Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Juna Berulah


__ADS_3

"Kamu sudah kenyang? Kita langsung pulang sekarang?" tanya Harris. Ketika dirinya dan Keara sudah duduk di dalam mobil. Siap pulang.


Keara mengangguk, tanpa peduli apa Harris melihat anggukan kepalanya atau tidak. Beruntung Harris memang sering mencuri pandang gadis di sampingnya. Jadi ia tahu kalau Keara sudah menjawab tanyanya.


Hari sudah petang. Harris dan Keara sudah menyempatkan makan malam di firstlove Cafe tadi sebelum pulang.


Hujan rintik-rintik menemani perjalanan pulangnya malam ini. Keara terus melihat ke luar jendela. Kaca jendela dihiasi titik-titik air dan mulai berembun. Melihat jalanan basah dengan orang-orang yang semua terburu-buru ingin mencapai tujuan secepat mungkin.


"Kalau ngantuk, tidur aja.. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai." ujar Harris. Melihat Keara lebih banyak diam, dia khawatir juga.


"Gak ngantuk kok.."


"Terus kenapa diem aja? kok tumben kang cerewet jadi agak pendiem hari ini..?" tanya Harris.


"Masa sih pendiem..? Biasa aja deh perasaan.." jawab Keara dengan nada malas.


"Mungkin mas Harris kali yang vibesnya lagi happy.. Jadi akunya keliatan pendiem.."


"Hem? Aku? Enggak.. Biasa aja."


"Tadi kayak yang langsung akrab gitu ngobrolnya sama Ocha.."


"Biasa aja.."


"Apanya yang biasa aja? Ngobrolnya lancar dan senyuumm terus sepanjang waktu.." Keara mencebik sebal.


Harris tersenyum melirik reaksi Keara. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Keara dan sedikit mengacak rambutnya.


"Aku mencoba akrab sama Ocha karena dia teman kamu, K..."


Keara masih merengut sambil menepis tangan Harris. "Dulu perasaan kenalan sama aku anyep bener. Padahal aku pacar sahabat mas Harris sendiri..." gumam Keara lirih.


Harris tertawa kecil. Meski samar, dia bisa mendengar gumaman Keara.


'Kalau saja kamu tau K.. Dulu aku begitu terkejut saat Rizky mengenalkanmu. Kamu gadis yang kucari sekian tahun lamanya, justru kita bertemu saat kamu dekat dengan seseorang yang juga sangat berarti untukku. Aku tidak ingin membuat Rizky curiga. Anak itu sangat mudah membaca pikiranku. Karena itu aku lebih banyak diam dan bersikap dingin padamu..'


"Tadi aku gak lihat temen kamu yang freak itu?" tanya Harris mengalihkan perhatian Keara.


"Siapa temenku yang prik?"


"Itu.. Si Junaidi."


"Dia libur. Huuh.. Sembarangan aja ganti nama orang." seloroh Keara. Harris tertawa lagi.


Harris sebenarnya ingin bertemu dengan Juna. Melihat wajah pria itu dari jarak dekat. Mencoba mengingat-ingat apa dia pernah mengenal atau hanya bertemu dengannya sebelumnya. Karena dia yakin, tidak memiliki saudara seperti yang disebutkan di biodata Juna.

__ADS_1


"Kamu tau kalau Junaidi itu anak orang kaya?" Harris melontar tanya. Keara memutar kepalanya. Kali ini dia melihat Harris dengan seksama.


"Iya aku tau. Dia bilang ayahnya pemilik usaha farmasi.."


"Terus kenapa dia kerja di kafe?"


"Mana aku tau.. Dia cuma bilang kalau dia lagi berantem sama ayahnya.."


"Mas Harris nyelidikin mas Juna?"


"Iya. Aku curiga dia akan membahayakanmu.. Aku...."


"Gimana? Apa bener mas sebelumnya kenal sama mas Juna?" sela Keara. Dia antusias sekali menunggu jawaban Harris.


Harris menggeleng. "Tapi kurasa kamu benar K.. Ada sesuatu di balik semua ini. Dan kamu harus berhati-hati." Harris kembali membelai rambut Keara.


Keara yang menerima perhatian itu merasakan debaran aneh di hatinya.


"Kenapa aku? Dia kan gak sukanya sama Mas Harris.."


"Ya...dan aku takut dia akan menjadikan kamu sasaran untuk menyerangku."


"Gak akan, mas.. Tenang aja. I'll be okay.." Ujar Keara menenangkan. Dengan jarinya yang membentuk simbol OK dan senyum yang akhirnya terkembang juga sepanjang malam ini.


...----------------...


Hari minggu ini adalah hari terakhir Keara bekerja di kafe milik mbak Marsya ini. Dia bekerja dengan rajin dan cekatan seperti biasanya. Dia ingin memberi kesan yang baik di hari terakhirnya bekerja di sini.


Berbeda dengan Juna. Sudah tiga hari ini Juna tidak terlihat masuk kerja. Terhitung sejak Juna menyatakan perasaannya dulu, lelaki itu semakin terlihat aneh di mata Keara. Sangat jauh berbeda dengan Juna yang dikenal Keara sebelumnya. Sangat kalem dan tenang.


Sebelum pulang, Keara berpamitan dengan teman-temannya.


"Yaah.. si K mau jadi anak kantoran nih.. Kita ditinggalin deh.." seru Eva.


"Jangan lupa sama kita-kita ya K..." timpal Cindy.


"Iya dong.. Kayaknya bakalan sering mampir. Karena udah candu sama rasa siomay disini. Hehehee.." seru Keara.


"Yeee.. malah makanan yang dikangenin." seloroh teman-temannya, membuat suasana pamitan jauh dari momen mengharu biru.


Ketika ia sudah siap untuk pulang, tiba-tiba ponselnya berdering dan nampak nama Harris memanggil di sana.


"Halo, K. Kamu dimana?" sergah Harris. Bahkan pria ini melewatkan salam. Hemm..


"Eh salamnya mana..? Langsung tembak aja.." goda Keara.

__ADS_1


"Masih di kafe.. Ini udah siap pulang."


"K, aku jemput ya.. Aku udah di jalan. Jangan kemana-mana sampai aku dateng." Suara Harris terdengar buru-buru. Entah apa yang memburunya.


"I-iya.. Emangnya kita mau kemana Mas?"


"Kemana aja. Pokoknya kamu tunggu sampai aku dateng. Ngerti?"


"Iyaa.. Ngerti.."


'Huh.. dikira lagi ngomong sama bocah apa? Segala ditanya ngerti apa kagak..' gerutu Keara dalam hati.


Harris langsung menutup teleponnya. Dan lagi-lagi melewatkan salam yang menjadi kebiasaannya. 'Ada apa dengan mas Harris?' batinnya.


Keara menurut saja. Ia menunggu di luar sampai Harris datang. Ini hari minggu. Pengunjung Kafe sedang ramai dan penuh. Hampir semua meja terisi. Gelak tawa memenuhi setiap penjuru dan celotehan ghibah bersahutan seperti kicau burung.


Keara memilih suasana tenang dengan menunggu di depan kafe. Ia duduk di bangku dekat parkir motor. Dekat dengan gerbang masuk kafe. Ia menunggu sambil berselancar di dunia maya untuk membunuh waktu.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan Keara. Dan sosok lelaki yang ia kenal keluar dari mobil tersebut dengan langkah tergesa-gesa.


Lelaki itu berjalan mendekati Keara. Keara yang menatap bingung, tetap duduk tanpa bisa mengucap kata sepatahpun. Ia tidak bisa menerka-nerka tentang situasi yang menyelimutinya saat ini. Kenapa wajah geram itu datang menghampirinya dengan tatapan yang tak biasa?


Lelaki itu mencengkram lengan Keara dan menariknya dengan paksa. Keara sampai berdiri dengan sedikit terhuyung dibuatnya.


"M-mas Juna..?" Keara semakin dibuat tak percaya dengan sikap kasar Juna. Sungguh tabiat ini baru pertama kali ia lihat. Sangat jauh berbeda dengan sifat kalem dan tenang yang selama ini ditunjukkan Juna.


"Ikut aku K.. Aku mau bicara sama kamu." Juna menarik Keara dan membawa gadis itu untuk dimasukkan ke dalam mobilnya.


"Tunggu, mas.. Jangan narik-narik gini." Keara berusaha melepaskan diri. Kakinya ia tahan sedemikian rupa agar tidak tergerak oleh tarikan kasar Juna. Tapi apa daya, kekuatannya tidak sebanding dengan Juna.


Keara terus terseret sampai di depan pintu mobil Juna. "Jangan gini mas.. Aku nunggu dijemput sama mas Harris.."


"Justru itu K.. Aku gak mau kamu ketemu sama dia. Ikut aku sebentar. Kamu akan tau siapa Harris yang sebenarnya."


"Apa maksud mas Juna??" Keara terus berusaha melepaskan diri. "Kalau mau bicara di sini aja mas..!"


"Masuk, K.. Masuk!!" perintah Juna seraya mendorong tubuh mungil Keara masuk ke dalam mobilnya. Lalu Juna segera melajukan mobilnya secepat kilat. Tidak menghiraukan penolakan Keara dan kekesalan gadis itu.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉

__ADS_1


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2