SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 39


__ADS_3

Husein masih bekerja seperti hari-hari biasanya. Setiap makan siang akan selalu di temani istrinya yang membawakan makanan lezat hasil karya tangan sang istri.


Fokus Husein saat ini hanya pada berkas-berkas yang ada di depannya. Membubuhi tandatangan pada kertas putih yang terdapat coretan tinta hitam.


"Masuk!!" Husein menghentikan tangannya sebentar. Menatap siapa yang masuk kedalam ruangannya dengan ketukan yang terdengar tergesa.


"Sayang i'm coming!!" Suara cempreng seorang wanita memasukinya ruangan Husein dengan senyum merekah dengan sempurna.


Husein cukup terkejut dengan kehadiran wanita yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya. Sinta, wanita yang sudah satu tahun lebih ini tidak pernah bertemu lagi kini dengan sendirinya menampakkan wajahnya kepada Husein.


"Sinta?" Satu kata yang keluar dari mulut Husein.


"Ahhh, aku kira kamu sudah melupakan aku Sayang. Kamu benar aku, Sinta kekasih kamu," Wanita itu bergegas menuju Husein dan hendak memeluk tubuh Husein. Namun, dengan segera Husein menahan tubuh wanita itu agar tidak bersentuhan dengan dirinya. Dirinya tidak akan pernah menghianati wanita yang berada di rumah saat ini. Wanita yang sudah memenuhi seluruh hatinya tanpa ada celah untuk siapapun yang bisa masuki hatinya.


"Kenapa Sayang? Apa kamu tidak merindukanku setelah sekian lama? Sudah satu tahun lebih kita tidak bertemu Sayang? Aku sngat merindukanmu," kembali Sinta hendak memeluk tubuh Husein. Tapi lagi-lagi Husein mendorong tubun Sinta. Dirinya sungguh tak sudi untuk bersentuhan dengan wanita di depannya ini. Apalagi semenjak hubungan rumah tangganya dengan Aida sudah mulai di perbaiki Husein juga mulai banyak berubah dan belajar ilmu agama melalui istrinya, televisi dan ceramah-ceramah yang bisa dia lihat melalui benda pipih yang biasa disebut HP.


"Maaf kita bukan mahram, dan lagian kita juga tidak memiliki hubungan khusus seperti dulu. Hubungan kita sudah kandas saat kamu menghianati cintaku. Tapi terima kasih karena sudah membuka pintu hatiku agar tak salah dalam memilih pendamping hidup." ucap Husein menatap Sinta yang terkejut.

__ADS_1


Sinta menatap tak percaya laki-laki didepannya. Sungguh banyak perubahan yang dialami cintanya itu selama satu tahun lebih ini. Tak menyangka jika laki-laki itu akan bersikap seperti seorang laki-laki sholeh yang akan anti dengan seorang wanita yang menyentuhnya.


"Kamu kenapa Sayang? Kenapa kamu berubah?" tanya Sinta bingung.


"Berubah? Kamu benar. Sekarang aku memang sudah berubah. Selama ini aku berusaha agar tak lagi terjerumus ke dalam gelimang dosa yang membuat aku masuk ke dalam neraka yang teramat panas. Aku berubah juga untuk diriku dan juga keluargaku."


"Aku masih mencintai kamu, Sayang. Mari kta bentuk lagi hubungan kita dari awal." Bukannya menanggapi ucapan Husein, Sinta malah mengalihkan pada topik lain.


Husein menggeleng. "Maaf, kita sudah tidak bisa lagi seperti dulu bahkan sampai kapanpun tidak akan pernah. Kamu tau sendiri jika aku sudah memiliki istri yang tidak akan pernah aku buat kecewa untuk kedua kalinya. Aku tidak mau lagi menyakiti hati istriku seperti yang sudah berlalu. Jadi aku berharap cukup sampai disini kamu menganggu diriku dan pergilah berbahagia bersama laki-laki pilihan kamu."


Sinta menggeleng. "Tidak Sayang, hanya kamu laki-laki yang ada di hati aku. Hanya kamu laki-laki yang aku inginkan Sayang. Ayo Sayang, kita buat lagi hubungan baru dengan suasana yang baru. Kapan perlu kita menikah saja sekalian Sayang, tidak usah jika menjalin kasih seperti dulu." bujuk Sinta yang teka kehabisan akal.


"Maafkan aku, aku sudah tak lagi ingin menjalin kasih degan siapapun. Ingat di hati ini bahkan tak ada lagi sedikitpun tersimpan nama kamu, Sin. Aku hanya mencintai istriku baik sekarang maupun untuk yang akan datang. Bahkan sampai nyawa ini sudah berpulang kepangkuam sang Kuasa cinta itu hanya milik istriku,"


Beberapa kali Husein melihat Sinta menggelengkan kepalanya. Bahkan mata wanita itu tampak sudah memerah yang rasanya sebentar lagi banjir bandang akan menyusuri pipi Sinta.


"Tidak Sayang, kamu tidak boleh mencintai wanita itu. Kamu hanya milikku, kamu hanya akan terus mencintai aku, Sayang. Aku yakin kamu hanya akan mengelabui aku hanya demi mencari wanita lain yang lebih seksi dari aku. Aku yakin itu Sayang. Aku tahu, bahkan sangat tahu wanita seperti apa impian kamu, Sayang. Bukan malah wanita yang serba tertutup seperti istri kamu itu. Dia sungguh bukan selera kamu, Sayang. Aku mohon kembalilah bersamaku dan aku janji tidak akan lagi menghianati kamu, Sayang," bujuk Sinta membuat Husein menghela nafasnya dengan kasar. Memang susah mengatakan dengan lembut pada wanita keras kepala itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Sin, aku benar-benar mencintai istriku. Baik kamu percaya ataupun tidak itu urusan kamu. Yang terpenting aku sudah menjelaskan yang sejujurnya sama kamu."


"Tidak Sayang, kamu jangan membohongi hati kamu, Sayang. Jangan kamu bohongi hati kamu hanya demi wanita itu Sayang. Aku tahu kamu hanya menjadikan dia pelampiasan karena aku sudah menghianati cinta kamu, Sayang. Aku mohon kembali lah padaku, aku akan selalu ada untuk kamu kedepannya Sayang. Aku janji!!" Lagi-lagi Sinta membujuk Husein seakan wanita itu menang tidak akan pernah ke kehabisan ide.


"Kamu salah jika mengatakan aku menjadikan istriku pelampiasan. Karena sejujurnya hati ini memang sudah menjadi miliknya. Hanya dirinya yang ada di dalam hati ini. Hanya istriku, istriku dan istriku. Ingat itu Sinta. Jadi aku ingin kamu jangan lagi berharap sama aku, karena sudah mustahil untuk kamu. Mendingan kembalilah pada kekasih kamu yang lainnya agar rasa sepi kamu tidak ada lagi, kapan perlu ajaklah dia untuk menikah agar dosa tak terus mengalir untuk diri kamu,"


"Kamu tega sama aku, Sayang? Kamu tega membiarkan aku mencari laki-laki lain sedangkan hati aku hanya untuk kamu?" Sinta menatap sendu wajah laki-laki yang engan menatap dirinya. Bahkan saat berbicara saja Husein lebih memilih menatap berkas-berkas yang ada di mejanya.


"Maafkan aku, aku melakukan itu juga untuk kebaikan kamu, Sin. Sudah cukup dulu kita dan kamu dengan laki-laki pilihan kamu yang lainnya menanggung dosa. Kini berubahlah, agar dosa tak terus mengalir kepada diri kamu. Aku yakin suatu saat pasti kamu akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku. Aku bukanlah laki-laki yang baik untuk kamu, Sin."


Sinta menggeleng keras tak setuju dengan ucapan Husein. "Tidak Sayang, aku yakin kamulah laki-laki baik itu. Kamulah laki-laki yang ditakdirkan Tuhan untuk aku, aku yakin Sayang."


"Apapun yang kamu inginkan tak melulu bisa kamu dapatkan Sin. Kadang kala apa yang menurut kita baik belum tentu bagi Allah itu juga baik. Allah tahu mana yang terbaik bagi hambaNya. Jadi Berubahlah karena Allah, agar Allah akan memberikan kamu seseorang yang lebih baik dari aku,"


"Kamu jahat Sayang!!! Kamu jahat!!" Marah Sinta yang langsung meninggalkan ruangan Husein dengan wajah penuh air mata. Tak menyangka jika kedatangannya kali ini tak membuahkan hasil seperti yang sudah ada di kepalannya.


"Ini semua demi kebaikan kamu Sin!!" teriak Husen agar wanita itu dapat mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Aku berharap kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku, Sin." Do'a Husein.


TBC


__ADS_2