
Harris Risjad
Cahaya keemasan senja selalu memukau. Meneduhkan. Menjanjikan petang pasti datang mengganti terik matahari yang sepanjang siang tadi nyalang menatap bumi dan seisinya.
Harris berdiri mematung di depan kaca jendela besar di ruang kantornya. Dari lantai 7, ia melihat rumah-rumah dan kendaraan lalu lalang di bawah sana tampak seperti miniatur yang bergerak. Sesuai ritme yang telah ditentukan. Seolah berlomba ingin membuatnya terpukau.
Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana. Rasanya menyenangkan setiap sore menatap pergerakan tenggelamnya sang surya. Karena jendela besar kantornya yang tepat menghadap ke barat. Sorot tajam berwarna jingga itu begitu menentramkan jiwanya. Meluruhkan penatnya akan tumpukan file yang harus ia pelajari, ia kuliti, hingga kemudian ia jadikan sumber kehidupan banyak orang. Termasuk dirinya.
Harris mengangkat lengan kanannya. Di mana jemari-jemarinya masih.. dan sedang menggenggam kotak kecil berwarna biru muda. Dengan diikat pita berwarna senada, kotak dari kertas karton tebal itu terlihat begitu cantik.
Dipandanginya kotak itu dengan perasaan yang terus berkecamuk. Batin dan nalarnya berdebat. Haruskah kotak berpita biru itu ia kirimkan pada seseorang yang memang seharusnya menerimanya?
"Udahlah.. Belikan saja barang yang aku minta." Ucapan Alm. Rizky kala itu melalui sambungan telepon internasional kembali terngiang di telinga. Saat itu dua minggu sebelum kecelakaan yang menewaskan Rizky, sahabatnya. Harris sedang berada di Hongkong menghadiri gelaran seminar young enterpreneur bersama banyak pengusaha muda se-Indonesia.
Harris menarik nafas panjang dan dalam. "Beli jepit rambut sih gak masalah. Tapi kenapa juga aku harus kasih ke pacar kamu?"
"Biar dia tau kalau kamu sebenarnya ga seburuk yang dia kira." jawab Rizky dengan santai. "Jangan lupa, minggu depan saat kamu pulang, segera berikan jepitan rambut itu pada Keara. Dan bilang itu oleh-oleh dari Hongkong yang kamu pilihkan khusus untuknya."
"Wait. Memangnya kenapa kalau pacar kamu itu menilaiku buruk? Aku tidak keberatan."
"Aku yang keberatan. Kamu sahabat terbaikku. Dan Keara cewek yang kucintai. Sebentar lagi kami akan menikah. Aku akan sangat bahagia kalau kalian berdua bisa akrab."
Harris bergeming. Tidak tau harus menyanggah bagaimana lagi. Logika Rizky hari itu benar-benar membuatnya bingung. Tak tau harus merespon bagaimana.
"Keara selalu menyebutmu gunung es. Bongkahan dingin, tak berperasaan. Dan kamu tau, lucunya bahkan dia bilang dia ga pernah denger suara kamu." Rizky tergelak. Harris sampai harus menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya. Karena suara gelak tawa Rizky yang memekakkan.
"Aku sampai nyeritain hal-hal lucu yang pernah kita alami demi bikin dia percaya kalau kamu sebenarnya orang yang ramah dan hangat."
"You know you shouldn't to did it.. Biarkan pacarmu itu menilaiku sesukanya."
"No, Ris.. Please. Aku bingung kenapa sikapmu begitu dingin dan mendadak jadi pendiam setiap kali bertemu Keara. I know you so well, but.."
Harris bergeming. Tidak ingin menjelaskan kebingungan Rizky.
Rizky terdengar menghela nafas panjang dan dalam. Sebelum mengucapkan kalimat pamungkas yang menyesakkan dada Harris, bahkan sampai hari ini. Setelah dua bulan kepergian Rizky sesak itu makin berat menghimpit.
Kalimat yang tidak ia duga, menjadi kalimat yang menyiratkan firasat kepergian Rizky untuk selama-lamanya. Kalimat yang seolah menjadi wasiat untuk Harris agar selalu menjaga wanita itu. Keara.
"Kamu harus baik pada Keara, seperti kamu selalu baik padaku dan keluargaku. Kelak kalau aku harus pergi, aku bisa tenang menitipkannya padamu."
Harris menelan salivanya dengan tatapan menerawang. Jauh menjurus ke luar jendela yang menampakkan cahaya keemasan yang semakin menggelap. Menyadarkan bahwa ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu dengan hanya berdiri di tempatnya saat ini
__ADS_1
Harris membulatkan tekad untuk menemui Keara malam ini. Menuntaskan janjinya pada Alm. Rizky meskipun sudah terlewat 2 bulan lebih sejak kematian Rizky. Amanah tetap harus tersampaikan. Seharusnya kotak berpita biru ini sudah sampai ke tangan yang tepat.
Harris bergegas melajukan mobilnya. Membelah kemacetan yang agaknya baru mulai terurai. Ia melirik jam digital di dashboard saat mobilnya berhenti tepat di pekarangan rumah Keara. Pukul 18.03. Ia hanya perlu waktu lima menit untuk menyerahkan kotak itu, lalu pulang dan sholat maghrib di masjid terdekat yang bisa ditemukan. Ok, good plan.
Namun rencana tinggalah rencana. Nyatanya yang dicari tak ada di rumah.
"Keara belum pulang. Tadi pagi sih pamitnya ke kampus, tapi siangnya ketemu sama teman SMA, jadinya main dulu ke rumah temannya." terang ibu Keara.
Harris terdiam. Di otaknya sedang terjadi perdebatan sengit. Haruskah menunggu sampai Keara datang? Atau dititipkan saja pada ibu K..?
"Mas ini siapa ya? Maaf, ibu sepertinya baru pertama kali lihat mas'e datang ke rumah ini.." suara ramah Ibu Keara membuatnya tersadar.
"S-saya Harris, Bu. Temannya Rizky." jawabnya sambil menunduk sopan. "Saya datang kemari karena ada titipan dari Rizky untuk Keara. Baru sempat..."
Harris menggantung kalimatnya demi menangkap raut tua yang semula tenang dan ramah itu mendadak berubah mendung. Mungkin masih mengingat kesedihan putrinya ditinggal untuk selama-lamanya oleh pria yang akan menikahinya.
"Saya titip ini saja..." Harris mengeluarkan kotak berpita biru dari saku jasnya.
"Tunggu saja, Nak.. Keara sudah di perjalanan pulang. Sebentar lagi juga sampai. Ayo.. duduk dulu." Tanpa menunggu persetujuan Harris, ibu Keara sudah membuka pintu lebih lebar dan menggiring Harris untuk masuk, lalu duduk di sofa usang di ruang tamu.
Harris mengedarkan pandangannya. Ruang tamu yang rapi meskipun tidak terlalu luas. Bahkan ukurannya setengah dari luas ruangan di kantornya. Terdapat satu set sofa warna hijau muda yang sudah berlubang di beberapa titik. Juga lemari bufet yang usianya sudah cukup tua tapi masih terlihat kokoh.
Tepat saat ibu Keara menyodorkan segelas teh hangat ke atas meja di depan Harris, saat itu pula Keara terlihat masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Wanita itu yang terlihat heran melihat mobilnya terparkir cantik. Mungkin sedang menerka-nerka siapa pemiliknya.
"Waalaikumsalam.." jawab ibu cepat. "Nah kaan.. ditunggu sebentar juga pulang."
"Ini ada yang cari K.."
Keara terlihat bengong begitu menangkap wajah Harris duduk manis di sofa. Sungguh pemandangan langka. Sebongkah gunung es menyambangi rumahnya.
"Nak Harris, ibu tinggal masuk dulu. Keara sudah datang." sambung ibu Keara.
Harris mengangguk untuk menyapa Keara yang masih mematung di depan pintu. Wajah cantik yang semula terlihat bingung, kini mulai tersenyum tipis dan menganggukkan kepala untuk membalas sapaan Harris.
"Ada apa mas Harris ke rumahku?" tanya Keara setelah mendudukkan dirinya ke sofa. Dia menatap lekat manik mata pria di depannya. Mencoba menerka apa yang tersembunyi di balik ekspresi kosongnya. Tapi tak berhasil.
Harris menatap tajam ke arah Keara. Sorotnya bahkan setara dengan sinar laser yang mampu menembus dinding di belakang tubuh Keara.
Wanita ini.. pacar sahabatnya ini.. Wanita yang tanpa sepengetahuan Rizky dan semua orang.. Sudah berhasil mencuri hatinya.
Oh, tidak! Sangat memalukan mencintai kekasih sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Pikirannya melayang pada suatu malam enam tahun silam. Saat ia duduk menyendiri di taman dekat kompleks rumahnya. Suara tangisan pilu seorang gadis muda membuatnya tertarik untuk mendekat.
"siapa kamu? Ngapain liat-liat aku? Gak pernah liat cewek nangis??" gadis berderai air mata itu menyembur dengan bersungut-sungut.
Harris yang kala itu memakai topi baseball dan masker hitam, tertawa. Gadis yang sedang kalut itu tidak memperdulikan kemungkinan kalau dia orang yang akan berniat jahat. Sangat menarik.
Harris duduk di bangku batu taman, di samping gadis itu. "Kamu kenapa?"
"Pacarku selingkuh.. Huhuuhuuks"
"Mau es krim?"
Gadis itu mengangguk. Membawa desir hangat di hati Harris. Gadis cantik itu seketika menjadi magnet yang terus menariknya untuk datang ke taman itu setiap malam. Dengan berbekal masker dan topi hitam.
Sayangnya, Harris mulai mengerti pola kedatangan gadis itu. Yaitu setiap kali gadis itu ingin menangis. Paling tidak setahun sekali, pacarnya yang tukang selingkuh itu akan membuatnya menangis di taman dan bertemu dengan Harris. Harris akan menghibur dan menenangkan gadis manis itu dengan iming-iming es krim.
Namun selama dua tahun terakhir, gadis itu tak pernah datang. Dan ia baru mengerti alasannya tahun lalu. Saat ia bertemu dengan sahabatnya, Rizky. Dan Rizky mengenalkan Harris pada pacarnya.
Keara.
Ya, gadis menangis di taman itu adalah Keara.
Keara yang sudah pasti tidak mengenalinya tanpa masker dan topi.
Gadis yang membuat Harris menggila dengan sering mengunjungi taman, berharap bisa melihat gadis menangis itu. Namun hari itu dia menjadi pacar dari Rizky, sahabat terbaiknya.
Harris tersenyum tipis. Pantas saja dua tahun tidak terlihat menangis di taman lagi. Rizky tidak mungkin bisa menyakiti seorang perempuan, batinnya miris.
"Maaf mas.. apa ada sesuatu yang penting?" tanya Keara membuyarkan lamunan Harris.
Harris menyodorkan kotak berpita pada Keara. "Dari Rizky."
Harris menelan salivanya dengan susah payah. Ia terpaksa mengingkari janjinya pada Rizky. Padahal melekat erat pesan terakhir Rizky, "Bilang kado itu dari kamu ya, Harris. Dari kamu bukan aku. Ingat."
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih