Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Tidak Mempan Dihasut


__ADS_3

Keara mengernyitkan keningnya. Alisnya hampir bertaut mendengar penuturan bapaknya.


Melihat ekspresi anaknya yang begitu keheranan membuat Suryo ingin terus melontarkan kalimat hasutan. Lagipula ia hanya ingin memicu pertengkaran kecil, bukannya ingin membuat putrinya itu bercerai dengan suaminya. Karena itu sama artinya dengan memutus aliran dana bulanan untuknya berfoya-foya.


"Suamimu itu sangat dingin dan tidak menganggap bapak sebagai mertuanya.. Bapak memang tidak berhak berharap lebih, bapak tau bapak bukan orang tua yang baik. Tapi bapak sedang kesulitan keuangan.. Bapak hanya minta pekerjaan, pekerjaan kasar pun tak apa.. Tapi suamimu itu malah mengusir bapak dan membuat bapak malu di depan orang-orang yang ada di kantornya.." imbuh Pak Suryo, seperti menuang bensin dalam kobaran api.


Tapi satu hal yang lolos dari perkiraan Pak Suryo, bahwa Keara begitu mempercayai suaminya. Dalam hati dan benaknya, ia bahkan lebih mengenal suaminya dibandingkan dengan bapaknya sendiri.


"Ck! Bapak ini mengarang cerita atau bagaimana..? Aku kenal mas Harris lebih lama dibanding mengenal bapak.. Kita saja baru bertemu beberapa bulan yang lalu.." cibir Keara.


"Bapak tau bapak sudah meninggalkan kamu.. Sejak kamu masih kecil.. Tapi bukan berarti bapak tidak sayang padamu, K.. Bagaimana bisa kamu tidak mempercayai ucapan orang tuamu sendiri?"


"Nanti aku akan percaya pada bapak kalau bapak sudah bisa ngomong jujur dan tidak memprovokasi.." Keara memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolan tidak berfaedahnya dengan Pak Suryo. Wanita itu langsung melenggang pergi tidak peduli pada bapaknya yang masih terus merutuki dirinya.


"Dasar anak kurang ajar. Awas saja nanti kalau suamimu selingkuh.. Jangan sampai kau nangis darah dan mencari-cari bapak.." gerutu Pak Suryo melihat putrinya pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


*Ting


Pintu lift terbuka. Keara keluar dari lift yang sudah mengantarkannya ke lantai tujuh. Lantai paling atas gedung dimana ruangan suaminya berada.


Lantai tujuh hanya dihuni dua ruangan besar. Yaitu ruangan CEO dan ruangan sekretariat, dimana ada meja Tiara dan Aswin di sana. Sebelum masuk ke ruangan mas Harris, pasti akan melewati ruang sekretariat lebih dulu.

__ADS_1


Keara berjalan dengan anggunnya di sana. Ia memakai dress coklat muda yang sangat elegan. Warna dressnya menegaskan kulit putih bersih milik Keara. Aksen di pinggangnya pun semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang ramping.



"Hai, Tiara.." sapa Keara begitu melihat sekretaris suaminya itu hendak mendaratkan pantatnya ke kursi. Terlihat baru kembali dari suatu tempat.


"Oh, mbak Keara.." Tiara membatalkan rencananya untuk duduk. Ia memilih berdiri untuk menyapa istri bosnya itu. Sangat tidak sopan kalau dia tetap duduk.


"Mas Harris ada di dalam kan?" tanya Keara tidak ingin basa-basi.


"Maaf mbak, saya baru kembali dari luar. Tidak tau pak Harris di dalam atau tidak.."


Keara terlihat mengernyit.


Keara mengangguk sambil tersenyum manis. Kakinya mengayun ringan mendekati ruangan sang suami. Kemudian memberi dorongan kecil untuk membuka pintu ruangan tujuannya itu. Seperti biasanya, ia akan memanggil suaminya dengan nyaring bersamaan dengan kepalanya yang menyembul dari balik pintu.


"Sayaaang.."


Keara terkesiap. Ia terkejut mendapati ternyata suaminya itu sedang berbincang dengan dua orang. Meskipun tamu-tamunya itu duduk membelakangi Keara, tapi ia sudah bisa menebak tamu itu adalah salah satu kolega Harris.


"Ups, maaf...."

__ADS_1


"Tidak apa, sayang.. Kemarilah.." seru Harris.


"Aku tunggu di luar saja, mas.." Keara sudah hendak berbalik badan. Tapi salah seorang tamu Harris itu bangkit dan undur diri.


"Tidak apa-apa, nyonya.. Masuklaah. Sudah waktunya kami pulang.." ucap salah satu, tapi membuat seorang yang lain ikut bangkit.


Harris berjalan mendekati istrinya. Lengannya menggamit pinggang istrinya dan menempelkan pada raganya. "Pak David, kenalkan ini istri saya.. Sayang, kenalkan ini pak David Soehandoko, pimpinan baru Handoko Building Corp.."


Tamu itu memutar tubuhnya menghadap Keara. Seringai menyebalkan yang terukir di wajah yang tidak terlalu tampan itu membuat Keara tersentak. Ia ingat betul wajah orang yang membuatnya geram tiga bulan yang lalu itu.


Dialah Dave. Tamu menyebalkan yang pernah dibawa tante Martha ke rumahnya tiga bulan lalu. Kini lelaki bertampang mesum itu justru menjalin kerja sama dengan perusahaan Harris. Unpredictable.


...----------------...


Mas Harris mengsedih.. Vote, like, dan komen menurun teruus... 😢


Gak papalaah hihii.. Semoga readers yang masih setia baca, masih tetap suka dengan ceritanya yaa.. terima kasih terus ngikutin cerita inii.... 🥰


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉

__ADS_1


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2