
Kastil Kediaman Olivia.
Kenzo dan Kelvin atau yang sering dijuluki K2 kembali ke kastil untuk melaporkan kejadian dihutan tadi, tak lupa mereka juga memberitahu bahwa disekolah mereka ada orang yang mirip sekali dengan Sonya White mendiang istrinya.
"Kenapa kalian kembali?" tanya Vernon yang menatap kedua anaknya dengan datar.
"Kami ingin melapor sesuatu" jawab Kenzo.
"Ada apa? Apakah.. ada masalah?" ujar Vernon dengan berantusias.
"Tadi dihutan White hampir dikepung oleh para vampir, juga serigala yang muncul dan melindunginya dari kepungan vampir" jelas Kenzo.
"Yang dikatakan Kenzo benar ayah, sampai White terluka karena jebakan mereka" serunya.
"Berani sekali mereka mengepung putriku! Siapa para vampir itu? Dan serigala yang menolongnya dari klan mana dia?" ucap Vernon yang murka.
"Kami tidak tahu ayah jika soal vampir itu, tapi mengenai serigala yang menyelamatkannya sepertinya dia juga tahu jika White adalah calon ratu vampir" jelas Kelvin.
"Sepertinya ini ulah bangsa vampir dari klan timur, pasti dia yang mengutus vampir vampir itu untuk menjebak Sen" ujar Vernon sangat kesal.
"Bagaimana ayah tahu?" tanya Kelvin yang penasaran.
"Siapa lagi jika bukan dia, hanya dia yang menginginkan putriku mati, sejak awal peperangan pun mereka mengincar White" jelas Vernon yang menggepalkan tangannya.
"Kami mengerti ayah" jawab keduanya.
Bagaimana tidak murka? Vernon yang sangat menyayangi putrinya bahkan seluruh tahta kerajaan rela diberikan kepada putri kesayangannya itu. K2 saja tidak berani menentangnya sekali mereka melakukan kesalahan maka bayarannya adalah nyawa.
"Ini yang paling penting ayah, ada seorang wanita yang mirip sekali dengan ibunda ratu" Vernon yang langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar perkataan Kenzo.
"Siapa dia? Apa White sudah bertemu dengan wanita itu?" tanyanya.
"Bahkan mereka sekarang dekat sekali, namanya Viona Rossler dia adalah guru dikelas kami, saat ini White sedang bersamanya" ucap Kelvin.
"Aku harus menyusun rencana, bagaimana cara mendekati wanita yang mirip sekali dengan Sonya" ujarnya.
Akhirnya Vernon memutuskan untuk pergi ke dunia manusia untuk menjaga putrinya dan mencari tahu tentang wanita yang bernama Viona Rossler.
********
Tempat Perkemahan.
Rendra yang tahu bahwa Olivia susah untuk menelan makanannya tanpa darah, dirinya pun bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Olivia untuk memberikannya sebotol darah.
"Minumlah, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku karena.. kau tadi pagi sudah memberikanku air" ujarnya lalu menjulurkan sebotol darah.
"Baiklah, ini aku terima" jawab Olivia.
Sebelum kembali ke tempatnya Rendra sempat mengacak-acak rambut wanitanya lalu kembali duduk didepan tendanya, Olivia membeku dan hanya membulatkan matanya.
Olivia meminum darah yang diberikan Rendra sampai habis, sekarang dirinya bisa bernafas lega karena tenggorokannya sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
"Bagaimana sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Viona yang panik.
"Sudah tidak apa apa kok, baiklah sekarang aku akan menghabiskan makanan yang dimasak bu Vio" melihat Olivia yang tersenyum membuatnya ingin sekali memeluk gadis yang ada didepannya.
"Makanlah sampai habis nambah pun tidak masalah" ucapnya sambil menatap Olivia.
Kasihan sekali gadis ini pasti dia sedang merindukan ibunya. batin Viona.
Malam semakin larut api unggun yang masih menyala dan suasana kehangatan ditengah perkemahan membuat kepala sekolah mempunyai ide untuk menyuruh salah satu muridnya bernyanyi sebelum mengakhiri malam ini.
"Anak-anak sebelum mengakhiri malam ini, siapa yang ingin menyumbangkan suara?" ujar pak kepala sekolah.
Rendra mengangkat tangannya dan maju kedepan tepat didekat api unggun.
"Rendra, silahkan ingin menyanyikan lagu apa?" lanjutnya.
"Ini lagu spesial untuk seseorang, judulnya Jika Engkau"
Rendra memainkan yang memainkan gitarnya Olivia yang terpanah dengan nyanyiannya.
"Apa yang telah terjadi yang telah membuat kau tak mengerti maaf ku tak sadari hingga membuat kau ingin pergi... Saat ku tak bicara, berjuta kata yang ku ungkapan walau kau tak merasa, cinta yang ada begitu nyata"
Ini.. seperti ungkapan cinta kah? tidak bagaimana mungkin!?
"Ku ingin engkau tahu... berartinya dirimu ku tak inginkan kau ragu, aku kan bertahan dalam hidupmu jika engkau pergi hilang dariku meninggalkan mimpi dalam tidurku, bersamamu... dan tanpamu"
--PROOKK PROOKK--
'ciiee untuk siapa ya kira-kira?'
__ADS_1
'beruntung sekali gadis itu'
Terlihat Ansel tidak senang dengan nyanyian yang di nyanyikan Rendra, yap benar saja Ansel juga tidak mau kalah dan dengan percaya dirinya menyumbang suaranya.
"Aku juga akan menyumbangkan suaraku, ini lagu ku persembahkan khusus untuk Olivia White!"
Ansel pun tidak mau kalah dengan Rendra, segera ia merebut gitar itu dari tangannya.
"Percaya padaku ini bukan nafsuku perasaan yang utuh dari dalam hatiku.. percaya kataku ini bukan akalku keinginan yang tulus tuk dapatkan hatimu.. ini cinta... bukan yang lainnya.. ini cinta... bukan yang lainnya"
--DEG--
Nyanyian Ansel seperti pengakuan cinta untuknya, Olivia hanya tersenyum tipis melihat Ansel bernyanyi.
Dua-duanya saling menyanyikan lagu, yang satu tidak tahu untuk siapa dan yang satu lagi sudah jelas untuknya, sekarang pikirannya dipenuhi oleh tanda tanya tapi jelas Olivia sudah mengetahui bahwa mereka sedang bersaing.
'olivia beruntung sekali dia dinyanyikan oleh Noah'
'romantisnya'
"Tatap jelas mataku... jangan ragukan itu lihat dalam mataku ooh kau lah lamunan itu ini cinta... bukan yang lainnya... ini cinta.. bukan yang lainnya"
Mata Ansel masih terfokus pada Olivia saat ini.
"Dua-duanya mempunyai bakat yang sama ya, bapak bangga dengan kalian" puji kepala sekolah.
"Sudah jelas pak kepala sekolah apalagi jika mereka menjadi penyanyi pasti banyak penggemarnya, Olivia bagaimana nyanyian Ansel? Itu untukmu lho" seru Viona.
"Menurutku.. keduanya sama sama berbakat, ya betul sekali" gugup Olivia.
"Yasudah sekarang mari kita akhiri malam ini, semuanya masuk ke tenda masing-masing" ujar kepala sekolah.
Saat Rendra ingin menggapai tangan Olivia yang masih menatapnya namun sayangnya Ansel menariknya untuk kembali ke tenda.
"Eh ayo kita masuk ke tenda, ini sudah malam kau tidak ingin kan dimakan oleh serigala" ucapan Ansel mengingatkannya pada serigala yang menyelamatkannya dari kepungan vampir.
Serigala? Oh ya, dia siapa? Mengapa menolongku? batin Olivia bertanya-tanya.
"Olivia kau masih di sana? Masuklah ini sudah malam" panggil Viona yang menyadarkannya dari lamunan.
"Baiklah" ucapnya.
"Apa kau susah untuk tidur?" tanyanya.
"Jelas sekali kah?" jawab Olivia.
"Ya kelihatan sekali, bagaimana jika aku membantumu? Siapa tahu kau bisa tertidur" ucapnya Olivia langsung setuju dengan sarannya.
"Boleh" jawab Olivia.
Mereka pun berbaring dan Olivia siap untuk menjadi pendengar yang baik untuk Viona.
"Aku akan ceritakan bagaimana kehidupanku sebelum bercerai dengan suamiku" Olivia yang masih mendengarnya tanpa jeda.
"Ibuku menikahkan aku dengan pria pilihannya karena urusan bisnis, sejujurnya aku tidak ingin menikah dengan pilihan ibu tapi mau bagaimana lagi aku tidak punya selain bilang 'ya aku setuju' namun pada saat dimalam pernikahan... Suamiku membawa pulang wanita lain dan melakukan hubungan intim dengannya" jelasnya.
"Maaf aku menjeda, bu Viona apa suami ibu tidak mencintaimu? Apa kalian hanya sebatas bisnis?" tanya Olivia.
"Ya begitulah, aku langsung mengajukan cerai tapi ibuku tidak setuju dan bilang 'jika aku bercerai maka aku akan diusir dari keluarga Rossler' dan aku lebih memilih untuk cerai daripada harus bertahan. Aku juga berusaha dari bawah lagi memulai karirku dengan menjadi guru di high school college" sekarang Olivia tahu bagaimana kehidupannya sebelum menjadi guru.
"Kuat sekali dirimu, seperti ayahku dia masih setia dengan ibu walaupun entah dimana ibuku sekarang. Tapi aku yakin suatu saat nanti bisa mempersatukan kembali mereka" ucap Olivia yang percaya diri.
"Haha, benarkah begitu? Ayahmu sepertiku? Apa kau anak satu-satunya?" kini Viona yang bertanya.
"Tidak, aku anak terakhir aku juga punya dua kakak laki-laki yang selalu menjagaku bahkan sampai saat ini mereka tidak pernah menyakitiku, walaupun kami hanya beda ibu" jelas Olivia yang mengingat masa lalunya.
"Aku yakin kau pasti bisa menemukan ibumu, dia juga pasti sangat menyayangimu dan ayahmu" ucapnya sambil melirik Olivia yang sudah tertidur.
"Tidurlah anak baik.." lanjutnya lalu menyelimuti dirinya dan Olivia.
Tenda Rendra dan Ansel.
Terlelap dalam mimpi hingga mengigau tentang wanita yang diimpikannya, membuat Rendra tidak tahan berada didalam tenda.
"Kau harus hidup.. tidak boleh mati!" Ansel dengan mimpinya.
"Ck.. ternyata begini kelakuan manusia" ucap Rendra yang kesal.
Kebetulan Olivia juga sudah bangun sepagi ini, kira-kira pukul 5:00 sudah keluar dari tendanya dan berolahraga dengan mengitari tenda.
"Ternyata seorang putri bangsawan suka berolahraga juga?" ujar Rendra.
__ADS_1
Saat itu juga langkah kakinya terhenti sejenak lalu menghampiri Rendra sambil berlari mundur.
"Ternyata kau? Kenapa bisa disini sepagi ini, kau sendiri sedang apa?" tanya Olivia.
"Kau tidak perlu tahu, dan satu lagi. Aku sudah pernah bilang padamu jangan menguncir rambutmu apalagi ditempat yang terbuka seperti hutan" jelasnya.
"Baik" santai Olivia yang melanjutkan aktivitasnya.
Rendra yang geram dengan jawaban Olivia tidak tanggung-tanggung untuk menarik rambutnya, saat itu juga mereka berdua jatuh ke tanah dengan posisi bersampingan.
--BRUUKK--
Ini situasi apa lagi?. batin Olivia.
Segera membalikkan tubuhnya menghadap Olivia dan memiringkan kepalanya yang bersandar di telapak tangannya.
"Bagaimana nyanyianku semalam?" tanyanya.
"Lumayanlah, enak didengar" jawab Olivia.
"Bisakah kau menyingkir dariku?" Olivia yang merasa tidak nyaman.
"Tidak mau" Rendra malah menyubit pipinya.
"Aauw! Sakit!" dengan kesal Olivia memukul tangannya.
Ketika Olivia ingin bangkit dari baringannya, Rendra malah menarik tangannya sehingga membuat jarak diantara dua sejoli itu sangat dekat.
"Apa kau lupa? Kita ini suami istri, aku suamimu dan kau.. istriku" ucapnya dengan lembut.
"Sejak.. kapan?" gugup Olivia.
"Sejak kalung takdir ini melingkari lehermu, dan.. bekas gigitanku" bisiknya.
Ansel yang ada di sana juga menyaksikan mereka berdua sudah sedekat ini pagi-pagi dan juga mendengar pembicaraan mereka, membuatnya muak dengan Rendra.
"Kalung ini? Apa benar ini tidak bisa dilepas?" tanya Olivia dengan menatapnya.
"Tidak, kecuali... kau mati atau menikah dengan bangsa serigala barulah kalung ini akan terlepas" jelasnya.
Tidak sengaja mendengarnya Ansel sekarang tahu bahwa Rendra bukanlah manusia, tidak menyangka bahwa dirinya sedang bersaing dengan pangeran vampir.
"Minggir!" Olivia yang sebal dengannya langsung pergi meninggalkannya.
Rendra hanya tersenyum puas melihat ekspresi wajah menggemaskan Olivia.
Dengan cepat Ansel langsung menghampirinya, tidak perlu basa-basi Ansel langsung pada intinya.
"Ternyata aku sedang bersaing dengan... pangeran vampir, menarik sekali" ujar Ansel yang baru datang.
"Oh? Ternyata kau menguping, berani sekali kau" saat ini mereka sedang dalam percakapan yang santai namun tetap bersaing.
"Baiklah karena aku tidak suka berbasa-basi aku langsung pada intinya, aku ini... manusia biasa yang bersaing dengan.. pangeran vampir" ujarnya seperti sedang bermain-main.
"Apa kau bukan manusia?" tanya Rendra tatapan matanya seolah-olah mengintimidasi.
"Bodoh, jelas sekali aku ini manusia" kesal Ansel seperti tidak senang ketika mendengarnya.
"Tapi walaupun sainganku ini bukan manusia, aku masih akan tetap mengejarnya" lanjutnya lalu menepuk pundak Rendra.
Sekarang hanya Rendra sendirian, dirinya sedang berdiam dan berusaha mencerna perkataan Ansel tadi.
Apakah aku yang kalah kali ini? Tidak bisa! dia tidak boleh merebut Olivia dariku. batin Rendra.
******
Ditempat Lain.
Olivia yang mencari kedua kakak beradik K2 namun sayangnya mereka tidak ada di tendanya, lalu Olivia memberanikan diri untuk mencari mereka ke hutan.
Benar saja mereka berdua ternyata ada dihutan, ingin menghampiri mereka namun langkahnya terhenti karena melihat Kelvin yang sedang menikmati lengan Kenzo dengan rakus.
"...cepatlah sedikit nanti ada yang lihat" ujar Kenzo yang membiatkan lengannya digigit oleh saudaranya.
"Sabar, aku masih haus masih ada bagian leher yang belum kuhisap" jawab Kelvin sambil menikmati darah di lengannya.
Mereka benar-benar membuatku dalam masalah, bagaimana jika ada orang yang melihat kelakuan K2? batin Olivia.
"Hei! Kalian benar-benar tidak tahu malu!" teriak seseorang dari belakang.
Sontak K2 terkejut dengan teriakan seseorang itu, Kelvin yang menghentikan aktivitasnya dan langsung membulatkan matanya begitu juga dengan Kenzo diam sambil menggerakkan matanya ke kanan-kiri membuatnya panik seketika.
__ADS_1