimakannya.


"Baiklah Zaujan. Apa masih mau nambah Zaujan?" Aida melihat piring yang tadi berisi penuh dengan potongan nutrijjel kini sudah habis tanpa sisa.


"Sudah cukup Zaujati, yuk kita ke kamar," Husein menarik lembut tangan istrinya. Membawanya menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.


Husein berjongkok di depan istrinya yang duduk di bibir ranjang. Menatap wajah cantik istrinya yang kini tak lagi memakai hijab dengan lapisan baju tidur yang tidak terlalu tebal. Memegang erat kedua tangan lembut istrinya dengan ke-dua tangannya yang besar.


"Zaujati," ucap Husein yang sesekali menciumi tangan istrinya.


"Apa Zaujan,"


"Apa malam ini boleh, Zaujati?" Makna tersirat itu dapat di baca oleh Aida. Apalagi jika bukan melakukan hubungan suami istri yang tentunya mendapatkan pahala.


Dengan malu-malu Aida mengangguk lemah. "Iya Zaujan, boleh," jawabnya dengan wajah merona membuat Husein terkekeh.


Inilah yang disukai Husein dari istrinya. Istrinya yang selalu terlihat malu-malu setiap mereka akan meneguk manisnya surga dunia.


Sebelum melakukan hubungan lanjut lebih dulu Husein meletakkan tangannya di pucuk kepala Aida. "Bismillaahirrohmaanirrohiim. Allaahumma jannibnash-Shaytaana, wa jannibish-Shaytaana maa razaqtanaa."


Setelah itu apa yang tadi di inginkan Aida maupun Husein akhirnya terlaksana. Meneguk manisnya surga dunia di malam yang tampak terang karana cahaya bintang dan bulan yang begitu terangnya. Menjadi saksi dari perbuatan yang dilakukan Aida maupun Husein.

__ADS_1


"Terima kasih Zaujati," Husein mengakhiri kegiatan mereka dengan mendaratkan ciuman pada kening sang istri dengan lembut. Yang di balas anggukan oleh Aida karena mata wanita itu sudah tertutup dengan rapat. Rasa kantuk membuat Aida tak dapat lagi membuat matanya terbuka dengan sempurna.


TBC


__ADS_2