Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Ditengah Hutan.


Rendra yang saat itu juga melihat bagaimana Ansel menenangkan Olivia yang menangis, Rendra yang emosi langsung menghampiri mereka dan menarik Olivia ke belakangnya.


"Kau kemana saja aku mencarimu, kau membuatku panik" ujarnya khawatir.


"Aku.. huh? Panik?" Olivia sama sekali tidak mengerti.


"Baru sekarang kau panik? Bukankah kau membuatnya menangis?" tanya Ansel dengan sedikit mengintimidasi.


"Diam! Kau tidak usah ikut campur" ucapnya.


"Hei! Cukup! Ini hutan kenapa kalian selalu bertengkar, dan.. tingkah kalian juga aneh sekali sejak tadi pagi" ujar Olivia yang tidak tahan dengan keributan.


"Kami seperti ini sedang bersaing!" jawab keduanya.


"What? Bersaing?" tanya Olivia.


"Ya! Kami sedang mengejarmu!" kini keduanya berteriak.


Mendengar keduanya membuat Olivia semakin tidak paham, namun setelah dicerna kembali akhirnya ia mengerti, tapi disaat-saat yang seperti ini mereka tidak ada waktu untuk berdebat.


Tanpa sadar mereka sedang diintai oleh beberapa vampir yang akhir-akhir ini mengawasi Olivia, para vampir itu menyebar dihutan kecuali di tempat perkemahan karena Kenzo dan Kelvin bisa langsung menyadari kehadiran vampir disekitar.


"Jauhkan gadis itu dari mereka, buat dia tersesat" perintah seseorang.


"Baik" jawab para vampir itu.


Melihat kelompok terakhir bertengkar seperti kekanak-kanakan membuat telinga Olivia terganggu dengan keributan Rendra dan Ansel. Akhirnya Olivia memutuskan untuk menjauhi dari mereka berdua tanpa disadari oleh keduanya.


"Baiklah baiklah, sekarang bagaimana kita keluar dari hutan ini?" tanya Ansel sambil menadahkan tangan.


"Mana kutahu kau yang memegang petanya bukan?" jawabnya melipat kedua tangannya lalu memejamkan matanya.


"Jangan bercanda terakhir kali aku memberikannya padamu!" ucap Ansel kini meninggikan suaranya.


"Aku tidak bercanda!" kesalnya karena Ansel terus mengoceh.


"Berisik sekali" gumam Olivia pelan lalu meninggalkan mereka berdua.


Olivia yang awalnya hanya menjauh sedikit dari keduanya tiba-tiba ada bayangan yang membawanya semakin menjauh dari Rendra dan Ansel.


"Eh?! Dimana ini?" tanya Olivia yang melihat sekelilingnya.


"Permisi.. apakah ada orang?" lanjutnya.


Sesuatu mendorongnya sampai ia terjatuh dan kakinya masuk kedalam lubang didalamnya juga terdapat ranting pohon yang sangat tajam, sekarang kaki Olivia terjebak didalam lubang tersebut.


"Ah! Ugh.. Siapa yang menaruh lubang? Hampir lupa kalau ini adalah hutan" ocehnya yang menahan rasa sakit di kakinya.


Terlihat seseorang dibalik pohon, Olivia mengira bahwa itu adalah orang ternyata itu adalah vampir yang membuatnya tersesat.


"Siapa disitu!? Argh.." panggilnya sambil menahan sakit di kakinya.


Lolongan serigala tiba-tiba muncul disaat kakinya terjebak didalam lubang, beberapa serigala juga menampakkan dirinya didepan Olivia.


"Itu serigala? Tidak, sejak kapan ada serigala?" panik Olivia saat mendengar lolongan serigala.


"Lindungi yang mulia putri" ujar serigala yang berada didepan.


"Apa? Putri? Mereka.. ugh.." ucap Olivia yang tidak percaya jika serigala akan melindunginya.


"Salam yang mulia putri, tenang saja bala bantuan akan segera datang" perkataan serigala itu sedikit membuatnya tenang.


Tak lama Rendra muncul dari belakang dan memeluknya dengan panik ketika mengetahui bahwa Olivia sudah tidak ada didekatnya.


"Olivia! Jangan cemas disini ada aku" ujarnya sambil memeluk erat tubuh Olivia.


"Tadi.. aku.. ugh.. bisa bantu aku?" pinta Olivia.


"Apa itu?" jawabnya yang masih memeluk Olivia.


"Kakiku terjebak didalam lubang" ucap Olivia yang memelas.


Rendra yang langsung melepaskan pelukannya dan melirik kaki Olivia, benar saja kaki Olivia masih terjebak.


"Tahan sebentar aku akan mengeluarkan kakimu, bisa kau angkat sedikit kakimu?" ujarnya yang siap mengeluarkan kaki Olivia.


"Bisa.." jawab Olivia.


"Apa itu sakit? Peluk aku jika itu membuat kakimu sakit" ucapnya lalu mulai menggerakkan tangannya untuk menarik kaki Olivia.


"Ah!.." rintih Olivia yang segera memeluk tubuh Rendra.


Keluarlah kaki Olivia dari lubang tersebut dan memperlihatkan luka yang masih basah dengan darah yang terus mengalir.


Disaat seperti ini tidak boleh menghisap darahnya sedikit pun, aku harus bisa mengendalikan diriku. batin Rendra.


Olivia mendongkakkan kepalanya untuk melihat wajah Rendra yang diam sambil menundukkan kepalanya. Kemudian dirinya melihat luka di kakinya sendiri, pantas saja Rendra terus diam ternyata sedang berusaha menahan diri untuk tidak melukainya.


"Rendra..." panggil Olivia sambil mengusap kepalanya.


"Tenang saja aku tidak akan melukaimu, kau.. bisakah percaya padaku?" tanyanya dengan menatap wajah Olivia.

__ADS_1


"Ya, aku percaya padamu" jawab Olivia.


Untuk menutupi luka dikaki Olivia, Rendra melepaskan jaketnya untuk menutupi darah yang terus mengalir ke ujung kaki Olivia.


"Kau mau apa?" tanya Olivia.


"Menutupi lukamu, kau tidak mau kan vampir lain mencium darahmu dan ingin memakanmu?" bisiknya tanganya masih fokus membalutkan jaketnya.


"Jangan membuatku takut" ucap Olivia.


"Sudah selesai, ayo kita kembali ke tempat kemah" ajaknya.


"Oh ya kakimu aku sampai lupa, kemari dan naiklah" lanjutnya.


"Baiklah" jawab Olivia lalu berusaha naik ke punggung Rendra.


"Jika lelah tidurlah" ucapnya.


"Aku mengerti"


Olivia menyandarkan kepalanya di bahu Rendra lalu memejamkan matanya, disaat ia sudah memutuskan untuk percaya dengan lelaki yang menyelamatkannya disitulah dirinya merasa aman.


*******


Tempat Perkemahan.


Kedua kelompok itu akhirnya bisa lolos dari dalam hutan namun sayangnya Olivia tidak datang bersama Angel, kepala sekolah pun mengusulkan agar para murid menyebar kedalam hutan, namun Kenzo menolak dan akhirnya kedua kakak beradik itu yang akan turun tangan mencari Olivia.


"Lho Angel, Olivia dimana? Bukankah dia satu kelompok denganmu?" tanyanya yang mencari-cari Olivia.


"Olivia.. dia terjebak didalam hutan" jawaban Angel membuat semuanya khawatir termasuk kedua kakak beradik itu.


"Eerr.. begini saja bagaimana jika kalian menyebar ke seluruh hutan untuk mencari mereka" usul pak kepala sekolah.


"Tidak perlu pak, biarkan kami saja yang akan kesana" ujar Kenzo yang melarang mereka.


"Apa kalian yakin? Didalam sana terlalu berbahaya" ujar pak kepala sekolah.


"Tidak masalah selagi kami hati-hati kami tidak apa-apa" jawab Kelvin.


"Yasudah hati-hati jika begitu" ujar kepala sekolah yang mengizinkan mereka untuk pergi mencari Olivia dan Rendra.


Kekhawatiran muncul dibenak Viona, seperti sedang mengkhawatirkan putrinya yang tersesat didalam hutan.


Semoga Olivia tidak apa apa. batin Viona.


*******


Kenzo dan Kelvin yang mencium aroma vampir disekitar hutan langsung mengambil segumpal tanah dimana Olivia sempat melewati jalan itu.


"Bua vampir, sepertinya mereka sengaja menyebar" ujarnya lalu mengambil segumpal tanah.


"Ini jejak White, tapi ada bau serigala juga disini, Kelvin coba kau tertawang apa yang terjadi disini?" lanjutnya.


Kelvin mulai berkonsentrasi untuk menerawang apa yang terjadi ditempat ini, setelah melihat apa yang terjadi sekarang Kelvin tahu dimana adiknya berada.


"Ternyata White dijebak oleh para vampir itu, dia juga terluka dan bukan hanya vampir yang aku lihat, ada seekor serigala melindunginya dari para vampir" jelas Kelvin.


"Aneh, serigala dan vampir jelas-jelas adalah musuh bebuyutan kenapa dia bisa melindungi White?" ucapnya yang tidak mengerti.


"Serigala itu juga hormat kepadanya, dan yang harus kau ketahui lagi Rendra sekarang sedang bersamanya" Kelvin menjawab sesuai apa yang dilihatnya.


"Kurang ajar, berani dia mengambil kesempatan untuk membawa White" kesalnya sambil melempar tanah yang dipegangnya.


"Ayo cari dia, aku yakin dia tidak jauh dari sini" ucap Kelvin.


Mereka pun meninggalkan tempat itu dan kembali mencari Olivia yang kiranya tidak jauh dari sekitar mereka, Kenzo dan Kelvin juga sangat berhutang budi dengan bangsa serigala karena telah melindungi adiknya dari para vampir.


Sementara itu di dalam hutan Rendra masih berjalan mencari jalan keluar sambil menggendong Olivia yang tertidur pulas di bahunya.


"Apa kau tidur?" tanyanya yang masih berjalan.


Bukan jawaban yang didengar Rendra melainkan suara mengigau yang keluar dari mulut Olivia.


"Ibu.. dimana ibu.." Olivia yang mengigau tentang ibunya.


"Ternyata kau mengigau, memangnya dimana ibumu apa aku pernah melihatnya?" gumamnya.


Rendra yang tidak mengetahui jika ibu kandung Olivia sudah meninggal karena dibunuh oleh ibunya sendiri, Calista Glece dia adalah ibu Rendra yang selalu menghina wanitanya. Inilah mengapa kedua kakak beradik K2 terus menekannya untuk menjauh dari Olivia.


Akhirnya kedua kakak beradik itu menemukan Rendra dan Olivia, melihat kakinya cedera dengan dibalutkan Hoodie hitam milik Rendra.


"Kau--" ingin membentak Rendra namun Kelvin menghentikannya.


"Tenangkan dirimu, lihatlah White" ujar Kelvin.


"Apa kau tidak melukainya?" tanya kenzo matanya fokus pada cedera dikaki adiknya.


"Kau tidak perlu cemas, aku bisa mengendalikan diriku" jawab Rendra.


"Sekarang, biarkan aku yang menggendongnya" pintanya.


Kenzo menggendong adiknya yang masih terlelap dalam tidurnya, kini mereka bukan hanya berhutang budi kepada bangsa serigala namun kepada Rendra juga mereka sangat berterimakasih karena sudah menjaga adiknya tanpa melukainya sedikit pun.

__ADS_1


"Kami berhutang budi padamu, tapi jangan kira aku sudah mengizinkanmu untuk mendekati adikku" ucap Kenzo dengan tatapan tajam.


"Aku tahu itu" jawabnya dengan santai.


"Lebih baik sekarang kita kembali ke perkemahan" usul Kelvin.


********


Tempat Perkemahan.


Kenzo dan Kelvin akhirnya berhasil membawa adiknya kembali dengan selamat sampai ke perkemahan, Viona dan kepala sekolah bisa bernafas lega sekarang melihat Olivia sudah ditemukan, begitu juga Ansel yang kebetulan sudah kembali dengan santai.


"Syukurlah Olivia sudah ketemu" ucap kepala sekolah sambil bernafas lega.


"Kalau boleh izinkan saya satu tenda bersama Olivia, apakah boleh?" tanya Viona lalu kedua kakak beradik itu saling menatap.


"Baiklah, lagipula luka dikakinya juga sepertinya harus diobati" jawab Kenzo.


Kenzo kemudian menatap tajam kearah Rendra dan Ansel seperti memberi isyarat jika mereka kalah.


"Kau lihat itu tadi? Sepertinya kita kalah" ucap Ansel.


"Kurasa tidak" jawab Rendra.


Kedua kakak beradik itu membiarkan Olivia satu tenda dengan Viona karena mereka tahu Olivia sangat peduli pada gurunya, dan lagi mereka curiga jika Viona ini sebenarnya reinkarnasi dari Sonya White.


"Dengan begini White bisa merasakan kehangatan seorang ibu walaupun.. bu Viona ini, bukan ibunya" ujar Kenzo sambil melihat bagaimana Viona merawat adiknya.


"Jika begitu, mengapa bu Viona terus mengkhawatirkan White? Apakah itu yang dinamakan naluri sang ibu?" bingung Kelvin.


"Entahlah saat ini kita belum bisa memastikan apakah benar dia adalah reinkarnasi Sonya White" jelasnya.


"Heh, kau tidak ingin mengetahui bagaimana rekan satu kelompok White meninggalkannya?" tanya Kelvin yang mengetahui segalanya.


"Itu nanti saja kita urus, lebih baik sekarang kita melapor pada ayah" jawab Kenzo.


"Baiklah" ucapnya.


Ditenda Viona sedang merawat Olivia dengan melepaskan balutan Hoodie yang menutupi luka dikakinya, kemudian memberi obat pada lukanya tak lupa juga menutupinya kembali dengan perban yang sudah disediakan dikotak P3K.


Olivia terus mengigau tentang ibunya didepan Viona, ia yang melihat muridnya mengigau langsung mengelus rambutnya untuk menenangkannya.


"Ibu.. aku pasti.. akan menemukan ibu" ucapnya yang mengigau.


"Sshh.. kau pasti bisa menemukan ibumu, tidurlah yang nyenyak" ujar Viona dengan menenangkan.


Setelah mengatakan itu Olivia berhenti mengigau dan kembali tenang dalam tidurnya, Viona yang merasakan sesuatu saat menatap Olivia dengan seksama.


"Andai saja aku memiliki seorang putri yang cantik sepertimu, aku pasti akan menjagamu" ucapnya lirih.


Viona Rossler adalah seorang janda yang baru saja bercerai dengan suaminya karena Viona tidak memberikan suaminya keturunan, dan memutuskan untuk mengajar di high school college untuk menghidupi dirinya sendiri.


Padahal dirinya adalah Nona besar di keluarga Rossler tapi Viona ingin berusaha dari bawah untuk sukses dan tidak mengandalkan kekuatan dari keluarganya.


Malam harinya Olivia bangun dari tidurnya dan melihat diluar tenda, Viona sedang menyiapkan makan malam, ia langsung merangkak keluar untuk melihat makanan yang disiapkan Viona.


"Olivia kau sudah bangun, bagaimana kakimu?" tanyanya.


"Sudah lumayan mendingan kok, terimakasih bu Viona" Olivia tersenyum lembut.


"Duduklah, akan ku siapkan makan malam untukmu" ucapnya sambil memanggang ikan bakar.


"Baiklah" jawab Olivia.


Tidak sengaja Olivia menoleh kearah sekitarnya namun saat mendapati Rendra dirinya menatap ke arah lelaki yang ditatapnya saat ini.


Dia sungguh tidak melukaiku kan? batin Olivia.


Ansel yang sedang mengunyah makanan dan dirinya juga menyadari keduanya saling menatap satu sama lain, mulutnya berhenti mengunyah saat itu juga.


Menyebalkan! Sekarang kau tataplah dia sepuasnya tapi jika dia sudah jatuh ke tanganku, tidak akan pernah aku biarkan kau! menatapnya. batin Ansel.


"Kali ini.. aku akan membiarkanmu menang, tapi lain kali sepertinya tidak" bisik Ansel yang masih memegang piringnya.


"Makan saja jangan banyak omong!" ucapnya sambil menekankan piring ke perut Ansel.


Viona yang sudah selesai bakar ikan yang dibakarnya kemudian disajikan didepan tenda.


"Wanginya.. ini pasti sangat enak" ujar Olivia.


"Tentu saja, cobalah pasti kau akan suka" jawab Viona.


Tanpa berpikir panjang Olivia mencubit ikan bakar yang disiapkan oleh Viona, dirinya tidak tahu apakah lidahnya akan beraksi ketika memakan makanan manusia.


"eeumm.. enak sekali" Olivia yang mengunyah kemudian ekspresinya berubah seketika seperti menahan sesuatu.


"Benarkah, tapi kenapa kau diam begitu? Apa kau alergi ikan?" tanya Viona untuk memastikan.


Tenggorokanku mengapa.. sakit sekali, dimana kedua orang rempong itu disaat adiknya sedang dalam keadaan seperti ini. batin Olivia.


Ansel langsung berpikir ketika mendengar Viona mengatakan bahwa Olivia alergi dengan ikan, sesaat dirinya teringat sesuatu yang aneh.


Alergi ikan? Bukankah dia alergi pizza? batin Ansel.

__ADS_1


__ADS_2