Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Keikhlasan


__ADS_3

Keara bergantian menatap mertua dan suaminya. Lantas tersenyum ceria mencairkan suasana kaku yang membingkai. "Mari lupakan masa lalu dan berhubungan baik mulai sekarang dan seterusnya. Hm? Deal?"


Harris mengangguk. Tatapan mata terus tertuju pada Keara. Sosok cantik yang menenangkan jiwanya. Menghangatkan hati yang beku. Berkat Keara, sedikit demi sedikit, masa lalunya tak lagi terasa menyakitkan.


"Hmm.. Deal." Harris tidak akan mampu menolak apapun keinginan Keara. Katakanlah ia bucin. Ia memang pantas dilabeli budak cinta. "Everything that's make you happy, sweetheart.."


Harris dan Keara lantas bergantian menatap ibu Anita. Menunggu jawab dari wanita paruh baya itu. Wajah yang masih penuh air mata itu tampak tersenyum haru. Mengangguk dengan ekspresi bahagia. "Iyaa... Deal..." celetuknya kemudian.


Ketiganya tersenyum. Senyuman dengan diiringi air mata haru. Melepaskan getir di masa lalu yang masih memberatkan langkah hingga saat ini. Semua beban luruh seketika.


Keara memberi sedikit tarikan di lengan Harris. Netranya menatap sang suami memberi kode tanpa berucap sepatah katapun. Namun Harris dapat memahami. Ia bergerak maju lantas berlutut di depan Anita. Kedua lengan ia tumpukan di paha renta sang mama.


"Maaf Ma.. Seharusnya Harris memikirkan penderitaan mama juga. Mama yang tersiksa fisik dan bathin ketika papa mabuk.. Tapi Harris hanya memikirkan penderitaan Harris sendiri.."


Anita menggenggam tangan Harris. Air matanya tak mau susut meski berulang kali ia seka. "Tidak Harris. Kamu tidak salah.. Mama yang salah.. Kamu sudah menanggung beban teramat berat di usiamu yang masih sebelas tahun.. Juga saat melihat papa meninggal di depan mata.. Mama sangat sedih atas apa yang kamu alami nak.. Maafkan mama..."


"Kita lupakan semua ya, Ma.. Kita mulai hidup baru.." pungkas Harris.


Anita mengangguk setuju.


Harris menegakkan tubuhnya. Memeluk wanita yang telah melahirkannya tiga puluh dua tahun silam. Sungguh kerinduan selama puluhan tahun terbayarkan sudah. Tak ada sekat. Tak ada jarak lagi. Anita membelai punggung putranya menyalurkan kasih sayang yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Satu menit berlalu. Pelukan penuh kasih itu terlepas. Sepasang ibu dan anak itu lantas serempak menatap Keara yang duduk di samping seraya berderai air mata.


Harris tersenyum. Sebelah tangannya mengusap pipi sang istri. "Hey gadis cengeng.. Ga mau ikut pelukan?"


"Mauuu..." sahut Keara manja.


Anita dan Harris membuka lengan lebar-lebar agar Keara bisa masuk dalam pelukan.

__ADS_1


Sungguh ini adalah hari ulang tahun paling bermakna untuk Harris. Hari yang tidak akan pernah ia lupakan. Tidak henti ia mengucap syukur dalam hati. Atas kesempatan bertemu kembali dengan mamanya. Mengurai beban masa lalu hingga tak ada lagi yang menghambat langkahnya di kemudian hari.


......................


Harris, Keara, dan Anita kini duduk bertiga di sebuah restoran makanan padang. Membolak balik buku menu sebelum akhirnya memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanannya.


Anita memesan seporsi nasi dengan lauk rendang. Keara memesan lauk ayam goreng.


Harris bergeleng kepala sambil menahan tawa. Pasalnya, Keara baru saja makan siang dua porsi di kantornya tadi. Sekarang sudah memesan nasi padang lagi? Amazing..


"Sayang, kamu gulai kepala ikan, kan? Kayak biasanya?" tanya Keara, yang sontak menghapus senyum di wajah Harris.


"Hah? Engga, sayang.. Aku sudah makan tadi." sahut Harris cepat. Daripada terlanjur dipesankan.


"Iiihh.. Emangnya kenapa kalau sudah makan makan lagi?"


Keara mencebik manja. "Mana boleh begitu.. Masa kami makan, mas Harris diem aja sih. Kayak orang susah aja.."


Harris terkekeh. Seringkali kosa kata istrinya ini di luar nalar. Sangat menghibur bagi Harris. "Saya pesan es teh manis aja mas.." tukas Harris segera sebelum istrinya memesankan dirinya makanan.


"Kamu ga makan juga, Harris? Masa cuma pesan minum?" kini mama Anita turut membujuk Harris.


Harris menggeleng. "Engga ma.. Mama aja sama orang hamil satu ini. Ga ada kenyangnya dia.." goda Harris. Ia senang melihat gadisnya yang tak lagi gadis itu mencebikkan bibir.


"Mas Harris harus makan juga. Kita kan makan siang dua jam yang lalu.. Sekarang sudah kosong lagi perut mas Harris.. Apalagi tadi dibuat nangis. Banyak keluar energi.." Keara kembali ke mode cerewetnya.


Tapi Harris masih teguh pendirian. Ia menggeleng. Lantas mengibaskan tangan sebagai isyarat agar si pelayan pergi untuk menyiapkan makanan pesanan mereka. Membuat Keara cemberut.


Mama Anita bergeleng kepala seraya tersenyum melihat interaksi putra dan menantunya. Ada bahagia yang tak cukup bila diungkap dengan kata-kata. Ia bisa menilai kalau menantunya ini sangat manja -mungkin juga bawaan hamil, tapi mungkin juga memang begitu perangainya-, tapi juga sangat memperhatikan suaminya. Sedangkan Harris, lebih dewasa dan terlihat nyaman dengan sikap manja istrinya. Serasi.

__ADS_1


"Mama bagaimana ceritanya bisa ada disini hari ini?" tanya Keara. Menarik perhatian Harris hingga lelaki itu turut menatap ibunya. "Bukannya kemarin harusnya sudah kembali ke Kalimantan?"


"Mama tidak jadi kembali. Mama masih tinggal di hotel. Anak dan menantu mama sudah kembali kemarin, karena ada tuntutan pekerjaan." jawab Anita. Ia menatap manik kecoklatan Keara sambil tersenyum penuh arti.


"Mama banyak berpikir dan menimbang. Mama tersadar oleh ucapan seseorang. Bahwa selagi mama masih ada usia, sudah seharusnya mama bertemu dan memohon ampunan pada putra mama. Setidaknya sekali dalam seumur hidup. Karena mama telah membuat kesalahan fatal yang menyengsarakan putra tersayang mama..." Anita mengusap punggung tangan Harris yang berada di atas meja. Harris pun melakukan hal yang sama.


"Bagaimana kabar keluarga mama di Kalimantan?" kini giliran Harris yang bertanya. Mengulik keadaan sang ibu, bertanya tentang keluarga dari ibu kandungnya memang sedikit aneh. Tapi memang begitulah keadaannya.


"Suami mama sudah meninggal dua tahun lalu. Mama juga mempunyai dua anak perempuan, Harris.. Adik tirimu. Yang pertama sudah menikah dan punya anak, namanya Kinanthi. Yang kedua masih sekolah SMA, namanya Alunna." ibu Anita menjeda kalimatnya karena pesanan mereka sudah datang.


"Anak-anak perempuan mama sudah tau tentang kamu, Harris.. Mama sudah pernah menceritakan tentang masa lalu mama.. Mama juga selalu antusias melihatmu masuk tv, youtube, majalah, atau koran.. Mereka pun selalu memberi tahu mama kalau ada kabar terbaru darimu di sosial media."


Mata Harris berkaca-kaca. Ia tidak menyangka itulah yang dilalui mamanya. Ia selama ini berpikir kalau mamanya sudah melupakan dan menganggapnya tak ada. Tapi nyatanya justru menunggu kabar dirinya dari dunia maya.


Ragu-ragu Mama Anita melanjutkan. Tapi akhirnya meluncur juga dari bibir. "A pa Harris mau suatu hari nanti mama kenalkan pada Kinanthi dan Alunna?"


Harris mengganguk. "Mungkin setelah Keara melahirkan, baru kami bisa bepergian jauh.. Kami akan sesekali mengunjungi mama di Kalimantan.."


Anita tersenyum dan mengangguk. Air mata sudah mengumpul di pelupuk siap luruh membasahi wajah. Ia begitu terharu Harris dapat menerimanya juga saudara tiri yang berasal dari suami keduanya. Putranya itu sungguh berbesar hati hingga menganggap kesalahan tempo dulu seolah tak pernah ada.


Mereka pun melahap makanan yang sudah terhidang. Sesekali melempar tanya dan saling bercerita. Ada banyak waktu yang terlewati tanpa kebersamaan. Namun semua lebur di satu hari. Luruh seiring kata maaf terlontar dan keikhlasan menjadi landasan terhapusnya masa lalu yang menyakitkan.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih

__ADS_1


__ADS_2