Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Cemburu Buta


__ADS_3

🌹Rumah Harris


Harris menggeliat. Kepalanya masih berat. Tapi sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ia membuka matanya dan mengerjap beberapa kali demi memulihkan kesadarannya. Berusaha mengembalikan ingatannya sebelum ia tertidur tadi. Kemudian seketika membuatnya berjingkat. Mengedarkan pandangan ke penjuuru kamar. Mencari sosok yang tadi ada bersamanya di kamar ini. Keara.


Sudah pukul lima sore, dan Harris menyesalkan kenapa ia bisa tertidur selama itu. Bahkan tadi ia tidur sebelum masuk waktu dhuhur. Itu artinya lebih dari lima jam ia tidur dan membiarkan Keara menunggunya selama itu.


Harris turun dari ranjangnya dan mulai bergerak mencari gadis itu. Ia lebih dulu membuka pintu toilet yang ada di kamarnya, dan kosong. Langkah kakinya membawa ia membuka pintu kamar dan langsung membuat nya menangkap suara tawa yang menggema dari arah ruang tamu.


Harris sedikit merasa lega. Setidaknya ia tahu sosok yang ia cari masih berada di dalam rumahnya. Keara menepati janjinya akan menunggu Harris terbangun. Bungah merekah di hati lelaki itu. Ia tahu gadis itu masih menemaninya.


Tapi kemudian sebuah suara tawa lelaki yang bersahutan dengan suara Keara membuat wajahnya berubah masam. Ia baru menyadari kedua orang itu sedang bersenda gurau dengan sangat akrab. Ia mempercepat langkahnya hingga sampai di ujung tangga, Harris bisa melihat lelaki yang sedang bersama Keara di ruang tamu.


"Aswin!" seru Harris seraya menuruni satu per satu anak tangga.


Kedua insan yang asik bercengkrama di sofa ruang tamu seketika menoleh ke sumber suara. Mendapati Harris dengan rambut berantakan khas bangun tidur dan muka bantal yang menggemaskan berjalan menuruni tangga.


"Ngapain kamu kesini?!" tanya Harris dengan muka datar tanpa ekspresi.


Keara terkekeh dengan suara tertahan. Ia mengingat omongan Aswin tadi sebelum Harris datang. Dan saat ini ia menyaksikan sendiri bukti kebenaran ucapan Aswin yang mengatakan bahwa Harris adalah boss yang tanpa ekspresi dan sangat kaku seperti kanebo kurang air.


"Saya mau kasih laporan ini, Pak.. Bukannya Pak Bos yang menyuruh saya mengirim ini langsung ke rumah Pak Bos.." jawab Aswin dengan tenang. Seolah terbiasa dengan sikap kaku Harris. Ia tidak mengindahkan jika bosnya itu sedang cemburu buta padanya.


Harris sudah berdiri tepat di hadapan kedua orang yang duduk di sofa rumahnya dengan santai dan bersandar dengan nyaman. Tatapan tajam Harris membuat Aswin tau posisinya keliru. Ia menegakkan punggung dan merapikan posisi tubuhnya.


"Taruh di meja dan kau bisa pulang." ujar Harris masih dengan ekspresi datar.


"B-baik Pak.." Aswin segera keluar dari rumah bosnya, setelah berpamitan dengan Keara dan juga Harris. Meskipun Harris merespon pamitannya dengan dingin. Aswin tidak menyadari kecemburuan yang melingkupi hati Harris. Ketika ia terbangun dari tidurnya, Aswin dengan santainya bercanda tawa dengan Keara. Dan itu sangat menyebalkan bagi Harris.


Sepeninggal bayang Aswin, Keara dengan senyum indah terulas beranjak dari duduknya. Berjalan mendekat ke arah Harris yang terus berdiri mematung dengan ekspresi datar.

__ADS_1


Harris baru menyadari gadisnya ini telah berganti pakaian. Ia memakai kaus oblong putih miliknya. Yang sudah pasti ukurannya lebih besar dari tubuh mungil Keara. Gadis itu tampak tenggelam di dalam kausnya, dengan celana pendek yang memang ia pakai sejak awal.


'Sial! Dia cantik sekali. Kenapa dia terlihat sangat sexy hanya karena memakai kausku yang kebesaran..?' Harris merapatkan gerahamnya. Demi mempertahankan wajah dengan raut datar, untuk menyembunyikan hasratnya yang tiba-tiba menggebu dan memalukan.


"Maaf yaa.. Aku pakai kaos mas Harris. Tadi aku mandi dan risih sekali kalau pakai baju yang sama lagi.." ujar Keara tanpa ditanya. Ia nyengir seakan sadar arti tatapan Harris pada baju yang ia kenakan.


"Kalau celananya karena ga nemu yang pas, terpaksa pakai celanaku sendiri.."


"Tidak apa-apa. Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanyanya datar.


Keara mendekat beberapa langkah lagi. Jaraknya dengan Harris kian menipis. Hingga hembusan nafas lelaki itu terasa hangat menyapu keningnya.


Keara menangkupkan dua telapak tangannya ke pipi Harris. Kemudian merambat naik ke dahi. Lalu turun ke menyapu leher dan lengan Harris. "Alhamdulillah, demamnya sudah turun, mas.."


Harris menghembuskan nafas berat. Ia sempat tercekat menerima perlakuan lembut Keara. Gadis itu berada sangat dekat dengannya. Menyapu wajah dan lehernya dengan telapak tangannya yang mungil. Bahkan setelah mengecek suhu tubuh Harris, gadis ini tak kunjung beringsut mundur. Membuat ritme debaran jantung Harris jadi tak beraturan.


"Hahahhaaa.." Keara tertawa nyaring. Harris mengerutkan keningnya. Tidak mengerti apa yang lucu hingga gadis di depannya ini tertawa begitu renyah.


"Mas Harris tuh dari tadi ngajak beli cincin mulu.. Dari sejak mas Harris tidur, udah ngigau ngajak beli cincin. Sampai bangun tidur pun masih tetap ngajak beli cincin.. Gemes banget sih.." Keara terkekeh.


"Aku ngigau?"


"Heem.. Sepertinya mas Harris emang biasa ngigau kalau tidur.."


Harris menggaruk rambutnya, menjadi semakin berantakan. Wajahnya sudah memerah. Tidak hanya menahan malu, tapi juga menahan hasratnya yang tidak tahu malu.


"Mas Harris mandi dulu sana.. Waktu ashar sudah mau habis. Sholat dulu.. Habis maghrib kita ke mall nyari cincin.. Gimana? Hm?"


Harris mengangguk tanpa banyak protes. Ia lalu berbalik dan melangkah hendak naik kembali ke kamarnya. Tapi sebelum kakinya menapak anak tangga yang pertama, ia menoleh lagi pada Keara.

__ADS_1


"Aku tidak masalah kamu memakai bajuku. Sungguh. Tapi saat kamu memakai bajuku seperti sekarang ini, jangan menampakkan diri di depan laki-laki lain. Aku tidak suka K..!" ucapnya dengan penekanan suara yang tegas dan lugas.


"K-kenapa mas?"


"Kamu kelihatan se*xy."


*Uhuk.. Uhuukk..!!!


"Dan aku tidak suka melihatmu bersama dengan Aswin seperti tadi. Tidak dengan Aswin, atau dengan laki-laki manapun, sayang.. Mengerti?"


"I-iya, mengerti.." jawab Keara terbata.


Ia sungguh tidak mengerti dimana letak ke-sexy-annya. Ia memakai kaus Harris yang longgar. Ukuran kausnya berkali-kali lebih besar dari ukuran badannya. Sudah pasti kaus ini tidak mencetak lekuk tubuhnya, apalagi terbuka di bagian sensitifnya. Sama sekali tidak. Tapi kenapa bisa dibilang sexy?


"Mimpi apa dia tadi...? Pasti pikirannya sendiri saja yang kotor. Hiihh.. Geli." Keara menggerutu setelah Harris naik ke lantai atas dan masuk lagi ke kamarnya.


...----------------...


...----------------...


Selamat Hari Senin kaka 🥰


Bagi vote seninnyaa ya kak... Biar makin semangat updatenyaa.. makasiih


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih

__ADS_1


__ADS_2