
"Sayang.. Kamu kenapa? Kenapa nangis?" tnya Harris panik. Ujung jemarinya berusaha mengusap air mata yang membasahi pipi lembut favoritnya.
Keara menepis tangan Harris. Lantas menggelung tubuhnya hingga lebih meringkuk daripada tadi. Ia meringis kesakitan karena rasa mulas di perutnya beberapa menit lalu hilang, kini datang lagi menyerangnya.
"Sayang, perut kamu sakit? Sini aku liat..." Harris semakin khawatir. Terlebih karena ia lihat tangan Keara memeluk kuat perut buncit itu.
Tapi tanpa diduga, Keara justru menampik tangan Harris. "Minggir.... Aku masih kesel sama mas Harris!"
Harris mengernyit. 'Oh god.... Moodswing macam apa lagi kali inii....' batinnya sesak.
"Kenapa sayang? Apa salahku?" Nada bicara Harris sudah setengah pasrah. Sudahlah ia lelah sepulang kerja, masih harus menghadapi kekesalan istrinya yang tidak berdasar. 'Tuhan... Kapan masa perubahan hormon wanita hamil ini berakhir...?!'
Bukannya menjawab kebingungan Harris, Keara justru makin terisak isak. Sakit di perutnya menghilang setelah dua menit. Keara beringsut duduk sambil bersandar di headboard ranjang setelah dirasa tak mulas lagi. Harris pun duduk di tepi ranjang di sisi istrinya. Lebih mendekat hingga telapak tangan besarnya bisa terulur untuk menyusut air mata Keara.
"A-aku ssedihh.. Karena mas Harris nikah lagi.. Huhuhuuu..." tangis Keara pecah. Air mata yang sudah diseka Harris kini banjir kembali di pipi wanita itu.
"Apa??!" Setengah tak percaya pada apa yang didengarnya, Harris sampai tertegun dan menaikkan alis. "Berita bohong dari mana itu?"
"Mimpi....."
"Hah?"
"Aku mimpi mas Harris nikah lagi... Huuaaaaa"
Harris mencelos. Perasaannya sudah campur aduk antara lelah, bingung, dan khawatir melihat keadaan Keara yang pucat, menangis sesenggukan, dan berantakan. Eh, ternyataa....
"Sayangku... Kamu menangis sesenggukan begini cuma gara-gara mimpi?" Harris mengernyit bingung.
"'Isshh.. Enak aja cuma mimpi.. cuma mimpi..... Mas Harris sih enak, ga ngerasain apa yang aku rasa. Di mimpiku mas Harris senyam senyum, ketawa ketiwi.. Bahagia banget. Dapet istri baru yang lebih muda dan cantik." Keara memandangnya sengit. "Aku yang nyesek.. Aku yang sedih.."
Harris tergelak. Tak tahan lagi dengan sikap istrinya yang merajuk hanya karena mimpi. Hanya mimpi.
"Tuh kan ketawa.. Pasti seneng ngebayangin nikah lagi. Iya kan?!" salak Keara yang semakin mengundang tawa Harris kian lebar.
"Sayang, itu hanya terjadi di mimpi kamu... Aku ga ngebayangin apa-apa.. Aku ketawa karena istriku yang lucu dan gemesin ini..." Harris mencubit pipi kanan dan kiri Keara. Pipi yang lebih menggembung sejak hamil menjadi sasaran empuk Harris meluapkan kegemasannya.
__ADS_1
Keara merengut sambil menepis cubitan Harris. Ia lantas meraih tissue untuk menyusut ingus dan air matanya. "Gimana kalau benar-benar terjadi mas?"
"Ga akan sayang.. Itu gak akan terjadi." sanggah Harris cepat. Sedetik kemudian mulai menyatukan bibir dengan Keara setelah wajah wanitanya itu bersih diseka tissue. Mencecap bibir wanitanya itu masih saja menghantarkan gelenyar mendebarkan meski sudah menikah lebih dari setahun. Jadi mana mungkin ia akan menikah lagi seperti yang terjadi di mimpi Keara..? Tidak ada tempat untuk wanita lain di hatinya. Big NO!
"I love you, mas.. It's always gonna be you.." Keara menatap nanar suaminya. Dengan sisa isakan, ia ungkapkan perasaan hatinya. Sungguh, mimpi di siang bolong cukup mempengaruhi suasana hati jadi mendung semendung-mendungnya.
"You know i love you more, sweetheart.." Harris mengecup pelipis Keara. Ujung jemari membelai pipi Keara. Menghapus jejak air mata dan berusaha melibas sisa sisa rasa pahit yang ditimbulkan dari efek mimpi.
Harris berdiri. Berpindah posisi ke samping Keara. Bersandar di headboard ranjang dengan sebelah lengan merangkum raga istrinya. Keara membalas perlakuan manis Harris dengan merubuhkan kepala di dada bidang Harris. Kedua lengannya menelusup hingga jemari saling terkait memeluk pinggang suaminya.
"Di mimpiku tadi...." ucapan Keara menggantung karena disela oleh ciuman Harris yang mendarat di puncak kepalanya. Membuat Keara memejamkan mata menikmati rengkuhan lelaki besar itu. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang memenuhi indera penciumannya. Seolah tak ingin lepas, Keara semakin tenggelam di dada Harris.
Harris membelai surai hitam dan panjang milik Keara. "Kita masih bahas mimpi nih...?"
Keara mengangguk. "Sakitnya terasa nyata..."
"Kalau begitu jangan dibahas terus, nanti bikin kamu makin kerasa sakit. Itu hanya mimpi. Bunga tidur."
Keara menggeleng pelan. Ia sungguh masih ingin menjabarkan mimpi yang beberapa saat lalu terasa sangat mencekam. "Di mimpi itu, aku mati."
Satu kalimat yang cukup menyentil perasaan Harris. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi. Ia tidak pernah berani membayangkan hal buruk menimpa wanita tercintanya.
"Ga tau matinya kenapa, tau-tau udah mati aja aku di mimpiku.." lanjut Keara. Sebisa mungkin mencoba mencairkan suasana dengan memilih kosa kata yang ringan dan terdengar santai. Karena dari posisinya saat ini, ia bisa merasa ritme debaran jantung Harris berubah kian cepat. "Tapi ceritanya ruhku masih gentayangan di sekitar mas Harris."
"Aku sediiih banget liat mas Harris terpuruk dan kesepian. Bener-bener kesepian kayak mas Harris yang kukenal di awal-awal dulu.. Gak ada yang perhatiin makanannya. Gak ada yang ngerawat waktu mas Harris sakit. Jadi kasar, kaku, dan balik lagi ke setelan awal. Sedingin gunung es. Kasian banget."
"Tapi itu gak bertahan lama." Keara beringsut menjauhkan wajahnya dari dada Harris. "Mas Harris langsung ketemu sama cewe lain dan menikah. Patah hatinya cuma itungan detik. Langsung move on edisi super duper express. Hiiiiihhh.. Ngeselinn!!"
Keara sudah bersiap melayangkan cubitan maut di dada tempatnya bersandar tadi. Tapi Harris dengan cepat menangkap jemari Keara. Mendaratkan kecupan di punggung tangan yang hendak mencubitnya tadi. "itu cuma mimpi sayang.. Tidak akan pernah terjadi. Trust me, Mrs. Risjad.. You're the one. Only you."
Netra Keara kembali berkaca-kaca. Ia menatap manik mata lelakinya dan menemukan kesungguhan di dalamnya. Kemudian memilih untuk menenggelamkan lagi wajahnya di dada bidang Harris.
"Tau nggak mas..? Aku langsung kepikiran banyak hal. Terutama aku yang sebentar lagi menghadapi situasi yang mempertaruhkan nyawa." Keara mengelus perut besarnya. Menjadi isyarat bahwa situasi yang ia maksudkan adalah persalinan. "Apa saja bisa terjadi..."
"Gak akan, sayang... Gak akan ada yang terjadi." Harris berusaha menyudahi topik yang membuat nyalinya menciut. Sungguh ia lebih memilih berhadapan dengan klien terumit sedunia daripada harus mendengarkan ucapan Keara tentang mimpinya.
__ADS_1
"Kita ngomongin kemungkinan terburuk sayang... Bersyukur kalau tidak terjadi apa-apa.." sepertinya Keara masih kekeuh di jalur yang ia inginkan. "Tapi seandainya.. benar-benar seandainya.. Mimpiku jadi nyata. Aku harus ninggalin mas Harris, aku mau mas Harris tidak berlarut-larut dalam kesedihan."
"Sayang......"
"Diem dulu mas..." sela Keara. "Aku memang ga rela mas Harris nikah lagi. Tapi aku lebih sedih kalau sepeninggal aku nanti mas Harris sendirian dan kesepian untuk waktu yang lama. Jadi dengan berat hati... Yaah...boleh lah mas Harris cari pendamping yang bisa menemani mas Harris.."
"Tapi jangan cepet-cepet move on nya ya sayang.... Ehmmm.. Dua tahun menduda boleh laah.. Eh tiga tahun aja. Tiga tahun."
"Sayang.. Bisa aku minta kita ga bahas ini lagi?" Harris merangkum bahu Keara dan sedikit memberi jarak. Ingin menatap netra indah istrinya. Menangkup kedua pipi Keara lantas mendaratkan kecupan singkat di dahi sang istri. Ia menarik nafas panjang sebelum berkata,
"Aku tidak bisa menjanjikan kita berdua akan berumur panjang sampai kakek nenek, karena itu di luar kuasaku. Umur manusia sepenuhnya kuasa Allah, K.. Tapi bisakah kita berdoa bersama agar diberikan umur panjang? Bisa saling mendampingi berdua, menua bersama, merawat dan mendidik anak-anak kita sampai mereka dewasa kelak. Daripada membahas mimpimu yang jelas-jelas tidak berdasar itu.."
Keara tersenyum manis. Ia mengangguk dengan netra penuh peluh. "Aamiin.."
"Aku mencintaimu, mas..."
"Aku pun sangat mencintaimu, sayang... Sangat!"
Harris mendekap erat raga Keara. Sejujurnya ia sangatlah takut. Membayangkan hidupnya tanpa Keara. Harris benar-benar takut. Dunianya seolah berhenti. Ia tidak akan sanggup menjalani hari. Apalagi terbersit akan menikah lagi. BIG NO! REALLY NO!!
Sejurus kemudian Harris terhenyak karena teringat sesuatu. "sayang, tadi kulihat kamu sakit perut.. Sekarang bagaimana? Perlu kontrol ke dokter kandungan?"
Keara menggeleng. "Cuma konpal. Kontraksi Palsu. Sekarang udah ga sakit lagi.."
Harris mengerutkan dahi. Nampak khawatir. "Aman kah? Perlu telepon dokter?"
"Gak perlu sayang.. Wajar kok. Si kembar kan udah makin gede. Udah makin kepengen keluar.. Lusa jadwal kontrol ke dokter."
Harris mendaratkan telapak tangan besarnya di atas perut buncit Keara. Mengusap lembut memberikan ketenangan. Keara terpejam menikmati sensasi menenangkan di atas perutnya. Janin di dalam perut sepertinya sangat takluk dengan usapan lembut yang dilakukan oleh Harris. Buktinya mereka langsung tenang. Dan Keara tidak lagi merasakan mulas yang sedikit menyiksa.
...****************...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih