Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Kastil Kecil Kediaman Ansel.


Menyelimuti seluruh tubuh Olivia yang tertidur pulas akibat gigitannya tadi membuat tubuhnya lemas sehingga tidak sadarkan diri, Ansel dengan setia masih menjaganya hampir lupa jika diluar ia kedatangan tamu.


"Tidurlah, besok aku akan mengantarmu pulang" Ansel mengelus rambut coklat gadis itu dengan lembut.


Setelah itu Ansel pergi menemui tamu yang sudah menunggunya diluar.


"Berani sekali kau masuk ke areaku" ujar Ansel dengan tatapan dingin.


"Jelas berani karena aku kemari untuk menjemput wanitaku" jawab Rendra yang mulai menunjukkan hak kepemilikannya.


"Wanitamu? Bukankah keluarganya tidak setuju, jika Olivia bersamamu?" tanyanya sedikit mengintimidasi.


"Kau juga jangan harap mereka akan begitu mudah menerimamu, kalau aku tidak bisa memiliki dia, maka kau juga tidak boleh" Rendra berhasil melawan perkataannya.


Hanya menganggukkan kepalanya dengan santai walaupun sedikit terancam oleh Rendra tapi ia bisa mengendalikan dirinya.


Karena Olivia sudah mengetahui bahwa siapa penyebab kematian ibunya akhirnya Ansel memakai cara ini agar Rendra menjauh dari gadis yang disukainya.


"Apa kau sudah tahu? Dengar-dengar Olivia sudah tahu siapa yang membunuh ibunya" sindirnya dengan tersenyum lebar.


"Apa kau sedang mengancamku?" tanya Rendra alisnya terangkat.


"Hahaha! Rendra Rendra.. Kenapa aku harus mengancammu? Seharusnya kau menjauhinya kan?" jawabnya.


"Selamanya tidak akan, ibuku yang salah mengapa aku harus terlibat? Biarlah itu jadi urusan ibuku aku--" terpotong.


--Plaakk--


Tamparan keras mendarat dipipi Rendra lantaran telah menyepelekan kematian ibunya, Olivia sebagai anak dari mendiang Sonya merasa tidak terima dengan semua perkataannya.


"Urusan ibumu? Kau anak dari ibu yang membunuh ibuku! Harusnya aku mendengarkan ayahku dulu agar tidak menyesal, dan sekarang sepertinya aku sangat amat menyesal pernah bertemu denganmu.. maupun dimasa lalu ataupun sekarang" jelas Olivia dengan rasa kecewanya.


Begitu menusuk perkataan Olivia tadi membuatnya terpukul dan tersadar bahwa selamanya memang mereka tidak akan bisa bersama.


"Pergi dari sini, aku bilang pergi!" bentak Olivia.


"Ya" singkat jelas dan padat.


Mengingat lagi tentang ibunya membuat hatinya sakit ketika berhadapan dengan anak dari ibu yang sudah membunuh ibunya.


"Hiks.. hiks.. hiks.. Pembunuh!" air matanya mulai berjatuhan.


Olivia yang selalu lemah jika mengenai ibunya kini tangisnya pecah untuk mendiang sang ibu bagaimana tidak? Olivia yang selalu merindukan sosok perempuan yang mengandungnya selama 9 bulan, namun tumbuh tanpa perempuan yang sudah berjuang melahirkannya ke dunia ini.


"Mencintaimu adalah suatu kesalahan terbesar bagiku.. hiks.." Olivia yang masih menangis sambil berjongkok dan menundukkan kepalanya.


Seseorang datang memeluknya yang masih berjongkok Olivia tahu orang yang sedang memeluknya ini ada Ansel.


"Olivia! Kau kemana saja? Aku mencarimu?" tidak ada jawaban namun Olivia malah memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.


"Bagaimana rasanya.. dipeluk seorang ibu.. hiks.. hiks.. dia pembunuh!" kesal Olivia yang masih dalam dekapan Ansel.


"Tenangkan dirimu, I'm here" Ansel menggepalkan tangannya sekuat-kuatnya.


Dalam sekejap tangis Olivia terhenti karena Ansel sedari tadi terus menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya, saat mendongakkan kepalanya ia melihat Ansel matanya terpejam dengan posisi masih memeluknya.


"Amor.." bisiknya memanggil seseorang.


Amor langsung datang ketika ia memanggilnya Amor malah salah paham dan mengira pria disampingnya ini adalah orang jahat.


"Putri? Dia siapa? Putri tenang dia biar aku yang urus" Olivia yang terus memberinya isyarat untuk diam.


Amor membungkuk sebagai tanda permintaan maaf karena telah berlebihan.


"Eeerrn.. Kita bicarakan dirumah" ujar Olivia yang kebingungan.


*********


Asrama Kediaman Saga.


Pulang-pulang Olivia diintrogasi oleh empat orang karena membawa Ansel pulang, semuanya menatapnya tajam kecuali Amor masih berdiri tegak disamping Kenzo.


"Putriku, ayah senang melihatmu kembali dan lukamu sudah agak pulih tapi.. mengapa kau membawa pulang seorang pria apalagi dia adalah manusia" jelasnya yang masih berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Amor jelaskan" perintahnya.


"Begini yang mulia.. Putri saat itu sedang bertengkar dengan seorang pria dan manusia itulah yang menenangkan Putri saat dia sedang menangis" Amor menjelaskan sesuai apa yang dia lihat.


Sekarang tatapannya malah mengintimidasi membuat Olivia takut untuk menatap ayahnya.


"Uruslah manusia itu besok, jangan sampai dia datang menginap lagi" ucap Vernon lalu pergi meninggalkan asrama.


Kini saatnya menanyakan soal kalung takdir kepada K2 yang sedang sibuk dengan layar ponselnya.


"Kalian berhutang penjelasan padaku" kesalnya.


"Baiklah, sepertinya dugaanku memang benar" tiba-tiba membuat Olivia gelisah.

__ADS_1


"Kenapa kak?" tanyanya dengan penasaran.


"Kau.. terikat kontrak dengan serigala, White! Kau mempunyai dua suami!" jawban Kelvin membuatnya ragu.


"Kenzo, beritahu dia.. sepertinya aku terlihat konyol sampai dia tidak bisa mempercayai kakaknya" bersikap sok marah.


Kenzo menaruh ponselnya dimeja dan mulai menghela nafas panjangnya.


"Yang dibilang Kelvin benar, ini ibaratkan botol minuman yang jika ditutup rapat-rapat pasti tidak akan terbuka kan?" Kenzo yang melihat wajah adiknya masih tidak memahami perkataannya.


Kenzo pun mengambil botol yang sudah ia tutup dengan rapat-rapat dan menyuruh Olivia membuka botol itu.


"Coba kau buka" ujarnya sambil memberikan botol kaca.


Tentu saja tidak bisa karena Kenzo menutupnya dengan sangat rapat.


"Kak! Tidak bisa" jawab Olivia kecewa.


"Kelvin coba kau buka" menyodorkan botol kaca itu.


--Kleekk--


Olivia menganga lebar melihat Kelvin yang bisa membukanya dengan santai, Kelvin langsung meletakkan kembali botol kaca itu.


"Jadi ini sama halnya seperti kalungmu, jika Rendra memakaikan kalung itu padamu dan bangsa serigala itu yang melepaskannya, maka mereka berdua takdirmu" jelas Kenzo yang memakai teka-teki.


"Maksudnya Rendra adalah gembok dan bangsa serigala itu adalah kunci, benar?" mereka mengangguk sambil tersenyum lebar.


Maksud dari Kenzo adalah, jika Rendra yang memakaikan kalung itu ke lehernya lalu tidak bisa dilepaskan sama sekali dan, bangsa serigala yang tiba-tiba muncul melepaskan kalung takdir itu dengan begitu mudah maka mereka bisa diibaratkan gembok dan kunci.


Jika gembok tidak ada kunci maka gembok itu akan selamanya begitu tanpa kuncinya.


"Benar, sekarang kau paham kan? Tapi itu tergantung hatimu jika kau memilih salah satu diantaranya.. kau hanya terikat kontrak dengan satu orang" ujar Kenzo yang masih bisa menjelaskan.


"Sudah.. jalanmu masih panjang, jika kau terus memikirkan itu yang ada hatimu bimbang, sakit, lelah, mending kau istirahat sana" tanpa pamit Olivia langsung pergi ke kamarnya.


Dua saudara itu hanya saling menatap ketika punggung adiknya sudah jauh barulah mereka bicara.


"Biasanya vampir memakaikan kalung ini hanya untuk menjadikan pasangannya sebagai pemuas darah, itulah mengapa jarang sekali kasus seperti White" ujar Kelvin sambil menatap kalung takdir milik Olivia.


"Mungkin kau benar" jawab Kenzo.


***********


High School College.


Tak sengaja berpapasan dengan Rendra ia langsung terpikir oleh kalung takdir itu dan penjelasan yang dikatakan K2 semalam, masih terngiang-ngiang di otaknya.


"Olivia! Ayo ikut aku kita lihat pertandingan bola basket pasti seru" ujar Angel segera menyeretnya ke lapangan basket.


Baru saja sampai Olivia sudah disambut dengan bola basket yang hampir mengenainya, untungnya ada kedua orang yang menghalangi bola itu.


Rendra yang mendekapnya erat sambil memegangi kepalanya, Ansel dengan menangkap bola basket yang hampir mengenai wajahnya.


"Minggir!" ujarnya dengan mendorong Rendra setelah itu pergi meninggalkan lapangan basket.


Ups! Ini baru awal, aku ingin lihat bagaimana dua orang itu saling membunuh hanya karenamu. batin seseorang.


Kelas Sejarah.


Melihat Olivia yang tertawa ketika sedang mengerjakan tugas dengan Ansel membuatnya terbakar api cemburu, ingin sekali menarik Olivia tapi ia sadar itu hanya akan menimbulkan rasa bencinya semakin dalam.


"Rendra.. kau kenapa? Tidak ada teman untuk belajar?" tanya Angel.


"Tidak" jawabannya masih sama.


"Bagaimana kalau kita belajar bersama?" melihat Olivia sedang asyik bersama Ansel membuatnya semakin panas.


"Oke, Tapi duduknya disana" sambil menunjuk kursi yang ada didekat Ansel.


"Tentu saja" ucap Angel lalu tersenyum puas.


Rendra juga melihat K2 yang begitu tenang tanpa khawatir Olivia dekat dengan pria lain, namun jika berada bersamanya selalu mendapatkan tekanan.


Apa kau bahagia dengan orang lain?


--Deg--


Yang tadinya menulis tapi ketika mendengar isi hati Rendra membuatnya berhenti menulis.


Aku senang kau bisa tersenyum kembali Ivi.


Olivia membulatkan matanya ketika bisa mendengar isi hati Ansel yang saat itu sedang belajar dengannya.


Ada apa ini sebenarnya? Apa yang dikatakan K2 benar? batin Olivia.


Tiba-tiba Olivia teringat sesuatu tentang nama yang baru disebut oleh Ansel, kemarin mereka berkenalan dan menyuruhnya untuk memanggilnya 'Ivi'.


Apa serigala itu Ansel? batin Olivia.

__ADS_1


"Hampir lupa aku harus mengambil buku di perpustakaan, tunggu disini oke" Olivia yang sesegera mungkin pergi meninggalkan kelas.


***********


Perpustakaan.


Sebenarnya Olivia sengaja meninggalkan kelas karena tidak ingin mendengar isi hati kedua orang itu jadi ia lebih memilih untuk ke perpustakaan, Viona yang kebetulan ada disaat Olivia sedang mencari buku.


"Bu Viona" panggilnya sambil berbisik.


"Kau? Kebetulan sekali, sedang membaca buku?" tanya Viona.


"Itu.. ya benar hehe, aku sedang mencari buku tentang dinosaurus" padahal niatnya tidak begitu.


Oh tidak mengapa mengatakan tentang dinosaurus. batin Olivia.


"Sudah ketemu bukunya?" tanya Viona.


"Belum kok, ini lagi mau dicari" Olivia menjauh dari kursinya Viona dan mulai mencari buku dinosaurus.


Buku yang dicarinya ternyata ada dibarisan yang paling atas, tangannya berusaha terulur untuk mengambil buku itu namun tidak sampai, Olivia berinisiatif untuk berjinjit namun ada seseorang yang membantunya untuk mengambilkan buku yang sedang ia cari.


Aura ini aku mengenalinya. batin Olivia.


Perlahan Olivia berbalik, dan segera melihat siapa orang yang telah membantunya untuk mengambil buku tentang dinosaurus itu.


"Rendra?" Olivia terkejut.


"Makanya banyakin minum susu biar tinggi" ujar Rendra yang sedikit menyindir.


"Apa kau sedang meledekku? Berikan padaku" ingin mengambil buku dari tangan Rendra namun sayangnya terlalu tinggi.


"Ayo ambil kalau bisa" mengangkat buku yang ada di tangannya.


"Malas" kesal Olivia lalu hendak pergi meninggalkan perpustakaan.


"Baiklah, ini bukunya" dengan cepat menahan lengan Olivia dan memberikan bukunya.


Kembali ke tempat duduknya kini mereka dari kejauhan saling menatap satu sama lain, matanya yang sedang fokus pada Rendra, ada sebuah lengan yang membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Olivia, sudah ketemu bukunya?" tanya Viona.


Mendengar Viona yang berbicara, ia tiba-tiba memeluk tubuh wanita itu untuk mengucapkan Terimakasih.


"Terimakasih bu Viona, aku senang sekali bisa bertemu dengan ibu" ujar Olivia yang masih memeluk Viona.


"Sama sama, kau anak yang baik" kecupan yang begitu terasa sekali dikepala Olivia membuatnya semakin tidak rela jika harus meninggalkan dunia manusia.


Ini yang sebenarnya dinginkan oleh Olivia selama ratusan tahun kasih sayang seorang ibu dan kehangatan seorang ibu.


Vernon yang melihat putrinya begitu bahagia ketika menemukan sosok ibu membuatnya semakin tidak tega jika terus merahasiakan siapa reinkarnasi ibunya? Adalah Viona Rossler.


Cepat atau lambat pasti dia akan tahu, aku harus cari waktu yang tepat untuk memberitahu kepadanya. batin Vernon.


Sudah cukup lama Olivia membaca buku sampai akhirnya ia tertidur di saat-saat sedang membaca buku-buku yang lumayan banyak, Viona yang melihatnya sedang tertidur berinisiatif untuk membereskan buku-buku yang dibacanya tadi.


Tidak tega untuk membangunkan Olivia akhirnya Viona meminta tolong kepada Rendra untuk membawanya ke UKS.


"Tolong bawa Olivia ke UKS, biarkan dia tidue disana" ujar Viona sambil berbisik.


"Baik bu" jawab Rendra.


Hati-hati untuk mengangkat tubuh Olivia yang masih memejamkan matanya dengan tenang membuatnya juga tidak tega jika tidurnya terganggu, sesuai yang dikatakan Viona membawanya ke UKS.


UKS.


Ketika membaringkan tubuhnya Rendra sempat menatap gadisnya sebentar lalu pandangan tertuju pada leher Olivia, terkejutnya saat mendapati satu gigitan aneh di area lain dan ternyata seperti gigitan serigala.


Ansel! Kau benar-benar! Sudah bermain-main denganku, jangan harap kau bisa hidup setelah ini. batin Rendra.


Meredam emosi terlebih dahulu dan menyelimuti tubuh Olivia yang terlelap dalam tidurnya, diwaktu yang bersamaan pula ketika ingin pergi akhirnya Ansel dan Rendra saling bertemu ditempat yang sama.


"Ck! Kau sama sekali tidak menyerah, bagaimana jika ayahnya tahu tentang ini?" ujar Ansel yang terlihat tidak senang.


"Apa kau yang menggigit lehernya?" tanya Rendra penuh penekanan.


"Kalau ya memang kenapa? Aku berhak karena dia terikat kontrak denganku, bukan hanya kau yang bisa menggunakan kata 'istriku' tapi aku juga bisa, karena dia.. istriku" jelasnya dengan santai.


"Kau!"


Rendra segera mencekik lehernya karena sudah berani mengatakan kata-kata yang hanya untuk dirinya.


"Aarghh.. kau berani sekali.. ini UKS bodoh!" gerutu Ansel.


"Rendra! Lepaskan Ansel! dia bisa mati!" teriak seseorang dari belakangnya.


Ekspresi Olivia yang sangat marah dengan tangan menggepal melihat Rendra hampir membunuh orang membuatnya teringat jika ibunya adalah seorang pembunuh.


"Lepas! Dia bisa mati terbunuh olehmu! Jangan sampai.. dia jadi mati karenamu sama seperti ibuku mati karena ibumu" ucapnya lalu memapah Ansel keluar dari UKS.

__ADS_1


Menyadari apa yang baru saja ia lakukan seketika membuatnya menyesal karena perbuatannya tadi akan memicu masalah baru lagi diantara mereka.


Olivia... maafkan aku.. aku menyesal. batin Rendra.


__ADS_2