
🌹 Kantor Harris
Harris menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Ia baru saja menelepon Keara. Senyuman bahkan belum memudar dari wajahnya. Berbincang dan bercanda dengan Keara tidak pernah membosankan. Sekalipun dilakukan di telepon. Gadisnya yang cerewet itu selalu bisa menghidupkan suasana.
Sudah lima hari mereka tidak saling bertemu. Meskipun komunikasi mereka lancar, tetap saja kerinduan itu ada. Terasa sangat menyesakkan. Harris bahkan sampai memasang foto-foto gadis cantik itu jadi wallpaper ponsel dan laptopnya. Ingin merasa dekat dengan terus melihat wajah ayu calon istrinya.
Harris kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ingin segera menuntaskan deadline kerja agar weekend besok dia bisa tenang menemui wedding organizer bersama Keara. Rindunya sudah tak kenal kompromi lagi.
Selama lima hari ini, Harris membiarkan Keara kesana kemari sendiri mengurus persiapan pernikahan mereka yang rencananya akan digelar tiga bulan lagi. Padahal gadis itu juga sibuk menjelang ujian skripsi senin depan. Memang keputusan yang benar, membuat Keara jadi pengangguran. Dia jadi tidak harus bekerja ketika kesibukan menghimpitnya.
Waktu berlalu dengan cepat. Sudah pukul tujuh malam, Harris hendak bangkit untuk menunaikan sholat isya sebelum pulang ke rumah. Tapi kedatangan Aswin membuat Harris harus menunda rencananya.
"Pak, untuk employee gathering dengan perusahaan Korea Selatan kita bisa mengirim Tiara dan Lea kesana. Saya sudah tanya ke mereka berdua. Dan keduanya sangat antusias.." lapor Aswin.
"Lea itu yang mana?" tanya Harris dengan wajah datar.
"Kepala tim marketing Pak.. Kita bisa tambahkan tugas pada Lea untuk melobi perusahaan lain di Korea agar menilik kembali perusahaan kita. Siapa tau kerja sama baru bisa terbentuk setelah mereka pulang dari sana."
"Mereka hanya gathering saja kan? Tidak ada pembahasan project?"
"Tidak ada Pak... Karena Mr. Lee bilang akan ada meeting khusus tersendiri untuk membahas program kerja sama yang baru."
"Ya sudah. Tapi untuk berjaga-jaga, bekali pula mereka berdua dengan pengetahuan project yang akan kita lakukan dengan perusahaan retail Korea. Jangan sampai mereka berdua terlihat bodoh nanti di sana. Jangan memberi kesan tidak tau apa-apa, tapi sudah bisa sampai di sana."
"Baik Pak."
Setelah Aswin pamit undur diri, Harris melaksanakan rencananya yang sempat tertunda. Agar lekas bisa pulang ke rumah dan lekas menelepon sang pujaan hati yang sangat ia rindukan.
...----------------...
🌹 Rumah Harris
Hari sabtu yang ditunggu telah tiba. Harris baru saja menyelesaikan sarapannya seorang diri. Seperti biasa. Dengan celana pendek rumahan selutut dan kaos oblong putih. Ia baru akan naik ke kamarnya untuk bersiap-siap berganti baju hendak menjemput bidadari tercintanya.
__ADS_1
Selepas sholat shubuh, Keara tidak lagi membalas chat darinya. Harris beberapa kali mencoba menelepon gadis itu tapi tak kunjung diangkat. Membuatnya bertanya-tanya. Apa yang sedang dilakukan gadis itu sampai mengabaikan ponselnya.
Harris sudah menaiki tangga sampai di ujung lantai dua berada, ketika ia dengar suara Bik Santi tertawa-tawa bersahutan dengan suara seseorang yang lebih rendah volumenya. Sehingga kurang jelas dan kurang bisa mengenali suara itu. Ia pun melongok ke bawah, ke arah pintu masuk, tapi tidak melihat seorangpun di sana.
Rasa penasaran Harris membawanya turun kembali ke bawah. Tidak biasanya Bik Santi berani bersuara keras di rumah. Apalagi ada Harris yang sedang berada di rumah.
Harris sampai keluar melewati pintu depan. Tapi bayang bik Santi malah tak terlihat sejauh mata ia memandang. Harris turun ke pelataran rumah, berjalan ke samping kanan depan sampai mendekati taman. Tapi betapa terkejutnya saat melihat ada yang tiba-tiba mendongak dari balik pohon besar taman.
"Maass Harriiiiss...!!" suara ceria yang mengiang di telinga seketika mengendurkan otot wajah Harris yang sempat menegang.
Setelah itu muncul wajah-wajah yang ia cari dari balik rimbunnya tanaman yang tertata rapi di taman. Bik Santi, Siti, Pak Diman, dan dua orang security. Mereka semua ternyata duduk bersila beralaskan rumput taman yang hijau dan asri. Sedangkan gadis ceria dengan suara nyaring yang tadi mengejutkannya adalah Keara. Ya, gadis itu ada di rumahnya saat ini.
Keara berlari kecil dan berhenti di hadapan Harris. Dengan sedikit keringat membasahi keningnya, rambutnya diikat kuda ke belakang bergerak lincah mengikuti gerakan kepalanya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata bagi Harris.
"Mas Harris nyariin apa hayoo...?" goda Keara begitu sudah berdiri tepat di depan Harris.
Tanpa menjawab, Harris mengusap puncak kepala gadis mungil itu kemudian menariknya untuk didekatkan dengan dadanya. Mendekapnya dengan lembut tanpa peduli berapa pasang mata yang memperhatikan mereka seraya tersenyum diam-diam.
Keara membalas pelukan Harris dengan nengusap sebentar punggung lelaki itu. Kemudian sedikit mendorong agar raga tegap itu melepaskan dekapannya.
Harris melepas dekapannya seraya tersenyum manis. "Aku kangen sama kamu.."
Keara pun mengulas senyum terbaiknya. "Mas Harris udah sarapan?"
"Udah.."
"Yaah.. Aku bawain sayur lodeh masakan ibu nih.. Eh gak apa-apa deh. Kan bisa dimakan nanti siang. Sama tadi aku dan ibu bikin pastel sayur sama rujak buah.. Ituh dimakan sama mereka.. Hehehee.." Keara menunjuk orang-orang yang saat ini sedang menunduk khusyuk di balik tanaman-tanaman hias.
"Pantas saja, chat dan teleponku ga direspon sama sekali.." Harris memicing. Sedangkan Keara hanya nyengir seolah tak berdosa.
"Ayo kita masuk.."
Harris menggamit lengan Keara dan menggiringnya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Keara mengeluarkan lunchbox tupperware berisi pastel sayur dan menyodorkannya pada Harris.
__ADS_1
"Cicipin dong mas.. Buatan aku nih..."
Harris mencomot satu pastel dan langsung melahapnya. Harris membulatkan matanya, mempercepat kunyahannya, lalu mencomot satu lagi, dan siap melahapnya lagi. Dari ekspresi makan Harris, gadis itu merasa lega. Kerja kerasnya dari shubuh ternyata membuahkan hasil yang manis.
"Enak banget, sayang..." Harris mencubit ujung hidung Keara dengan gemas.
"Senangnyaa.. punya calon istri yang pinter masak.. Aku bisa gendut kalau makan masakan kamu sayang.."
"Hemm.. coba aja, aku pengen liat mas Harris gendut. Biar aku bisa main gendang di perut mas Harris. Hahahaa.."
Mereka tergelak berdua.
"Sayang, jam 1 ini aku sudah buat janji dengan orang WO. Kita ketemuan dengan mereka setelah makan siang di kantor WO."
Keara menganggukan kepala. Ia mengangkat satu kakinya dan menyimpannya dengan nyaman di sofa dengan memiringkan tubuhnya menghadap Harris.
"Mas, Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu, sayang.. Tanya apa saja.."
"Mas, kita sudah akan menikah. Tiga bulan lagi bukan waktu yang lama. A-pa a-ku bo-leh tau ten-tang masa lalu mas Ha-rris?" tanya Keara dengan sangat hati-hati. Ia takut menyinggung lelaki ini. Takut dikira terlalu kepo dan berusaha mengorek luka lama.
Tapi agaknya itu hanya kekhawatiran tidak berdasar dari Keara. Nyatanya lelakinya itu merespon dengan senyuman manis dan tangan yang membelai lembut pipi gadisnya.
"Tentu sayang.. Kamu berhak tau. Pun kamu berhak memikirkan ulang. Apa aku layak untuk tetap menikahi gadis hebat sepertimu..?" ujar Harris dengan senyum getir setelahnya.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih