
Dibelakang Sekolah.
Ketiga vampir itu membawa Olivia ke belakang sekolah, bukan hanya itu mereka juga melemparnya sampai kepalanya terbentur batu yang mengakibatkan mengalirnya darah dari dahi Olivia.
--BRUUKK--
"Ah!" Desah Olivia kesakitan.
"Darah segar.. tidak menyangka begitu mudah mendapatkan darahnya," ucap salah satu dari ketiga vampir itu lalu mencium aroma darah yang ada pada dahinya.
"Kalian berdua hisap darah gadis ini, biarkan aku yang mengambil jantungnya, aku yakin sekali bahwa dia adalah calon ratu vampir."
Satu vampir mulai menyingkirkan rambutnya namun setelah melihat bekas gigitan Rendra yang sudah menggila, para vampir itu langsung dibuat terkejut.
"Ini.. ini.. adalah.. bekas gigitan vampir lain."
"Apa pedulinya hanya bekas gigitan, hak kepemilikan akan berpindah dan kita akan menguasai gadis suci ini."
Disaat ingin menggigit leher putih Olivia kedua kakaknya dengan cepat menghentikan mereka.
"Berhenti!" Kenzo yang menghentikan para vampir itu.
Kini tatapan Kenzo mengarah pada dahi Olivia yang terluka dan ekspresi wajahnya berubah seketika seakan-akan tidak terima jika ada yang melukai adik kecilnya.
"T-tuan Kenzo, Tuan Kelvin?" mereka bertiga segera menunduk.
"Berani sekali kalian mencoba memangsanya! Kelvin jauhi White dari para vampir rendahan ini," perintahnya.
Kelvin menggendong adiknya yang masih pingsan dan belum sadarkan diri akibat benturan keras yang mengenai dahinya, untung saja mereka berdua sudah memakan pil pertahanan tubuh agar bisa terkendali saat berhadapan dengan darah.
"Ampuni kami, kami bersalah tuan," ujar mereka memohon.
"Aku tidak akan mengampuni kalian, karena kalian telah melukai adik kecilku, dan kalian juga datang ke dunia manusia hanya untuk mengacau bahkan sudah banyak korban jiwa yang kalian habisi!" kesal Kenzo yang tidak bisa meredam amarahnya.
"Habisi saja mereka, ayah juga akan marah jika mendengar hal ini," ujar Kelvin.
Kenzo membanting dua vampir itu lalu mencekiknya kemudian dirinya tak segan-segan untuk memutuskan lehernya, namun sayang sekali satu vampir berhasil kabur entah kemana dan Kenzo juga membakar mereka agar menjadi abu.
"Selama ini White tinggal dimana?" tanya kenzo.
"Menurut penerawanganku, dia adalah salah satu murid di sekolah high school college dan tinggal di asrama nomor 13," jawab Kelvin dengan cepat.
"Ayo kita ke sana," ajaknya.
Ketika mereka berdua ingin membawa Olivia kembali ke asramanya tiba-tiba datang seseorang yang membuat mereka menoleh kearah sumber suara itu.
"Tunggu!" Rendra menghentikan mereka berdua.
Rendra datang karena merasa namanya terpanggil saat Olivia sedang dalam bahaya.
"Siapa kau? Oh ternyata kau, lama tidak bertemu," ucap Kelvin seperti mengenali Rendra.
"Darah..? Kalian berani melukai dia! Lepaskan dia!" ujarnya.
"Untuk apa aku menyerahkan gadis kecilku kepadamu?" tanya Kenzo.
"Gadis kecil? Hei! dia itu milikku, lihatlah kalung dia," ungkap Rendra.
Keduanya sama-sama tertegun ketika melihat kalung milik Olivia.
"Jelaskan padaku! Mengapa White memakai kalung takdir?" kesal Kenzo yang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Heh, kau bahkan tidak hormat pada kami .... sudah lama sekali tidak bertemu ternyata sikapmu masih sama," ucap Kelvin.
Rendra tersadar lalu berjongkok hormat kepada keduanya.
__ADS_1
"Biarkan aku membawa Olivia, aku bisa menjelaskannya pada kalian," Rendra yang masih berjongkok terus meminta K2 agar menyerahkan Olivia padanya.
"Tidak perlu! menjauhlah darinya atau nasibmu akan sama seperti mereka, ayo kita pergi," ajak Kelvin.
Hubungan diantaranya semakin rumit setelah Kenzo dan Kelvin mengetahui bahwa adiknya memakai kalung takdir yang artinya adalah, istri dari pangeran vampir.
******
Di Asrama.
Baru saja sadar dari pingsan Olivia sudah dikejutkan dengan kehadiran kedua kakaknya yang sedari tadi hanya berdiri diam di pinggir jendela, sedangkan Kenzo duduk di kursi sambil mengutak-atik ponsel Olivia.
"Kalian! kenapa bisa? Kakak! ponselku!" merebut ponselnya.
"Kau sudah sadar? Mengapa kau ceroboh sekali?" tanya Kenzo lalu mengacak-acak rambut adiknya.
"Apa? Aku hidup dengan baik disini" ujar Olivia.
"Bodoh, bukan itu mengapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri? Kau juga.. sudah.. menikah.. mengapa tidak menceritakannya?" ragu-ragu Kenzo menanyakan hal itu.
"Jelaskan sekarang pada kami!" ucap Kelvin dengan tegas.
"Aku harus menjelaskan apa? Aku juga tidak tahu tiba-tiba saja sudah memakai kalung ini dan menjadi istri, pangeran vampir," ujarnya dengan jelas.
--BRAAKK--
Kelvin yang memiliki kesabaran terbatas kemudian menggebrak meja belajar milik Oliva hingga terbelah dua.
"Ternyata dia masih belum menyerah," kesal Kelvin.
"Kak! Meja belajarku!! Kalian keterlaluan White marah sangat marah ...." ucapnya lirih.
"Maaf, maaf aku tidak sengaja adik White," Kelvin yang berusaha membujuk adiknya.
"Kami kemari diutus oleh ayah, kami akan disini untuk melindungimu," ujar Kenzo.
"Yasudah yasudah! Sana pergi cari tempat tinggal" memberikan black card.
"White, kami tidak perlu .... kami akan ikut bersekolah disini," perkataan Kelvin membuat Olivia kesal.
--KRAAKK--
Kesal karena perkataan Kelvin black card kesayangannya pun jadi korbannya, terbelah dua hanya menggenggam erat kartu itu.
"White! Sejak kapan kau sekuat ini?" ucap Kenzo yang tidak percaya.
"Ak--u a--ku .... aduh ini karena kalian, sana pergi!" bentaknya lagi sambil mendorong kedua kakaknya keluar.
Terpaksa kedua kakaknya harus menjaganya dari luar karena jika mereka tetap didalam Olivia bisa melanggar peraturan sekolah.
Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan para vampir itu saat mereka ingin menggigitku, mereka bilang.. hak kepemilikan? Maksudnya apa? Hal ini harus ku bicarakan dengan, Kak Kenzo, ya aku harus bertanya padanya besok. batin Olivia.
Ponselnya tiba-tiba berdering, ternyata Ansel yang menelepon Olivia dipukul 00:00 dini hari.
'Kau kemana tadi?'
"Ak--u hanya sedikit ada masalah, tunggu! Kau dapat nomor ponselku dari mana?" tanya Olivia.
'Tidak sengaja aku melihat kartu pelajarmu kemarin, oh ya apakah benar kau alergi pizza?'
"Ya benar, aku alergi sejak kecil begitulah," ujarnya dengan terpaksa.
'Hmm.. Apa kau kesulitan untuk tidur?'
"Sepertinya.. aku memang kesulitan untuk tidur" ucap Olivia.
__ADS_1
'Ingin ku bantu?'
"Tidak usah, aku sudah biasa," tolak Olivia.
'Biar ku ceritakan tentang kisah sejarah, apa kau ingin mendengarnya?'
"Baiklah," jawab Olivia dengan antusias.
Ansel pun menceritakan sejarah yang pernah dia dengar sewaktu kecil, tidak disangka Oliva merasakan bahwa ini bukanlah sejarah tetapi kisah nyata seorang ibu yang terbunuh demi menyelamatkan putri kecilnya.
'Pada 500 tahun yang lalu terjadilah peperangan antara sesama bangsa hanya saja berbeda klan, hanya demi memperebutkan seorang bayi yang baru lahir. Kedua bangsa itu sama sama berperang sedangkan seorang wanita yang baru saja melahirkan anak perempuannya harus bersembunyi namun sayangnya...'
Ansel menjeda ceritanya.
"Kenapa berhenti bercerita?" tanya Olivia.
'Aku hanya menarik nafas sebentar. Namun sayangnya ibu dari bayi itu harus mati karena mengorbankan nyawanya akibat dibunuh oleh..'
"Cukup! Aku.. aku sudah mengantuk, selamat malam," ujarnya lalu mematikan telepon dari Ansel.
Ibu .... Aku merasakan sesuatu saat Ansel menceritakan tentang peperangan itu kepadaku, cepat atau lambat aku pasti akan menemukan ibu. Batin Olivia.
****
Kantin Sekolah.
Untuk yang kedua kalinya Olivia pergi ke kantin agar terbiasa dengan dunia barunya saat ini, saat ingin memesan makanan tiba-tiba sepatutnya licin sehingga ia hampir terpeleset, tapi untunglah seseorang dengan secepat kilat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Ansel? Sejak kapan dia ada disini? batin Olivia.
Sekarang mereka saling tatap menatap, kemudian tanpa disadari murid yang lain menjadi heboh karena melihat mereka saling menatap.
'eh lihat mereka cocok sekali''
'siapa murid baru itu? bukankah itu Ansel?'
'iri sekali aku'
'serasi sekali mereka'
'tidak bisa dipercaya'
Olivia segera mendorong Ansel karena ia tidak ingin menjadi bahan perhatian murid di sekolah, di karenakan ia murid baru jadi Olivia harus memberikan kesan baik kepada murid lain.
Ansel tersenyum, "Lain kali hati-hati."
"Ya, terimakasih," ucap Olivia.
"Olivia!" panggil seseorang yang sangat familiar.
Belum sempat menoleh pria itu sudah menariknya menjauh dari Ansel, ternyata dia adalah Rendra datang-datang langsung membuat keributan.
"Jauhi pria ini," ujar Rendra yang baru datang.
"Kenapa aku? Aku teman sebangkunya, untuk apa kau menyuruhnya menjauhiku?" jawab Ansel dengan penuh penekanan.
"Karena aku--" terpotong karena K2 tiba-tiba muncul.
"White, kau disini? Yuk ikut kami," ujar Kelvin.
Akhirnya kalian datang jadi pahlawanku. batin Olivia.
"Baiklah, bye bye duluan ya," jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Keduanya sama-sama menatap tajam dan mempunyai aura yang kuat, yang satu manusia yang satu lagi vampir keduanya sekarang saling membuang muka.
__ADS_1