Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Perpustakaan Kediaman Xendrick.


Richard akhirnya menepati janjinya untuk memberitahu semua yang ia tahu, ini juga menyangkut hubungan mereka berdua dan kesalahpahaman yang saat ini di timbulkan oleh seseorang dengan sengaja.


"Aku yakin kau tidak akan bisa memaafkan ibumu setelah aku mengatakan yang sebenarnya" ujar Richard dengan serius.


"Langsung saja pada intinya" Rendra yang tidak suka basa-basi.


"Baiklah, ibumu telah membunuh orang, dan orang yang dibunuh ibumu adalah... Sherina Jensen tepatnya, ibu kandung Olivia" jelasnya.


"Kejadiannya sekitar 500 tahun yang lalu saat peperangan terjadi karena memperebutkan bayi berdarah vampir, kau tahu kan siapa bayi itu?" lanjutnya.


"Aku tahu, inilah mengapa ayahnya sangat ingin aku menjauh dari Olivia" gumam Rendra.


"Bukan hanya itu, insiden perkemahan kemarin saat dihutan memang utusan ibumu tapi... Anehnya ada beberapa vampir yang mengakui bahwa yang mengutus mereka adalah kau" akhirnya Rendra tahu titik permasalahan yang terjadi.


"Jadi ada seseorang yang memfitnahku? Lalu bagaimana dengan reaksi raja vampir?" tanya Rendra.


"Mereka berhasil terprovokasi, kalau Olivia aku sih tidak tahu" jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Saat ini yang bisa dilakukan Rendra adalah mencari bukti jika dirinya tidak mengutus vampir vampir itu untuk mengepung Olivia, dan satu lagi masalah ibunya membunuh Sherina jelas mereka tidak akan memaafkannya apalagi Olivia, akan sangat sulit lagi untuk mendapatkan kepercayaan wanitanya.


*********


Asrama.


Hebohnya teriakan Olivia yang memanggil kedua kakaknya sambil menuruni anak tangga, ini pertama kalinya K2 mendengar adiknya berteriak sekencang kencangnya sampai mereka menutup telinga.


"Kak K2!!" teriakan maut Olivia terdengar sampai menusuk telinga K2.


"Ada apa sih? Apa yang kau ributkan?" kesal Kenzo yang menutup telinga.


"Bicaralah pelan sedikit, telingaku sampai sakit" Kelvin pun ikut terkejut dengan suara adiknya itu.


"Kak Kenzo, Kak Kelvin, kalian tahu ini bulu apa?" dengan cepat Olivia menunjukkan kepada mereka.


"Ini jelas-jelas bulu serigala, kau menemukan ini dimana?" tanya Kelvin.


"Kak dikamar aku banyak sekali bulu serigala, dan lagi.. kalung itu, sudah terlepas" jawab Olivia.


"Apa mungkin serigala itu menolongmu? Eh tunggu sebentar, bibirmu kenapa?" panik Kenzo.


"Bibirku? Memangnya kenapa?" bingung Olivia.


"Kemari dan lihat dirimu" Kenzo langsung menyeretnya untuk menghadap ke cermin.


Benar saja bibir Olivia terluka sampai membengkak seperti digigit seseorang, bagaimana jika ke sekolah nanti dirinya pasti malu sekali.


"Apa kau dicium oleh.. serigala?" tanya Kelvin.


"Hei! mana mungkin, aku saja tidak tahu tapi kak kalung ini.. akhirnya terlepas" ujar Olivia.


"Sudah kita bahas ini nanti, sekarang kita terlambat" gerutu Kenzo yang sedang merapihkan dasinya.


"Heduh! Baru juga ingin cerita! Dasar rempong!" maki Olivia.


"Ceritakan padanya dengan singkat" ujar Kenzo yang menyuruh Kelvin menceritakan sedikit tentang kalung takdir.


"Jadi--" terpotong karena Kenzo menjahili adiknya sedikit.


"Sudah ayo berangkat!" Kenzo yang berjalan lebih cepat karena tidak tahan menahan tawanya.


"Nanti akan ku ceritakan, ayo" ajak Kelvin.


"Hei! Kakak kakak rempong! Tunggu aku!" buru-buru ia pakai masker untuk menutupi bibirnya lalu mengejar K2.


********


Diluar Kelas.


Disaat ingin memasuki kelas ketiga saudara itu berpapasan dengan Rendra yang sama-sama ingin memasuki kelas, melihat Olivia tidak memakai kalung pemberiannya membuatnya bertanya-tanya sampai akhirnya...


'Dia tidak bisa mendengar isi hatiku kan?' batin Olivia.


'Isi hati? Apa maksudmu, kau bisa mendengar isi hatiku?' Benarkah?' batin Rendra.


'Bukankah aku hanya bisa mendengar isi hatimu? Mengapa kau bisa mendengarkan isi hatiku?' batin Olivia yang terus berdebat dengan Rendra.


"White, ayo masuk ke kelas" Kenzo yang menarik lengannya untuk menjauh dari Rendra.


Dan lagi ketika ingin duduk ditempat yang biasanya ia duduki sekarang kursinya sudah ditempatkan oleh orang lain, ternyata Vernon bukan hanya memiliki jabatan sebagai pemilik sekolah tapi Vernon juga mengatur tempat duduk putrinya.


"Permisi ini kursiku" tanya Olivia.


"Oh, kau Olivia ya kursimu sekarang disebelah sana" ucap murid itu sambil menunjuk ke kursi yang paling depan barisan tengah.


"Terimakasih" jawab Olivia.


'Ternyata rubah tua itu mengatur kursiku juga' batin Olivia.


'Siapa rubah tua yang kau maksud?' tanya Rendra didalam hati.


'Kau sangat tahu dia siapa, sudahlah belajar saja sana' gerutu Olivia.


Seperti sedang dikawal, K2 duduk disisi kanan kirinya, ia hanya menatap masam Kenzo dan Kelvin.


Viona selaku guru sejarah muncul dan langsung menyapa murid-muridnya, Olivia yang langsung menatap Viona dengan menaruh kedua tangannya di pipinya.


"Selamat pagi anak-anak" ucap Viona.

__ADS_1


"Pagi bu!" sahut murid-murid.


Ansel yang baru saja muncul ketika kelas akan dimulai buru-buru dirinya masuk ke kelas dan duduk di kursinya dengan nafas masih terengah-engah.


"Maaf bu saya terlambat" ujar Ansel yang baru datang.


"Baiklah silahkan duduk" jawab Viona.


Sekarang Olivia tahu mengapa ayahnya mengatur tempat duduknya didepan, agar bisa berdekatan dengan Viona.


"Aku duduk tepat di belakangmu, sepertinya kita berjodoh" ucap Ansel.


"Ya, ya, anggap saja begitu" jawab Olivia yang tidak ingin mendengar ocehan Ansel.


Ibu Viona.. walaupun bukan ibuku.. tapi mengapa rasanya aku seperti punya ikatan darah dengannya. batin Olivia.


Viona baru menyadari bahwa ada sedikit perbedaan dari Olivia hari ini, ia langsung menyuruhnya untuk melepaskan masker yang menutupi setengah wajahnya.


"Olivia, kau kenapa pakai masker? Kau tidak lihat peraturan di kelas? Tidak boleh memakai masker, kacamata, dan topi" tanya Viona.


"Baiklah aku akan buka maskerku" saat Olivia membuka maskernya semua mata tertuju pada bibirnya begitu juga Viona.


Tertegun sesaat Viona khawatir melihat luka bengkak di bibirnya, seperti kekhawatiran seorang ibu pada putrinya.


"Bibirmu kenapa? Apa itu sakit?"


Viona segera memegang ujung bibir Olivia yang terluka itu.


"Sedikit kok, tapi ini hanya luka kecil" jawab Olivia.


"Selesai pelajaran nanti ibu akan obati lukamu" ucapnya lalu kembali ke tempatnya.


"Baiklah" ujar Olivia.


Sepanjang pelajaran Olivia hanya bisa menutup bibirnya dengan satu tangannya dan tangan yang satunya untuk mengerjakan tugas dari Viona.


Apa yang dilakukan seseorang itu semalam? batin Olivia.


*******


UKS.


Sesuai perkataan Viona tadi saat dikelas ia membawa Olivia ke UKS untuk mengobati luka yang ada pada bibirnya.


"Kalau dibiarkan ini bisa jadi infeksi" ujar Viona yang fokus mengolesi obat.


Jadi rasanya begini dikhawatirkan oleh seorang ibu? Andai saja ibu ada disini, pasti akan melakukan hal yang sama seperti bu Viona. batin Olivia.


--GREEBB--


Olivia langsung memeluk tubuh wanita yang sedang mengobati lukanya, air mata jatuh saat merasakan kehangatan Viona yang begitu mirip dengan kehangatan seorang ibu.


"Aku hanya ingin pelukan seorang ibu" ucap Olivia lirih.


Rendra yang melihat Olivia sedih karena kehilangan sosok ibu di kehidupannya membuatnya merasa bersalah atas perbuatan ibunya.


Belakang Sekolah.


K2 yang segera membawa Rendra ke belakang sekolah agar tidak menggangu adiknya yang sedang dekat dengan reinkarnasi ibunya. Kelvin langsung menendang tubuh Rendra sampai terjatuh dan menekannya dengan menggunakan satu kaki.


"Sekarang kau tahu kan? Apa sebabnya aku menjauhimu dengan adikku? Sampai mati pun White tidak akan pernah memaafkanmu karena.. ibumu dengan kejam telah membunuh ibunya" jelasnya yang menekan Rendra.


"Kalau suatu saat keadaan berbalik bagaimana?" tanya Rendra.


"Jangan bermimpi! Jika ingin mendapatkan permintaan maaf dari White, bunuh ibumu dengan cara yang sama karena.. nyawa dibalas dengan nyawa, ingat itu!" Kenzo yang menekan dahinya lalu pergi meninggalkannya.


Atas nama ibuku, aku minta maaf. batin Rendra.


******


Taman Sekolah.


Olivia dan Viona tidak sengaja berpapasan dengan Ansel yang kebetulan lewat, begitu melihatnya dengan jelas, luka di bibir gadis yang saat ini ada di hadapannya benar-benar bengkak.


"Lukamu sudah jauh lebih baik, siapa yang menciummu sampai begini?" sindirnya lalu menyentuh bibir Olivia yang terluka.


"Ini.. hanya.. gigitan nyamuk nakal, kau jangan berpikiran sembarangan" kemudian ia menyingkirkan tangan Ansel.


"Kalian lanjutkan lah dulu, ibu tidak akan menggangu kalian" ujar Viona yang pergi meninggalkan mereka berdua.


Padahal tidak ada hubungannya dengan Ansel namun Olivia merasa jantungnya berdebar-debar saat ini.


"Wajahnu kenapa? Memerah begitu?" bohongnya.


"Mana ada memerah ini--" Olivia yang terkejut melihat wajahnya Ansel yang sedekat ini.


Oh tidak ini terlalu dekat. Batin Olivia.


Ini pertama kalinya Ansel menarik lengan wanita dan mendekap tubuhnya dan memeluknya dengan erat, Olivia hanya diam membeku saat berada di dekapannya.


"Biarkan begini saja sebentar"


Jari-jemarinya menyentuh rambut Olivia dengan lembut.


Ia berpikir bahwa Ansel sedang dalam masalah yang sulit jadi Olivia berinisiatif untuk memberi semangat dengan menepuk-nepuk punggung pria yang saat ini memeluknya.


"Seberat apapun masalahmu, semangat ya!" ucap Olivia.


"Hanya semangatmu yang bisa membuatku bangkit" jawabnya lalu mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Olive!" seseorang memanggil namanya dari belakang sontak Olivia langsung berbalik.


Terkejut begitu melihat Rendra yang memanggilnya kelihatan sekali bagaimana wajah lelaki yang menatapnya saat ini sedang kesal, mereka kembali berbicara lewat telepati.


'Ini hanya.. tidak yang seperti apa yang kau lihat' batin Olivia.


'Apa maksudmu? Aku hanya ingin menanyakan kalungmu' batin Rendra.


Ternyata hanya karena kalung, Olivia kau sungguh bodoh! batin Olivia.


"Nanti kita bicarakan lagi" ujar Rendra dengan tatapan dingin.


Tanpa sekata patah pun Rendra melewati mereka begitu saja, bahkan tanpa menoleh ke arahnya.


Rendra sengaja bersikap dingin dan tidak peduli karena ia sadar jika Olivia mengetahui bahwa ibunya terbunuh oleh keluarganya, mungkin ia sudah membencinya.


Ada apa sebenarnya? Kenapa rasanya sakit sekali sat dia menjauh. batin Olivia.


Seorang guru tiba-tiba mengumumkan bahwa ada guru dari kelas sejarah tewas, lagi-lagi karena vampir yang berani menyusup ke dalam sekolah.


"Semua murid yang berada di high school college tidak ada yang boleh keluar dari area sekolah, karena ada salah satu guru dari kelas sejarah yang tiba-tiba tewas digigit mahluk misterius" setelah mendengarkan pengumuman dari guru Olivia berlari menuju kelas untuk melihat Viona.


"Olivia tunggu!" teriaknya lalu mengejar Olivia.


Air matanya menetes setelah mendengar korban dari kelasnya seorang guru, Olivia berlari sambil menangis dan tidak peduli dengan murid yang melihatnya.


Tidak, bu Viona tidak boleh jadi korban mereka! Batin Olivia.


*******


Kelas Sejarah.


Olivia membulatkan matanya saat melihat mayat yang sudah ditutupi oleh kain putih, tubuhnya jatuh ke lantai saat menerima jika Viona tewas karena vampir.


Ini.. bohong kan? Bu Viona.. Batin Olivia.


Saat membuka sedikit kain yang menutupi wajah mayat tersebut, Olivia benar-benar tidak sanggup kalau harus melihat wajah Viona yang sudah tiada.


"Hiks.. hiks.. Tidak ini.. bohong, kenapa kalian diam! Dia masih hidup kan?!" ucap Olivia yang tidak terima dengan kenyataan yang ia terima.


'dia benar-benar sudah tidak bernafas Olivie'


'kau yang kuat ya'


Baru merasakan kehangatan seorang ibu, tapi kenapa.. kenapa korbannya harus bu Viona! Batin Olivia.


K2 datang saat mengetahui Olivia sedang melihat mayat seseorang yang diduga adalah Viona, mereka berdua mencoba menjelaskan yang sebenarnya namun tangis Olivia semakin kencang.


"White! Kau sedang apa disini?" tanya Kenzo heran.


"Hiks.. hiks.. kak mayat itu bukan bu Viona kan?" pipi Olivia semakin basah kuyup karena air mata.


"White, dengarkan kami dulu" Kelvin yang mencoba menjelaskan.


"Apa? Kalau memang benar, aku juga tahu!" ujar Olivia yang masih menangis.


"Tenanglah dulu, atur nafasmu" Kenzo berusaha menenangkan adiknya.


"Kelvin, buka kainnya" lanjutnya.


Kelvin membuka kain yang menutupi wajah mayat tersebut, dan ternyata korban yang tewas adalah guru sejarah dari kelas sebelah, Olivia hanya tertegun melihat apa yang dilihatnya.


"Bukan kan? Jadi tenangkan dirimu" ucap Kelvin.


"Olivia, ternyata kau disini?" suara yang sangat familiar mulai terdengar di telinganya.


Secepatnya Olivia menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya dari belakang, saat dilihat ternyata Viona, hatinya terasa lega dan segera memeluk wanita yang sedang di samping ayahnya itu.


"Kenapa ini? Kau menangis?" tanya Viona.


"Bu Viona jahat, aku tidak akan mengampunimu" kesal Olivia yang salah mengira.


"Wah kau juga masih punya hutang pada ibu" jawab Viona dengan sedikit meledak.


"Putriku pasti malu karena salah mengira orang, haha" ledek ayahnya.


"Menyesal aku membuka kain itu, coba saja jika ku kerjai dia tadi" gumam Kelvin dengan keras.


"Gunung es diam saja kau!" Olivia langsung menarik rambut Kelvin.


"Kami ingin membereskan mayat ini dulu, ayah bawalah White dan bu Viona ke asrama" ujar Kenzo.


"Baiklah" jawabnya.


K2 mengurus mayat yang masih terkapar didalam kelas lalu memanggil pihak dari rumah sakit untuk segera diotopsi agar lebih jelas.


*****


Markas Rahasia.


Seseorang yang merupakan ketua dari vampir pemburu, menyuruh vampir lain untuk menyebar ke lingkungan sekolah, untuk mengadu domba antara keluarga Saga dan Xendrick.


"Pasti sekarang sekolah sedang heboh karena ada satu korban yang berhasil tewas" ujar seorang wanita yang membelakangi pasukannya.


"Tapi bagaimana cara mengadu domba dua keluarga itu? Apalagi tuan Saga itu sangat kejam" jawab salah satu vampir itu.


Wanita itu berbalik menghadap pasukannya, dia adalah Angel, ia yang mengadu domba keluarga Olivia dan keluarga Rendra, padahal ia juga utusan dari Calista untuk mengambil jantung Olivia.


"Mudah saja, kalian tinggal menyerahkan diri dan mengaku bahwa Rendra yang menyebarkan vampir pemburu ke sekolah" jelas Angel dengan licik.

__ADS_1


"Kami mengerti Nona" jawab mereka.


Hancurlah kalian, kalau bisa saling membunuh.. itu akan lebih mudah bagiku. Batin Angel.


__ADS_2