
Apa mereka tahu tentang ini? Apa itu artinya darah mereka akan beradu? batin Olivia.
Olivia memberi kode pada Ansel untuk membawanya keluar dari kelas, namun Ansel hanya memiringkan kepalanya sambil menaikkan alisnya.
Bawa aku keluar kelas, cepat! batin Olivia.
"Sudah sudah! Olivia jika kau kurang sehat silahkan istirahat ke UKS" ujar Viona.
"Baik bu" Olivia berjalan keluar kelas.
Sampai diluar kelas Olivia berhenti untuk berbalik, lalu memasang senyum meledek kepada Ansel tapi disisi lain Rendra juga menatapnya dengan tatapan nakal, ia hanya bisa melongo melihat mereka berdua bereaksi.
Kalian berdua gila! batin Olivia.
Olivia benar-benar pergi meninggalkan kelas karena ia sangat malu untuk menampakkan diri, apalagi sudah teriak begitu kencang tidak ada bedanya dengan Gavriel.
********
Kantin Sekolah.
Masih memikirkan khayalannya tadi Olivia begitu kesal ketika mengingat bagaimana mereka berdua saling menggigit dirinya, tapi yang belum ia tahu siapa serigala itu sebenarnya? Yang selalu membuatnya bertanya-tanya.
Melampiaskan kekesalannya pada makanan pedas sampai tidak kira-kira menuangkan sambalnya ke makanan yang ia makan saat ini.
"Mereka berdua gila! hhuuhh.. tidak tahu bagaimana cara menghadapi mereka.. hhhuuhh nanti" ujar Olivia yang sedang kepedasan.
Seseorang menyodorkan minuman pada Olivia, setelah ia mendongakkan kepalanya ternyata Angel yang memberikannya minuman.
"Kau pasti kepedasan kan? Ambil" ucap Angel segera duduk didepannya.
"Terimakasih" jawab Olivia.
Saat Olivia meminumnya ia sadar bahwa minuman yang diberikan Angel bukan air putih melainkan darah.
"Kau memberikan aku darah? Kau--" terpotong.
"Aku tahu kau tidak bisa makan makanan manusia tanpa darah" Angel meninggikan suaranya.
Hampir saja semua murid di kantin mendengarnya, jika mereka tahu Olivia bukanlah manusia ia bisa dibakar hidup-hidup oleh murid-murid lainnya.
"Kau tahu identitasku?" jawab Olivia dengan pelan.
"Bukan hanya sekedar tahu, tapi.. aku tahu kau sebenarnya putri dari raja vampir" ucap Angel dengan senyuman tipisnya.
"Apa maumu? Jangan sampai kau membuat aku dan kakak kakakku terancam disini!" kesal Olivia.
"Baiklah, aku minta.. kau bunuh Kelvin dengan sangat kejam sama seperti dia membunuh Leon! jika kau tidak membunuhnya aku akan pastikan satu sekolah akan tahu identitasmu yang sebenarnya" ancamnya.
"Aku mengerti, tapi kau jangan berani membocorkan indentitasku dan kakak kakakku, kalau tidak kau yang akan mati" Olivia mengancam kembali.
"Deal!" keduanya saling berjabat tangan.
**********
Disisi Lain...
Tidak menyangka jika tatapan Olivia tadi akan berpengaruh terhadap dua orang yang sedang bersaing ini, bukan hanya itu Rendra tidak terima jika wanitanya semakin menjauh darinya maka Ansel juga tidak boleh dekat dengan Olivia.
"Kau yang membuatnya semakin kacau! Aarrgghh!!" ujarnya semakin tidak tahan jika harus melihat kedekatan mereka berdua.
"Apa? Aku juga punya hak! Karena Olivia istriku!!" jawab Ansel sambil menekankan suaranya.
"Tidak mungkin! Jangan mengaku-ngaku kalau dia adalah milikmu!" ucapnya semakin emosi.
"Kau tidak lihat? Bekas gigitanku di lehernya itu? Ya itu adalah ulahku" jawab Ansel.
--Paakkk--
Suara buku jatuh terdengar tidak jauh dari tempat mereka berkelahi, mereka berdua sama-sama mencari sumber suara itu namun ketika menoleh ke samping Ansel terkejut buku siapa yang jatuh tadi.
"Kau! Kau serigala itu? Kalian berdua.." ujarnya sambil menahan air mata.
--Plaakk--
--Pkaakk--
__ADS_1
Bukan hanya Ansel yang terkena tamparan melainkan Rendra juga terkena imbasnya, melihat betapa kecewanya Olivia saat mendengar jika serigala itu adalah teman sekelasnya sendiri.
"Sampai kapan mau membohongiku! Kalian berdua sama! yang satu tidak pernah mau berubah dan kau.. terus membohongiku.. hikss.." kesal Olivia.
"Aku bisa jelaskan ini kepadamu" Ansel berusaha meraih lengannya namun ia menarik kembali.
"Jawab pertanyaanku, apa kau yang menyelinap masuk ke kamarku? Jawab Ansel!" Olivia meninggikan suaranya.
Melirik Rendra sebentar akhirnya ia menjawabnya dengan jujur karena sudah ketahuan Ansel tidak bisa apa apa.
"Ya, aku yang selalu menyelinap.. aku menyukaimu" jawab Ansel.
"Bodoh! Setelah kebohongan yang aku tahu kau bilang, kau menyukaiku? Aku benci orang yang terus berbohong seperti dia!" ujarnya sambil melempar buku lalu pergi meninggalkan Rendra dan Ansel.
Rendra tertawa puas melihat bagaimana mereka sama-sama dibenci Olivia karena kebohongan mereka sendiri.
"Apa kau puas? Hah!?" ujar Ansel yang tiba-tiba menarik kerah baju Rendra.
"Jika aku tidak bisa berdekatan dengan Olivia, maka kau juga tidak boleh" jawabnya segera menepis tangan Ansel.
Mereka berdua dari awal bersaing untuk mendapatkan hati Olivia, tapi kini mereka berdua sama-sama berbohong dan membuat Olivia sangat muak karena kebohongan mereka berdua.
"Hei! Kalian kenapa?" tanya Olivia.
Ternyata itu hanyalah khayalan Ansel karena ia terlalu takut jika indentitasnya terbongkar dan membuat Olivia membencinya.
"Kok bengong? Kalian.. aneh deh" lanjutnya sambil mengerutkan alisnya.
"Tidak kami tidak apa apa" seperti biasa keduanya selalu kompak sebagai saingan.
Seketika keduanya ingin sama-sama memeluk Olivia, namun mereka melirik satu sama lain dengan tatapan tajam seolah memberi isyarat agar salah satu dari mereka mengalah.
"Apa lagi ini?" Olivia yang terkejut.
"Kau pilih siapa?" tanya Keduanya membuat Olivia melirik mereka.
"Pilih... Kenzo" santainya Olivia menjawab.
Keduanya sekarang melepaskan tangan mereka dari lengan Olivia, mereka paling tidak bisa bersaing dengan Kenzo karena bagi mereka berdua Kenzo adalah saingan yang tidak bisa dihadapi.
"Silahkan berbicara" ucap Rendra lalu meninggalkan mereka berdua.
Ansel menghela nafasnya sebelum berbicara yang sebenarnya karena ia tidak mau terus menerus berbohong, jika Ansel terus berbohong itu akan membuat Olivia menjadi benci padanya.
"Katakanlah" ucap Olivia.
"Kau lihat ini" ujar Ansel kemudian berjongkok.
Olivia bingung melihat Ansel yang berjongkok seperti ini, namun ketika Ansel merubah wujudnya menjadi serigala ia langsung membulatkan matanya.
"Serigala... jadi.. kau?" ucapnya yang tidak percaya.
"Ya, ini aku.. Ansel Anderson, manusia serigala" jawab Ansel dengan wujud serigalanya.
"Apa bekas gigitan di leherku kau juga?" tanya Olivia.
"Itu.. memang benar, bulu-bulu yang sering bertebaran aku juga" jawab Ansel.
Sekarang Olivia tahu siapa serigala yang sering menyelinap ke kamarnya saat malam hari, dan bulu-bulu yang bertebaran di ranjangnya serta gigitan di lehernya karena Ansel.
Flashback.
Malam itu Ansel yang tidak bisa merubah dirinya sebagai manusia kembali terpaksa harus memakai cara ini untuk merubahnya kembali ke wujud manusia.
Ansel menyelinap masuk ke kamar Olivia dan naik ke ranjangnya setelah itu ia berbaring sambil memeluk gadis yang ada disampingnya sedang tertidur pulas.
"Maafkan aku, aku terpaksa.. aku bukan ingin memanfaatkan kesempatan" bisiknya lalu memeluk tubuh Olivia karena baginya hangat rasanya.
2 jam kemudian wujudnya sudah kembali normal seperti manusia, hanya saja Ansel tidak memakai sehelai benang pun dan posisinya masih sama mendekap erat tubuh Olivia. Sekitar pukul 3.00 Ansel terbangun dengan wajah yang terkejut bagaimana tidak terkejut, jika dirinya saja tidak menggunakan sehelai apapun.
"Haduh bagaimana ini? Aku tidak melakukan apapun kan? Tapi.. lehernya itu membuatku ingin darahnya" kemudian ia memunculkan taring runcingnya lalu menggigit leher Olivia layaknya serigala kelaparan.
"Ugh!.. Siapa ini" Olivia bersuara pelan.
"Sshh.. Ini tidak akan lama" ucapnya lalu melanjutkan lagi aktivitasnya di leher Olivia.
__ADS_1
Setelah selesai menggigitnya dengan hati-hati Ansel mulai mencari pakaian pria dilemari milik Olivia, namun sayangnya tidak sada satupun pakaian pria terpaksa ia harus menggunakan pakaian wanita daripada tidak memakai pakaian.
"Benar-benar memalukan, hancur reputasiku sebagai pangeran serigala" gumamnya merasa malu pada diri sendiri.
Flashback Off .
Memalukan sekali jika Olivia tahu. batin Ansel.
"Apa kau tidak takut denganku?" tanyanya dengan serius.
"Aku memang tidak takut dengan serigala tapi.. kali ini berbeda" perlahan Olivia menjauh dari Ansel.
Ansel merubah kembali wujudnya menjadi manusia agar Olivia tidak merasa terancam jika berada didekatnya saat ia berubah menjadi serigala.
"Maaf, aku bisa jelaskan tapi tolong.. jangan membenciku" ujarnya yang berusaha menarik lengan Olivia.
"Jika aku berubah menjadi serigala setengah vampir bagaimana? Darahmu dan Rendra ada di tubuhku, aku takut saat bulan purnama nanti dua darah itu akan saling beradu" jelasnya membuat Ansel merasa bersalah.
"Hanya beradu bukan berarti kau berubah" jawabnya sambil mengusap kepala Olivia.
"Aku takut... aku takut keluargaku membenciku hikss.. hiks.." ujarnya sambil meneteskan air mata.
Ini yang Olivia takutkan dibenci oleh keluarga sendiri karena dirinya berubah menjadi vampir setengah serigala, ia takut K2 dan Ayah tidak menerimanya lagi di keluarga Sagara.
"Tidak benar, mereka pasti masih menerimamu kau ini anak kesayangan yang mulia Vernon dan adik kesayangannya K2.. jadi buang pikiranmu itu jauh-jauh okay?" ucapnya lalu segera menghapus air mata Olivia.
Dia menenangkanku? Ansel.. kenapa kau tidak katakan ini dari awal? batin Olivia.
"Apapun yang terjadi nanti, aku akan bertanggung jawab apapun itu yang kulakukan nanti kau tidak boleh menolak, mengerti?" lanjutnya.
"Aku mengerti" jawabnya sambil mengangguk.
"Sudah selesai kan? Ayo" ujarnya sambil menarik tangan Olivia namun yang ia salah menarik tangan.
"Rendra.. kau menarik tangan Ansel, pffftt!" Olivia yang menahan tawanya.
"Huh? Makaudku ayo White!" segera menghempaskan tangan Ansel lalu menarik tangan Olivia untuk meninggalkannya.
********
Lapangan Sekolah.
Sepanjang perjalanan mereka terus bergandengan tangan tanpa berbicara apapun, tapi saat Kelvin melihat jika mereka sedang bergandengan tangan ia segera memisahkan adiknya dari Rendra.
"Curi-curi kesempatan ya kau rupanya, White--" terpotong karena Gavriel muncul.
"Gunung es kenapa kau malah disini bantu aku cepat untuk membersihkan lapangan, White!" Kelvin dan Olivia terkejut saat Gavriel ikut memanggil namanya begitu.
"Gavriel apa kau kelelahan? Biarkan mereka yang mengurus lapangan, lebih baik kita makan di kantin" ujarnya segera menarik tangan Gavriel.
"Oh ide bagus, bye bye gunung es!" ucap Gavriel sambil melambaikan tangan.
Mereka berdua membiarkan Rendra dan Kelvin yang membersihkan lapangan, untuk membuat mereka akrab juga sih sebenarnya agar tidak ada perdebatan lagi diantara mereka, karena sekarang Olivia tahu siapa yang membuat keluarga Sagara dan Xendrick terpecah belah.
*********
Kantin Sekolah.
Dua orang sahabat itu saling bercerita satu sama lain Olivia juga mengatakan bahwa K2 adalah kakaknya, bukan hanya ia yang bercerita Gavriel juga bercerita tentang keluarganya.
"Jadi kau pindahan dari London? Sendirian ke kota A?" tanya Gavriel.
"Ya, sendirian" jawabnya berbohong.
"Mandiri sekali, aku iri denganmu" ujar Gavriel memanyunkan bibirnya.
"Apa sih biasa saja, oh ya kau kenapa tadi memanggilku begitu?" tanya Olivia.
"Ya, karena Kelvin sering memanggilmu begitu memangnya kenapa?" jawab Gavriel penasaran.
Kau tidak tahu nama itu tidak boleh sembarang disebut. batin Olivia.
White adalah nama panggilan yang sering disebut oleh K2, ayahnya, bangsa vampir dan bangsa serigala, artinya 'suci' hanya gadis suci yang mempunyai nama panggilan unik karena bentuk kehormatan bagi sang putri.
"Pokoknya... itu.. tidak boleh sembarang disebut" gugup Olivia ketika mengatakannya.
__ADS_1
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Gavriel sedikit mengintimidasi.