Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Kantin Sekolah.


Setelah meninggalkan kelas Olivia mencari kedua kakaknya namun tidak menemukan satu orang diantara mereka, lalu Olivia berinisiatif untuk mencarinya ke kantin sekolah.


"OMG! Mereka sedang apa?" gumam Olivia.


Dugaan Olivia benar, kedua kakaknya sedang duduk berdiam diri sambil menutup hidung mereka masing-masing, mereka begitu karena disebabkan oleh bau bawang putih yang menyengat sampai ke hidung mereka.


"Kalian .... kenapa?" tanya Olivia.


"Bau bawang putih.. kita tidak bisa tahan dengan baunya," ucap Kenzo.


"Untunglah kau yang datang," ucap Kelvin.


"Olivia!" panggil seseorang.


Suara yang terasa sangat familiar terdengar ditelinga Olivia, ketika menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya Olivia terkejut melihat seseorang itu adalah Ansel.


Gawat! Haduh.. bagaimana ini.. jangan sampai Ansel tahu kalau mereka berdua ini.. vampir. Batin Olivia.


"Ada .... apa?" tanya Olivia.


"Tidak sengaja lewat, oh mereka kenapa? Kok tutup hidung?" tanyanya dengan curiga.


"I--ini mer--eka.." gugup Olivia.


Kakak kakak! Tolong bantulah aku untuk mencari alasan. batin Olivia dengan menatap kedua kakaknya.


"Kami hanya alergi bawang putih," jawab Kelvin.


Bodohnya dia bilang seperti itu?


Olivia yang kesal karena kebodohan kakak keduanya hanya bisa membuang muka kearah lain.


"Huh? Alergi bawang putih? Kalian seperti vampir saja yang takut dengan bawang putih," sindir Ansel.


Suasana semakin canggung karena kecurigaan Ansel terhadap K2.


"Kau ini mana ada .... vampir di dunia nyata," ucap Ansel.


"Jika ada vampir di dunia nyata apa yang akan kau lakukan?" pertanyaan Ansel malah memperkeruh suasana.


"Mungkin ...."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya Olivia terkejut, melihat Rendra yang datang dengan tiba-tiba kemudian membuat Ansel melupakan apa yang dia lihat tadi.


"Aku yang akan mengurus manusia ini, kau bawalah kakak kakakmu menjauh dari kantin," ujar Rendra.


"Tunggu, terimakasih," ucap Olivia dengan tersenyum tipis.


Rendra hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Olivia lalu pergi membawa Ansel ke UKS.


"Sekarang.. kita pergi dari kantin, sebelum murid-murid disini curiga," ajak Olivia.


******


UKS.


Sementara itu Rendra memikirkan untuk membuat alasan setelah Ansel bangun nanti, Rendra terpikir untuk memutarbalikkan fakta untuk membuat alasan.


Tak lama Ansel bangun dari pingsannya.


"Kau! Murid baru, mengapa kau disini?" tanyanya.


"Tadi kau pingsan begitu menghirup bawang putih yang dipegang Olivia," bohong Rendra.


"Sejak kapan aku bisa pingsan hanya karena bawang putih? Tidak masuk akal," ucapnya dengan tidak percaya.


"Tatap mataku," suruh Rendra.


Kemudian Rendra menghipnotis Ansel jika dia pingsan karena bawang putih, pria itu hanya mengangguk sambil menatap matanya dengan tatapan kosongnya.


"Bagus, sekarang sadarlah," lanjutnya lalu menjentikkan jarinya.


"Bau bawang putih itu mengapa aneh sekali, apa kau menciumnya tadi?" ucapnya yang masih kebingungan.


"Ya, itu salahmu karena merebut bawang putih milik Olivia," jawab Rendra.


"Ah, benar.. kau benar," ucapnya sedikit ragu-ragu.


Dengan begini apa bisa menebus kesalahanku kepada Olivia? batin Rendra.

__ADS_1


******


Ruang Guru.


Akhirnya Olivia meminta izin kepada Viona untuk mengambil cuti selama tiga hari, dikarenakan adanya kasus pembunuhan yang misterius bahkan pelakunya belum ditemukan. Kenzo dan Kelvin sangatlah yakin jika para vampir pemburu adalah pelaku dibalik kasus ini.


Jika bukan karena kasus itu.. aku pasti tidak akan kembali lagi ke kastil. batin Olivia.


"Bu Viona, saya.. minta izin untuk cuti selama tiga hari ini karena.. ayah saya sakit keras dan saya harus merawat beliau" hanya ini satu-satunya alasan untuk meminta cuti.


"Sesuai prosedur murid baru tidak diizinkan untuk mengambil cuti tapi, mendengar ayahmu sakit keras, baiklah aku izinkan kau cuti," ujar Viona mengizinkannya cuti.


Jadi tidak tega berbohong kepada Bu Viona.


"Oh ya, kebetulan tiga hari lagi kita akan mengadakan kemah kau jangan sampai tidak ikut ya" lanjutnya.


"Baik bu, saya akan ikut berpartisipasi" jawab Olivia.


Karena hari ini hari terakhirnya di sekolah Olivia dan Viona menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke kastil, mereka berdua juga bertukar nomor ponsel.


Sore harinya Olivia bergegas kembali ke asrama untuk membereskan barang-barangnya namun diwaktu yang sama Olivia tidak sengaja berpapasan dengan Rendra, seperti kata pepatah kalau jodoh tidak akan kemana.


Asrama Perempuan.


"Kau disini? Sedang apa kau? Ini asrama perempuan," tanya Olivia.


"Sama-sama" ucapnya kemudian matanya berkedip-kedip genit.


"Kok, sama-sama?" Matanya berkeliling kebingungan.


Rendra menurunkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia, sekarang jarak mereka sangat dekat.


"Tadi siang saat kau di kantin mengucapkan terimakasih aku hanya menjawab sama-sama" jawabnya dengan nada lembut.


Wajah Olivia memerah karena sikap dan perilaku Rendra yang berubah, saat mereka pertama kali bertemu Rendra sangatlah kejam dan tidak berperasaan tapi sekarang sikapnya sudah agak lumayan mendingan.


Bodoh! Ini dekat sekali! batin Olivia.


"Aa--kku"


Rendra berhasil menarik tangan Olivia kedalam pelukannya disaat Olivia sedang gugup ketika ditatap olehnya.


"Maaf.. karena sikapku yang sebelumnya, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," pelukan pria ini semakin erat.


Olivia langsung mendorong Rendra agar Ansel tidak mencurigai hubungan diantara mereka berdua.


"Kenapa kau mencariku?" tanya Olivia.


"Tega sekali kau memberikan bawang putih padaku sampai aku pingsan" jawabnya sambil menyeringai kesal.


"Bawang?" Olivia masih bingung dengan apa di bicarakan oleh Ansel.


"Itu salahmu sendiri yang merebut dari tangannya" pelaku yang sebenarnya mulai bersuara.


"Tapi bawang itu miliknya jadi dia harus bertanggung jawab" tegas Ansel dengan gaya coolnya.


Gerak-gerik iblis ini mencurigakan. batin Olivia.


"Siapa yang menyuruhmu untuk bertanggung jawab padanya? itu salahmu" kesal Rendra.


"Aku hanya korban disini," gerutu Ansel.


"Pergi saja sana!" ucapnya sambil mendorong Ansel agar segera pergi dari hadapannya.


"Berhenti! Kalian lebih baik enyah dari hadapanku," kesal Olivia karena keributan mereka berdua.


Dengan rasa kesal Olivia tidak menghiraukan mereka berdua, dan masuk ke asrama untuk mengambil barang-barangnya.


Selagi Olivia masih didalam asrama sikap keduanya berubah seperti pesaing yang sedang berusaha mendapatkan hati Olivia.


"Lebih baik kau jauhi Olivia-ku" ujarnya menunjukkan hak kepemilikannya.


"Harusnya aku yang bertanya begitu padamu!" oceh Ansel semakin kesal.


"Aku ingatkan sekali lagi, JAUHI Olivia jika tidak, kau akan menyesal jika tahu kebenarannya," tatapan Rendra seperti mengintimidasi.


"Mari bersaing secara sehat!?"


"Heh, kau serius? Bahkan kalau ingin bersaing denganku kau tidak akan menang" ujarnya yang meremehkan.


"Lihat saja nanti, siapa yang akan Olivia pilih aku atau.. kau" kini mereka bukanlah teman melainkan musuh yang sedang bersaing.

__ADS_1


Setelah beberapa menit Olivia keluar dari asrama sambil menyeret koper berwarna merah, Ansel dan Rendra tertegun melihatnya sudah berpakaian rapih bahkan baju yang dikenakan Olivia serba hitam.


"Kalian masih disini?" tanya Olivia melirik kearah mereka berdua.


"Kau mau kemana?" keduanya malah bertanya balik.


"Aku.. aku akan pulang untuk beberapa hari, mungkin tiga hari, tunggu kenapa kalian bisa.. kompak begini?" Olivia yang masih penasaran.


"Kita berdua.. sedang.. latihan senam aerobik" keduanya menunjukkan gerakan senam aerobik.


"Hah?" bingung Olivia.


"Ya.. senam" ucap Rendra.


"White!! Disini!" panggil seseorang itu dengan sebutan akrab.


"Duluan ya, bye akur-akur kalian" ujar Olivia.


Karena sudah dipanggil Olivia menghampiri Kenzo lalu menggandeng mesra tangannya, keduanya sangat akrab sekali Rendra dan Ansel seperti kehadiran saingan baru yang akan mengacaukan mereka berdua.


"Siangan baru" ucapnya.


"Kau benar" jawab Rendra.


******


Kastil Kediaman Olivia.


Leon yang nasibnya sangat sial sekali bisa masuk ke penjara bawah tanah karena telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan. Leon secara diam-diam mengkhianati putri kesayangan raja vampir dengan cara berniat mengambil jantung Olivia.


Vernon jelas murka ketika mengetahui kebusukan pengawal pribadi Olivia yang sudah ratusan tahun setia menjaga putrinya, kini yang bisa menghukum Leon hanyalah Olivia.


"Jangan biarkan Leon mati terlalu mudah, biarkan putriku yang menyiksanya" perintah Vernon.


"Baik yang mulia" jawab para pengawal yang berbaris.


Kepala pelayan yang bernama Amor datang memberitahu bahwa Olivia telah kembali ke kastil, juga Vernon telah menyiapkan guru privat untuk membimbing Olivia belajar.


"Baiklah, sesuai kemauan putriku.. hubungi guru privat itu" perintahnya.


"Segera yang mulia" jawab salah satu pengawal tersebut.


Sudah lama tidak kembali Olivia merasa suasana kastil telah berubah semenjak kepergiannya, bahkan saat masuk para pelayan yang berbaris disisi kanan kiri pintu masuk langsung menyambut Olivia seperti biasa.


"Selamat datang kembali yang mulia putri" sambut para pelayan itu.


"Kastil banyak berubah ya, sudah berapa lama kira-kira aku tidak kembali kesini?" tanya Olivia.


"Entahlah kau hitung saja sendiri, ayo ayah sudah menunggu" ajak Kenzo sambil menggandeng tangan adiknya.


Olivia seperti melupakan seseorang yang sangat familiar baginya.


"Kak, Leon dimana? Apakah dia--"


"Putriku akhirnya kembali" celetuk ayahnya.


"Ini juga karena dipaksa kak Kelvin, ayah harus tahu ya aku sampai bilang kalau ayah ini sakit keras demi meminta cuti" ujar Olivia.


"Prrttfff, sungguh kau bilang begitu?" Kenzo yang tertawa kecil mendengar alasan yang dipakai adiknya.


"White-ku.. apa kau mengharapkan ayah sakit? Ayah ini vampir mana bisa sakit" ucap Vernon


"Hehehe, aku tidak punya alasan lagi selain itu" ujar Olivia sambil cengengesan.


"Oh iya Leon dimana? Sudah lama aku tidak melihatnya, hmm kemana dia?" tanya Olivia.


"Nanti kau akan tahu, sekarang yang lebih penting ayah sudah menyiapkan guru privat untukmu" ucap Kenzo.


"Guru itu tidak mengajarkan tentang vampir kan ayah?" tanya Olivia dengan penasaran.


"Tidak putriku... Kau tenang saja, bawa dia kemari" perintahnya.


Kepala pelayan membawa seorang lelaki yang akan menjadi guru privat Olivia selama tiga hari nanti, Postur tubuhnya terasa familiar bahkan tatapan guru itu tidak asing bagi Olivia.


"Salam yang mulia raja, salam yang mulia putri, tuan Kenzo terimakasih telah merekomendasikan saya untuk menjadi guru privat putri. saya merasa terhormat sekali" ucap guru itu.


"Tidak masalah, itu kulakukan untuk adik kecilku" jawabnya sambil melirik Olivia.


"White, kenalkan ini guru Zian yang akan membimbingmu selama tiga hari disini" ujar ayahnya.


Guru Zian membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Olivia.

__ADS_1


"Saya Zian, panggil saja Guru Zian," ucapnya.


Dia.. terlihat tidak asing, tapi.. tidak mungkin dia mana mungkin Rendra bisa masuk sembarangan ke kastil. batin Olivia.


__ADS_2