
"Judulnya pengen ngintilin suami setiap saat niih?" Harris mengerling menggoda Keara. Menjawil hidung gadis yang wajahnya sudah merah padam dan salah tingkah.
"Yaa bukan begituu..." Keara berkelit. Ia masih kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk berpura menyangkal ucapan Harris. Meski secara garis besar, memang itulah yang ingin ia lakukan. Mengekor kemana pun suaminya pergi. Ups.. Calon suami.
"Teruus..?" goda Harris. Ia merasa di atas angin. Melihat rona merah di pipi Keara membuatnya gemas setengah mati.
"Engg.... Abis mas Harris kalau lagi kerja susah banget dihubunginnya.. Apalagi kalau kerjanya ke luar negeri atau keluar kota. Chat pagi balasnya sore, dichat sore balasnya besok pagi.."
Harris terkekeh. "Maaf sayang.. Aku akan berusaha lebih cepat lagi balas chat kamu mulai sekarang.."
"Ehmm.. bukan begitu juga.. Aku tau mas sibuk. Perfeksionis dan totalitas dalam bekerja. Aku paham itu."
"Sekarang masih fine-fine aja, karena aku belum punya kapasitas untuk menuntut apa-apa. Tapi kupikir kalau aku sudah menikah dengan mas Harris, aku tidak akan siap dicuekin dalam jangka waktu lumayan lama begitu. Apalagi aku hanya akan jadi ibu rumah tangga yang diam di rumah besar mas Harris tanpa melakukan apapun."
"Sayang, jangan lagi berkata kamu tidak punya kapasitas untuk menuntut. Kamu punya, sayang.. Tegur aku. Aku masih sering lalai.. Kamu kan tau aku baru kali ini dekat dengan seorang gadis.. Jadi, kalau kamu gak jujur, aku akan merasa tidak ada yang salah dengan sikapku.."
" Aku berjanji akan memperbaiki sikap acuh tak acuhku setelah kita menikah nanti. Tidak akan membuat kamu merasa dicuekin lagi.." Harris mengerling. Tangannya terulur menyentuh pipi gadisnya dan mengusapnya dengan lembut.
"Makanya aku pikir jadi asisten Mas Harris ide yang bagus juga. Bisa bantuin mas nyelesaiin pekerjaan, sekaligus bisa ikut kemana pun mas Harris pergi. Entah harus bertemu klien atau seminar, atau meeting dengan siapa gitu.... Jadi gak perlu kirim-kiriman pesan chat lagi.." sergah Keara.
"Mana mungkin aku biarin istriku jadi asisten...."
"Kenapa gak mungkin..? Mas sendiri yang menawarkan posisi jadi asisten mas Harris.."
__ADS_1
"Tawaran itu kan sebelum aku melamar kamu, sayang.. Sekarang tawaran itu sudah hangus."
Keara merengut. Kemudian menarik nafas panjang.
"Dunia mas Harris sangat luas. Setiap hari mas Harris akan bertemu dengan banyak orang. Melakukan banyak hal. Aku merasa, aku harus punya cukup kualitas untuk bisa masuk ke dunia yang sama dengan mas Harris. Agar mas Harris juga merasa aku istri yang layak untuk seorang Harris Risjad. Aku ingin memantaskan diri bersanding dengan mas Harris. Aku juga ingin membantu mas Harris. Ingin membanggakan kamu.. Bukan hanya diam di rumah dan jadi beban suami."
Harris terkekeh. "Terima kasih sayang.. Terima kasih untuk semua pemikiran excellent kamu.. Tapi aku sama sekali tidak akan menganggapmu sebagai bebanku. Hahhahaa.. Mana mungkin orang yang kucintai kuanggap sebagai beban. Kamu terlalu memikirkan banyak hal di kepala mungilmu ini, sayang.."
Harris menangkup dengan kedua telapak tangan besarnya, lalu menggoyangkan kepala Keara ke kiri dan kanan. Hingga tatapan sebal tersorot dari netra gadis itu.
"Mas Harris iihhh.... Ngeselin!!"
"Satu lagi. Kamu sudah sangat berkualitas sayang.. Kamu sudah sangat layak. Karena itu aku sangat-sangat mencintaimu. Jangan memaksakan diri terlalu keras. Jangan merasa rendah diri. Bagiku kamu lebih dari segalanya, K.."
"Terima kasih, K.. Kamu bahkan belum tau siapa aku, tapi lucunya kamu ingin memantaskan diri denganku. Hehe.. Aku lah yang selalu merasa tak pantas mendapatkan perempuan luar biasa sepertimu, sayang.." gumam Harris lirih. Ia terus membelai rambut panjang gadis dalam dekapannya.
Keara memilih diam. Tangannya perlahan terangkat. Lalu terjulur ke balik badan Harris. Menyentuh punggung besar yang saat ini mendekapnya. Mengusapnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Hening menyelimuti. Kedua raga masih terlena dalam dekapan masing-masing. Kedua jiwa mencari kedamaian dalam kehangatan pelukan yang mereka bagi. Hingga detik berlalu tapi mereka masih menyamankan posisi satu sama lain.
"Kamu bisa kemalaman pulang kalau pelukan terus.." goda Harris. Ia pun sebenarnya masih enggan melonggarkan pelukannya.
"Ya udah lepasin.." sahut Keara. Tapi ucapan yang terlontar tidak disertai tindakan apapun.
__ADS_1
"Kamu juga gak nglepasin aku.."
"Mas Harris dulu laah.." kilahnya cepat.
"Kamu dulu aja..."
Lalu keduanya saling mengangkat kepala. Menatap netra sosok di dekapan. Lalu tertawa tergelak.
Masing-masing menertawakan diri sendiri. Menyadari mereka berdua sama sama enggan mengurai pelukan. Malu bercampur bahagia yang membuncah.
"Terima kasih, K.. Sudah mau membuka hati kamu untukku." lirih kalimat manis itu terlontar dari bibir Harris.
Menjadi penutup dari momen manis malam ini. Setelah seharian penuh drama karena Harris yang terus memaksakan diri ingin membeli cincin tunangan bersama Keara. Tidak peduli dengan kesehatannya sendiri. Hingga membuat Keara harus terdampar di rumahnya seharian. Menunggu dia tidur pulas karena efek obat yang ia minum.
'Entah apa yang dikatakan Aswin pada Keara. Hingga membuat gadis ini melembut padaku.. Aku tidak peduli. Yang terpenting, gadis cantik dalam dekapanku ini sudah membuka jalan untuk aku bisa menyelami hatinya..' bisik hati Harris.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
__ADS_1
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih