
Harris mendorong sebuah pintu kayu dengan kasar. Daun pintu yang terbuat dari kayu yang sudah usang itu terbanting ke dalam dan membentur dinding dengan keras. Menggebrak dan menguarkan bunyi yang memekakkan telinga sehingga seisi ruangan itu pun menoleh ke arah Harris.
"Mana keparat itu?"
Bara. Preman kaku berwajah datar itu sepertinya jadi satu-satunya orang yang tidak terkejut sedikitpun atas hentakan pintu yang dilakukan oleh Harris. Sangat mudah memprediksi kemarahan bosnya itu, tentang segala hal yang berhubungan dengan wanitanya, Harris pasti akan langsung emosional.
Bara menunjuk dengan dagunya, seorang pria muda yang ia ikat di kursi plastik sebagai jawaban untuk pertanyaan Harris. Wajah pria itu sudah dihiasi lebam di sudut kiri bibirnya dan di kelopak bawah mata kanannya.
"Suruhan siapa tikus ini?" tanya Harris lagi.
"Dia belum mengaku." jawab Bara.
"Berarti tinjumu kurang keras." sahut Aswin yang dari tadi mengekor di belakang Harris.
Bara hanya melengos mendengar Aswin ikut-ikutan menimpali. "Coba kau saja yang meninjunya."
Aswin terkekeh. Kalau dia yang meninju sudah bisa dipastikan yang lebam bukan tikus pengintai itu, tapi dirinya sendiri. Karena Harris pasti lebih murka kalau Aswin malah bercanda dan bermain-main dengan tikus tangkapan Bara.
"Bagaimana kau bisa menangkapnya?" tanya Harris lagi. Dia mengabaikan dua anak buahnya yang sedang berkelakar.
Entah apa sebutan yang pas untuk hubungan ketiga pria itu. Harris, Aswin, dan Bara. Di kantor, mereka memang berstatus sebagai atasan dan bawahan. Tapi sebenarnya ikatan persahabatan mereka sangat kuat. Bahkan dalam benak mereka saling menganggap saudara meski tidak pernah terucap karena terlalu gengsi. Seandainya Rizky masih ada, pasti dialah yang paling kalem dan tidak gengsi menyatakan persaudaraan mereka.
Ketiga pria kaku dan dingin itu diam-diam selalu saling menjaga dan melindungi. Mereka juga sangat setia kawan. Rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dan keselamatan salah satu di antara mereka. Hal itu tidak lepas karena mereka merasa senasib, dengan latar belakang masa lalu yang hampir sama kelamnya. Serta perasaan saling menghormati karena pernah ditolong dan menolong.
"Sudah satu minggu ini aku lihat dia terus berada di sekitar rumahmu. Agus yang ku perintah mengawasinya. Dugaanku yang dia intai itu istrimu. Karena dia akan bergerak kalau istrimu keluar rumah. Tapi karena istrimu sering berada di rumah, membuatnya terlihat seperti memata-matai rumahmu." jelas Bara panjang lebar.
Agus, salah satu anak buah Bara itu mengangguk mengiyakan pernyataan pimpinannya sebelum ditanya.
Tiba-tiba tangan kekar Bara terayun menjambak rambut cepak pria itu sampai kepalanya terdongak ke atas. "Benar atau tidak ucapanku?" tanyanya dengan menekankan suara geramnya.
Pria itu hanya mendengus kasar dan meringis kesakitan karena kulit kepalanya yang terasa terkelupas saking kuatnya Bara menjambak. "Kalian tidak akan mendapat informasi apapun dengan menyekapku disini."
Bug!!
Sebuah bogem mentah mendarat di rahang pria itu. Kepalanya yang masih mendongak karena dijambak Bara membuat kepalan tangan itu leluasa menghantam orang yang tidak berdaya. Orang yang terkena tinjuan itu pun menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Bara menoleh dan mendapati Harris lah peninju itu. Ia tadi juga terkejut karena tidak menduga adanya serangan tiba-tiba itu. Tanpa sadar, cengkraman tangannya di rambut pria itu pun mengendur.
__ADS_1
"Kesetiaanmu itu sama sekali tidak membuatku tersentuh, dasar breng*sek!!" geram Harris. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah menambah memar di wajah pria itu.
"Cepat katakan, atau kau akan ku siksa di tempat ini sampai kau sendiri yang memohon untuk mati." Harris mulai menggertakkan ancamannya. Pikirannya sudah menerawang membayangkan apa saja yang dilihat pria ini selama menguntit Keara. Ia sungguh tidak rela.
"Cuih! Coba saja kalau kau bisa." tantang pria itu, dengan angkuhnya dia meludah tepat di depan Harris. "Seorang pengusaha muda yang terkenal jenius. Tapi juga terkenal karena masa lalunya yang pernah jadi tersangka pembunuh papa kandungnya sendiri, menyiksa laki-laki yang tidak dikenal sampai mati. Hahahahaa.. Bayangkan kalau judul itu muncul di banyak portal berita online. Betapa masyarakat kita pasti akan membenarkan kalau kau adalah psikopat."
Plakk !!
Kali ini Bara yang menghajar pria itu. "Kamu pikir dia yang akan turun tangan? Tentu saja aku tidak akan membiarkan tangannya kotor karena darahmu."
Bara menghajar lagi dengan memberikan lebih banyak pukulan. Ia sudah sangat geram pada lelaki itu. Sampai si tikus itu terbatuk-batuk dengan kembali memuntahkan darah dari mulutnya, Bara baru mau berhenti menyerang. Aswin hanya bergidik melihat musuh yang sudah tidak berdaya itu.
"Kalian belum tau namanya?" tanya Aswin.
"Don, sudah kamu cari tau??" Bara menyorot tajam anak buahnya yang tadi ia beri tugas mencari tau tentang tikus tawanannya ini.
"Namanya Alex. Dari info yang kudapat dia adalah gigolo yang sering dipakai Nyonya Martha." jawab Doni gamblang.
"Martha??" Harris membelalak hebat. Ia lalu beringsut maju. Mencekal kerah baju pria bernama Alex itu sampai ia terangkat ke atas oleh Harris. "Katakan apa Martha yang menyuruhmu! Dan apa saja yang sudah kau dapatkan dari mengintai istriku."
"Istrimu itu sangat cantik dan bosku sangat tergila-gila dengannya. Hahahaha." Alex seperti psycho yang tidak kenal takut. Sudah tersudut dan babak belur hampir mati seperti itu masih saja bisa tertawa.
Harris, Aswin, dan Bara saling melempar pandangan penuh arti. Bos siapa yang dimaksud Alex? Tidak mungkin Martha kan..? Apa untungnya Martha menyuruh orang memata-matai Keara? Toh dia bisa lakukan sendiri karena tinggal serumah dengan Keara dan Harris.
Harris berdehem untuk memecah suasana yang sempat hening. "Baiklah. Jaga saja dia disini sampai dia buka mulut. Aku tidak terburu-buru. Santai saja.." ujar Harris seraya mengibaskan tangannya.
"Aarggh.. Kalian tidak seru." timpal Aswin. "Ya sudahlah.. Aku juga mau pulang. Ngantuk. Hooaaamm.." Aswin bergaya seolah sedang menguap lebar.
"Oke. Biar mereka saja yang jaga." sahut Bara. "Kalian! Manjakan tamu istimewa kita ini. Jangan sampai dia minta pulang karena servis kalian kurang baik." titah Bara pada empat orang anak buahnya yang berjaga disitu.
Mereka bertiga berlalu sambil mengerling. Pertanda penyiksaan akan segera dimulai. Membuat Alex merasakan atmosfir ganjil yang mengerikan.
"Heii..!! Apa maksud kalian?! Jangan macam-macam denganku!!" Alex meraung dengan sisa tenaganya dan tanpa dihiraukan sedikitpun oleh Harris, Aswin, dan Bara.
Sesampainya di luar markas, Harris segera memberi perintah pada Bara agar segera mencari tau tentang Alex.
"Tenang saja. Akan kutemukan segera." Jawab Bara. "Tapi sekarang aku harus pulang. Wanita itu ngidam menyuruhku membeli mangga muda."
__ADS_1
"Buahahahhaa.." Aswin tergelak sedangkan Harris terdiam dengan ingatannya yang seolah ditampar oleh ucapan Bara.
"Hei, kau jadi suami siaga sekarang? Sudah jatuh cinta beneran kamu sama istrimu itu??"
"Gak. Aku menurutinya hanya demi anak dalam kandungannya. Tidak lebih dan tidak kurang." jawab Bara ketus.
"Alaah.. Bilang aja kau sudah ikut aliran suami takut istri."
"Gundulmu!" semprot Bara seraya menoyor kepala Aswin yang sepertinya senang sekali meledeknya.
"Bos, lain kali jangan suruh dia menyekap wanita. Bisa hamil semua wanita yang ia sekap." ejek Aswin. Bara melengos saja tanpa ada keinginan untuk menjawab.
"Aaahh siall!!" umpat Harris mengejutkan kedua orang yang tadinya saling mengejek.
"Keara menyuruhku cepat pulang. Kenapa aku malah disini sama kunyuk-kunyuk seperti kalian!" Harris langsung berlari masuk ke dalam mobil. Ia melajukan kendaraan roda empat itu tanpa peduli dengan Aswin yang tadi datang dengan menebeng mobilnya.
"Yaahh boss.. Trus nasibku gimana?" keluh Aswin.
Bara menepuk pundak Aswin. "Itu baru yang namanya suami takut istri."
Bara berjalan menuju ke mobilnya. Aswin mengekor di belakangnya. "Aku nebeng mobilmu yaa.."
"No!! Aku harus membeli mangga muda." tolak Bara terang-terangan. Ia langsung meraungkan mesin mobilnya dan meninggalkan Aswin bengong di tempatnya.
"DASAR SUAMI-SUAMI TAKUT ISTRI KALIAN SEMUA!!" hardik Aswin seraya mengacungkan telunjuknya ke jalanan dimana mobil kedua rekannya sudah tak terlihat lagi bayangnya.
...----------------...
...Hayolooh.. Si Bara tau-tau udah nikah dan istrinya hamidun 😝 Siapa kira-kira istri Bara?...
...Ceritanya Bara numpang lewat aja di sini yaa.....
... ...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih