
...Genggamlah tanganku, bersamaku...
...Kau kan menentukan arah...
...Bersama diriku yang kan slalu...
...menjaga dirimu.....
...Yakinkan hatimu temaniku...
...di setiap langkah-langkahmu...
...Ku di sini, di sampingmu...
...Ku kan slalu ada untukmu...
"Kenapa gak jadi penyanyi aja sih..? Suara mas Harris lumayan kok..." seloroh Keara. Usai mendengarkan sang suami bersenandung untuknya.
Usai menyantap hidangan makan siangnya, Harris mengajak istrinya untuk sholat dhuhur berjamaah. Lantas keduanya saat ini sedang duduk saling berpelukan di sofa dekat pintu masuk kamar hotelnya. Keara dengan nyamannya duduk sambil menumpangkan kedua kakinya di atas paha sang suami. Mereka menonton tv dan mendengarkan musik seraya mengobrol kesana kemari.
"Sudah pernah, sayang.."
"Oh ya?"
"Hm.. Jadi penyanyi jalanan. Alias pengamen.."
Keduanya tertawa renyah.
"Mas, aku merasa banyak yang belum kuketahui tentang mas Harris..."
"It's okey, sweetheart, kita bisa pelan-pelan menyelami kehidupan masing-masing.. oke?"
Keara mengangguk. Lalu Harris melu mat bibir manis wanita kesayangannya itu. Mereka benar-benar seperti pasangan yang mabuk akan cinta. Mereka seperti tidak bisa lepas satu sama lain. Saling mendekap dan menyentuh setiap saat.
"Sayang, kamu mau kita honeymoon dimana?" tanya Harris.
"Honeymoon?" tanya Keara. Kilatan netranya sudah berbinar mendengar kata honeymoon. Berharap jadi peluangnya untuk bisa berlibur ke tempat-tempat wisata yang indah bersama suami untuk pertama kalinya.
"Hem.."
"Emangnya mas Harris gak sibuk?"
"No, sweetheart.. Pekerjaan sepenting apapun rela kutinggalkan demi bisa mencoba sensasi bercocok tanam denganmu di berbagai negara..."
__ADS_1
"Hahahahaa.. Kenapa pikiran mas Harris isinya itu lagi.. itu lagi... Kelamaan jadi bujang lapuk sih.. Mesum aja pikirannya.."
"Siapa yang bisa nahan iman buat ga mesum kalau deketan sama kamu, sayang? Salah sendiri kamu enak banget.. Pokoknya aku mau bercinta denganmu setiaaapp hari seumur hidupku.." Harris menyeringai lebar. Membayangkan seumur hidupnya akan ia habiskan bersama gadis yang dia cintai. Cinta pertama dan terakhirnya itu yang sudah resmi menjadi miliknya. Miliknya satu-satunya.
"Hahh?" Keara membulatkan mata. Tapi kemudian ia mencoba maklum dengan pikiran mesum suaminya.
"Sebutkan sayang, kamu mau kita ke negara mana? Dua minggu ke depan aku sudah mengosongkan jadwal.."
"Ehmm.. Aku mau ke Korsel.." cetus Keara. Gadis itu menoleh tepat di depan wajah Harris. Membuat lelaki itu leluasa menyatukan bibir mereka untuk kesekian kalinya.
"Oke, tuan putri.. Request accepted." Harris kemudian terlihat mengirim pesan pada Aswin, asistennya. Untuk mencari tiket pesawat penerbangan esok hari.
"Kita tunggu kabar dari Aswin dulu, oke? Baru bisa tau jam berapa kita akan berangkat besok.."
"Besok?"
"Iya, sayang.."
"Mendadak banget? Aku belum nyiapin apa-apa.."
"Memangnya apa yang akan kamu siapkan? Di Korea kita hanya perlu menyewa hotel yang nyaman, dan kamu telan*jang setiap hari bercinta denganku.. Itu tujuan bulan madu kan, sayang? Untuk apa kitaa aaawwwhhhh.....!!" bualan Harris terpotong karena istrinya itu dengan sadis mencubit pinggangnya. Ia meringis kesakitan sambil mengusap bekas cubitan yang mulai memerah itu.
"Sembarangan aja kalau ngomong.. Kalau tujuannya cuma pindah hotel bercinta ya gak usah bulan madu sekalian.. Di rumah juga bisa.. Dasar sengklek.."
Harris tergelak. Merasa aneh bagaimana dia bisa sangat senang dikatai istrinya sengklek. Bergaul dengan Keara membuat kosa katanya terus bertambah. Kalau bahagianya, jangan ditanya lagi.. Berlipat ganda setiap detiknya.
Harris tergelak lagi. "Kenapa gara-gara aku? Kamu sendiri yang batal terbang..."
"Kalau bukan gara-gara mas Harris, terus gara-gara siapa lagiii???" geram Keara pada suaminya.
"Iya, oke-oke.. Aku minta maaf, oke? Honeymoon besok kita Korea Selatan. Untuk ganti rugi kesalahanku tempo hari.." fix, wanita selalu benar. Daripada mengajaknya berdebat, lebih baik mengalah. Biar lancar proses penyaluran has rat kapanpun dibutuhkan.
Harris kembali meraup bibir ranum itu. Tangannya bergerilya menerobos di balik kemejanya yang dikenakan Keara. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menyentuh istrinya. Wanita dengan kemeja miliknya itu berhasil membuatnya resah gak karuan.
"Sudah kubilang, kamu sangat se*xy kalau sedang memakai bajuku, sayang... Ini kamu pakai kemejaku jadi jangan salahkan aku kalau aku sangat ingin bercinta denganmu.." ucap Harris tadi. Sebelum keduanya berpacu dengan has rat yang membuncah di atas sofa.
Pengantin baru yang sedang dikuasai gai*rah dan cinta yang menggelora, saling memompa menciptakan suara desa han paling menggoda dari mulut Keara. Mengeksplore sofa hotel yang nyaman meski tidak terlalu luas untuk mengakomodir gerakan menggila keduanya. Hingga raga mereka basah bercucuran keringat.
Harris meraba-raba meja kecil di samping sofa. Mencoba menggapai smartphone miliknya yang terus menggelepar mengganggu aktifitas paling menyenangkan yang ia lakukan siang ini.
Harris menggapai ponselnya setelah ia puas mengatur nafas setelah pelepasannya. Ia sudah pasti siap memaki siapapun yang berani meneleponnya saat ia sedang menikmati hangat tubuh wanita tercintanya.
*Aswin calling
__ADS_1
"Hhhrrgghh..!!" geramnya, siap mendamprat asisten kurang ajarnya itu.
"Mas... minggir dulu, sesak.." Harris spontan beringsut ke tepi sofa. Dia tidak sadar masih berada di posisi menindih istrinya di atas sofa.
"Maaf sayang.. Aku angkat telepon dari Aswin dulu yaa..."
Harris menjawab telepon dari asistennya, tanpa beranjak dari posisinya menjepit Keara di sofa. Lengannya mengusap punggung wanita penuh peluh itu.
"Sudah kubilang jangan menggangguku." semprotnya, tanpa berhalo-halo terlebih dahulu. Padahal dia sendiri tadi yang memberikan tugas pada asistennya itu untuk mempersiapkan honeymoonnya.
"Taruh saja di meja resepsionis hotel.."
"Baiklah. Cepat katakan. Awas kalau gak penting!" ketusnya lagi.
"Oke. Naik ke kamarku lima belas menit lagi.."
Setelah mematikan ponselnya, Harris mengusap puncak kepala istrinya. Mengecup rambut yang masih setengah basah. Entah karena sisa keramas Keara tadi, atau karena keringat hasil produksi olahraganya barusan. Wanita dalam dekapannya itu sedang menggambar bulatan di dada Harris dengan ujung jarinya.
"Sayang, kamu mau mandi dulu? lima belas menit lagi Aswin dan Bara akan kesini.."
"Ehmm.. Aku mau mandi dulu aja."
"Inget yaa.. pakai baju kamu sendiri. Jangan pakai bajuku di depan laki-laki lain. Siapapun itu."
"Iyaa iyaa.. Suamiku yang pelit. Bilang aja aku gak boleh pinjam bajunya.."
"Bukan begitu sayang......"
Keara memakai lagi kemeja Harris yang tadi ia pakai. "Ini aku pinjem sampai ke kamar mandi aja. Abis itu aku lemparin lagi kesini.. oke? Dasar pelit."
"Hey..." Harris mencoba menangkap tubuh ramping istrinya. Tapi Keara menghindar dengan cepat. Ia berlari cepat untuk menghindari terkaman Harris sambil tertawa lebar sekali.
Sampai wanitanya masuk ke dalam kamar mandi, Harris tergelak senang. Kebahagiaannya tidak bisa diucapkan lagi. Membuat dadanya seakan dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu yang sangat indah. Ia berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah redup dari hidupnya. Ia bersedia menukar apapun demi bisa memiliki wanita ini seumur hidupnya.
...----------------...
...----------------...
Selamat hari senin π₯°πΉ
Jangan lupa VOTE buat sangu Mas Harris Honeymoooooonn π¦Έππ
πΉ Happy reading
__ADS_1
πΉ jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru π
πΉ klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih