Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Taubat


__ADS_3

Lima belas hari berlalu.


Hari ini tepat tanggal lima belas. Tanggal dimana Pak Suryo, ayah kandung Keara biasanya akan datang ke kantor Harris untuk mengambil uang bulanannya. Harris ingin membuktikan perubahan sikap Pak Suryo yang sering diceritakan oleh Keara.


Semenjak kedatangan Suryo ke rumah dan bertemu dengan Keara tempo hari, Suryo sering menunjukkan perhatiannya pada Keara. Pria itu kerap menghubungi Keara hanya untuk menanyakan kabar Keara, dan berbasa basi semacamnya. Pria tua itu sungguh mulai bersikap selayaknya orang tua yang begitu menyayangi dan memperhatikan putrinya. Hal yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia lakukan.


Keara tentu sangat bahagia dengan perubahan sikap hangat sang ayah. Di masa kehamilan pertamanya, ia mendapat limpahan kasih sayang dari semua orang. Terutama dari suaminya. Dari ibu dan mas Arman. Sekarang ditambah lagi dari ayah yang tak pernah ia kenal sejak masa kanak-kanak.


Harris hanya berharap sikap mertua lelakinya itu tulus dari lubuk hati yang terdalam. Ia tidak ingin melihat kebahagiaan istrinya itu memudar begitu tau sikap baik Suryo hanya sebagai tameng semata. Karena itu, ia ingin memastikannya hari ini.


Harris ingin lihat, apakah hari ini Suryo masih akan datang ke kantornya untuk meminta uang seperti biasanya? Atau lelaki tua itu benar-benar sudah bertaubat? Tidak ingin meminta uang lagi, seperti yang ia ucapkan dan janjikan pada Keara tempo hari.


Hari sudah beranjak petang, ketika bagian keamanan menelepon Harris dan memberi tahu tentang kedatangan Suryo. Beruntung saat itu Tiara memang sudah pulang tepat waktu, sehingga wanita itu tidak perlu repot-repot bersembunyi.


Hanya Aswin yang masih bersiaga menjaga dari luar ruangan CEO. Meskipun, jika diingat-ingat ucapan di luar dugaan Suryo kepada David beberapa hari silam, menyiratkan bahwa Suryo telah mematahkan asumsi bahwa dia adalah ayah yang be jat dan tak punya hati. Tapi Harris tidak ingin kecolongan. Ia takut Suryo hanya mempermainkan dirinya, dan ujungnya akan menyakiti hati istri tercintanya.


Terdengar pintu diketuk sebanyak dua kali. Belum sampai Harris menyuruh tamunya masuk, tapi pintu sudah terayun ke dalam dan menampakkan sosok pria tua berpenampilan sederhana namun rapi, yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Suryo Pratomo.


"Silakan masuk, Bapak mertuaku.." tutur Harris dengan nada sarkas, seraya menunjuk sofa dengan dagunya. Ia pun bangkit dari kursi tahtanya dan turut mendaratkan pan tat duduk di sofa berhadapan dengan Suryo.


Harris melihat gesture yang tak biasa dari Suryo. Jika biasanya Suryo duduk dengan angkuh, menumpangkan sebelah kaki ke sisi paha yang lain. Mengangkat dagunya penuh rasa percaya diri. Kini yang dilihat Harris hanya lelaki tua yang tertunduk dengan kedua siku tangannya menumpang di atas paha dan jari-jari tangan yang saling memilin.


Harris mengeluarkan selembar cek dari saku kemejanya. Ia sengaja meletakkan cek itu di meja, dengan posisi terbuka agar Suryo bisa melihat tulisan Seratus juta Rupiah yang tertera di sana.


"Kalau tidak ada urusan lagi, ambil itu, lalu pergi." ucap Harris karena lembaran ceknya tak kunjung mendapat sambutan dari sang ayah mertua. "Karena aku tidak berencana lembur hari ini. Aku ingin segera pulang dan menemani istriku."


Mendengar kata 'istriku' membuat Suryo akhirnya mendongakkan kepala menatap Harris. Harris bisa melihat tatapan nanar di netra dengan kulit yang sudah keriput itu. Entah kenapa membuat hatinya sedikit terenyuh. Apakah lelaki tua ini benar-benar sudah bertaubat? pikirnya dalam hati.

__ADS_1


"Aku sangat malu." gumam Suryo lirih seraya menurunkan pandangannya mengamati lantai marmer kantor Harris. Meski diucapkan secara lirih, tapi cukup terdengar jelas oleh Harris.


Harris mengernyit tak mengerti. Malu? Seorang Suryo Pratomo merasa malu ketika hendak menerima uang?? Terdengar mustahil.


"Aku sudah mengatakan pada putriku kalau aku tidak akan mengambil uang darimu lagi." ucap Suryo masih terus menunduk.


Harris tersenyum sinis. "Lalu sekarang bapak tetap ingin mengambil uang itu, kan? Haha.. Sejak kapan bapak peduli pada Keara?"


"Maaf.."


Harris mengangkat sebelah alisnya. Menajamkan pendengarannya. Pasalnya kata 'maaf' yang baru saja terlontar dari mulut mertuanya itu terdengar begitu asing di telinga.


"Aku sudah bertekad ingin berubah. Tapi aku tidak mau munafik. Aku masih butuh uang untuk memulai hidupku. Kau tau sendiri aku tidak punya pekerjaan."


Harris merebahkan punggungnya di sandaran sofa. Lantas menumpangkan sebelah kaki di atas kakinya yang lain. "Lalu bapak maunya gimana?" tanyanya santai.


"Bolehkah kau ganti nominal di cek itu? Sepuluh juta saja. Dan aku janji ini akan jadi yang terakhir kalinya kau memberiku uang. Aku janji." ucap Suryo bersungguh-sungguh. Dari tatapan tegasnya Harris dapat melihat keseriusan Suryo dalam berucap.


"Yakin." Suryo mengangguk mantap.


Harris menarik sebelah sudut bibirnya. Bibir itu menyunggingkan senyum arogan karena begitu ingin mengejek sang mertua. Tapi diingatnya lagi percakapan mertuanya itu dengan David Soehandoko beberapa waktu lalu. Dari yang ia dengar, mertuanya itu mengucapkan kata-kata yang cukup membuatnya tercengang, karena di luar ekspektasinya.


Harris jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah lelaki tua ini sudah benar-benar bertaubat? Tapi, bagaimana bisa? Mungkinkah?


Ia kesampingkan pertanyaan-pertanyaan yang menjejali pikirannya. Harris meraih kembali lembaran cek yang sudah disodorkan ke tengah meja. Ia robek cek itu hingga menjadi bagian-bagian kecil, lalu menulis cek baru dengan nominal yang disebutkan Pak Suryo tadi.


"Sesuai keinginanmu, Pak Suryo Pratomo. Cek senilai sepuluh juta Rupiah." ucap Harris seraya menyodorkan lembaran cek yang baru ke tengah meja. "Aku harap setelah ini kau tidak akan menyesal dan kembali merongrong uang seratus juta yang sudah kau tolak tadi."

__ADS_1


"Ya, aku janji." Ucap Suryo. Tangan rentanya meraih selembar cek yang disodorkan Harris.


"Kalau boleh aku tau, untuk apa uang segitu buat bapak?" Harris melontar tanya karena rasa penasaran yang sudah tak dapat ditahan.


"Ehmm.. U-uang ini akan aku pakai untuk modal usaha." jawab Suryo dengan menundukkan kepala. "A-aku ingin meninggalkan duniaku yang dulu, aku ingin memulai usaha berdagang saja."


Harris menaikkan sebelah alisnya. Dia nampak tertarik mendengar kelanjutan cerita mertuanya.


"Aku sudah tua. Tak mau lagi mencetak dosa. Lagian aku sudah sangat malu pada anak-anakku dan ibunya. Padahal mereka tidak tau menahu kebejatanku yang sebenarnya.. Ta-tapi.. Aku sudah sangat takut mereka akan mengetahuinya..."


"Eh?" Harris bingung. Ia ingin tertawa rasanya mendengar pengakuan taubat orang tua di depannya itu. Tapi melihat raut kesungguhannya, Harris mengurungkan niatnya untuk tertawa terbahak-bahak. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sinis.


"Mungkin aneh bagimu. Tapi itu yang terjadi.." Gumam Suryo lirih. "Kalau kamu bertemu Tiara, sampaikan maafku padanya. Aku bersungguh-sungguh. Kalau dia ada di depanku saat ini, aku bersedia bersujud di kakinya.."


"Baiklah, jalani hidup bapak sebaik mungkin. Aku tidak akan menghalangi. Tapi aku juga tidak mudah mempercayai orang. Aku akan tetap mengawasi bapak, terutama setiap kali bapak mendekati Keara dan keluarga kami.. Tidak akan aku biarkan bapak menyakiti istriku meski seujung kuku sekalipun." tegas Harris.


Suryo mengulas senyum dan mengangguk perlahan. "Terima kasih... Terima kasih sudah menyayangi putriku dengan begitu tulus."


...---------------...


...----------------...


...Lama banget vakumnya mas Harris nih 🙈...


...semoga pada masih pada inget alur ceritanya yaa.. Terima kasih buat readers setia Mas Harris dan Keara 🥰🌹...


🌹 Happy reading

__ADS_1


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


__ADS_2