
Markas Rahasia.
Setelah mengetahui bahwa rencananya gagal lagi untuk mendapatkan jantung Olivia, Angel tidak punya cara lain, selain harus menyebarkan pasukannya untuk mengalihkan perhatian keluarga Sagara, entah apakah niat buruknya kali ini akan berhasil atau tidak.
Ia juga tahu bahwa Leon sudah mati karena harimau peliharaan Kelvin, mati dengan mengenaskan dan hanya bisa menyaksikan tulang belulang saudaranya itu tanpa daging sedikitpun.
"Keluarga Sagara! Mereka sudah membunuh Leon dengan kejam! Hanya seekor harimau saja dia tidak bisa mengalahkannya" kesalnya karena rencananya gagal lagi.
"Tapi nona rumornya memang benar, harimau yang di pelihara oleh tuan Kelvin sangat kuat apalagi dia juga terlatih" jawab salah satu pasukannya.
"Berhadapan dengan Kelvin memang menakutkan, auranya saja sudah seperti pembunuh" gerutunya.
"Menurut informasi yang saya dapat, tuan Sagara memang sengaja mewariskan senjata untuk anak-anaknya, hanya saja yang belum diketahui putri white dia belum memiliki senjata" jelasnya.
"Dia sangat lemah, mana mungkin bisa mendapatkan senjata warisan turun-temurun dari keluarga Sagara, aku ingin kalian menyebar ke kastil kediaman Sagara! Hancurkan kastil mereka!" perintahnya.
"Baik nona" ucap mereka.
Mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh raja vampir itu, ketika tahu jika vampir dari klan timur menyusup kedalam kediaman Saga. batin Angel.
Dendamnya kepada dua keluarga itu semakin memanas, awalnya hanya memiliki dendam pada satu keluarga namun setelah saudaranya mati digerogoti oleh harimau peliharaan Kelvin, sekarang dendamnya mengarah kepada keluarga Sagara & Xendrick.
***********
Asrama Kediaman Saga.
Olivia bangkit dari tidurnya dengan nafas terengah-engah karena ia memimpikan sesuatu entah itu buruk atau indah, tapi ada yang aneh disini, bulu serigala bertebaran dimana-mana, seperti meninggalkan jejaknya.
"Hhuuhh.. hhuuhh.. Tadi siapa? Dia menciumku?" ujar Olivia yang masih mencerna mimpinya.
Begitu melihat sekelilingnya yang sudah dipenuhi oleh bulu-bulu ia hanya bisa membulatkan matanya, tidak percaya jika serigala itu berani masuk kedalam kamarnya, apalagi disaat K2 dan ayahnya tidak ada.
"What!? Ini.. bulu sergala? Apa dia? Bukankah sebelumnya aku bertemu dengan serigala itu?" gumamnya.
Sesegera mungkin Olivia membersihkan bulu-bulu yang bertebaran, agar K2 dan ayahnya tidak mengetahui jika ada serigala yang masuk kedalam kamarnya.
"OLIVIA WHITE!!" teriakan yang sangat nyaring ditelinga Olivia.
"Rubah tua itu selalu saja!" gumamnya.
Dengan terburu-buru Olivia segera menghampiri sanga ayah yang sepertinya sedang murka tanpa ada sebabnya, bukan hanya ayahnya tapi juga K2, tatapan mereka yang tajam membuatnya tidak bisa bersembunyi lagi.
"Ada apa ayah?" tanya Olivia.
"Jelaskan! Bulu serigala dari mana ini? Dan lagi.. kau memiliki dua gigitan di lehermu" pertanyaan ayahnya langsung membuatnya merinding.
"Dua gigitan? Ayah jangan bercanda" jawab Olivia yang tidak tahu apa-apa.
"Kelvin, tunjukkan padanya!" perintahnya.
"Baik ayah, White kau bisa lihat sendiri" ujar Kelvin sambil memberikan cermin padanya.
Ketika melihatnya sendiri Olivia tidak bisa berkata-kata lagi, kanan kiri lehernya sudah ada dua gigitan yang satu bekas gigitan Rendra dan yang satunya adalah gigitan serigala.
"Dan kalung itu! Apa kau benar-benar terikat kontrak pernikahan dengan pangeran vampir? Apa kau lupa bagaimana ibunya membunuh ibumu?" jelasnya membuat Olivia membeku.
"Bukan hanya vampir ternyata, tetapi serigala.. kau benar-benar sudah membohongiku White!" lanjutnya.
Merasa bersalah, Olivia langsung bersujud didepan ayahnya dan meminta maaf karena telah membohonginya selama ini.
"Ayah! Aku minta maaf, aku pantas mati ayah" ujar Olivia yang masih bersujud.
Vernon adalah ayah yang sangat baik dan penyayang, tidak mungkin dia akan membunuh darah dagingnya sendiri, walaupun Olivia telah membohonginya namun Vernon masih bisa memaafkannya.
"Bangun White, ayah tidak akan membunuhmu maupun kebohongan yang besar pun aku tidak akan pernah membunuh darah dagingku sendiri" jelasnya lalu berjongkok.
__ADS_1
Terharu dengan kata-kata sang ayah Olivia memeluk tubuhnya, selama ini ia sudah mencoba untuk lari dari kastil dan melakukan kesalahan yang sangat fatal, tapi ayahnya tidak sekalipun menghukum putrinya.
"Ayah maafkan aku, karena telah merahasiakannya darimu hiks.. hiks.." tangisnya terisak.
"Tidak apa-apa, ayah tahu kau melakukan ini agar aku tidak marah padamu, tapi kau harus memilih diantara mereka" ujar ayahnya lalu melepaskan pelukannya.
"Aku tidak tahu, aku bimbang bahkan tidak memahami keduanya" jawab Olivia dengan pelan.
"Apa kau yakin tidak ingin dua duanya saja?" ucap Kenzo.
"Kak! Tahu ah!" kesal Olivia.
"Ayah juga sama sepertimu dulu" ujar Vernon yang bangkit dari jongkoknya.
"Ayah juga?" tanya Olivia.
"Dulu sebelum aku menikahi ibumu, aku terikat kontrak pernikahan dengan Lyn ibu kandung K2 setelah itu kakekmu menyuruhku menikah dengannya, setelah dia melahirkan dua orang bayi sikapnya berubah seperti tidak menginginkan anaknya" jelasnya tanpa dijeda oleh ketiga anaknya.
"Sayang sekali, padahal.. dia sudah berbuat tapi tidak ingin mengurus Kak K2" jawabnya sambil melirik kedua kakaknya.
"Tidak masalah, kami sudah merasa cukup disayangi oleh ayah" ucap Kelvin dengan narsis.
"Tapi untungnya aku bertemu dengan ibumu.. Sonya White, manusia yang tersesat didalam hutan sendirian lalu aku membawanya ke kediaman Sagara, pertama kali melihat K2 Sonya sangat antusias untuk menjaga mereka, K2 awalnya tidak mau dekat-dekat dengan ibumu tapi setelah kau lahir mereka malah ingin melindungimu dan ibumu" jelas Vernon.
"Eekhem.. jadi kalian mendekatiku ya" jawab Olivia sambil mengintimidasi keduanya.
K2 segera mengalihkan pandangannya kearah lain, karena merasa malu mengakuinya, bahwa memang dulu nya diantara Kenzo dan Kelvin bersaing untuk melindungi Olivia.
"Sudah! Masalah kau dan Rendra, masih sama cukup jauhi dia.. DIA TIDAK PANTAS UNTUKMU" ujarnya lalu pergi meninggalkan asrama.
"Untung aku dan Kenzo jomblo" gumam Kelvin.
"Kurasa tidak, pasti nanti diantara kalian ada yang mengejar seorang wanita yang pastinya sih.. manusia" jawab Olivia sambil tersenyum lebar.
**********
Kelas Sejarah.
Saat dikelas Olivia selalu mencuri pandang ke belakang untuk melihat apa yang dilakukan oleh Rendra, namun sayangnya hari ini dia tidak masuk kelas begitu juga dengan Ansel, yang selalu mengganggunya saat jam pelajaran tapi kini tidak.
Kenapa mereka berdua begitu kompak? Apa yang sebenarnya terjadi? batin Olivia.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Viona.
Begitu menyapa para murid lalu tersenyum membuat Olivia ingin terus melihat senyum diwajah Viona, senyumannya berbeda ketika melihatnya seakan-akan itu spesial untuknya.
'Pagi bu!'
"Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, ibu ingin memperkenalkan murid baru, silahkan perkenalkan dirimu" ujar Viona.
"Hai! Namaku Gavriel Florenza kalian bisa panggil aku Gavriel atau Loren, aku berharap kita bisa menjadi teman baik" tanya murid itu sangat cerewet.
"Kau sudah boleh duduk, di--" terpotong karena gavriel.
"Aku ingin duduk dekat dia!" menunjuk kearah Olivia.
"Baiklah, Kelvin bisa kau pindah ke belakangmu?" pinta Viona.
"Tapi--" langsung menurut karena Olivia menatapnya tajam.
"Baiklah" lanjutnya mengambil tasnya dan pindah ke belakangnya.
Gavriel Florenza dia adalah murid baru dikelas sejarah terkenal dengan suara emasnya yang sangat cempreng dan juga sikapnya yang kekanak-kanakan, dia juga gadis yang cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Baru saja duduk Gavriel sudah menjulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Hai, namaku Gavriel, siapa namamu?" tanya Gavriel lalu menjulurkan tangannya.
"Olivia White" jawabnya sambil berjabat tangan dengan Gavriel.
Sejak dikelas sampai istirahat mereka selalu berdua, dari kantin sampai ke perpustakaan bahkan mereka belajar bersama di taman sekolah, tetap sama masih diikuti oleh K2 walaupun Olivia sudah menolak karena hanya ingin berdua dengan Gavriel.
Taman Sekolah.
Ini pertama kalinya Olivia memiliki teman perempuan yang mempunyai sifat periang, cerewet dan cempreng namun ia senang akhirnya ada yang bisa menghiburnya dengan tingkah Gavriel.
"Kau banyak sekali mempelajari tentang vampir, apa kau bisa mengajariku?" tanya Gavriel.
"Sungguh? Ini hanya tinggal mencatatnya saja, coba kau sebutkan aku yang akan mencatatnya" jawab Olivia masih fokus membaca bukunya.
"Kau kutu buku ya ternyata haha" ujar Gavriel.
"Tidak begitu kok, cepat sebutkan" ucap Olivia.
"Vampir mempunyai taring yang sangat tajam, dan bisa menusuk sampai ke pembuluh dara--" terpotong karena Olivia merasa terpaling oleh sesuatu.
"Stop" ujar Olivia.
Aarrgghh.. panas ini membakar kulitku. isi hati Rendra
Belum selesai Gavriel menjelaskannya tiba-tiba ia menghentikan penjelasan Gavriel sejenak, ia seperti mendengar isi hati Rendra yang tidak jauh dari aera sekolah.
"Kau kenapa?" tanya Gavriel.
"Kak! Ajari dia dulu, aku ingin memastikan sesuatu" perintahnya lalu pergi meninggalkan taman sekolah.
"Kenapa aku? Heh" gumam Kelvin.
"OMG! Kau pikir aku mau diajari denganmu? Tidak akan! Hmph" Gavriel dengan suara cemprengnya.
"Kau membuat telingaku sakit" ucap Kelvin.
"Terserahku" jawab Gavriel.
Namun entah kenapa Kelvin merasakan sesuatu yang aneh dari gadis dengan suara cemprengnya itu, membuatnya ingin mencari tahu tentang Gavriel.
Hilang martabatku sebagai vampir. batin Kelvin.
*************
Dibelakang Sekolah.
Benar saja Rendra yang sedang kepanasan karena sinar matahari yang mencoba membakarnya, Olivia segera melepaskan blazer miliknya untuk menutupi sinar matahari yang menyinari tubuhnya.
"Rendra!" berlari kearah Rendra.
"Kau.. kenapa?" lanjutnya yang sedang menutupi Rendra dari sinar matahari.
"Kau melindungiku?" tanya Rendra.
"Kau hampir ini hampir melepuh bagaimana aku tidak melindungimu, dasar bodoh!" makinya.
Rendra hanya tersenyum melihat tingkah Olivia yang khawatir dengannya, ia merasa tenang sekarang jika ada seseorang yang menutupi sinar matahari untuknya.
"Hei! Kau menyukaiku?" tanya Rendra.
Aku...
Lalu ia teringat lagi dengan kata-kata ayahnya tadi, ini membuatnya bimbang antara menyukai dan membencinya.
"Aku membencimu"
__ADS_1