Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ulang Tahun


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, sayang..." Keara melontarkan ucapan selamat ulang tahun kesekian kalinya setelah ia meletakkan secangkir kopi di meja kecil dalam kamarnya. "Ini kopinya..."


Keara menghampiri suaminya yang sedang berada di depan lemari untuk mengambil kemeja kerjanya. Lantas melingkarkan lengannya pada tubuh kekar yang masih berte lanjang dada itu. Padahal mau seerat apapun mendekap suaminya, tak akan bisa sedekat dulu karena sekarang terhalang perut buncit. Keara pun menengadahkan wajah demi bisa menatap sang suami yang memang lebih tinggi darinya.


Keara memang sengaja menggoda Harris dengan berkali-kali mengucapkan selamat ulang tahun. Tadi malam tepat pukul 00.00, ia bahkan sampai membangunkan Harris yang sudah terlelap hanya karena ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Setiap jam, setiap berpapasan, saat tadi Harris mau mandi, saat selesai mandi, sebelum sarapan, sesudah sarapan Keara akan mengulangi lagi ucapan yang sama. Tidak lupa usai mereka bercinta pun Keara masih saja mengucapkan selamat ulang tahun.


Harris menjawil hidung Keara. "Sayangku, kau sudah mengucapkan selamat ulang tahun sebanyak seratus delapan puluh tiga kali.. Tidak bosan, hm?"


Harris tersenyum lebar. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan betapa ia sangat bahagia. Istrinya yang cantik dan manja ini sungguh membuatnya gemas setengah mati. Mau menerkam, tapi ia baru saja melakukannya usai sholat shubuh tadi. Bahkan rambutnya masih basah jejak keramas dan mandi besar barusan. Masa iya, mau diterkam lagi. Kapan kerjanyaa...


"Anggap saja aku lagi nyicil hutang ucapan ulang taunku untuk tahun-tahun lalu sebelum kita menikah.." Keara nyengir saja. Tanpa mengurai tautan jemarinya di balik badan Harris.


"Kalau begitu, kadonya juga dicicil buat tahun-tahun lalu ya sayang..?"


"Kado? Taun ini aja aku ga nyiapin kado spesial apa-apa buat mas.." cicit Keara. Sebenarnya ia membeli kado sebuah jam tangan, tapi rencananya akan diberikan nanti malam saja saat dinner berdua. Tidak bisa dikatakan kado spesial, karena jam tangan koleksi Harris sudah berbaris rapi di lemari dengan berbagai merk mentereng. Bingung juga membeli kado, pikir Keara. Harris sudah punya semuanya. Mau diberi apa lagi coba..


"Kado spesialnya itu ya kamu, sayang.. Nanti malam dobel ronde yaa.." Harris mengerling. Dan ia yakin Keara pasti tau apa maunya. Buktinya, wanita itu langsung mencebikkan bibir dan memukul pelan dada Harris.


"kalau kadonya cuma bercocok tanam, ya berarti aku udah ngasih kado dari kemarin-kemarin.. Ini aja sampe mbelendung begini perutku.."


Harris mengecup kening Keara. "Kamu dan si kembar memang kado terindah dan terbaik seumur hidupku, sayang.."


"Oh yaa...? Walaupun aku udah segendut ini tetep kado terindah?"


"Ehmm.. Kalau sebesar ini mungkin lebih cocok disebut doorprize kali yaa.." kelakar Harris.


"Iiiishh.." mungkin sudah nasib Harris, Keara mencubit pinggang suaminya sampai lelaki itu meringis kesakitan.

__ADS_1


Tak lama mereka bersiap untuk pergi ke kantor. Keara bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin menempel pada Harris seharian ini. Karena saat ini, wanita hamil itu juga tengah berdandan dan telah memakai baju rapi. Mereka pun berangkat bersama menuju perusahaan yang didirikan oleh Harris Risjad itu.


Harris tidak protes. Ia malah senang istrinya terus menempel seperti lintah. Jika perlu setiap hari saja istrinya itu diboyong ke kantor. Bukan hanya saat ulang tahunnya saja. Lumayan. Ada pemandangan segar saat bekerja untuk booster semangat. Tidak hanya melihat tampang Aswin, yang ada booster emosi saja.


Harris menepati janji untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Bahkan untuk makan siang saja Keara sampai harus menyuapinya. Karena Harris yang terlalu sibuk sampai tak bisa berpaling barang sebentar dari layar laptopnya.


Banyak sekali agenda yang diminta Keara. Mulai dari jalan-jalan ke mall, nonton film di bioskop, belanja keperluan si baby twin, kemudian ditutup dengan candle light dinner di restoran pilihan wanitanya itu.


Kalau umumnya orang yang sedang berulang tahun yang ingin ditemani di hari spesialnya, kalau ini kebalikannya. Keara lah yang memaksa Harris menemaninya. Sampai menempel terus meski sang suami masih harus bekerja. Agak lain memang..


Tapi apa mau dikata. Yang ditempel sama sekali tidak merasa terganggu. Apalagi risih dan tidak suka. Yang ada perasaan berbunga-bunga dan kebahagiaan yang membuncah ruah dirasa. Terbayar sudah segala rasa sepi dan hampa yang ia lalui di tanggal yang sama bertahun-tahun lalu.


Pukul dua siang Harris sudah menyelesaikan pekerjaan. Tersisa hanya file dan dokumen yang tidak terlalu urgent. Sehingga bisa dihandle oleh Tiara dan Aswin saja. Harris pun mengajak Keara untuk sholat dhuhur berjamaah lebih dulu, baru pergi sesuai rencana sang wanita.


Ibu hamil satu itu baru saja menuntaskan makan siang keduanya. Harris dibuat geleng-geleng kepala melihat sang istri memesan makanan sampai dua kali. Perutnya saja sampai begah. Tapi sepertinya Keara baik-baik saja. Ia beranjak mengikuti perintah sang suami untuk menunaikan kewajiban sholat berjamaah.


Usai sholat, Keara kembali duduk di sofa dan touch up ulang make up nya. Seharian dia duduk bermalas-malasan di sofa kantor Harris, makan siang dua porsi, lalu wudhu dan sholat. Sudah pasti make upnya acak adul ga karuan.


"Ya sudah. Sana kerjakan. Jangan lupa laporan ke saya. Kirim via email juga."


"Baik, Pak.." sahut Aswin dan Tiara kompak. Kakak beradik itu langsung sigap menerima tumpukan file dari Harris.


Tok..tok....


Empat pasang mata di dalam ruangan itu serentak menoleh ke arah pintu yang diketuk. Diluar tak ada seorang pun yang menjaga. Kalau ada tamu langsung lolos ke ruangan CEO, Aswin lah orang pertama yang kena damprat. Sehingga tanpa diminta, Aswin segera bergegas membuka pintu untuk mengetahui siapa si pengetuk pintu itu. Sekaligus untuk menghalangi orang tersebut mengganggu tuannya.


"Maaf, cari siapa bu?" tanya Aswin begitu pintu terbuka.

__ADS_1


"Harris.. Apa- Harris ada di dalam?" sebuah suara tertangkap indera pendengaran Harris. Ada getaran dari suaranya yang tak mungkin bila berasal dari klien atau kolega Harris. Karena orang-orang itu selalu bersuara formal, tegas dan percaya diri.


Keara pun menangkap suara itu. Ia lantas berjalan mendekati Harris karena bisa menebak suara siapakah itu.


"Maaf bu, Pak Harrisnya sedang sibuk. Apa ibu sudah buat janji?" lagi Aswin bertanya. Asisten CEO itu masih menggunakan tubuhnya untuk menghadang si tamu agar tidak nyelonong begitu saja.


Tamu tersebut menggelengkan kepala. Dan sudah pasti tidak terlihat oleh Harris dan Keara yang masih ada di dalam ruangan.


Keara menggamit lengan kekar Harris. Lalu dengan tangan yang lain membelai lengan itu. "Sayang, terima dulu tamunya." pintanya.


Harris membelai puncak kepala sang wanita. "Nanti jalan-jalannya jadi tertunda... Are you okay?"


"Okay.. Gak apa-apa.." Keara menarik nafas dalam. Sebisa mungkin menyembunyikan gemuruh di dadanya. Ia dekap erat sebelah lengan Harris.


"Mas Aswin, biarkan ibu itu masuk." seru Keara.


"Siap mbak.." Aswin melebarkan celah pintu yang terbuka. Ia dan Tiara pun segera keluar dari ruangan setelah mempersilakan tamunya masuk ke dalam.


Sepeninggal Aswin dan Tiara, pandangan tak terhalang. Harris jadi dapat melihat siapakah tamu yang mendadak datang dan menunda rencana jalan-jalannya bersama Keara.


Rautnya tak dapat berbohong. Wajah yang memucat, serta jantung yang berdegup kencang membuat Harris seketika terhuyung sedikit ke belakang. Bersyukur Keara dengan sigap menahan. Wanitanya itu seolah sudah tau kalau Harris akan merapuh. Memeluk pinggangnya erat.


"Mm..mama..?"


...****************...


🌹 Happy reading

__ADS_1


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2