
"Assalamualaikum, Ky.. Bro, bagaimana kabar kamu?" Harris mengucapkan salam seraya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Rizky Adhitama Putra.
Usai melafalkan doa-doa takziah demi menentramkan jiwa dalam kubur sahabat tersayangnya, menabur bunga, dan menyiramkan air di atas pembaringan terakhir Rizky. Harris mengusap batu nisan itu dengan sebongkah kerinduan yang membingkai.
Dahulu, tidak ada yang bersedia membersamainya kecuali sahabatnya, Rizky. Tidak ada yang mau mengerti dan memahami masa kelamnya. Bahkan keluarganya sekalipun. Dan sekarang, sahabatnya ini justru terbaring selama-lamanya seorang diri.
Harris tak kuasa mengubah takdir. Seandainya bisa, ia lebih memilih sahabatnya itu hidup lebih lama. Membersamainya sampai usia renta menyapa. Meskipun jika benar itu terjadi, sebagai penukarnya, ia tidak akan pernah bisa mendekati Keara. Cinta pertama yang ia pendam dalam-dalam. Akan tetap terkubur seumur hidupnya.
Tapi Harris sungguh tidak keberatan dengan itu. Asalkan dia masih memiliki sahabat yang selalu bersamanya dalam suka dan duka. Pun ia tak perlu mengkhawatirkan Keara, karena gadis yang dicintainya itu akan jatuh ke pelukan Rizky. Lelaki yang baik hatinya, kalem, dan sholeh. Yang sangat ia yakini mampu memberi kebahagiaan lahir batin pada Keara.
"Ky.. Aku tau, aku udah kelewatan. Kamu pasti marah kan di atas sana..? Ah, benarkah kamu marah? Aku pasti sangat sedih kalau kamu belum merelakannya..." monolog Harris seraya terus menumpukan sebelah tangannya di atas nisan Rizky.
"Kamu hanya memintaku untuk dekat dan mengakrabkan diri dengan K. Agar aku dan Keara tidak lagi kesepian. Agar kami bisa berteman. Tapi aku malah menciumnya dan memintanya menjadi kekasihku. Ky, aku janji aku akan bahagiain dia. Aku akan lakukan apa saja untuk melindungi dia. Untuk mencukupi kebutuhannya. Aku juga bersedia memberinya apa saja yang dia mau, asalkan dia tetap tersenyum dan bahagia."
"Rizky, kamu rela kan aku dan K bersatu? Datang ke mimpiku dan jawab pertanyaanku. Oke?" Harris tertawa kecil. Sadar permintaannya sangat absurd. Sungguh ia tahu betul, Rizky sudah tenang di alam kekal. Tidak akan turut pusing lagi dengan permasalahan duniawi.
"Ada satu lagi yang ingin kukatakan padamu, Ky... Tentang gadis yang kuceritakan padamu tiga tahun lalu.."
"Gadis yang kutemui selalu menangis di taman. Gadis yang secara aneh membuatku jatuh cinta hanya karena ia curhat sedang dikhianati oleh pacarnya. Gadis yang selalu datang ke taman untuk menangis karena tidak ingin ibu dan kakaknya khawatir jika melihatnya menangis di rumah. Sebenarnya, aku sudah bertemu gadis itu dua tahun lalu..."
Harris tertunduk layu. Ia menyesalkan harus membuka rahasia ini ketika Rizky sudah tiada. Sungguh bukan maksud hatinya ingin menipu sahabatnya sendiri.
"Gadis cengeng itu, gadis yang memanggilku Galen. Gadis yang kuceritakan padamu tiap kali aku bertemu dengannya di taman. Dia adalah Keara." Harris tertawa pilu.
"Waktu kamu mengenalkan Keara padaku, aku langsung mengenalinya. Tapi K tidak mengenaliku. Aku memilih menyimpannya rapat-rapat. Karena aku yakin, kalau kamu tau, kamu akan memilih mundur dan mendekatkan aku dan K. Heh.. Aku sudah hafal tabiatmu..."
"Aku senang K bertemu denganmu.. Sejak mengenalmu, dia tidak pernah lagi datang ke taman untuk menangis. Itu artinya kamu men-threat dia begitu istimewa."
"Rizky, sekarang aku dengan mantap berani memacarinya. Apa aku bisa membahagiakan Keara seperti kamu membahagiakannya..? Itu yang selalu mengganggu pikiranku, Ky.. Bagaimana kalau dia justru semakin menderita saat bersamaku? Bagaimana kalau kelak dia tahu masa laluku? Apa dia bisa menerimanya dan tetap mempercayaiku?"
•
•
•
"K, kamu lagi ngapain? Sedang dimana sekarang?" tanya Harris, begitu teleponnya tersambung dan dijawab oleh Keara.
Sudah tiga hari mereka tidak bertemu karena kesibukan Harris. Mereka hanya berkomunikasi intens melalui smartphone. Meskipun balasan Harris selalu terlambat dan Keara lebih cepat. Maklum, gadis itu masih resmi menyandang status pengangguran. Keara masih menolak tawaran kerja jadi asisten jalur modus Harris.
Sore ini, saat deadline pekerjaannya dirasa cukup longgar, ia menyempatkan berziarah ke makam Rizky. Kemudian ingin bertemu dengan gadis kesayangannya, Keara. Rindunya sudah membuncah tak terbendung lagi. Jadi ketika di perjalanan sepulang dari makam Harris, ia menelepon Keara lebih dahulu.
"Aku di rumah sakit mas.." jawab suara riang di seberang sana.
"Kenapa? Kamu sakit??" tanya Harris sedikit panik.
__ADS_1
"Enggak, mas.. Aku lagi jengukin bayinya mbak Marsya, boss aku sewaktu di kafe.. Baru lahiran kemarin.." sahut Keara.
"Ooh.. Gitu.." Harris mengangguk-angguk meski tau gadisnya tidak akan bisa melihat anggukannya.
"Mas Harris lagi dimana?"
"Di jalan. Mau ketemu kamu, K... Bisa?"
"Ehmm.. Bisa, mas.." jawab Keara. Sejujurnya, ia juga merindukan lelaki itu. Tapi gengsi menguasai hatinya. Membuatnya memilih untuk tidak mengakui kerinduannya.
"Aku kesana sekarang yaa..? Tunggu aku."
"Iya, mas.."
Tidak butuh waktu lama, Harris sampai di rumah sakit tempat Keara berada. Harris memutuskan untuk menunggu sampai Keara menyelesaikan urusannya. Tapi tetap mengirim pesan chat agar Keara tau keberadaannya.
"Sayang, aku sudah di lobi rumah sakit. Tapi kamu jangan terburu-buru.. Aku akan menunggumu sampai kamu selesai.."
Beberapa menit kemudian balasan yang diterima Harris justru sebuah foto. Foto Keara yang sedang menggendong bayi mungil yang masih merah. Keara yang memakai dress pendek warna pink, tampak seperti ibu muda yang hendak membawa bayinya berjalan-jalan. Seketika membuat Harris terpesona.
Harris terpaku melihat ponselnya beberapa detik lamanya. Tanpa berkedip ia terus memandangi foto Keara. Mengagumi kecantikan gadisnya itu. Dan betapa kerinduan sudah terasa semakin menyiksanya.
"Lucu banget ya mas..? Hehe.. Tunggu, sebentar lagi aku keluar.." chat masuk dari Keara.
"Cantik." satu kata balasan dari Harris. Satu kata yang sangat mewakili apa yang ada di benaknya saat ini.
"Kamu yang cantik."
"Hihiii ☺️ Makaciiih"
Tak lama kemudian, tampak Keara berjalan keluar dari lobi rumah Sakit. Dia bersama Ocha, tertawa-tawa kecil entah apa yang dibicarakan dua bersahabat itu.
"Mas Harriiiiss..." sapaan renyah yang dilontarkan ketika Harris berjalan mendekati keduanya, keluar dari mulut Ocha. Keara hanya tersenyum manis sambil terus menatap Harris.
"Halo, Ocha..." balas Harris. Kemudian netranya beralih melihat Keara, dan tangannya terulur mengusap rambut panjang gadisnya.
"Hai.." sapanya pada Keara.
Keara membalas dengan senyuman yang semakin dan netra yang berbinar. "Lama yaa nungguin aku?"
"Enggak kok.. Baru sebentar." jawab Harris. Padahal dia sudah menunggu selama setengah jam lebih.
"Tumben mas Harris sudah keluar kantor jam segini? Ini baru jam empat sore.." ujar Keara.
"Iya, kebetulan pekerjaannya sudah bisa ditinggal.. Tapi sepertinya nanti malam harus balik ke kantor. Jadi sekarang temani aku makan dulu yaa..."
__ADS_1
Keara mengangguk.
"Motor kamu?"
"Gak bawa. Tadi aku kesininya barengan Ocha.."
Harris mengangguk.
"Yuk, Cha.. barengan sekalian yuk.." ajak Keara pada sahabatnya itu. Harris pun mengiyakan.
"Gak usah deh.. Ntar aku ganggu kalian lagi.. Sekarang aja aku udah jadi obat nyamuk...." cibir Ocha. Dia menjawil pinggang Keara untuk menggoda sahabatnya itu.
"Yakin gak mau ikut..?"
"Iya, yakin.. Udah sana cabut." seloroh Ocha, seraya mendorong pelan bahu Keara.
Tapi saat kedua sejoli itu akan melangkah, ucapan Ocha menghentikan mereka.
"Tahu gak mas? Dulu padahal Keara pernah bilang, kalau dia rela mas Harris sama cewek mana pufffttthhjhk..."
Keara cepat-cepat membungkam mulut Ocha. Sebelum sahabatnya yang ember itu bocor semakin banyak...
Harris semula bingung dengan aksi dua cewek di depannya. Keara masih terus berusaha membungkam Ocha, sedangkan Ocha terus berusaha bicara.
"Ternyataa... masss.. Harris diembat.. sendiri sama diaa. Buahahahaa..." ucap Ocha tersendat- sendat akibat bungkaman tangan Keara yang terus berusaha menjangkau. Tapi meski demikian, Harris sudah bisa menangkap apa maksud Ocha. Dia hanya tersenyum melihat wajah Keara yang sudah memerah.
"Iih dasar ember bocor.." dengus Keara sebal. Gadis itu lalu menggamit lengan Harris dan menariknya pergi.
"Udah ayok mas.. Kita pergi sekarang.. Jangan dengerin dia. Otaknya lagi konslet."
Harris tergelak melihat tingkah menggemaskan Keara. Dia sudah tidak tahan ingin menggoda gadis ini, meskipun sebagai balasannya ia pasti akan jadi sasaran cubitan maut yang mematikan sebagai senjata andalan Keara.
"Jadi.. Kamu rela Aku bersama cewek manapun..? Sekarang boleh nyari cewek lagi dong berarti..." goda Harris setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Iiihh... Gak gitu maksudnya..."
"Aaawwhh.. Iiishh.. Sakit sayaaang..."
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
...----------------...