
"Aku bertemu dengan mama."
Keara terhenyak. "Ma-ma?" ulangnya setengah tidak percaya.
Harris mengangguk lemah. "Wanita tua yang berjalan bersamamu saat keluar dari toilet resto tadi adalah mamaku, K."
"A-apa??" Keara mengernyit. Ia terkejut bukan main. Takdir sangat random ya..? Orang asing yang ia temui secara tidak sengaja, ternyata adalah wanita yang telah melahirkan suaminya? Ibu mertua Yang selama ini tidak pernah ia kenal, bahkan tau rupanya?
"Astaghfirullah hal adzim.. Maaf mas, aku.." ujar Keara terputus. Ia memang bingung hendak berkata apa. Harus merespon apa.? Berita yang baru didengarnya memang terasa seperti hal yang mustahil. Bagaimana tidak? Keara hampir lupa bahwa ia mempunyai seorang mertua. Karena memang semenjak ia menikah dengan Harris, mereka sudah tidak pernah membahas tentang orang tua mas Harris lagi. Terlalu pedih untuk diungkit.
"Kamu tidak perlu meminta maaf sayang.." lirih Harris. Jemarinya membelai lembut pipi Keara. Bahkan dalam keadaan seperti ini ia masih menunjukkan love language phisycal touch nya. Memanjakan istri tercintanya itu dengan sentuhan lembut.
Keara jadi paham sekarang. Sangat paham. Tentang perubahan sikap mas Harrisnya. Betapa luka dalam hati sang suami masih terasa begitu perih. Keara bahkan tak sanggup membayangkan, jika dia berada di posisi itu. Apa yang akan ia lakukan? Sikapnya bisa jadi lebih buruk dari mas Harris saat ini. Ah, tidak.. Keara tak berani berandai-andai.
"Entahlah sayang.." Harris menghela nafas panjang. "Apa yang dia lakukan di sini.. Seharusnya dia dan keluarganya berada jauh dari kota ini."
Ya, Keara ingat. Ibu tua itu berkata selama ini dia dan keluarganya tinggal di Kalimantan. Entah Kalimantan sebelah mana. Mereka kemari karena urusan pekerjaan menantunya.
"Aku jadi tidak tau harus berbuat apa, K.." lanjut Harris seraya tersenyum getir.
Keara diam. Tak tau harus berkata apa. Ia hanya membuka lebar lengannya, lantas merengkuh raga kekar suaminya. Mendekap lelaki besar itu seakan memberi dukungan atas bagaimanapun sikap sang suami.
"Sayang, aku ga bisa berkata apa-apa.. Suamiku ini sangat kuat dan tegar. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan berperilaku lebih buruk tadi.. Tapi mas Harris tidak.." tutur keara dengan tangan mengusap lembut punggung Harris. Ia tidak berbohong. Kalau dia jadi mas Harris, sudah bisa dipastikan Keara akan mencak-mencak di restoran tadi sambil memaki-maki ibu tua itu dan keluarganya.
Enak saja mereka makan dan berpelesir sekeluarga dengan riang gembira. Tanpa merasa bersalah sedikitpun telah menelantarkan anak 12 tahun yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Anak kandungnya sendiri. Gak habis pikir..
"Engga, K.. Aku pun bersikap buruk padamu. Aku pasti membuatmu bingung dan sedih.. Maafkan aku." tutur mas Harris lembut.
Keara menggeleng.
__ADS_1
"Istriku yang lagi ngidam ini juga jadi batal makan pizza.. Semoga nanti si kembar ga ileran yaa.. Karena ngidam mamanya ga keturutan.." kelakar mas Harris mencoba mencairkan suasana.
"Engga dong, sayang.. Tadi aku sudah makan tiga potong pizza. Hehee.. Ga bisa bobok, jadi aku laper.."
"Ga bisa bobok?" Harris melepas dekapannya demi bisa menatap wajah ayu istrinya. "Cintaku ini pasti ga bisa bobok karena ga dipeluk sama suaminya yang ganteng ini, hm?"
Keara mengangguk seraya cemberut manja. Lantas Harris membimbing raga istrinya agar berbaring bersamanya. Memeluk dan mendekap wanita hamil itu meski dengan memberi sedikit jarak di bagian perut karena takut buah hatinya merasa sesak. Mencoba menyalurkan kekuatan dan kehangatan yang tulus.
Keara merasa tak berdaya. Ia merasa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu suaminya. Padahal, kalau dilihat ke belakang, suaminya selalu bisa membantu, melindungi, dan memperbaiki hidupnya. Hal itu membuat Keara sedih.
Hubungannya dengan Harris memang timpang. Sejak awal Keara pun menyadari itu. Harris pintar, kaya, berpendidikan, dan punya segalanya selain keluarga. Sedangkan Keara? Hanya keluarga yang ia punya. Itupun dengan bapak yang sempat mengusik kehidupannya.
"Apa yang akan mas Harris lakukan setelah ini? Apa mas mau menemui mama mas Harris?" tanya Keara. Setelah memastikan suaminya masih terjaga.
Harris perlahan semakin merekatkan pelukannya. Kepalanya lantas menggeleng untuk menjawab pertanyaan Keara.
Keara mengusap dada bidang lelakinya itu. Dada yang selalu menjadi tempat bersandar paling nyaman dan hangat. "Ga perlu dijawab kalau mas belum siap.."
"Engga sayang.. Ga ada yang perlu dipikirkan. Aku tidak akan mencari wanita itu. Lagipula buat apa, K?" jawab Harris. Netranya menerawang entah kemana. Jelas mengguratkan kegundahan hati pria itu.
"Buat memakinya, sayang..." ujar Keara. Nada bicaranya sedikit meninggi menahan emosi. "Mungkin kamu dua puluh tahun lalu tidak punya kekuatan untuk marah. Tapi sekarang kamu punya. Dan kamu berhak marah."
Harris tersenyum kecut. "Marah pun tidak ada gunanya lagi, sayang..."
"Setidaknya mama kamu tau kamu ada, mas.. Anaknya yang tampan ini sudah melewati masa sulit yang sangat panjang.. Ia ditinggalkan saat masa paling terpuruknya.. Tapi sekarang ia bisa tumbuh dengan baik dan jadi pria yang sangat luar biasa.."
Harris tersenyum lagi. Kali ini senyuman haru dengan netra berbinar menatap istri tercintanya. "Tidak peduli mama menganggapku ada atau tidak, K.. Yang penting istriku tercinta ini menganggapku luar biasa."
Keara mencebik. Tentu hanya berpura-pura saja. Karena saat ini netranya berkaca-kaca. Sekuat tenaga menahan bulir-bulir bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata agar tidak luruh membasahi wajahnya.
__ADS_1
Harris menangkup pipi Keara. Membelainya dengan lembut. "Apa Kamu lupa, sayang..? Suamimu yang luar biasa ini cukup terkenal di negara ini. Sempat digosipkan jadi pacar artis, pernah beberapa kali muncul di acara gosip televisi, masa laluku pernah diulik media sampai aku harus tampil di tv untuk klarifikasi, belum lagi muncul di majalah bisnis, channel youtube enterpreneur dan podcast-podcast motivasi dan inspirasi.."
"Wajah tampan suamimu ini ada dimana-mana.. Jadi mustahil kalau mama tidak tau aku ada. Terlebih aku tidak pernah mengganti namaku. Tapi lihat... mama sama sekali tidak berniat mendatangiku. Jadi untuk apa aku menemuinya?"
Keara tidak bisa menahannya lagi. Tangisnya pecah
"Maaf mas, aku ingin banget membantu untuk meringankan bebanmu.. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan.."
"Ngomong apa kamu sayangku? Keberadaanmu di hidupku saja sudah sangat meringankan bebanku. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, K.. Akan sangat berat. Kamu memberiku kebahagiaan yang tak terkira.."
Tangis Keara semakin pecah. Air matanya deras menganak sungai. Entahlah kenapa jadi dia yang emosional. Keara hanya menutup matanya agar tidak menambah beban Harris karena tangisannya. Ia berusaha lekas tidur karena saat ini masih tengah malam.
'Tapi.. Benarkah aku tidak bisa berbuat apapun? Engga.. Aku harus bisa.' batin Keara. Keara merasa tak ingin diam saja. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu suaminya. Tapi apa? Apa yang bisa ia lakukan?
...****************...
Sayup-sayup terdengar adzan shubuh berkumandang. Keara membuka netranya dan mendapati sang suami masih terlelap. Suara dengkuran halus lelakinya tertangkap indera pendengaran Keara. Menandakan mas Harrisnya masih lelap dibuai mimpi.
K mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjang. Ia mendial nomor telepon dari ponsel Harris. Seseorang yang terpikir oleh Keara bisa membantunya.
"Ini aku. Keara." ucap Keara begitu orang di seberang line telepon menjawab panggilannya. Ia yakin, orang tersebut pasti sedang kebingungan menerima telepon dari Keara. Istri dari bosnya. Sesuatu yang baru pertama kali dilakukan oleh Keara selama ia menikah dengan Harris.
"Ada yang harus mas Bara lakukan. Dan tidak perlu kamu laporkan ke mas Harris." lanjut Keara lugas.
"Gimana? Mas Bara bisa bantu aku kan?"
...****************...
🌹 Happy reading
__ADS_1
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih