
🌹 PT. Swadaya
Keara menggerakkan tangan dan kakinya lebih cepat. Memindahkan box-box kue dari dalam mobil ke luar. Mengopernya dengan tangkas ke tangan Juna. Lalu Juna akan memberikan ke seorang karyawan bawahan Pak Galang, untuk dibawa masuk ke ruang meeting.
Keara memastikan agar gerakan cepatnya tak sampai menjatuhkan box-box itu. Tangannya mendadak tremor. Dari sudut mata, Keara bisa menangkap sosok Nico yang berdiri di samping Pak Galang. Sedang memperhatikannya lekat-lekat. Dengan senyum tipis terulas.
Perasaan Keara bercampur aduk antara kaget, kesal, gugup, dan tak tau harus berbuat apa. Bertemu dengan Nico sangat tidak diharapkannya. Di luar ekspektasinya. Kini Keara bingung bagaimana cara menghadapi Nico, yang jelas-jelas sedang menunggunya sampai selesai bekerja. Oh, no. BIG NO!!
Ingin rasanya dia berlari secepat cheetah untuk segera keluar gerbang. Meninggalkan tugasnya begitu saja. Mendadak dia menyesal kenapa hari ini begitu berbaik hati menawarkan diri mengantarkan pesanan kue customer bakery. Padahal hampir tidak pernah ada pramuniaga yang harus mengirim pesanan customer. Karena untuk delivery sudah ada timnya sendiri.
'Aku harus cepat kasih kode ke mas Juna nih, jangan sampai ada celah yang membuat Nico bisa mendekatiku dan mengajakku bicara..' batin Keara.
Setelah semua box kue telah pindah ke dalam gedung PT. Swadaya, Keara terus menempel pada Juna. Bermaksud agar tidak memberi ruang pada Nico untuk mendekatinya.
"Mas, cowok yang pakai jas abu itu mantanku. Aku bener-bener ga suka ketemu sama dia." ujar Keara pada Juna dengan nada berbisik.
Tapi bukan Nico namanya kalau tidak bisa mendekati Keara dan memaksa ingin bicara berdua saat Juna sibuk membicarakan urusan pembayaran dengan pak Galang.
"K, aku bener-bener seneng ketemu kamu disini." Nico berhasil menarik tangan Keara agar menjauh dari Juna. Mereka berdua berdiri di parkiran mobil sekarang. Nico terus saja menyunggingkan senyum, dan saat ini lebih lebar lagi.
"Aku malah gak seneng banget.." sahut Keara jutek.
Nico tidak sedikitpun mengendurkan senyumnya. "Jangan gitu lah, K.. Itu namanya menyangkal takdir."
"Dih. Pake ngomongin takdir. Gak pantes." Keara mencibir.
"Aku tadi teleponin kamu gak kamu angkat, aku chat WA kamu juga belum dibaca. Tapi lihat, kamu sudah berdiri di depanku sekarang.."
"Anggap saja aku lagi apes."
Nico tersenyum, berusaha mengontrol emosi dan perasaannya karena sikap acuh Keara. Diapun sadar, kesalahannya pada Keara tidak bisa dimaafkan. Dia hanya berusaha meyakinkan Keara bahwa dia sudah menebus kesalahannya, menjadi orang yang bertanggung jawab, dan ingin diterima kembali sebagai teman oleh Keara.
"Aku minta maaf kare...."
"Gimana kabar Mayra dan anak kalian?" Tanya Keara memotong perkataan Nico.
__ADS_1
"Baik. Mereka berdua baik-baik saja." Nico membuang pandangannya ke arah lain.
"Anakku namanya Ara. Arabella. Usianya sudah 3,5 tahun. Dia cantik kayak kamu.."
"Diih.. masak aku gak sumbang benih bisa mirip aku sih..? Bisaan deh bapaknya.. kalau jiwa playernya lagi membara, anaknya suka disangkut pautin sama cewek lain.."
"Eh, maksud aku gak gitu K.."
Keara melihat Juna baru saja keluar dari lobi kantor. Dia celingukan mencari Keara. Keara melambaikan tangan, "Mas Juna.."
"Udah yaa.. Aku harus balik kerja. Salam untuk Mayra dan anak kamu." Tanpa menunggu balasan dari Nico, Keara sudah berlalu dengan cepat menghampiri Juna yang sudah berdiri di sisi mobil yang mereka kendarai tadi.
"Sorry, aku telat ya..?" ujar Juna.
"Iya, but it's okey Mas.. Bisa dihandle." Keara nyengir sembari mengacungkan jempolnya ke udara. Lalu masuk ke dalam mobil diikuti Juna.
Di dalam mobil, Keara membuka ponsel yang sedari tadi diabaikannya. Ia membaca pesan chat dari Nico. Menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, hapus. Block number. End.
...----------------...
Keara menyelesaikan pekerjaannya di sisa hari ini dengan pikiran berkecamuk. Ia berusaha keras melupakan pertemuannya dengan Nico siang tadi. Tapi usahanya gagal. Wajah Nico dengan senyum tenangnya seakan terus menggantung di pelupuk mata.
Penampilan Nico tadi sempat ia perhatikan. Dari atas ke bawah, depan dan belakang. Nico masih sama seperti dulu. Masih ganteng seperti dulu. Hanya ketampanannya saat ini lebih matang dan terlihat dewasa.
Nico dengan setelan jas formal dan dasi seolah mematenkan pesonanya. Jelas nampak bahwa jabatannya di perusahaan itu bukan jabatan receh. Mengingat tadi pak Galang saja memanggil Nico dengan sebutan 'Pak'. Padahal tanpa bertanya saja, kelihatan usia Pak Galang lebih tua dibanding Nico.
'Duh Kearaa.. Kearaa.... Kok be go sih kamu?? PT. Swadaya kan emang perusahaan milik papanya Mayra. Sudah barang pasti Om Felix, papa Mayra, ngasih jabatan mentereng untuk menantunya. Apalagi Nico adalah menantu pertama dari anak keduanya. Karena kak Meryana, kakak Mayra, belum menikah.. Entahlah kalau sekarang..
Eh, wait.. Kok aku tadi bisa ngide bantu ngirim kue kesana sih? Padahal Mbak Marsya udah kasih tau sebelumnya. Duh K.. Be go! Be go!
Maaf beribu maaf, mbak Marsya.. tapi ini kali pertama dan terakhir K bantuin ngirim kue. Terutama ke kantor Swadaya. Ogah! Bin Wegah! Binti No No No!!' batin Keara dalam hati.
Keara mengeluarkan motornya dari area parkir karyawan kafe. Mulai membelah jalanan bersamaan dengan ratusan motor pegawai lain yang seakan sedang beradu kecepatan. Ingin segera sampai ke rumah mereka masing-masing. Suara klakson dan deru mesin motor bersahutan tak ingin ada yang kalah. Meramaikan sore yang tenang, dan senja yang teduh.
Alih-alih pulang ke rumah, Keara memilih jalur lain. Yang semakin jauh dari arah rumahnya. Namun tempat yang akan dikunjunginya ini ia percaya mampu mengobati kerinduan akan sosok lelaki tercintanya. Dan tempat berkeluh kesah mengadukan moodnya yang sedang berantakan.
__ADS_1
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, Keara sampai di area pemakaman. Tempat peristirahatan terakhir mas Rizky. Disinilah rindunya bisa sedikit terobati. Meskipun hanya sedikit. Teramat sedikit. Karena hanya nisan Rizky tempatnya mengadu.
Keara berjalan menyusuri area pemakaman. Melewati banyak gundukan tanah yang di dalamnya bersemayam jasad tanpa roh dari manusia-manusia yang telah pergi mendahuluinya. Hingga ia tiba di tempat persemayaman Rizky. Calon suaminya. Lelaki paling bijak yang pernah ia kenal.
Namun Keara memilih menghentikan langkah. Dilihatnya punggung sesosok lelaki sedang mengusap nisan Rizky. Lelaki dengan jas hitam itu terlihat hendak pergi setelah menziarahi makam calon suaminya.
Keara mematung. Dari jarak yang tak terlalu jauh dari punggung lelaki itu. Dia masih ingin memberi waktu pada lelaki itu untuk menuntaskan 'pertemuannya' dengan Rizky. Keara mengenalnya. Mereka berdua sahabat baik. Meskipun hubungan Keara dengan lelaki itu kurang akrab, namun Keara tau kalau mas Rizky begitu menyayangi sahabatnya itu.
Harris Risjad.
"Aku.. tidak tahu bagaimana cara mendekatinya , Ky.. You known me as well.. Aku susah pedekate sama cewek.." Keara bisa mendengar Harris berbicara. Caranya berbicara seolah benar ada Rizky di depan matanya.
'Apa? Sebongkah gunung es mau pedekate sama cewek? Ya Gak bisalaah.. Anyep yang ada..' Keara mencibir dalam hatinya.
"Bantu aku, Ky.. Seperti dulu kamu selalu membantuku.. Kali ini bantu aku lagi. Bukannya ini juga maunya kamu? Aku bisa dekat dengan dia..? Iya kan? Makanya, tunjukkan aku caranya.." lelaki itu tampak menggaruk kepalanya tanda frustasi.
'Hm.. apa mas Rizky sempat memberi wasiat atau pesan terakhir untuk mas Harris? Enak banget sih mas Harris.. Aku iri. Aku bahkan tidak pernah diberi firasat apapun untuk mengenang kepergian mas Rizky.. '
Keara justru asik bermonolog dalam hatinya sendiri. Sampai-sampai tidak meyadari Harris sudah berbalik dan menatap dirinya yang sedang tercenung.
"Keara?" lirih Harris memanggilnya.
"Ma-mas Harris..?" Keara mencoba tersenyum. Tapi yang terukir senyuman kaku penuh paksaan.
'Rizky, Inikah bantuanmu untukku? Thank you Ky..' batin Harris.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
__ADS_1