Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ada Dua


__ADS_3

Jam sembilan pagi Harris dan Keara sudah duduk manis di ruang tunggu poli kandungan dokter Kalila. Sepertinya hasil pencarian Aswin tidak meleset. Dokter yang dia pilih agaknya memang cukup terkenal. Buktinya, banyak sekali wanita dengan perut buncit duduk mengantri dengan sabar menunggu giliran konsultasi kandungan mereka.


Harris tidak sekalipun melepaskan rangkulan lengannya di bahu sang istri. Raut bahagia jelas terpancar di wajahnya. Pun demikian dengan Keara. Ia dengan manja menyandarkan kepala di dada sang suami.


"Lihat. Banyak perawat dan pasien cewek yang lirik-lirik mas Harris." bisik Keara. Ia terlihat tidak peduli, malah bermanja bercanda tawa dengan sang suami. Padahal hatinya panas mendapati beberapa pasang mata mencuri pandang ke arah suaminya.


"Minta dicolok mata mereka itu." geram Keara. Tentu saja tidak mau menunjukkan kegeramannya. Ia ingin tetap tampil elegan dengan mempertunjukkan kemesraan yang tidak mencolok tapi mampu membuat setiap tatap mata menjadi iri.


Harris terkekeh. Ia justru senang istrinya bermanja-manja dengannya seperti saat ini. Tidak peduli apapun tendensi yang mendasari sikap istrinya. Ia juga tak peduli kalaupun banyak wanita yang sedang meliriknya. Wanita mungil dan mempesona di sisinya ini sudah lebih dari cukup.


"Hanya kamu yang ada di mata dan di hatiku, sayang.."


"Halaah prett.." cibir Keara. Tapi dalam hatinya seperti ada kebun bunga yang bermekaran. Wajahnya pun merona.


*Cup


Satu kecupan mendarat di pelipis Keara, mampu membungkam bibir cemberut manja wanita itu. Ia mengusap bekas ciuman suaminya. "Mas Harris nih.. Malu dilihat banyak orang.."


"Biar aja. Biar mereka semua tau wanita cantik ini milikku." sahut Harris enteng. Ia sungguh mengabaikan jika dirinya saat ini berada di tempat umum.


Orang-orang yang memandanginya saat ini adalah segelintir orang yang ingat bagaimana Harris sempat jadi objek gosip hangat karena skandalnya dengan artis ibu kota Hanna Rosaline. Yang diakhiri dengan hancurnya karir Hanna di dunia hiburan, dan semakin tersohornya nama Harris Risjad. Bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai perfect husband.


"Sayang, kenapa giliranku masih lama?" tanya Keara tidak sabar. Padahal dia baru duduk selama lima belas menit. Berbeda dengan kebanyakan ibu hamil yang sudah berada di sana sejak pagi untuk mengantri.


"Sabar, sayang.. Mungkin di dalam ada pasien yang butuh penanganan khusus dari dokter Kalila."


"Tapi aku laper mas.."


Harris membulatkan netranya. Sedikit tidak percaya pada apa yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarannya. Pasalnya, Keara sudah makan tiga tangkup roti bakar sebelum berangkat ke rumah sakit tadi. Tapi sekarang wanitanya ini bilang lapar.. Apakah kehamilan bisa mengubah wanitanya jadi se-menggemaskan ini?


"Apa karena Kamu tadi makan roti? Harusnya kamu makan nasi sayang.. Yang banyak lauk dan sayurannya. Biar kenyang. Biar baby kita juga kenyang.." cicit Harris.

__ADS_1


Keara mendesah pelan. "Aku tuh kalau pagi-pagi liat nasi berasa mau muntah aja, mas.." keluh Keara.


"Padahal udah nafsu banget tadi liat masakan bik Santi nasi sama udang goreng mentega. Tapi yang kemakan roti aja. Daripada muntah-muntah kayak kemaren.. Makin repot kaan..?"


Harris mengusap puncak kepala Keara lalu menciuminya dengan lembut. Ada rasa penyesalan memenuhi dadanya. Betapa ia sangat acuh dengan keadaan istrinya kemarin. Bahkan Harris baru tau kalau Keara tidak bisa makan nasi dan kemarin sampai muntah.


"Kamu mau kubelikan makanan apa?" ketimbang mempertanyakan kenapa dia tidak diberi tau perihal kondisi Keara, Harris lebih memilih menuntaskan kelaparan istrinya saja.


Keara menggeleng. Lantas mengeluarkan box kecil berisi snack dari dalam tasnya. "Aku makan ini dulu aja mas.. Tapi nanti abis periksa, kita mampir beli makan yaa.." pintanya seraya menyuapkan cookies ke dalam mulutnya.


"With a pleasure, sayangku.."


Hanya berselang sepuluh menit, nama Keara dipanggil perawat untuk masuk ke dalam ruang periksa dokter Kalila. Sepasang suami istri yang tetap mesra meski tidak lagi menyandang status pengantin baru itu, duduk di kursi yang ada di hadapan dokter separuh baya yang masih tampil cantik dan elegan.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter Kalila ramah.


"Begini, dokter.. Saya baru melakukan tes kehamilan kemarin dan ini hasilnya." Keara menyimpan di atas meja salah satu tespack yang dipakainya kemarin. Hanya membawa satu, tidak mungkin bawa lima biji.


"Apa ini artinya saya benar-benar hamil?" tanya Keara lagi. Ia melihat ekspresi dokter Kalila yang tidak berubah ketika mengamati testpacknya. Dokter yang usianya lima tahun lebih tua dari mas Harris itu tetap tersenyum ramah.


Harris merapatkan rangkulan tangannya pada Keara. Senyum terus menghiasi wajah tampannya.


"Untuk mengetahui kondisi kehamilan anda dan usia janin, kita bisa periksa dengan USG."


Keara naik ke brangkar atas perintah dokter Kalila. Seorang perawat membantu menaikkan baju atasan Keara untuk memperlihatkan perut mulus yang masih rata itu sebagai akses dilakukannya USG. Kemudian mendorong meja kecil yang berisi sebuah monitor yang berada di sana.


Harris memperhatikan setiap proses dengan berada di samping Keara. Ia terus menggenggam jemari lentik wanitanya. Seolah ingin menemani dan menguatkan padahal tidak ada yang menakutkan sedikitpun.


Dokter Kalila segera mengoleskan gel, lalu menempelkan tranduser dan diputar di permukaan perut Keara.


"Ah, ini dia si kecil dalam perut mama.." ujar dokter Kalila membuat perasaan Keara dan Harris berdesir haru. Keara sudah menitikkan air matanya meski ia tidak mengerti yang mana wujud janinnya melihat layar monitor itu.

__ADS_1


Harris mere*mas jemari lentik Keara dan menciuminya dengan perasaan cinta yang membuncah.


"Kalau dilihat dari ukuran janin, usianya masih enam minggu.. Masih sangat muda, jadi harus dijaga extra hati-hati." jelas dokter.


"Apa pernah ada keluhan?"


"Kemarin sempat dua kali kram perut dok.."


"Oh ya? Kalau boleh tau apa penyebabnya?" pertanyaan dokter Kalila sukses membuat Harris dan Keara saling pandang. Tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan sederhana itu tanpa harus mengumbar urusan ranjang mereka di depan orang lain.


"Ehm.. i-tu ka-karena.." Keara tergagap mencari kalimat yang dirasa sopan dan tidak vulgar.


"Karena saya terlalu bersemangat menggagahinya, Dok.." Harris memotong Keara dengan jawaban yang lebih gamblang. Membuat Keara mencubit punggung tangan Harris dan memelototi lelaki itu.


"Kami sebelumnya tidak tau kalau ada bayi kami di dalam sana." imbuh Harris, memberikan informasi penting sebelum dokter menyalahkannya karena terlalu ganas menggauli istri. Ia mengabaikan reaksi marah istrinya.


Dokter Kalila yang sudah biasa menghadapi pasangan suami istri dimabuk asmara itu hanya tersenyum simpul. "Untungnya tidak terjadi apa-apa. Janin juga dalam kondisi baik." tuturnya lembut dan sabar.


"Lihat bulatan-bulatan kecil ini.. Mereka adalah anak-anak kalian." Dokter Kalila menunjuk monitor dimana ada bulatan tidak berwarna yang tampak bergerak sangat lambat dan patah-patah.


Harris mendekatkan wajahnya. Mengamati dengan seksama monitor itu. "Yang mana anakku, Dok?" tanyanya karena tak hanya ada satu bulatan saja di sana.


"Semuanya." dokter Kalila tersenyum.


"Dua??" cecar Harris memastikan.


Dokter Kalila pun mengangguk.


...----------------...


🌹 Happy reading

__ADS_1


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2