
~Selang beberapa hari kemudian~
Sore hari sepulang kerja, Keara berjalan menuju parkiran motor. Hari ini kafe cukup ramai. Keara kuwalahan menghadapi pelanggan yang tak ada habisnya. Beberapa dari mereka tak sedikit yang iseng menggoda Keara. Meminta nomer ponselnya dan mengajak berkenalan. Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.
Tapi seorang pelanggan membuatnya tertarik. Seorang laki-laki yang saat ini berdiri menyandar di sebuah mobil. Ganteng sih.. tapi bukan itu yang membuat Keara terusik.
Pasalnya, sudah semingguan ini setiap hari Keara selalu melihat laki-laki ini duduk sendirian di kafe. Berjam-jam. Dan laki-laki ini juga selalu menunggu Keara pulang sambil bersandar di mobilnya.
Awalnya Keara merasa curiga, tapi karena tidak ada yang terjadi padanya, diapun mengabaikan lelaki ini. Setiap hari lelaki ini selalu datang. Memesan hot cappucino dan duduk di area outdoor sambil merokok. Dia datang jam satu siang dan pulang bersamaan dengan jam pulang kerja Keara. Aneh.
"Mas kok sering kesini sendirian sih?" tanpa tedeng aling-aling, Keara menghampiri dan melontar tanya pada customer aneh itu. Dia amat penasaran dan yakin kalau lelaki ini sering memperhatikannya. Bukannya GR, tapi Keara sering menangkap basah lelaki ini mengarahkan kamera ponselnya ke arah Keara.
"Eh.. eee.. Yaa.. gak papa.. Emangnya gak boleh kesini sendirian ya mbak?" jawab si aneh itu geragapan.
"Sendirian sih gak masalah. Tapi kok kayaknya sering ngikutin saya ya?" selidik Keara lagi.
"Ehehehee.." si aneh itu terkekeh dengan nada canggung. "Mbaknya aja kali yang GR.."
"Awas yaa.. kalau masnya macam-macam." ancam Keara. Dia langsung berlalu mendekati parkiran motor.
Keara langsung mengendarai matic kesayangannya. Berjalan menembus kepadatan jalanan sore. Berlomba dengan banyak orang yang juga mempunyai satu tujuan dengan Keara. Yaitu ingin segera sampai di rumah masing-masing.
•
•
•
Setelah menempuh perjalanan lebih dari lima belas menit, Keara sampai di rumah. Dia melirik mobil BMW hitam yang terparkir cantik di pekarangan rumahnya. Dan mulai menebak-nebak siapakah gerangan pemilik mobil mewah itu..
"Assalamualaikum.." ucap Keara seraya masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya memelan begitu menyadari ada tamu yang sedang dijamu di ruang tamu.
"Waalaikumsalam.." kompak suara ibu dan mas Arman menjawab salam Keara.
__ADS_1
"Sini dulu K... Ada tamu." ujar ibu menghentikan langkah Keara.
"Nggeh Buk.." Keara menoleh ke arah sofa. Mendapati seorang wanita cantik dengan penampilan elegan duduk di samping Mas Arman. Tapi mengingat siapa wanita itu, membuat jantung Keara berdegup kencang.
'Mbak Merry? Ngapain dia kesini?' tanyanya dalam hati. Keara masih mematung tak ingin memulai sapaan lebih dulu. Tak lain karena dia bingung dalam rangka apa mbak Merry datang ke rumahnya.
Wanita itu berdiri dari duduknya, lantas melangkah maju dua langkah. Menjadi lebih dekat dengan Keara. Lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Keara.
"Hai K.. Apa kabar?" sapa Mery hangat.
Keara hanya mengangguk pelan dengan ekspresi bingung. "B-baik."
Bertemu dengan masa lalu dan keluarganya, membuat Keara canggung tak tau harus berbuat apa. Atau berkata apa. Hubungan persahabatannya dengan Mayra dulu terbilang dekat dan akrab. Keara sering main ke rumah Keara, pun sebaliknya. Sehingga Keara mengenal semua anggota keluarga Mayra. Begitu pula dengan Mayra.
"Emm.. Mbak Merry apa kabar? Ada apa ya dateng ke rumah K..?" tanya Keara ragu-ragu. Beberapa kali netranya melirik-lirik ke arah ibu dan Mas Arman. Tapi tak seorang pun memberi kode jawaban atas pertanyaan Keara.
"Em.. kabar mbak baik, K.. Mbak Mery kesini untuk....." Mery terlihat bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Dia melirik Arman untuk meminta bantuan.
"Keara bau asem nih.. Baru pulang. Mau mandi dulu boleh?" tawar Keara.
"Gak apa-apa.. Tiap hari juga asem." goda mas Arman yang sukses membuat Keara mencibir sebal. "Ngobrol bentar K.. duduk dulu sini."
Keara dan Merry duduk di sofa bersebelahan. Perlahan Merry memegang jemari Keara. Membuat Keara bingung sejadi-jadinya.
"Ibuk ke belakang dulu siapin makanan buat kalian. Kalian ngobrol dulu aja.. Ibu tinggal." Ibu beranjak ke belakang, setelah ia menepuk
"Keara, mbak mau minta maaf.. Untuk kesalahan Mayra dan Nico. Mereka pasti sangat menyakitimu.. Emm.. Mbak Merry gak tau lagi harus berbuat apa untuk...."
"Mbak Merry ga perlu melakukan apa-apa.. Ini kan bukan kesalahan mbak Merry." Ujar Keara menyela Merry, yang terlihat jelas kesulitan melanjutkan kalimatnya.
"Lagian itu sudah lama berlalu. K gak nyimpan dendam kok tenang aja." imbuh Keara dengan menyunggingkan senyum canggung.
"Iya, saya tau.. Kamu gak mungkin mendendam. Hatimu baik.. Sama seperti Masmu.." tutur Merry lembut.
__ADS_1
"Mas Arman baik?? hehee.. Pencitraan aja tuh mbak. Hahahaa.. Aslinya tuh jahil, rese, tukang kentut.." Keara terkekeh. Dirinya dan mas Arman sudah sangat dekat. Sedari kecil, ia hanya tinggal berdua dengan mas Arman setiap ditinggal ibuk kerja di rumah orang menjadi ART.
"Hushh..!! Buka aib aja nih anak." Arman langsung berusaha membekap mulut Keara, tapi adik kecilnya itu selalu berhasil menghindar.
Merry hanya terkekeh melihat interaksi kakak adik itu. Dirinya tak pernah sedekat itu dengan Mayra. Meskipun tidak bisa dibilang tidak akur, tapi dekat dan akrab juga tidak. Biasa saja.
Keluarganya adalah keturunan pebisnis sukses. Papanya founder dan pemilik saham terbesar perusahaan multinasional. Sedangkan mamanya, sosialita dengan bisnis dan komunitas dimana-mana. Kebutuhan Merry dan Mayra selalu tercukupi sejak lahir sampai mereka dewasa. Kecuali kebutuhan waktu bersama keluarga.
"Wait.. waiitt.. Aku kok masih gak paham ini maksudnya apa? Mbak Merry kenal sama Mas Arman dimana?" tanya Keara lagi.
"Makanya dengerin dulu kalau orang ngomong.." Arman mencubit ujung hidung Keara. Membuat Keara menggerutu.
"Mbak Merry kesini untuk meminta kelapangan hati kamu.. Menerima Mbak Merry jadi teman dekat Masmu, K.." Merry menuturkan kembali. Kali ini lebih to the point dan menjawab semua rasa penasaran Keara.
Keara diam beberapa detik lamanya. Dalam dadanya bergemuruh. Dia senang mas Arman akhirnya bisa kenal dan dekat dengan seorang wanita. Bisa dibilang, mbak Merry adalah wanita pertama yang dibawa Mas Arman ke rumahnya. Itu artinya, Mas Arman juga punya perasaan mendalam pada Mbak Merry.
Tapi mbak Merry adalah kakak Mayra. Membuka jalan untuk hubungan mbak Merrry dan Mas Arman sama artinya mempersilahkan mereka untuk menikah. Dan saat mereka menikah, itu artinya Keara dan Mayra akan lebih sering lagi bertemu dan berinteraksi. Apa Keara sanggup?
Apalagi dengan Nico. Keara masih tidak bisa mengendalikan emosinya tiap kali berbicara dengan Nico... Pun Nico juga kerap terlihat sengaja mendekati Keara. Entah apa maksud terselubung di hati lelaki player itu.
"Kalau kamu keberatan, Mas gak apa-apa K.. Mas Arman gak akan maksa kamu. Perasaan kamu yang utama buat mas Arman." ucap Arman menenangkan Keara. Karena dirasa adik kecilnya itu masih sulit memberi restu.
Arman tau betul, ucapannya akan sangat melukai Merry. Itu terdengar sangat pecundang baginya. Tak ingin memperjuangkan cintanya. Tapi Arman tak bisa memungkiri. Dia sangat menyayangi adik semata wayangnya. Kebahagiaan Keara adalah yang utama baginya.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
__ADS_1