Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Nasib Ngeness


__ADS_3

"Sayaang....!!" pekik Keara bersamaan dengan dibukanya pintu ruang kerja suaminya itu. Tidak lupa senyuman manis ia ukir di wajah cantiknya. Tidak mungkin datang menemui pujaan hati dengan wajah cemberut dan mata sembab kan..


Harris Risjad. CEO yang sedang berkonsentrasi penuh meneliti setiap lembar pekerjaannya itu terkesiap. Ia mengangkat wajahnya dan raut kusut karena penat bekerja itu seketika memudar. Berganti dengan senyuman dan binar penuh kasih sayang memandang sosok cantik yang menyembul dari balik pintu. Ia lantas mengendurkan ikatan dasinya seraya berjalan ke arah wanita riang dan cantik itu. Ingin segera mendekapnya dengan erat.


"My sweetheart.. Seneng banget liat kamu disini." ujarnya saat raga mungil yang sudah tak mungil lagi karena sedang hamil itu berhasil mendarat di pelukannya.


"Hemm..." sahut Keara sekenanya. Ia memejamkan mata. Menikmati dekapan hangat sang suami. Sepasang suami istri yang dimabuk cinta itu persis seperti pasangan yang tidak pernah bertemu selama seminggu. Padahal baru tadi pagi mereka berpisah.


Keara mendongakkan wajahnya. Mengamati lelaki yang masih erat memeluknya. Tangannya terulur untuk merapikan rambut sang suami yang sedikit acak-acakan. "Ayo makan siang.. Mas keliatannya sibuk banget. Aku yakin kalau tadi aku ga kesini, mas pasti ga makan.."


Harris terkekeh kecil. Ia lantas menurunkan wajahnya. Apalagi kalau bukan untuk menyambangi bibir ranum istrinya. Susah mengabaikan wanitanya itu. Terlebih sudah berada di jarak sedekat ini.


Ciu man lembut itu terjadi begitu saja. Keduanya saling berbalas cum buan seraya tangan membelai bagian tubuh pasangannya. Keara bahkan menyusupkan jemarinya di rambut bagian belakang Harris. Padahal rambut bagian depan baru saja ia rapikan tadi. Meskipun begitu, tidak ada has rat dan naf su yang berkobar di sana. Hanya ciu man hangat dan penuh cinta yang melandasi.


Harris mengecup kening Keara setelah mengakhiri sesi ******* bibir. Lantas jemarinya mengusap area sekitar bibir Keara untuk membersihkan jejak ciu man mereka. "Sayang, tunggu aku sepuluh menit. Aku harus selesaikan pekerjaanku. Lalu kita bisa makan siang bersama. Gimana?"


Keara mengangguk dengan senyum manis yang tak pernah pudar. Setelah itu dia langkahkan kaki menuju sofa hitam yang ada di ruangan itu. Duduk manis seraya menyilangkan kaki di sana. Dengan tangan memainkan ponselnya untuk membunuh waktu.


Lima belas menit berlalu tanpa disadari. Keara bangkit dari duduknya. Menghampiri kursi Harris kemudian bergelayut manja dengan melingkarkan lengan di leher sang suami. Kepalanya lunglai di bahu lebar lelakinya.


Harris tersadar. Ia membuat Keara menunggu lebih lama dari waktu yang ia janjikan. "Maaf sayang... Kamu nunggu lama. Udah bosen ya? Tinggal sedikit lagi kok.." ucapnya seraya membelai tangan halus yang melingkari lehernya.


"gak usah buru-buru mas.. Aku udah order makanan dari ojol. Kita makan di sini aja. Kamu ga keberatan kan?"


"Engga dong.."


"Aku order sate dan gulai kambing. Kamu juga ga keberatan kan?"


"Siang-siang begini?" Harris mengernyit membayangkan siang yang panas harus makan makanan berat, panas, dan bersantan. Ouuuhh....


"Kamu ga mau?? Padahal aku ngidam mau makan itu...."


"Ehh.. Mau kok mau.." cepat-cepat Harris merubah ekspresinya. Bisa gawat kalau selera bumil satu ini diganggu gugat. Bisa badmood seharian dia. "Apapun yang kamu suapkan ke mulut, semua nikmat sayang.. Aku pasti melahapnya dengan senang hati."


"Huuuh.. Itu sih bilang aja mas maunya disuapin biar bisa makan sambil tetap kerja."


Harris terkekeh. Perlahan ia menarik raga istrinya agar berpindah ke depan. Duduk di pangkuannya. Beruntung Keara menurut. Bergerak tanpa penolakan.


"Mas, besok libur ya.. Seharian gak boleh kerja. Harus pokoknya."

__ADS_1


"Hm? Dalam rangka apa sayang?" tanya Harris. Khawatir ia melewatkan hari penting nan bersejarah. Padahal ia sudah mencatat tanggal-tanggal penting di agendanya, apa masih ada yang terlewat?


"Besok kan hari ulang taun mas Harris..." jawab Keara.


"Oh ya? Aku lupa sayang.."


Yah, begitulah Harris. Mencatat semua tanggal penting, tapi ulang tahun sendiri terlewat begitu saja. Toh tidak pernah dirayakan juga. Jadi untuk apa dicatat. Baginya, hari ulang tahun tidak ada bedanya dengan hari lainnya. Tetap bekerja saja isinya.


Harris mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya. "Aku tidak bisa libur mendadak sayang.. Masih banyak pekerjaan.."


"Mas kan bossnya di sini.. Mau libur kapanpun kan bisa..."


"Tapi saat ini sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sayang.. Tidak bisa dilepas begitu saja.." Harris merendahkan suaranya sampai terdengar memelas. Percuma ngotot dengan ras terkuat di bumi ini, si ibu hamil yang moodnya susah ditebak seperti Keara.


"Tapi aku mau nemenin mas Harris seharian. Dua puluh empat jam. Besok kan mas Harris ulang taun.."


"Aku bahkan lupa hari ulang taunku sayang.. Karena memang gak pernah dirayain.."


"Ya tahun-tahun lalu kan mas belum punya istri.. Trus tahun lalu, aku belum tau tanggal lahir mas Harris.. Kalau sekarang kan mas udah punya aku. Aku mau rayain ulang taun mas Harris berdua aja. Aku mau kita jalan-jalan, nyalon, nonton, me time berdua.. Pokoknya aku mau kekepin mas Harris terus seharian.."


Harris tergelak. Ia pikir Keara memaksanya libur karena sudah menyiapkan pesta ulang tahun untuknya. Ternyata hanya ingin me time berdua. Istrinya yang sederhana dan polos. Sesederhana ini saja sudah membuat Harris sangat bahagia. Ia merapatkan dekapan tangannya di raga mungil Keara. Lantas berbisik di telinga istrinya, "kalau mau kekepin aku di kamar aja ya sayang.."


Keara bergidik geli. Kemudian beringsut menjauhkan telinganya dari jangkauan Harris. "boleh.. Kalau mas Harris mau.."


"Oke. Berarti jadi libur yaa..?" rengek Keara lagi.


Harris mencubit ujung hidung istrinya. Kelewat gemas. "Maaf sayang, gak bisa."


Keara merengut. Bibir bergincu ombre itu cemberut lucu. "Ya udah deh.. Mau gimana lagi." tuturnya pasrah. Dengan lemas yang dibuat-buat, Ia beringsut bangkit dari pangkuan suaminya, tapi lengan besar itu menahan.


"Kalau kamu mau nemenin aku seharian, kamu ikut aku kerja aja gimana? Sama aja kan sayang.. Kekepin aku juga judulnya. Aku janji, besok akan selesaiin kerjaan aku lebih cepat. Jadi siang kita bisa jalan-jalan. Gimana?"


"Oke. Deal." senyum Keara terkembang sempurna. Sungguh definisi nyata dari mood swing bumil satu ini. Baru sedetik lalu cemberut dan lemas. Sekarang sudah berganti cerah ceria dan bersemangat.


Sebelah tangan Harris yang tadi masih memegang keyboard laptop. Beralih meraih tengkuk Keara untuk ia raup bibir segar yang menjadi candunya itu. Istrinya terlalu menggemaskan untuk dibiarkan begitu saja. Harris melu mat bibir Keara tanpa ampun. Kedua tangannya membelai tubuh yang tak lagi langsing itu.


Keduanya saling berbalas cumbu. Keara bahkan menyandarkan tubuhnya di dada sang suami, dengan duduk di paha lelaki itu semakin nyaman saja. Tidak sadar diri kalau berat badannya sudah naik sepuluh kilogram semenjak hamil.


Pintu ruangan diketuk dan tidak ada yang menyadarinya. Hingga pintu terbuka dan terdengar suara Aswin, barulah Harris melepaskan bibir Keara.

__ADS_1


"Oohh... Maa-maaff.. Maaf Pak.. Ta-tadi, saya sudah ketuk pintu.." ucap Aswin terbata-bata dengan gesture salah tingkah.


'Pertanda sial nih.. Siang bolong begini liat orang mesum di kantor.. Duuhh.. Apes banget akuu...' Aswin merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Sedangkan kedua pelaku mesum tak ada wajah bersalahnya sama sekali. Tetap duduk berpangkuan dengan saling merangkul.


"Nyelonong aja.." ketus Harris. "Ada apa?"


"I-ini.. Pesanan makanannya ss-sampai Pak.." jawab Aswin masih terbata-bata.


"Ya sudah.. Siapkan sekalian dong. ambilkan piring sendok dan lain-lainnya. Siapin di meja saya." perintah boss mesum itu. Tidak ada toleransi sama sekali pada asistennya yang sudah memerah wajahnya itu. Malah disuruh siapin makanan.


"Baik pak.."


"Panasin dulu ya.. Pasti sudah agak dingin makanannya, karena lama di jalan." imbuh Harris.


Aswin hanya mengangguk.


"Buruan nikah dong mas Aswin.." kelakar Keara sebelum Aswin melangkah keluar. "Masa liat aku sama mas Harris gini doang udah merah gitu mukanya.."


"Kalau aja ada yang mau sama saya mbak.." ucap masam Aswin. Lantas segera keluar untuk menyiapkan makan siang bossnya. Daripada lama-lama melihat dua insan berpangkuan mesra. Akan memperburuk nasibnya sebagai jomblo ngenes.


...----------------...


"Memangnya mas Aswin beneran jomblo, sayang? Ga punya gebetan? Atau calon, atau apa gitu?" tanya Keara di sela-sela makan siang. Sepeninggal Aswin setelah menyiapkan makan siang di ruangan Harris.


Harris mengendikkan bahu. "Terakhir kali dia cerita lagi deket sama temen kamu. Ocha."


"Ocha??" manik mata wanita hamil yang sedang asyik mengunyah itu sontak membola. Sudah lama ia tidak bertukar kabar dengan Ocha, sahabatnya. Tapi tidak menyangka kalau Ocha bisa sampai mengenal bahkan berinteraksi dengan Aswin. Asisten suaminya.


"Hmm.. Tapi kayaknya si Aswin lagi frustasi. Soalnya Ocha masih suka sama si Bara.."


Keara tidak bereaksi. Ia hanya melongo mendengar cerita dari Harris. Kalau Ocha naksir sama Bara, ia tau.. Bahkan waktu Bara menikah karena telah menghamili seorang wanita, ia sampai tidak tega menceritakan pada Ocha.


"Aswin lagi meratapi nasibnya kalah saing sama Bara. Gak adeknya, gak si Ocha, semua cewek di sekitarnya sudah kepentok cinta sama Bara. Padahal Bara manusia paling datar yang aku tau. Rumah tangganya tampak baik-baik aja.. Udah jadi bapak pula dia, melancangi aku..." papar Harris dengan senyum meledek.


...****************...


🌹 Happy reading

__ADS_1


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2