
Markas Rahasia.
Angel tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat salah satu orang diantara kedua keluarga itu menderita, karena Angel tidak mau musuhnya mati dengan begitu mudah.
"Leon, kau menyukai putri raja vampir kan? Jika kau ingin aku membantumu untuk mendapatkan gadis itu, kau harus bekerja sama denganku" jelasnya.
Leon yang masih hidup karena berhasil lolos dari lahar panas yang hampir membakarnya, kini Leon kembali untuk membawa gadis yang dicintainya selama ratusan tahun.
"Bagaimana caranya?" tanya Leon.
"Jadikan dia.. pelayan darahmu agar dia tidak bisa pergi dari sisimu" Angel yang berusaha memprovokasinya.
"Ide yang bagus" dirinya berhasil terprovokasi oleh Angel.
Tanpa berpikir panjang Leon langsung menyetujuinya untuk berkerja sama dengan Angel, karena ia tahu bahwa Leon sudah menyukai Olivia sejak lama.
**********
Toilet Pria.
Ansel yang saat itu tidak sempat mengejar Olivia karena gejolak serigalanya muncul disaat-saat yang tidak tepat, habis kaca wastafel pecah olehnya akibat amarah yang Ansel timbulkan.
"Aarrgghh!... T-tidak.. Jangan disini, bahaya jika ada murid lain yang tahu Aargghh.." Ansel yang bersusah payah menahan gejolaknya.
--PRAAKK--
Emosinya yang meluap-luap membuat kaca di hadapannya pecah begitu saja, Ansel juga membuat kegaduhan di toilet pria dengan memukul-mukul tembok menggunakan tangan kosongnya.
"Aarrgghh! Rendra! Kau hanya bisa membuat Olivia terancam!" kesabarannya yang sudah habis.
--BUGH--
--BRAAKK--
--KRAAKK--
"Oh? Ternyata kau bukan manusia ya? Tapi... manusia serigala" ucapnya diiringi dengan tawa kecil.
Entah datang darimana sekarang identitasnya sebagai manusia serigala terbongkar oleh Rendra.
BRAAKK
Ansel meninju wajah Rendra sampai ia terpental kearah pintu masuk toilet.
Diwaktu Yang Sama.
Olivia yang saat itu tidak sengaja melewati toilet pria dan mendengar suara kegaduhan didalamnya, dengan rasa penasarannya langkahnya terhenti lalu mencoba untuk menempelkan telinganya ke pintu.
--BRAAKK--
Tepat di telinganya suara pukulan keras yang membuatnya tidak sengaja berteriak karena terkejut mendengar suara yang didengarnya.
"Ah!" kemudian Olivia membalikkan tubuhnya dan menutup mulutnya.
Sebenarnya siapa yang ada didalam toilet? batin Olivia.
Rasa penasaran yang terus membuatnya gelisah Olivia mencoba untuk membalikkan tubuhnya kembali namun saat berbalik Olivia hampir terjatuh ke lantai karena sepatutnya yang terlalu licin, seseorang dengan cepat menahan lengannya agar tidak terlepas dan jatuh.
"Eh!?" Olivia terkejut saat ada yang menahan lengannya.
Seseorang yang menahan lengannya adalah Noah yang baru saja keluar dari toilet, Ansel segera menarik lengannya kembali.
"Kau sedang apa disini?" tanyanya.
"Itu.. aku ingin ke toilet" gugup Olivia.
"Oh, tapi ini toilet pria?" jawabnya sambil menunjuk kearah pintu.
"Toilet pria ya" Olivia memiringkan kepalanya "Sebenarnya aku.. hanya lewat saja" ujarnya.
"Hanya lewat saja, atau mengintip?" tatapan Ansel membuatnya terintimidasi.
--TING~ TONG~--
__ADS_1
Suara bel sekolah berbunyi nyaring kini Olivia bisa melarikan diri dari Ansel yang saat itu tatapannya masih tertuju padanya.
"Bel sekolah sudah berbunyi, aku harus kembali ke kelas" dengan ceroboh Olivia salah salah arah.
"Hei! Kelas sejarah ke arah sana, di sana ruang guru" jawabnya membuat Olivia malu setengah mati.
"Aku tahu!" teriak Olivia dengan malu.
Dengan gemas Noah melirik punggung Olivia yang sudah berlari menjauh dari pandangannya.
Lucunya dia disaat sedang seperti ini batin Ansel.
Wuuusshh
Setelah Olivia pergi ke kelas Rendra keluar dari toilet dan menatap saingannya dengan mata mengintimidasi.
"Aku sudah tahu identitasmu sekarang, bersiaplah untuk dibenci oleh Olivia" senyuman kemenangan di bibirnya kini terpancar.
Apa dia sedang mengancamku? batin Ansel.
********
Kelas Sejarah.
Mendengar keributan didalam kelas Olivia segera memasuki kelasnya dan melihat apa yang terjadi seorang pria yang sepantaran dengan Viona menerobos masuk disaat-saat sedang belajar.
"Ada apa ini? Anda siapa!?" tanya Olivia yang baru memasuki kelas.
"Diam! Kau bocah! Aku hanya ingin membawa Viona bersamaku kau tidak perlu ikut campur!" suaranya memenuhi telinga Olivia.
"Untuk apa? Oh, pasti kau mantan suaminya kan? Sudah selingkuh dengan wanita lain dan sekarang kembali untuk meminta rujuk" ujar Olivia dengan santainya.
"Olivia sudah, tidak apa-apa" ucap Viona yang pasrah.
"Tidak bisa bu, dia ini sudah membuat keributan di kelas dan datang-datang untuk mengambilmu dariku" kesal Olivia.
Tidak terima karena Olivia terus menghalanginya untuk membawa mantan istrinya, pria itu menyadarkan Olivia dengan perkataannya.
"Mengambil darimu? Kau tidak sadar bahwa kau bukan siapa-siapanya dia, dia hanya guru dan kau muridnya bahkan dia bukan IBUMU" sekarang Olivia tersadar karena perkataannya.
"Anakmu? Bahkan dia bukan darah dagingmu" pria itu yang dengan santainya berbicara.
Olivia hanya menundukkan kepalanya dan menggepalkan tangannya karena ia sadar jika bukan siapa-siapa di kehidupan Viona.
'benar juga bu Viona ini hanya guru disini tapi kenapa sikap Olivia seperti anaknya'
'tidak tahu malu ternyata'
'jangan-jangan ibunya meninggal dan membuatnya depresi'
'mengerikan sekali'
"Siapa yang berani mengganggu putriku!" teriak Vernon begitu mendengar suara keributan.
Semua orang yang berada dikelas langsung terkejut mendengar Vernon si pemilik sekolah, murid-murid yang membicarakan putrinya tadi hanya bisa terdiam ditempatnya.
"Berani kau bicara seperti itu pada putriku!? Sekarang minta maaf!" bentak Vernon yang membuat pria itu ketakutan.
"A-aku.. sungguh.. menyesal jadi tolong maafkan aku" ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya.
--PLAAKK--
Tamparan keras mendarat dipipi pria yang sudah menyinggung perasaannya, Olivia juga menamparnya untuk memberi pelajaran kepada mantan suami Viona itu karena berani sekali menyelingkuhinya.
"Kau pantas menerima itu, laki-laki busuk!" Olivia menghentakkan kakinya lalu pergi tanpa pamit.
"Tuan saya minta maaf, saya akan pastikan pria ini tidak akan membuat kekacauan disini" ujar Viona.
"Ini bukan salahmu, lagipula yang membuat keributan itu dia bukan kau" jawab Vernon.
"Amor patahkan kaki dan tangannya, kalau perlu buat dia lumpuh" tegasnya seorang ayah.
"Baik tuan" ucapnya yang langsung membawa pria itu pergi.
__ADS_1
"Lanjutkan lah aku akan menenangkan putriku" ujar Vernon lalu berjalan keluar kelas.
"Terimakasih tuan" ucapnya.
Tidak lupa juga murid-murid yang meledek Olivia langsung meminta maaf juga.
"Kami salah tolong maafkan kami" ucap murid-murid.
Vernon tersenyum puas saat mendengar Viona berterimakasih padanya, apalagi penyesalan para murid yang sudah memaki putrinya tadi.
"Tidak perlu meminta maaf, sudah kewajibanku" jawabnya lalu pergi meninggalkan kelas.
Melihat punggung pria itu menjauh Viona seperti merasakan perasaan yang begitu familiar.
Siapa dia sebenarnya? batin Viona.
*********
Taman Sekolah.
Terpukul dengan perkataan mantan suami Viona yang membuatnya teringat akan ibunya, Olivia menangis karena hatinya begitu sakit.
"Hiks.. hiks.. hiks.." tangisnya terisak.
"Olivia!" panggil seseorang.
Olivia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggil namanya, Rendra datang disaat ia sedang mengeluarkan air matanya.
"Kau menangis? Ada apa? Siapa yang berani membuatmu menangis?" tanya Rendra yang khawatir.
Tidak berkata apapun Olivia hanya diam melihat apa yang akan dilakukan Rendra untuk membuatnya berhenti menangis.
"Yang mulia putri sedang jika menangis begini jadi kelihatan jelek, senyumlah yang lebar" Rendra berusaha menghiburnya.
Rendra membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah wanitanya yang penuh dengan air mata, seketika tangis Olivia terhenti.
"Pipimu sangat basah, jangan membuang air matamu" ucapnya sambil mengusap air mata Olivia.
Hatimu terbuat dari apa sih? Mengapa terus mendatangiku, aku takut jika ayah akan membunuhmu. Batin Olivia.
"Karena aku menyukaimu" Olivia membulatkan matanya saat mendengar pengakuannya.
--DEG--
"A-apa? Kau.. menyukaiku?" gugup Olivia.
"Sejak dulu, ratusan tahun yang lalu bahkan berabad-abad yang aku sukai adalah dirimu" Olivia mengalihkan pandangannya ke sudut lain.
Pipinya memerah karena pengakuan Rendra barusan, membuatnya semakin ingin tahu bagaimana bisa Rendra menyukainya.
"Alasan... kau menyukaiku?" tanya Olivia dengan rasa penasarannya.
"Entahlah menyukai seseorang memang harus ya ada alasan tertentu? Misalnya.. aku menyukaimu karena kau cantik, lalu setelah wajahmu menua aku meninggalkanmu, bukankah itu namanya menyukaimu hanya karena wajahmu cantik?" jelasnya semakin membuat jantung Olivia berdebar.
Pertama kalinya Olivia menemukan orang seperti Rendra yang terus terang, bahkan tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang ia mau, terutama hatinya, seketika Olivia sadar dari lamunannya.
Tidak, kau akan mati jika tidak menjauhiku. Batin Olivia.
"Tidak masalah, walaupun nanti aku bereinkarnasi, pasti aku akan tetap mencarimu" ujarnya seakan-akan tahu isi hati Olivia.
--BUGH--
Vernon tiba-tiba datang dan segera mendorong Rendra sampai terjatuh ke tanah, ingin bangkit namun Kenzo menahannya dengan satu kaki kanannya.
"Berani ya kau! Mendekati putriku lagi, jangan membuat kesabaranku habis dan membunuh seluruh keluargamu!" ujar Vernon dengan penuh penekanan.
"Aku.. Ah!" ingin bangkit namun terdorong oleh kaki Kenzo.
"Jangan bergerak, tetap diam disitu" jawab Kenzo sambil menekan tubuhnya.
Sudah ku bilang! Menyerahlah.. kenapa kau tidak mendengarkan aku! dasar bodoh! Batin Olivia.
"Ingat ini Rendra, aku baik-baik bicara padamu untuk menjauhi putriku, aku hanya takut dia menyesal setelah memilihmu" ucap Vernon.
__ADS_1
"Tapi aku menyukainya, dan aku sudah menikahinya! Sekarang dia adalah.. istriku!" jawabnya.
Dengan terpaksa harus mengakuinya karena tidak ada pilihan lain selain itu, jika tidak Vernon akan terus menjauhkannya dari Olivia.