
Keara dan Nico memilih duduk di suatu taman kota yang letaknya tak jauh dari Firstlove Cafe. Sore hari taman kota dipadati pengunjung. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dan lansia. Semuanya menikmati senja dengan hati yang bahagia. Kecuali Nico. Wajahnya terlihat lusuh dan lesu. Tak ada semangat hidup.
"Sejak kebodohanku waktu itu, hidupku gak lagi sama K.. Semuanya berubah." ucap Nico mengawali sesi curhatnya hari ini. Setelah menyodorkan sebotol air mineral yang dibeli dari pedagang asongan taman untuk Keara.
"Pasti. Semua sudah seharusnya berubah. Mengikuti konsekuensi atas segala perbuatan kita." sahut Keara santai. Tapi mantap menyentil logika Nico. Membuat Nico melirik Keara dengan tatapan sendu.
"Tapi konsekuensinya berat, K.." Nico menghela nafas panjang. "Banyak orang yang meninggalkanku. Banyak rasa sakit hati yang kuterima. Tapi aku sadar semua karena kesalahanku."
"Ya bagus kalau kamu sadar. Terus masalahnya apa sekarang?"
"Aku merasa lelah, K.."
"Wajar lah ngerasa lelah. Semua orang hidup juga merasa lelah. Bosen. Penat. Manusiawi itu.."
"Istirahat saja. Liburan sama keluarga kek.. Ngapain kek.. Banyak cara yang bisa dilakukan. Selflove namanya.." jelas Keara panjang lebar.
"Tingkatan self love itu Berbanding lurus sama isi rekening.. Jadi ngapain pusing-pusing pak boss..? Situ kan duitnya banyak."
"Uang bukan jaminan bahagia K.."
"Halaaah istilah klasik." Keara mencibir kesal.
"Aku udah ngerasain sendiri K.."
"Bahagia itu dari hati. Banyak duit atau gak, kalau hatinya keruh dan overthinking ya susah bahagianya.. Tapi kalau kitanya banyak bersyukur bagaimanapun keadaannya, pasti kita merasakan apa itu bahagia.. "
Nico menoleh ke arah Keara. Tatapan kosong yang tidak bisa ia definisikan.
"Sekarang coba bayangin kalau kamu sama Mayra ga punya uang.. Pasangan muda, belum lulus kuliah, belum kerja, duit pas-pasan, tapi udah punya bayi. Kebayang gak pusingnya gimana? Bakalan banyak berantem karena himpitan ekonomi. Hutang dimana-mana. Tidur susah karena mikir susu dan popok bayi. Mau liburan susah karena lebih mentingin kebutuhan lain. Yang ada, keluarga gak harmonis, anak gak happy, gimana gak makin lelah?"
Nico tertawa kecil. "Gila yaa.. pikiran kamu tuh bisa sampe kesana. Aku salut.."
"Jadi orang tuh jangan sempit pemikirannya.. Jangan mendiskreditkan diri sendiri hanya karena dunia sedang gak bersahabat.. Dunia berputar tuh tujuannya bukan hanya untuk memuaskan kamu aja.."
"Curhat sama kamu benar-benar bikin kepalaku makin puyeng.. Hahahhaaa" Nico tergelak.
__ADS_1
"Bukannya dapat dukungan malah dapat cacian.."
Keara hanya tersenyum singkat. Dalam lubuk hatinya dia kasihan juga melihat Nico. Nico bukan tipe pengeluh soal kehidupan. 'Ia bisa struggle di kehidupan seberat apapun, tapi dia tidak bisa direndahkan orang terdekatnya. Pasti ada hubungannya dengan Mayra dan keluarganya,' tebak Keara dalam hati.
"Memangnya, kamu ada masalah apa sih?" tanya Keara merasa iba.
"Aku merasa... semua kehidupan berat yang aku jalani ini, hukuman atas kesalahanku di masa lalu." Nico menarik nafas panjang. Seolah sedang bersiap untuk mengeluarkan beban berat di hatinya.
"Setelah 'kecelakaan' itu, orang tuaku mengusirku. Mereka memberikan seluruh bisnis properti milik papa pada kakakku, Orlando. Tidak menyisakan satu tempatpun untuk aku. Saat ini aku hidup menumpang pada Mayra. Rumah, mobil, pekerjaan, semua aku dapatkan dari papa Mayra."
"Tapi itu tidak serta merta membuatku bahagia karena bergelimang harta. Setiap hari aku tertekan. Begitu berat tuntutan yang dilimpahkan padaku hanya karena aku menikmati semua fasilitas itu.."
"Setiap gerakku, ucapku, langkahku harus memenuhi standart bergengsi kehidupan mereka. Tidak ada kebebasan. Tidak merdeka."
Keara mend esah lirih. Dia sempat merasa rendah diri, kecewa, dan marah pada ketetapan Tuhan. Kenapa dia yang tidak melakukan kesalahan, kehidupannya stuck. Jalan di tempat. Tidak maju kemanapun. Kuliah belum lulus, pekerjaan hanya sebagai pramusaji kafe, suami masih belum tampak hilalnya.
Sangat berbeda dengan Nico dan Mayra. Mereka telah berbuat dosa. Berhubungan di luar batas hingga menyakiti hatinya, pun mentorehkan aib seumur hidup. Tapi kehidupan Mayra dan Nico sangat lebih dari berkecukupan. Memiliki jabatan dan karir yang membuat semua orang segan dan menaruh hormat pada mereka.
Mayra sukses menyelesaikan kuliah hukumnya. Sebentar lagi dia akan menjadi pengacara setelah menyelesaikan magangnya. Sedangkan Nico bekerja di satu perusahaan multinasional. Jabatan tinggi setara manager di usia muda. Penampilan klimis dengan mobil necis tiap hari. Punya anak cantik dan cerdas. Siapa yang tidak iri pada pasangan muda ini?
"Aku berpikir.." lanjut Nico. "apa aku memang pantas menjalani hukumanku seumur hidup?" Nico menghela nafas dalam-dalam.
"Aku sudah bertanggung jawab, aku sudah menikahi Mayra dan selalu berusaha jadi papa yang baik untuk Ara. Tapi cibiran orang-orang ga ada habisnya. Keluarga Mayra merasa bisa menuntutku melakukan yang terbaik karena aku memakai fasilitas dari mereka."
"Aku harus memberi kontribusi pada perusahaan, aku harus membahagiakan anak dan cucu mereka. Aku harus jadi menantu sempurna untuk mereka."
"Memangnya yang kamu mau apa?" tanya Keara. Merasa bingung dengan jalan pikiran Nico.
"Aku rasa ego kamu saja yang sedang terluka. Kamu mau semua berjalan sesuai inginmu. Kamu jadi manager dan memegang kendali penuh. Tidak ada tekanan harus punya pencapaian apa-apa.."
"Kamu masih memahami aku K.."
"Itu kamunya saja yang egois. Maunya enaknya saja. Gak mau usahanya. Gak mau susahnya.."
Nico hanya mendecih lirih.
__ADS_1
"Memangnya kalau kamu ngelamar kerja jalur mandiri, di perusahaan lain, kamu gak dituntut punya kinerja bagus? Gak dituntut harus memberi kontribusi buat perusahaan? Bisa seenak jidat kerja santai leyeh-leyeh tapi gaji lancar?"
"Ya enggak gitu juga K.. Aku.. cuman..."
"Kamu tuh cuman gengsi. Ngerasa kalau orang lain yang kasih tuntutan kamu gak masalah. Tapi karena yang kasih tuntutan kamu tuh keluarga Mayra, terluka deh tuh ego kamu. Merasa mereka gak menghargai kamu.. Gitu kan?"
"Bingo!!" Nico menjentikkan jarinya. "100 buat kamu K.. Kamu emang yang paling mengerti aku.."
"Aku mikirnya tuh... Apa ini sangsi sosial ini harus kutanggung selamanya??"
"Mereka gak salah nuntut kamu ini itu.. Emang udah jadi kewajiban kamu memberi kontribusi. Kamu mendapat jabatan Manager bukan karena kemampuan kamu sendiri. Setidaknya mereka ingin kamu membuktikan kalau kamu pantas ada di posisi ini.. Bukan karena aji mumpung di perusahaan mertua."
"Itu juga buat reputasimu sendiri. Biar kamu gak malu ada di level manager, tapi skill kamu NOL." terang Keara menggebu-gebu. Lama-lama dia merasa kalau dirinya terlibat terlalu jauh dengan kehidupan mantan pacarnya ini.
"Kamu bener K.. Kenapa aku picik sekali.." Nico meremas kepalanya, tanda frustasi.
"Sekali sekali coba dipikir dari sisi Mayra. Kalian berdua sama-sama salah. Tapi keluargamu ga bisa nerima Mayra. Sedangkan keluarga Mayra bisa nerima kamu. Kamu ga pernah tanya bagaimana perasaan Mayra?"
Nico hanya diam. Dia sungguh tertampar karena kenyataan yang diungkapkan Keara. Orang yang begitu mengerti dirinya. Meskipun semua ucapan Keara benar, tetapi kalau saja orang lain yang mengatakan ini, terlebih Mayra yang mengatakannya, Nico pasti marah. Egonya akan terluka sekali lagi.
"Udah ah.. aku mau pulang dulu. Udah mau maghrib. Bye..." Keara langsung beranjak dari duduknya.
...----------------...
Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya dari kejauhan. Sejak ia duduk di taman itu dengan Nico. Tatapan itu tak lepas mengawasi segala gerak dari Keara.
Meskipun tidak bisa mendengar percakapan mereka, semakin mengusik perasaannya. Tapi pengintai itu tak ingin pergi meninggalkan gadis manis itu berdua saja dengan lelaki lain.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih