
--Tiiiitt.....--
"Olivia!! Jangan tinggalkan ibu!! OLIVIA WHITE!!!"
Viona sangat histeris saat merasakan detak jantung dan denyut nadi Olivia berhenti, tangisannya begitu pecah karena tidak menyangka bahwa muridnya akan pergi secepat ini.
"Kenapa putriku? Ada apa?!"
Vernon dan K2 datang disaat yang tepat ketika putrinya sedang dalam keadaan darurat.
"Detak jantung... Olivia berhenti, bahkan denyut nadinya pun juga berhenti.."
Mereka bertiga seketika melebarkan matanya lalu pandangan mereka beralih pada Olivia yang terbaring lemah di hospital bed.
"Tidak mungkin putriku tiada! Kau bohong kan? White... putriku.."
Ia tidak percaya ketika putrinya benar-benar sudah tiada, bahkan Vernon bisa melihatnya sendiri dengan mata telanjangnya jika jantung sementara itu hilang dari tempatnya.
Pertama kalinya K2 meneteskan air mata disaat mereka sama-sama memegang tangan adiknya yang sudah lemas tidak bernyawa.
Rendra!!! Kau harus membayar atas ini semua!!
"Dia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal!!"
Dokter akhirnya datang bersama kedua suster yang mengikutinya dari belakang, mereka membiarkan si dokter itu memeriksa Olivia. Detak jantung, denyut nadi bahkan sampai membuka kelopak matanya dokter hanya menggeleng pelan lalu menoleh kearah Vernon sang ayah pasien.
"Bagaimana dok?"
"Dengan berat hati saya mohon maaf, pasien dinyatakan meninggal dunia"
"Tidak! Dokter salah Olivia masih hidup kan?"
"Maaf nyonya tapi.. ini memang benar adanya bahwa pasien telah meninggal"
Tangisan Viona mulai memenuhi ruangan, ia seperti tidak mau menerima kenyataan bahwa Olivia memang sudah meninggal dunia. Sebuah tangan menggenggam erat dan mulai mengelus jari-jemarinya.
"Tenanglah, jika kau seperti ini putriku akan semakin sedih disana. Aku juga merasa kehilangan sama sepertimu"
Kata-katanya tadi sedikit menenangkan Viona.
Vernon dan Viona sudah bisa menerima kenyataan jika Olivia sudah tiada tapi tidak dengan K2, disaat dokter sedang memeriksa adiknya tadi mereka sudah pergi entah kemana.
Suster melepaskan alat pernapasan yang masih menempel menutupi mulut Olivia lalu membungkusnya dengan selimut.
Air mata Vernon mulai menetes saat melihat putri satu-satunya berhasil meninggalkannya, kalau dulu ia mencoba lari dari kastil kini Olivia benar-benar pergi menyusul ibunya.
White.. Ayah berharap kau akan bereinkarnasi sama seperti ibumu. batin Vernon.
****
Disisi Lain...
Habis sudah Rendra dihajar oleh K2 bahkan ia tidak melawan sama sekali saat sedang dipukuli oleh K2, baginya pukulan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit Olivia ketika Rendra menyiksanya.
"Puas kau sudah membuat adikku pergi!!? Jika bukan karenamu... adikku tidak akan pergi meninggalkan keluarganya!!"
"Tidak mungkin, kalian berbohong.. kan?"
"Bodoh! Kau pikir kematian adalah lelucon?"
__ADS_1
Saat Kelvin hendak memukul Rendra dengan secepat kilat Ansel datang menghentikannya.
"Cukup! Kau hampir membunuhnya!! Ini sama saja kita seperti dia"
Bukan hanya K2 yang menatapnya dengan penuh kebencian kini Ansel pun juga menatapnya seperti tatapan enggan.
"Kau sendiri yang mengibarkan bendera perang dan kau harus menanggung resikonya, peperangan akan dimulai lagi. Seperti dulu!!"
Kelvin yang sangat dendam kepada keluarga Xendrick akhirnya saat di peperangan nanti ia bisa menghabisinya dengan cara yang sama seperti Rendra membunuh adiknya.
Hanya ada Ansel dan Rendra sekarang.
"Kenapa kau menolongku?"
"Siapa yang menolongmu? Aku hanya tidak sudi wilayah bangsa serigala di kotori oleh mayatmu! Kau dan ibumu sama, pembunuh!"
Rendra hanya tertegun saat di kata-katai seorang pembunuh akibat kematian Olivia, hatinya sakit seperti diiris pisau karena kehilangan wanita yang ia cintai.
"Aarrgghh!! Kenapa kau pergi!! Aku membutuhkanmu... Olive.."
"Terlambat kau yang membuatnya pergi!!"
--Aaauuwww--
Ansel memanggil pasukannya untuk datang menghampirinya yang sedang bersama Rendra, mereka berdatangan dan mulai mengelilingi mereka berdua.
"Habisi ratu dari keluarga Xendrick, bawa mayatnya ke kastilku"
"Baik pangeran"
Kematian Olivia berdampak negatif, bagaimana tidak? Olivia adalah gadis yang paling dihormati oleh klan serigala, vampir, bahkan klan penyihir pun sangat hormat karena bagi mereka kedudukan gadis suci lebih tinggi daripada klan lain.
"Semoga ibumu beruntung saat berhadapan denganku"
Olivia.... aku sangat tidak bisa tanpamu.
****
Ditempat lain...
Ditempat lain tepatnya hutan yang luas pepohonan yang tinggi diiringi dengan hembusan angin kencang, seorang gadis berpakaian tebal berdiam diri sambil mengeratkan jaketnya itu entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
Wuusshh
Beberapa orang datang menghampirinya lalu memberi hormat dengan membungkukkan tubuh mereka.
"Salam yang mulia putri, kami mendapatkan kabar baik untuk anda"
Gadis itu merasa terganggu dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba datang dan membawa kabar baik.
"Katakan"
"Keluarga kerajaan Xendrick berhasil dikepung oleh bangsa serigala"
Ia berbalik menghadap mereka yang masih berbicara tentang kabar baik itu namun tidak baginya.
"Apa? Siapa yang menyuruh kalian untuk berurusan dengan bangsa vampir? Apalagi mereka, sungguh menyebalkan"
__ADS_1
Wajah gadis itu mirip sekali dengan Olivia hanya saja perilaku dan sifatnya berbeda, penampilannya juga berbeda Olivia yang selalu kalem dengan pakaian feminimnya tapi gadis itu selalu berpakaian tebal dengan jaketnya.
"Apa kau akan berbuat sesuatu? Ku dengar mereka menyamar sebagai manusia dan bersekolah"
Ia nampak tidak peduli dengan ucapan temannya itu.
"Tidak, aku lebih senang dihutan dibandingkan tempat ramai seperti sekolah"
Sudah jelas berbeda Olivia yang selalu mendambakan sekolah namun ia tidak, lebih senang dihutan dan tidak menyukai manusia.
"Kau yakin? Hei, ini kesempatan yang bagus untuk menunjukkan bahwa kau layak jadi ratu serigala, ibumu pasti akan bangga"
Temannya mencoba untuk membujuknya.
"Lalu apa hubungannya? Syarat naik tahta memang harus bersekolah?"
"Benar putri, yang dikatakan teman anda memang benar"
Ekspresinya jelas sekali keberatan jika syaratnya seperti itu.
"Seleksi macam apa itu? Bukankah seleksi ratu serigala adalah menjadi serigala yang terlatih? Mengapa harus sekolah?"
Temannya itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kurasa itu juga, sebab.. disana banyak manusia dan kau bisa belajar disana agar menjadi ratu serigala yang pintar dan genius"
Tidak menjawab apapun ia hanya mengangkat alisnya lalu mengangguk mengerti.
"Baiklah, dimana ibunda ratu? Kalau saja bukan seleksi ratu aku pasti sudah menolak mentah-mentah"
"Haha, baiklah ayo ikuti aku"
****
High School College.
Brruumm bruumm
Crriittt
Sebuah sepeda motor bermerek sport melaju kencang kearah parkiran sekolah, ia juga hampir menabrak Rendra yang baru datang ke sekolah. Semenjak kehilangan gadisnya emosinya sering naik turun Rendra jadi tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
Untung saja motor itu tidak menabraknya kalau sampai menabraknya orang itu bisa kena masalah.
"Apa kau punya mata? Tidak lihat ada orang disini?"
"Oh my god..." gerurtu orang itu dibalik helmnya.
"Jika tadi aku tertabrak kau ingin bertanggung jawab?"
Orang itu segera melepaskan helmnya karena kesal dengan ocehan Rendra yang sedari tadi mengganggunya.
"Diam!"
Oh! Sepertinya gadis itu lagi yang mirip sekali dengan Olivia.
Rendra jelas shock melihat gadis itu dari atas sampai ke bawah, apalagi ia sekarang menaiki motor sport.
"Olivia.."
__ADS_1
Kini dahinya mengernyit heran mendengar Rendra memanggilnya dengan nama lain dan bukan namanya.
"Kau siapa?"