
Ruang Baca.
Benar saja banyak buku-buku dimeja yang harus dipelajari oleh Olivia namun bukan tentang sejarah melainkan tentang vampir, dari mulai buku kuno sampai buku modern.
"Ayah.. aku tuh manusia mana mengerti tentang buku-buku ini," protes Olivia dengan menghentakkan kakinya.
"Calon ratu vampir harus mengetahui tentang ini putriku." jawab Vernon berusaha membujuk anak gadisnya.
"Mungkin putri belum terbiasa dengan buku-buku yang anda berikan yang mulia," saran Zian lalu tersenyum.
"Baiklah, mungkin aku terlalu terburu-buru untuk mendidik putriku ke jalan yang benar" ujar Vernon.
"Kalau saja ada Leon pasti sudah membelaku seperti guru Zian," ucap Olivia yang membuat ayahnya sedikit tidak senang.
"Selesaikan belajarmu dulu, barulah kita membahas masalah Leon" jawab Vernon lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan Leon Olivia bahkan sampai tidak fokus untuk belajar.
Apa yang terjadi dengan Leon? batin Olivia.
"Putri.." panggil Guru Zian.
"Huh? Ya?" sahutnya.
"Anda bisa mengganti buku-buku itu dengan buku sejarah sesuai keinginan putri" sarannya.
"Oh baiklah" jawab Olivia.
Seperti apa yang dikatakan oleh guru Zian, Olivia menaruh kembali buku-buku tadi dan mengambil beberapa buku di rak.
Namun buku yang ingin Olivia ambil terlalu tinggi, agar lebih mudah ia berinisiatif untuk mengambil kursi dan menaikinya. Setelah mendapatkan bukunya tiba-tiba kursi yang dinaikinya bergoyang secepatnya Zian menangkap tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.
"Apa kau baik-baik saja putri?" tanya Zian yang masih memegangi tubuh Olivia.
"...aku tidak apa apa, terimakasih.." karena canggung Olivia menjauh sedikit dari guru Zian.
Matanya kenapa mirip dengan dia? Tapi.. tidak! mana mungkin pangeran vampir berpakaian seperti guru begini. gumam Olivia.
Sedang serius memandangi guru Zian beberapa pelayan berdatangan dengan panik karena Leon berhasil kabur dari penjara bawah tanah.
"Putri! gawat! tuan Leon dia.. dia.. berhasil kabur dari penjara bawah tanah" panik salah satu pelayan itu.
"Apa!? Leon? Penjara bawah tanah? Siapa yang berani memenjarakan Leon?" tanya Olivia dengan kesal bercampur bingung.
Baru saja dibicarakan Leon datang menerobos masuk dan meminta perlindungan dari Olivia, Zian selaku guru yang membimbingnya sudah siap untuk melindungi Olivia.
"White! tolong aku, ayahmu memenjarakan aku di penjara bawah tanah.. kau bisa menolongku, kan?" tanya Leon.
"Aku.." Olivia yang kehabisan kata-kata.
Sudah habis kesabaran sang ayah karena Leon masih berpura-pura didepan anaknya. Vernon membongkar semua kebusukan Leon selama ini.
"Kau tidak bisa menolong dia White, kau harus membunuh pengkhianat ini dia selama ini hanya baik di depanmu tapi ternyata diam-diam dia ingin mengambil jantungmu untuk kepentingannya sendiri" jelas ayahnya.
Tidak menyangka sekaligus terkejut karena pengawal yang selalu menjaga Olivia bisa beraninya berkhianat, bahkan sudah ratusan tahun ia selalu mempercayai perkataannya.
"Leon, apa itu benar?! Sudah ratusan tahun aku selalu percaya dan baik padamu, tapi ini balasan yang aku dapatkan?!" tatapan matanya kini seperti enggan melihat Leon.
"Baiklah aku mengakuinya, tujuanku menjadi pengawal pribadimu adalah jantungmu.. dan soal kalung itu juga bohong" jawab Leon.
"Jadi kau sengaja?! Aku memang pernah bilang membunuh adalah hal kriminal jadi.. aku ingin menyiksamu di lahar yang panas!!" ucapnya dengan wajah keras yang tidak pernah dilihat oleh orang-orang sebelumnya.
Vernon dan Guru Zian baru pertama kali menyaksikan Olivia sekejam ini, gadis polos yang selalu emosional sekarang sudah berubah entah apa yang membuatnya berubah.
"Lempar Leon ke jurang! di sana terdapat lahar panas yang bisa membunuhnya dengan perlahan, biarkan dia mati di sana, kalaupun dia bereinkarnasi jangan biarkan dia hidup!" perintah Vernon.
"Baik yang mulia raja" jawab para pengawal.
Seketika Olivia sadar apa yang dikatakannya langsung dilakukan oleh sang ayah, kemudian ia meminta maaf kepada guru yang membimbingnya karena telah menyaksikan pertengkaran yang hebat.
"Apa yang baru saja kulakukan? Leon sialan!" kesal Olivia karena tahu bahwa teman yang selama ini di percayainya adalah pengkhianat.
"Maafkan aku guru Zian, kau.. harus menonton pertengkaran tadi" lanjutnya.
"Tidak kok, putri tidak apa apa kan?" tanya Zian.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, saat ini aku ingin sendiri, tolong jangan menggangguku" pinta Olivia.
"Kau sudah bisa pulang tuan Zian terimakasih untuk hari ini besok kau bisa kembali lagi" ujar Vernon.
"Baiklah, sampai bertemu kembali, jaga dirimu baik-baik yang mulia putri" pamit Zian.
"Aku benar-benar tidak memahami putriku" gumamnya.
Kamar Olivia White.
Membaringkan diri di ranjangnya dengan perasaan yang kacau bercampur aduk, ini kali pertama Olivia dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri apalagi orang itu sudah seperti teman baginya bukan hanya sekedar pengawal pribadi.
"Apa dia juga bohong tentang masa kecilku dan dia? tapi.. siapa jika bukan dia?" gumam Olivia.
"Kalau Leon merekayasa masa kecilku, aku tidak akan pernah memaafkannya!" lanjutnya.
--Wuushhh--
Angin kencang yang berhembus membuat Olivia terkejut bukan hanya itu dirinya juga melihat bayangan seseorang yang berlari kearah jendela.
Gorden berwarna putih berterbangan membuat Olivia semakin penasaran ingin melihat siapa yang berani menyelinap masuk ke kamarnya, begitu membuka gorden Olivia terkejut melihat Rendra yang sudah berdiri menatapnya dari luar jendela.
"Rendra.." panggil Olivia.
"Hai" sapaannya membuat Olivia tertawa.
"Hahaha, kau sedang apa disini? Kau tidak lihat penjagaan di luar ketat sekali?" ujar Olivia sambil menunjuk kebawah.
"Aku tahu itu, selama mereka tidak menyadari bahwa aku disini, sekarang aku aman" jawab Rendra.
"Kau ini bicara apa? Aku tidak dengar" tanya Olivia.
"Harusnya tadi aku kemari membawa pembersih telinga" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk ke cermin.
"Hei!" gerutu Olivia.
Kenzo yang mengintip dari balik pintu kamar Olivia melihat adiknya sedang bercanda dengan seorang pria yang paling dibencinya, walaupun sudah menolong Kenzo dan Kelvin dari kecurigaan Noah tetap saja kedua kakak beradik itu tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka.
Aku memang terlalu meremehkannya, kali ini akan ku lepaskan kau tapi lain kali tidak akan. batin Kenzo.
Dimalam hari tepat di lokasi pembunuhan yang sering terjadi, Kelvin berdiri sambil bersandar di bawah pohon seperti sedang menunggu mangsanya lewat.
Dugaan Kelvin benar empat vampir pemburu itu yang sering membunuh manusia disekitar sini dan dengan sengaja ingin memancing rumor tentang adanya vampir, senyuman licik terpancar di wajah Kelvin seperti sedang merencanakan sesuatu.
Kelvin menghampiri keempat vampir pemburu itu untuk membayar atas perbuatan mereka kepada manusia-manusia yang tidak berdosa.
"Siapa kau berani sekali menghalangi kami?" tanya salah satu vampir itu.
"Kalian harus membayar ganjarannya, jangan berharap bisa lari dariku dengan mudah" jawabnya.
Kelvin menghajar vampir vampir pemburu itu sampai mati, setelah selesai Kelvin menginjak kepala salah satu dari mereka lalu memutuskan kepala mereka satu persatu. Tak lupa juga menghilangkan jejak agar warga sekitar tidak curiga.
"Buang mayat mereka ke tempat yang jauh, bebaskan harimau yang terkurung itu kita perlu membereskan sesuatu" perintah Kelvin.
"Baik tuan" jawab orang suruhannya.
Harimau yang akan dilepaskan oleh Kelvin hanyalah untuk memancing kepercayaan warga, wartawan dan polisi untuk membuktikan jika para korban mati karena binatang buas dan bukanlah vampir.
Walaupun korbannya adalah satu keluarga namun ini demi kesejahteraan masyarakat yang selalu diresahkan oleh kasus ini.
"Sekarang lakukan tugasmu dengan baik" Kelvin yang berbicara dengan harimau.
Sesuai arahannya harimau itu berhasil masuk kedalam rumah seseorang, terdengar juga kepanikan satu keluarga yang ada didalamnya. Tak lama kemudian suara kepanikan sudah tidak terdengar Kelvin pun berinisiatif untuk melihat keadaan korban.
"Mereka mati.. hubungi polisi dan beberapa wartawan, kuharap setelah ini tidak akan ada lagi para vampir yang memangsa manusia" ujarnya.
"Baik tuan"
******
Kastil Kediaman Olivia.
Tepat pada tengah malam nanti akan terjadi bulan purnama ke 1000 tahun, karena sudah tidak pernah terjadi lagi sejak peperangan 500 tahun yang lalu, Vernon memanggil anak-anaknya untuk berunding bersama.
"Dimana anak-anakku?" tanya Vernon.
__ADS_1
"Itu mereka yang mulia" jawab Amor.
"Kelvin dimana? Apakah dia masih di dunia manusia?" tanya ayah.
"Dia sedang mengurus kasus pembunuhan itu ayah, tapi.." ragu-ragu Kenzo berbicara.
"Tapi apa?!" bentak ayah.
"Kelvin mengorbankan satu keluarga untuk memancing wartawan" ujar Kenzo.
"Apa? Kak Kelvin membunuh satu keluarga? Jika manusia sampai mengetahui hal ini bagaimana?" kesal Olivia.
"Kau tenang saja Kelvin bisa mengatasinya" ucap Kenzo.
Sebuah berita muncul di televisi mengenai kasus sebelumnya akhirnya setelah polisi menemukan bukti-bukti jika pembunuhan itu berasal dari binatang buas kasus pun ditutup.
"Akhirnya kasus ditutup, tapi.. kasihan satu keluarga itu" sedih Olivia.
"Ayah yakin dia melakukan tindakannya dengan benar, ayah ingin mengatakan jika malam nanti adalah malam bulan purnama ke 1000 tahun kalian jangan coba-coba untuk keluar dari kastil" jelas Vernon.
"Memang apa yang akan terjadi kalau.. ada bulan purnama ke 1000 tahun?" tanya Olivia.
"Para vampir akan merasakan nalurinya sendiri untuk memangsa manusia, tubuh mereka seperti diikat oleh rantai, apabila tidak meminum darah manusia setetes pun" penjelasan ayahnya membuat Olivia merinding.
"Tapi ayah bagaimana dengan Kelvin, apakah dia bisa kembali tepat waktu?" tanya Kenzo.
"Jangan khawatir Kelvin sudah meminum pil pertahanan tubuh walaupun efeknya hanya bertahan selama beberapa jam" ucap ayah.
Olivia yang merasa bosan karena percakapan ayah dan Kenzo akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena sudah mengantuk.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar.. hoaamm" kata Olivia sambil menguap.
"Selamat malam" ujar keduanya.
*******
Kamar Olivia White.
Tenang dan sejahtera Olivia yang sangat pulas tertidur sampai tidak menyadari bahwa jendela kamarnya terbuka karena angin kencang, Olivia hanya menarik selimutnya ketika hembusan angin membuat rambutnya berterbangan.
Seseorang masuk kedalam kamarnya lewat jendela yang terbuka, Olivia yang mulai menyadari suara langkah kaki seseorang.
"Siapa di sana?" tanyanya.
Olivia mencoba bangkit dari duduknya dan mulai mencari suara langkah kaki tersebut. Namun ternyata suara langkah kaki itu adalah Rendra yang berhasil menyelinap masuk ke kamar wanitanya.
"Kau lagi? Apa yang kau lakukan?" lanjutnya.
"Aku kemari karena--"
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 itu artinya bulan purnama ke 1000 tahun sudah muncul, Rendra menyuruh Olivia menjauh darinya agar tidak terluka saat didekatnya.
"Bulan purnama ke 1000 tahun..." gumam Olivia.
"Aarghh.. jangan dekat-dekat denganku" ujar Rendra.
"Hei! Apa kau baik-baik saja?" tanya Olivia.
Tubuh Rendra seperti diikat dengan rantai saat bulan purnama muncul, Rendra berusaha mengendalikan dirinya apalagi sekarang sedang berhadapan dengan Olivia.
"Aarrghh!! tetap disitu, atau aku akan melukaimu," dia mengiris kesakitan.
"Rendra! Kau butuh darah? Ini hisaplah," ujar Olivia tanpa rasa takut.
Rendra malah menarik tangan Olivia kemudian mencium bibirnya sesekali menggigitnya sampai mengalir darah dari bibir Olivia. Tiba-tiba tubuhnya melemas dan pingsan dipelukan Rendra.
"Olivia bangun! jangan membuatku panik, hei!" paniknya setengah mati.
Menyadari bahwa ada vampir lain yang masuk kedalam kamar adiknya, dengan cepat Kenzo membuka pintu dan langsung menyingkirkan Olivia dari lengan Rendra.
"Kau apakan adikku? Berani kau membuatnya terluka! Pergi sebelum ayahku yang menghabisimu!" ancam Kenzo.
"Aku menyukai adikmu," ucapnya.
"Aku tidak! jika adikku sampai terluka parah, kau harus membayarnya," tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
Sesuai permintaan Kenzo, ia keluar dari kamar Olivia dengan perasaan bersalah karena tidak bisa mengontrol dirinya.