Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Siapa Yang Kangen?


__ADS_3

🌹 Makan malam di rumah Keara


Harris duduk di samping Keara di meja makan. Dengan sabar menunggu Keara mengisi piring untuknya. Sedang aroma rendang masakan ibu Keara sudah menggelitik indera penciuman. Penampakan daging dan bumbu rendang yang ditata di mangkuk saji pun sangat menggugah selera. Pasti sangat lezat, batin Harris.


Keara menyimpan piring yang sudah penuh terisi dan segelas teh hangat di depan Harris. Harris mengucapkan terima kasih dengan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Tak ketinggalan senyum termanis ia ukir sebagai cerminan kebahagiaannya.


"Minum teh hangatnya dulu mas.. Ngilangin jetlag.." ujar Keara. Harris menurut. Menyesap teh hangat dengan tingkat suhu yang pas sesuai seleranya. Tidak terlalu panas, tapi juga setingkat lebih panas dari yang disebut hangat. Nah kan.. Mbingungi..


"Makasih, K.." ujar Harris dan mulai mengangkat sendok dan garpunya. "Buk, Mas Arman, saya makan yaa.."


"Iya, nak Harris.. Silakan.. Makan yang banyak, jangan sampai loyo karena besok harus kerja lagi.." sahut ibu.


"Silakan, Harris.." sahut mas Arman lebih singkat.


Mereka makan dengan tenang. Hanya bunyi denting pertemuan sendok dan piring saja yang mengiringi. Tak butuh waktu lama bagi Harris menghabiskan makanan selezat ini. Dalam waktu singkat, piringnya sudah licin tandas.


Masakan ibu memang selalu lezat. Lidah Harris langsung cocok dan menyukainya. Lidah yang hampir tak pernah menyentuh masakan seorang ibu. Hanya masakan Bik Santi dan koki restoran saja, hingga ada rasa sendu yang hinggap di hatinya setiap kali memakan masakan Ibu Keara dan Bu Farida.


"Mas Harris mau nambah lagi?" tanya Keara lirih. Khawatir Harris akan merasa malu kalau didengar ibu dan Mas Harris.


"Cukup K.. Aku kenyang." balas Harris dengan nada berbisik juga.


"Hayoo.. Ngapain tuh bisik-bisik berdua?" seloroh mas Arman yang juga baru menyelesaikan makannya.


"Hehe.. Engga Mas, bukan apa-apa.." jawab Harris dengan senyum meringis. Sedangkan Keara hanya mencibir mendengar ke-kepo-an kakaknya.


"Ini kamu dari bandara langsung kesini, Ris?" tanya mas Arman.


"Iya mas.."


"Mas naik apa tadi? Aku gak lihat mobilnya mas Harris..." tanya Keara sambil menumpuk piring bekas makan semua orang.

__ADS_1


"Naik taxi, K.. Pak Diman taunya aku pulang besok.. Jadi daripada nunggu pak Diman jemput kelamaan. Aku naik Taxi di bandara aja lebih cepet."


Keara mengangguk-anggukkan kepala. Lalu membantu ibu merapikan meja makan, dan membawa sisa makanan ke dalam dapur.


"Ya baguslah Ris.. Kamu cepet-cepet kesini. Keara udah kangen berat sama kamu, seharian ini dia uring-uringan sambil bolak balik lihatin ponselnya, nungguin chat dari kamu.."


Harris membulatkan netranya. Ucapan mas Arman tadi seolah jadi oase penyejuk dahaganya. Senyumnya merekah tanpa aba-aba. Rasa lelah dan penatnya menguap ke udara.


'Benarkah? Keara kangen? Sama sepertiku, dia juga merindukan aku??' batinnya girang.


Berbeda dengan Keara yang sedang ada di dapur, tapi masih bisa mendengar cukup jelas selorohan lancang kakaknya. Dia berlari dari dapur seraya mengacungkan ulekan, menyongsong mas Arman yang membuatnya malu bukan main di depan Harris.


Arman yang melihat keselamatannya terancam, segera berlari menyelamatkan diri. Dua kakak beradik itu berkejaran tanpa kenal umur dan situasi. Dan berakhir karena Arman langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Mas Armaaaann.. Sembarangan banget sih kalau ngomong.. Minta digeplak sama ulekan banget tuh mulut." seru Keara kesal.


Harris terkekeh melihat tingkah Keara dan kakaknya. Kebahagiaan membuncah di hatinya. Selain mendengar fakta bahwa Keara ternyata uring-uringan menunggu chat balasan darinya, ia juga bahagia melihat hubungan kakak adik yang harmonis, dengan diwarnai pertengkaran kecil sebagai pemanis. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sendiri. Kebahagiaan yang hanya ia lihat dari orang-orang di sekitarnya.


"Kalian nih, gak sopan banget.. Ada tamu malah kejar-kejaran kayak masih balita aja." seru ibu. Seraya menyimpan sepiring bakwan goreng di depan Harris. Dan segelas teh hangat yang sudah terisi penuh lagi.


"Terima kasih Bu.. Tidak perlu repot-repot." jawab Harris sungkan.


"Tidak repot kok. Bisa buat teman ngobrol sama K.."


Keara mengambil piring bakwan dari hadapan Harris, "Mas, kita ngobrol di depan aja yaa.. Gak apa apa kan?"


Harris mengangguk dengan senyum lembut terulas. Kemudian berjalan membuntuti Keara ke ruang tamu.


Melihat pipi Keara yang memerah membuatnya gemas. Ia yakin apa yang dikatakan mas Arman tadi bukan omong kosong hanya untuk menggoda Keara. Tapi memang benar adanya jika gadis ini sebenarnya merindukan dirinya, hanya saja ia masih gengsi untuk mengakuinya. Atau.. ia masih menyangkal rasa rindu untuk Harris itu ada.


"Dimakan mas, gorengannya.." ujar Keara setelah mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. "Jangan dengerin Mas Arman tadi, dia tuh emang suka iseng orangnya..."

__ADS_1


"Oh ya? Ehm.. Padahal aku udah terlanjur seneng dengerinnya tadi.." jawab Harris dengan memasang ekspresi muram.


"Ehmm.. Itu.. Tadi.. Engg.." Keara salah tingkah sendiri sampai sulit mengungkapkan maksudnya.


"Iya.. Gak apa-apa kok K kalau memang gak kangen..."


"Bukan gitu.. Cuman kesel aja, pergi ke Hongkong doang, tapi dichat susahnyaaa minta ampun.. kayak lagi chatingan sama tentara perang di Afganistan." seloroh Keara, yang langsung membuat Harris tergelak.


"Gimana coba kalau aku beneran ikutan perang di Timur Tengah? Hahahaa.. Perumpamaan kamu tuh jauh banget."


"Makanya, aku mau upgrade handphone kamu aja. Biar gampang teleponan kalau aku harus pergi jauh lagi. Tapi ini udah kemaleman kalau mau beli sekarang..."


"Eh.. Siapa yang bilang mau dibeliin hape??" sengit Keara. Dia amat sangat anti dibelikan barang-barang oleh cowok. Apalagi barang mewah seperti handphone.


"Biar Gak kangenan lagi K...!"


"Siapa yang kangen??!!"


"Aku, K.. Aku.. "


Ucapan Harris membuat jantung Keara mendadak berhenti berdetak. Waktu seakan melambat. Matanya bulat membelalak. Menatap Harris yang baru saja mengakui rasa kangennya pada Keara. Tapi yang ditatap justru tenang saja.


"Aku tuh baruuu aja kelar ngisi seminar di Hongkong, langsung naik penerbangan eksklusif balik ke Indo, dan begitu sampai ke Surabaya langsung datang ke rumah kamu.. Kamu pikir tujuanku apa kalau bukan kangen sama kamu? Masa aku bela-belain kesini cuman pengen makan rendang??"


"Hah? eeeehh...." Keara tergagap. Otaknya mendadak nge-bug mendengar pengakuan tiba-tiba dari Harris.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading

__ADS_1


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2