
Dikelas Sejarah.
Entah ini kebetulan atau takdir Olivia bertabrakan dengan seorang wanita cantik yang membawa begitu banyak buku, buku-buku itu sampai berjatuhan dan berserakan di lantai, akhirnya Olivia berinisiatif untuk membantu wanita itu merapikan buku-buku yang berserakan.
"Maaf saya tidak sengaja," berjongkok dan menyusun buku-buku yang ada di lantai.
Guru itu tersenyum manis pada Olivia, "Tidak apa, saya yang tidak hati-hati."
Saat keduanya melihat satu sama lain Olivia tertegun sesaat setelah menoleh kearah wanita yang ada di depannya.
Wanita ini.. kenapa aku merasakan sosok ibu? Apa ini hanya kebetulan? batin Olivia.
Rasanya aneh sekali saat melihat gadis ini, ada apa ini sebenarnya? Batin wanita tersebut.
"Saya benar-benar minta maaf, bagaimana kalau.. sebagai permintaan maaf saya bantu bawakan buku-buku ini ke ruangan guru?" tanya Olivia.
"Baiklah, jika begitu," jawabnya.
Seketika beban dipikiran Olivia hilang saat bertemu dengan wanita yang akan menjadi guru di kelasnya, bahkan dirinya bisa tersenyum bahagia hanya karena membantu sang guru.
Ini pertama kalinya seorang Olivia White tertawa bahagia saat mendengar cerita dari guru baru itu, rasanya mereka berdua seperti sudah saling kenal tapi entahlah biar waktu yang menjawab.
Ruang Guru.
"Oh, jadi ibu guru baru di kelas saya? Saya senang sekali jika ibu yang mengajar," ujar Olivia sambil tersenyum.
"Sepertinya jika terlalu formal terasa aneh, bicara seperti biasa saja ketika kita sedang berdua," tersenyum ramah.
"Anu--" guru itu langsung menyergah ucapannya.
"Siapa namamu?" tanya bu guru.
"Olivia White," ucap Olivia.
"Ah, nama yang sangat cantik.. saya Viona Rossler, panggil saja bu Vio," ujarnya sambil memperkenalkan diri.
"Oke, bu Vio," jawab Olivia.
"Yasudah lebih baik kau masuk kelas, saya masih ada beberapa urusan," kata Viona.
"Baiklah," ujar Olivia yang hendak pergi meninggalkan ruang guru.
Namun melihat kerah baju Olivia berantakan dengan antusias Viona membantunya merapikan pakaiannya.
"Tunggu! Bagaimana bisa murid secantik dan, seimutmu bisa berpenampilan berantakan begitu, kemarilah biar ibu rapikan," ucapnya langsung mengambil inisiatif untuk merapikan baju Olivia.
"Apa iya?" polosnya lalu menghampiri Viona.
"Lihatlah dirimu di cermin," memberikan cermin pada Olivia.
Andai .... saja dia ibuku pasti aku akan sangat bahagia.
Air mata Olivia jatuh menetes saat mengingat sang ibu, karena ia tidak pernah merasakan bagaimana seorang ibu memperhatikannya.
"Ah, benar aku ceroboh sekali, terimakasih bu Viona," Olivia buru-buru menghapus air matanya.
"Tidak masalah, cepat sana masuk kelas," ucapnya.
Olivia hanya mengangguk lalu meninggalkan Viona di ruang guru sendirian.
Kenapa aku ingin terus melihat gadis itu, semoga saja kedepannya aku bisa mengajaknya makan siang bersama. Batin Viona.
Kelas Sejarah.
Hebohnya kelas saat para gadis-gadis mengetahui ada beberapa murid baru yang akan masuk ke kelas, sedangkan Olivia hanya fokus pada bukunya dan terus tersenyum berbinar-binar.
Bu Vio .... kenapa sepertinya aku merasakan ada perasaan yang sangat dekat dengannya?.
Ansel yang terus memperhatikannya tersenyum tanpa henti, kemudian menepuk bahunya.
"Hei! ada apa denganmu?" tanya Ansel penasaran.
"Bukan apa-apa," jawab Olivia.
"Kau kenal anak dengan anak baru itu?" lagi-lagi Ansel bersuara.
"Aku--" terpotong karena adanya guru.
Belum selesai berbicara, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang Viona menyapa para murid-muridnya dengan senyum ramah sambil memeluk beberapa buku yang dibawanya.
"Selamat pagi anak-anak!" celetuk Viona.
"Pagi Bu!" semua murid menyapa.
"Perkenalkan saya adalah guru kalian mulai saat ini nama saya Viona Rossler, dan di kelas kita kebetulan kedatangan 3 murid baru" ujar Viona si guru baru di kelas sejarah.
'apa murid baru?'
'ah aku sangat menantikan mereka'
Viona segera memperkenalkan murid baru yang di maksudnya itu kepada murid lain, "Baiklah, silahkan masuk, nah perkenalkan ini Kenzo dan Kelvin mereka biasa dijuluki K2 kalau yang di sebelahnya Rendra Xendrick."
Ternyata ketiga murid baru itu adalah Kenzo, Kelvin dan Rendra, saat mereka masuk ekspresi wajah Olivia mendadak masam dan segera mengalihkan pandangannya pada bukunya.
__ADS_1
Tapi ada yang aneh disini kedua kakak beradik ini tampak terkejut saat melihat Viona, seperti melihat seseorang di masa lalu.
Tidak mungkin dia masih hidup, apa jangan-jangan Oliva tahu? batin Kenzo.
Mustahil jika memang dia, apa dia berhasil bereinkarnasi? batin Kelvin.
Ternyata tidak sia-sia K2 masuk ke High School College dan mencurigai sosok Viona ini seperti orang yang ada dimasa lalu.
"Kebetulan sekali di sana ada tiga kursi kosong, kalian sudah bisa duduk sekarang," Viona langsung menunjukkan kursi kosong pada mereka bertiga.
Ketiga orang itu berjalan menuju kursinya masing-masing Rendra yang duduk dibelakang Olivia, sedangkan kedua kakaknya memilih kursi yang paling belakang agar lebih mudah mengawasi adiknya.
Acuh tak acuh terhadap Olivia, rasa kesal yang tiba-tiba muncul saat dirinya diabaikan oleh seorang laki-laki yang sudah menjadi suaminya, namun Olivia tidak ingin mengakuinya karena baginya itu adalah sebuah keuntungan bukanlah pernikahan.
Kenapa dia tidak menatapku? Apakah ....
"Olivia kau tidak apa-apa?" Ansel yang menyadari bahwa Olivia sedang terlihat kesal.
"Huh?" Olivia menoleh kearah Ansel.
Sontak keduanya saling menatap satu sama lain, reaksi Rendra yang begitu kesal terhadap keduanya tapi dia bisa menahan dirinya untuk tidak emosional.
"Haha, aku baik!" seketika ekspresi wajah Olivia berubah.
Tiba-tiba wanita yang duduk bersampingan dengan Rendra mengajaknya berkenalan, Olivia yang mendengarnya begitu ramah kepada wanita lain membuatnya merasa marah. Kemudian saat dirinya sedang menahan amarah pulpen yang dipegangnya patah begitu saja.
"Permisi boleh kenalan? Aku Angel, kau pasti Rendra Xendrick kan?" tanya gadis itu lalu menjulurkan tangannya.
"Ya, senang berkenalan denganmu," ucap Rendra dengan santai.
Apa? Pria ini benar-benar!
--Taakk--
"Apa tanganmu sakit?" Ansel yang khawatir melihat Olivia baru saja mematahkan pulpen dengan satu tangan.
"Aku .... aku baik-baik saja, kemarin black card, sekarang ...."
Murid-murid yang melihat bagaimana Olivia mematahkan pulpennya sendiri pun bingung, apalagi kedua kakaknya.
'apa dia ini sekuat itu?'
'mengerikan sekali'
"Apa kau punya pulpen lain Olive?" Viona pun berinisiatif untuk menawarkan pulpen pada muridnya namun sudah keduluan oleh Ansel.
"Tidak ad--" terpotong karena Ansel.
Ansel menyodorkan pulpen yang bergambar hello Kitty, ternyata meskipun Ansel pria namun dia juga menyukai hello Kitty.
Olivia hanya heran melihat teman sebelahnya itu dengan kesal bercampur malu.
"Baguslah jika begitu, baiklah pelajaran kita mulai," jawab bu Adelia.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat jam istirahat akhirnya tiba Olivia lebih dulu pergi meninggalkan kelas karena bosan kedua kakaknya mengikuti kemana adiknya pergi, sedangkan Rendra begitu asyik mengobrol dengan Angel.
"Kau kenal Olivia sejak kapan?" tanya Angel berusaha untuk mengorek-ngorek identitas Olivia.
"Ya, sudah lama," ternyata dibalik sikapnya yang tadi ia bersikap dingin jika dengan gadis lain.
"Aku hanya ingin tahu, sepertinya.. dia baik, apa kau tahu dimana asramanya?" Angel masih terus bertanya.
"Aku tidak tahu," tatapannya masih tertuju pada buku yang ia pegang.
"Baiklah, apa kau ingin makan siang bersama?" ucap Angel yang menawarkan makan siang bersama.
"Tidak," singkat jelas dan padat.
"Kalau begitu .... aku duluan," ujarnya lalu pergi meninggalkan Rendra sendirian dikelas.
Sedikit curiga dengan wanita yang baru saja berbicara dengannya karena terus menanyakan tentang Olivia.
*******
Diluar Kelas.
K2 yang terus mengikuti kemana Olivia pergi dengan melipat kedua tangannya layaknya bodyguard, sehingga membuatnya kesal.
"Kalian kenapa terus mengikutiku?!" kesal risih terus diikuti.
"White, kami hanya tidak ingin kau jauh dari pengawasan kami," Kelvin mulai berbicara dengan nada lembut.
"Lagipula jika tidak ada kami, kau akan sendirian sekarang," ujar Kenzo lalu memutar bola matanya.
"Aku tidak sendirian, aku bisa bergaul dengan manusia disini" ujar Olivia percaya diri.
"Jangan bergaul dengan mereka, bisa-bisa para manusia tahu siapa kau sebenarnya lagi pun .... tidak semua manusia berhati baik kau harus hati-hati" Kelvin menasehati adiknya.
"Sudahlah aku lelah mendengar ceramah kalian" gerutu Olivia.
K2 saling menatap satu sama lain karena keras kepala sang adik, memang benar jika Olivia susah untuk dinasehati.
"Bagaimana kau bisa mematahkan pulpenmu?" Kenzo yang penasaran.
__ADS_1
"Kurasa .... ini ada hubungannya dengan emosional," jawab Olivia.
"Apa kau cemburu dengan pria itu?" sindir Kelvin.
"C-cemburu? Heh, mana mungkin" ucap Olivia yang sedikit gugup.
"Sudahlah mengaku wahai White jelek," ledek Kenzo kepada adiknya.
"Apaan sih kalian, tidak! kalian sana cemburu!" bentak Olivia.
Tak sengaja mendengar berita dari ponsel siswa yang sedang duduk menonton berita tentang kasus pembunuhan. Kemudian Olivia menghampiri siswa itu dan bertanya.
'satu keluarga tewas diduga digigit oleh binatang buas, namun sampai saat ini belum ada kepastian mengenai bintang yang menyusup ke rumah keluarga korban, para polisi masih menyelidiki kasus ini'
"Berapa banyak vampir pemburu yang menyebar?" gumam Kelvin.
"Entah .... apa disekolah ini juga ada vampir selain kami dan Rendra?" Kenzo yang memeriksa disekitarnya.
"Maaf ya tapi aku manusia," jawab Olivia sambil tersenyum lebar.
Lalu Olivia meminta murid itu untuk meninggikan volume ponselnya karena ia ingin juga mendengarkan berita tentang pembunuhan itu.
"Bisa kau besarkan sedikit volumenya?" pinta Olivia pada murid yang sedang duduk.
"Oh? Bisa kak," volume ponselnya pun dibesarkan sesuai permintaan Olivia.
Para warga pun berbondong-bondong melihat bagaimana keadaan keluarga korban, yang paling mencurigakan adalah bekas gigitan di leher korban, seperti bukan digigit binatang buas melainkan vampir.
'kasihan sekali ya'
'gigitan binatang buas itu sangat aneh'
'aku harus melindungi anak-anakku'
"Ini .... jelas jelas bukan ulah binatang buas, ini pasti ulah vampir," gumam Olivia.
"Kejadiannya tepat didekat sekolah, apa mungkin ...."
Kelvin curiga bahwa disekolah ini ada vampir pemburu lainnya yang menyamar sebagai murid lalu memangsa korbannya.
"Untuk sementara waktu .... kau pulanglah dulu," celetuk Kenzo tiba-tiba menyuruh adiknya pulang.
"Pulang? Kastil? Tidak akan!" tolak Olivia.
"Ya, kau masih bisa belajar di sana ayah sudah menyiapkan guru untukmu," ucap Kenzo.
Firasatnya agak sedikit buruk jika ayahnya yang mengutus guru untuknya bisa-bisa ia bukan belajar tentang sejarah melainkan tentang vampir.
"No way!" tolak Oliva dengan mentah-mentah.
"Demi keselamatanmu tidak ada penolakan!" Kelvin yang kesal langsung bersuara.
"Tapi aku punya satu syarat," pintanya kepada K2.
"Apa itu?" tanya Kenzo.
Meskipun baru kenal dengan bu Viona tapi aku tidak ingin dia menjadi korban selanjutnya, mungkin mereka bisa melindunginya dari para vampir. batin Olivia.
"Lindungi bu Vio, jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya ...."
Dengan panik Olivia meminta kedua kakaknya itu untuk melindungi Viona selama dirinya berada di kastil.
"Kenapa kau ingin kami melindunginya?" ujar Kenzo yang bingung dengan sikapnya.
"Entahlah aku hanya tidak ingin dia terluka, jika kalian sampai lengah sedikit, kalian tahu kan apa yang akan kulakukan?" ancam Olivia.
Mereka berdua langsung semangat lalu mengiyakan perintah dari adiknya, "Serahkan semuanya pada kami, kembalilah dan bereskan barang-barangmu."
Karena sudah sepakat untuk pulang ke kastil yang sangat membosankan itu baginya, tapi mau bagaimana lagi Olivia tidak punya pilihan lain selain tinggal di kastil untuk sementara waktu.
*******
Kelas Sejarah.
Ternyata dikelas tidak ada orang sama sekali, Olivia segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan pergi meninggalkan kelas. Tapi lagi-lagi dirinya harus berhadapan dengan Rendra saat hanya ada mereka berdua didalam kelas.
"Kau mau kemana?" tanya Rendra.
"Bukan urusanmu, minggir!!" teriak Olivia.
Namun Rendra menghalangi jalannya.
"Jawab pertanyaanku!" bentaknya.
"Penting kah? Lagipula--" terpotong karena seseorang datang.
Angel datang disaat waktu yang tidak tepat, apalagi Olivia belum selesai berbicara wanita itu sudah mengacaukan suasana.
"Rendra! Ternyata kau disini, akhirnya aku menemukanmu disini. Olivia? Apa kau mau ikut kami" menggandeng tangan Rendra.
"Tidak minat!" Olivia menolak.
Lalu Olivia pergi meninggalkan mereka berdua didalam kelas.
__ADS_1
"Lain kali jangan begini" ujarnya lalu menepis tangan Angel dan pergi meninggalkannya.