
🌹 Kantor Harris
Usai melakukan rapat koordinasi dengan karyawannya, Harris baru kembali ke ruang kerja. Semenjak pulang dari rumah sakit, pekerjaan seakan menumpuk dan menindihnya. Tak ada waktu istirahat kalau ingin cepat selesai.
Harris adalah tipe lelaki rasional yang bisa memilah urusan pekerjaan dan pribadinya. Lebih tepatnya urusan hatinya. Namun sejak keluar dari rumah sakit, hatinya dipenuhi sosok wajah cantik seorang gadis manis, bernama Keara Assyifa. Bayang senyuman gadis itu terus bergelayut tak mau lekang dari hati dan pikirannya. Berusaha memecah konsentrasinya, meski terus ia halau demi kewarasan jiwanya.
Harris tau ia tak bisa lagi seenaknya bertemu dengan gadis manis itu. Dengan alasan apapun. Apalagi tiap kali dia ingat tangisan gadis itu. Hatinya lebih tersayat lagi. Bagaimana bisa Harris menemui seseorang yang begitu bersedih saat tau almarhum kekasih gadis itu memintanya untuk dekat dengan Harris?
Harris tentu tak sampai hati memaksakan kehendaknya. Dia memilih mundur. Diam-diam menghilang tanpa kabar. Toh dirinya dan Keara belum terlalu dekat. Cukuplah mereka menjelaskan kesalahpahaman selama ini. Bahwa Harris tak sebeku gunung es, dan Keara mulai mengerti itu.
Selebihnya, semua akan kembali seperti semula. Harris bekerja tak kenal waktu. Tenggelam dalam kesibukan membabi buta demi melupakan kesendirian yang menyiksa batinnya tanpa ampun. Tanpa rehat. Tidak ada seorang pun yang ia rindukan dan rasa ingin bertemu.
Kecuali Keara. Gadis manis itu terus menerus mengusik pikirannya. Membuatnya kembali merasakan betapa beratnya rindu tanpa bisa bertemu. Mengingatkannya akan derita Harris kecil merindukan kedua orang tuanya bertahun- tahun silam.
Tapi sekarang Harris mendapat ide cemerlang. Hari ini dia menyuruh Aswin, Asisten kepercayaannya, untuk pergi ke kafe tempat kerja Keara. Dan memata-matai gadis itu, hanya demi Harris bisa tetap melihat wajah cantik Keara.
Harris mengalihkan sejenak kesibukannya. Ia meraih ponsel pribadinya dan menghubungi Aswin dengan sambungan video call.
"Sudah saya foto, Bos.. Sebentar lagi saya balik ke kantor." jawab Aswin setelah mengangkat teleponnya. Dia canggung juga bervideo call dengan Harris, Bos yang terkenal kaku dan dingin itu.
"Arahkan ke kamera belakang! saya video call bukan mau liat muka kamu." ketus Harris.
"Oh, b-baik Bos.." Aswin segera mengalihkan kamera belakang ponselnya. Mengarahkannya pada Keara, gadis sasaran mata-matanya hari ini. Tempat duduknya berjarak tidak terlalu dekat. Tapi karena meja-meja kafe sedang banyak yang kosong, memperjelas area pandang Harris pada Keara.
"Siapa laki-laki dan anak kecil yang duduk sama Keara itu?"
"Saya kurang tau Bos.. Tapi tadi sebelum Non Keara keluar, anak kecil itu rewel dan nangis-nangis manggil Mbak Keala gitu, Bos.."
Harris terdiam. Lama. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ingatannya mencoba mengorek informasi apa saja yang ia punya tentang Keara.
'Laki-laki ini pasti mantan pacar Keara. Dan itu anaknya, yang menjadi pemutus hubungan Keara dengan mantannya itu. Jadi Keara berhubungan lagi sama mantannya? Dan anaknya?? Cowok itu duda? Atau gimana?' Harris memutar-mutar pena di atas meja. Keningnya mengerut dan matanya memicing. Sungguh rasa penasaran sudah sangat menguasai akal sehatnya.
...----------------...
🌹 First Love kafe
"Dadaaah Alaa..." Keara melambaikan tangan pada Ara. Ara dan Nico bersiap pulang setelah mereka menyelesaikan sesi makan yang super menyusahkan.
Menyusahkan bagi Keara tentunya.
Dia tidak mengeluh jika hanya menyuapi si gemash Ara. Yang membuat Keara kesal adalah tatapan menggoda Nico yang terus tertuju padanya. Bahkan di depan putrinya sendiri, dan babysitter Ara.
__ADS_1
"See? Emang takdirnya kita ketemu terus K.. Kemarin lusa aku ketemu kamu, kemarin Ara yang ketemu kamu.. Bahkan tanpa mencari pun, Tuhan yang setting waktu dan tempat agar kita bisa terus bersilaturahmi.." ucap Nico sebelum mencapai mobilnya.
Keara hanya memutar bola matanya. Jengah juga mendengar kalimat modus Nico.
"Aku seneng Ara bisa kenal sama kamu K.. Bahkan dia menuruti kata-katamu untuk menyayangi temannya yang yatim piatu." imbuh Nico.
"Gak usah lebay. Ara masih anak-anak, diajari hal kecil aja dia pasti suka praktekin." ketus Keara.
"Please K.. kalau benar kamu udah maafin aku, dan ga ada perasaan apa-apa lagi sama aku, harusnya kamu ga perlu keberatan kalau kita sering bertemu. Apalagi kalau Ara yang mau ketemu kamu.. Jangan menghindar yaa.. Dia kelihatan suka banget sama kamu."
"Udah sono pulang cepetan. Kamu pikir kerjaanku cuma nemenin makan satu customer doang.. Udah sono." Keara mengibas-kibaskan tangannya ke arah Nico. Lalu berbalik melihat Ara yang sudah duduk di bangku belakang mobilnya. "Dadaaah Ala.. Kaka Kela mau balik kerja dulu yaa.. Bye..."
"Dadadaaah Kaka Kelaa...." balas Ara.
Keara cepat-cepat berbalik kembali ke dalam kafe. Tidak perduli mobil Nico belum beranjak sekalipun. Dia merasa tidak perlu menunggu sampai mobil Nico pergi. Muak.
Dalam hatinya berkecamuk. Benar apa kata Nico. Memang sudah tidak ada perasaan apapun di hatinya untuk Nico. Seharusnya tidak perlu mempermasalahkan pertemuannya dengan Ara. Bocah kecil itu sepertinya memang menyukai Keara. Buktinya tadi dia bisa menghabiskan seporsi nasi goreng tanpa drama, hanya karena disuapi Keara.
"Udah pergi?" tanya Juna begitu melihat Keara di dalam kafe.
"Udah."
"Ya udah sana siap-siap pulang.. Muka kamu udah pucat gitu. Keliatan capek banget."
•
•
•
Sesampainya di rumah, dilihatnya ibu duduk di teras rumah. Tampak sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. Sudah makan Nak?"
"Belum buk.." sahut Keara, seraya menjatuhkan dirinya di kursi malas dekat ibu.
"Buruan makan, ibu sudah siapkan di meja makan. Kare ayam pake sambal korek, kesukaan kamu."
Keara tidak menyambut antusias masakan ibu. Dia lebih memilih bersandar dan menikmati angin sore di teras lebih dulu. Menyegarkan pikiran. Melepas kepenatannya. Entahlah apa, atau siapa yang dia pikirkan. Tapi moodnya jelas berantakan tak karuan.
__ADS_1
"Ayo K.. Buruan makan, terus mandi. Abis itu anterin ibu ke rumah Haji Sobari."
Keara melirik ibunya dengan tatapan menyelidik. Feeling Keara cukup kuat. Kecurigaannya mencuat.
"Ngapain ke rumah Haji Sobari?"
Haji Sobari adalah adalah orang 'pintar' menurut kepercayaan tetangga-tetangganya. Kyai yang bisa menyembuhkan orang kesurupan, orang yang dipe let, memperlancar rejeki, kenaikan jabatan, dan hal-hal mistis semacamnya. Semua itu dibungkus dengan cover islami. Tapi bagi Keara, orang itu tetap wujud lain dari dukun.
Kalau ibu minta antar ke rumah Haji Sobari, jelas maksud dan tujuannya bukan sekedar ingin bersilaturahmi.
"Ya, buat silaturahmi aja, K.."
Nah kan, jawaban mencurigakan.
"Ngapain silaturahmi ke rumah dukun?"
"Husshh.. Jangan asal ngomong dukun dukun gitu K.. Kedengeran orang gak baik."
"Ya ibu.. Lagian ibuk ngapain sih pake ngajakin ke Haji Sobari? Keara yakin ada maksud terselubung.." tuduh Keara.
"Kecubung.. kecubung.. apa sih kamu ini." Ibu melengos. Tapi sedetik kemudian berubah melembut. "Gini loh K.. Ibuk tuh dapat masukan dari Bu Gito. Anaknya kan udah umur.. Hampir 30an gitu lah.. Cewek lagi. Was was kan Bu Gito. Akhirnya datengin rumah Haji Sobari. Terus diterawang sama Haji Sobari. Katanya ada mantan pacarnya anak Bu Gito yang sakit hati, terus mageri si cewek itu, jadi cewek itu susaaah banget dapet pacar.. Apalagi suami."
"Astaghfirullah Ibuk.." Keara membulatkan netranya. Tangannya mengusap dada tak habis pikir dengan Ibunya. "Hati-hati sirik Buk.. Dosa."
"Bukan maksud ibu sirik K.. Ibu cuma mau minta doa aja sama Kyai Sobari. Yaa.. Kalau setelah didoakan, jodoh kamu jadi deket, Alhamdulillah.. Artinya memang Allah berkenan mendekatkan jodohmu.."
"Keara gak mau ah.. Pokoknya ibuk jangan sampe ke Haji Sobari untuk masalah Keara ya Buk.. Keara gak suka." tegas Keara. Lantas berdiri bersiap hendak masuk ke dalam rumah.
"Ibuk sabar laah.. Keara yakin Allah sudah siapkan jodoh terbaik untuk Keara Buk.. Gak pake ke Haji Sobari juga jodoh Keara ntar dateng dateng sendiri.." imbuh Keara.
"Ibuk cuma panas aja denger kamu diomongin tetangga. Dua kali dilamar, dua kali gagal nikah.." ujar Ibu.
Keara tak bisa berkata-kata lagi. Hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Namun sebelum dia menghilang di balik pintu, ia sempatkan mengucap pada ibu, berusaha menenangkan ibu. Meski hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan dengerin omongan orang ya Buk.. Yang penting Keara baik-baik aja. Lagian Keara masih muda Buk, banyak yang bisa K kerjain, banyak yang belum K raih.."
Ibu mengangguk sambil mengusap punggung putrinya. Tidak seorangpun yang menginginkan kegagalan dalam membina satu hubungan. Tapi inilah cara Allah menunjukkan KuasaNya. Bahwa yang tidak berjodoh, tetap tak bisa bersatu. Sebagaimanapun upayanya.
...----------------...
🌹 Happy reading
__ADS_1
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih