
"Aku.. membencimu" jawab Olivia dengan nada terpaksa.
Tatapan Rendra seakan tidak percaya, ia tahu bahwa Olivia sedang berbohong pada perasaannya sendiri dan tidak ingin mengakuinya.
Karena tidak ingin mengecewakan sang ayah, Olivia terpaksa berkata seperti itu agar Rendra menjauhinya.
"Tidak kau pasti sedang berbohong kan? Jika kau membenciku mengapa kau datang kemari untuk melindungiku dari sinar matahari?" mendengar itu Olivia hanya tertegun.
Bagaimana sekarang? Aku.. lakukan ini karena tidak ingin mengecewakan ayah. Batin Olivia.
"Aku tidak berbohong, ini benar kok aku--" Olivia tidak melanjutkan perkataannya.
Melihat tatapan sendu Rendra membuatnya sedikit khawatir oleh pria yang sedang ia tatap saat ini.
"Kemarin aku melihatmu dengan serigala itu berciuman, kau tidak tahu betapa kesalnya aku" kesalnya yang sedang cemburu.
Tidak menjawab sama sekali, Olivia hanya bingung oleh perkataan Rendra.
"Aku tidak mau jika bibirmu bersentuhan oleh pria lain atau serigala, bibirmu dan kau hanya milikku" lanjutnya sekarang ia memegang lengan Olivia.
Sekarang kebingungan menghantui isi pikirannya, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Rendra bersikap cemburu.
"Aku tidak bisa memahamimu, sikapmu selalu berubah-ubah kemarin mengakui jka kau diutus untuk mengambil jantungku, dan sekarang.. kau bersikap seperti ini kepadaku" jelas Olivia.
Rendra menarik tangan gadisnya untuk lebih dekat dengannya, sejenak ia memandang wajah Olivia.
"Aku berubah karenamu, aku tahu sikapku terlalu egois dan lagi.. aku hanya memikirkan perasaanku sendiri namun tidak denganmu, aku menyesal sekarang.. aku mengerti ibumu lebih penting dariku" ujarnya dengan pelan.
Matanya berkaca-kaca seakan-akan tidak ingin membahas ibunya, karena Olivia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya, ia menjauhkan tubuhnya dari Rendra.
"Jangan membuatku teringat pada ibuku, kau membuatku muak" jawab Olivia segera membalikkan tubuhnya.
"Maaf, akan ku perbaiki semuanya" mendengar itu Olivia hanya menggepalkan tangannya.
"Kau pikir bisa membuat ibuku kembali? Aku tahu yang sudah tiada tidak bisa dibangkitkan kembali, jangan membuatku tambah muak Rendra!!" Olivia sedikit meninggikan suaranya.
Sebelum ia pergi Olivia menutupi sinar matahari yang masih menyinari Rendra dengan blazernya.
"Lindungi dirimu dari sinar matahari" kemudian ia pergi meninggalkan Rendra yang masih berjongkok.
Ini semua karena ibu.. ibu yang menbuat jarak diantara aku dan Olivia menjadi sulit. batin Rendra.
*********
Taman Sekolah.
Baru saja kembali ke taman Olivia sudah disambut dengan suara emanya Gevriel yang menunggunya sedari tadi bersama K2, ia tahu bahwa mereka tidak suka dengan manusia tapi karena perintah darinya mereka tidak bisa berbuat apapun.
"OLIVIA WHITE!!" suara cempreng terdengar sampai ke telinga K2.
"Hei kaleng rombeng! Bisa tidak kecilkan suaramu sakit telingaku" kesal Kelvin.
__ADS_1
"Walaupun aku pakai aerphone tapi tetap saja masih terdengar suaranya" seru Kenzo.
"Kenapa sih? Ada apa?" tanya Olivia yang baru datang.
"Kelvin meledekku, masa dia mengataiku kaleng rombeng" jawab Gavriel sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku baru datang kalian sudah ribut, apa diantara kalian.." terpotong karena keduanya.
"Tidak!" jawab keduanya.
"Okay, okay, but i know (Tapi aku tahu)" sehabis mengatakan itu Olivia pergi tanpa pamit.
"Hei! Tunggu aku! Dasar gunung es! Kutub Utara!" ledeknya lalu menyusul Olivia pergi.
Kelvin merasa jika perkataan adiknya benar-benar menjadi kenyataan, buktinya sekarang ia dipertemukan dengan gadis yang sangat cerewet dan mempunyai suara emas.
"Apa kau tidak sadar?" tanya Kenzo.
"Apa?" jawabnya datar.
"Perkataan White, sepertinya benar kau akan menghadapi seorang gadis, dan suatu saat kau pasti mengejarnya" ucap Kenzo yang melepas earphonenya.
"Tidak ya, mana mungkin aku tertarik dengan manusia" jawabnya dengan santai.
"Sekarang kau bisa bilang begitu, tapi nanti tidak tahu akan seperti apa" setelah Kenzo menggoda saudaranya ia pergi meninggalkan taman.
*********
Kelas Sejarah.
Gavriel yang menyadari hal itu ia dengan sengaja langsung mendorong Olivia agar terjatuh dan ditangkap oleh Ansel.
--Greebb--
Benar saja Ansel segera menangkap tubuh Olivia yang akan terjatuh ke lantai, semua murid hanya bisa tertegun melihat mereka, namun lain halnya dengan Rendra ia hanya memutar bola matanya.
"Eekheem! Olive gimana rasanya jatuh terus kau ditangkap oleh pria tampan?" kini Gevriel bersuara.
Mereka berdua buru-buru saling mendorong satu sama lain, dan kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Maaf ya aku tidak sengaja tadi, hehehe" lanjutnya sambil cengengesan.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu" jawab Olivia.
Olivia melihat kearah Kelvin yang sedang gelisah karena sedari tadi ia ingin mengulurkan tangannya untuk menjahili gadis didepannya.
"Kau sebaiknya lihat ke belakangmu" ujar Olivia sambil menunjuk dengan menggunakan dagunya.
Menolehlah Gavriel ke belakang dan menendapati pria yang di belakangnya ingin menarik rambutnya, Olivia menutupi telinganya untuk siap-siap mendengar teriakan emas temannya itu.
"OMG GUNUNG ES!!" teriaknya semua orang yang ada dikelas segera menutup telinga mereka masing-masing.
__ADS_1
"Apa sih? Aku tidak melakukan apa apa? Berisik sekali kau" kesal Kelvin.
"Kau ingin menarik rambutku iya kan? Atau jangan-jangan kau menyukaiku?" tanyanya sambil mengintimidasi.
"Kau percaya diri sekali kaleng rombeng!" gerutu Kelvin.
"Dasar gunung es! menyebalkan bisa satu kelas dengannya" gumamnya.
"Kau pikir aku juga ingin satu kelas dengan kaleng rombeng sepertimu? Tidak!" oceh Kelvin.
Keributan diantara keduanya semakin memanas, bahkan suara Gevriel sampai terdengar keluar, Viona yang baru tiba dikelas segera menghentikan pertengkaran mereka.
"Stop! Kalian ini ya benar-benar mengganggu ketenangan murid lain, lihat tuh Olivia dia sampai terganggu" mendengar perkataan Viona ia langsung tersenyum lebar.
"Kalian berdua! Dihukum! Bersihkan lapangan sampai jam pulang sekolah nanti" lanjutnya.
Beban Olivia seketika hilang karena melihat keributan yang terjadi dikelas.
"Yang bersih ya... haha" Olivia tertawa terbahak-bahak.
Melihat adiknya sangat bahagia tertawa Kenzo hanya bisa tersenyum tipis, hanya karena keributan yang dibuat saudaranya bisa membuat adiknya tertawa lepas seperti ini.
"Apa kau sebahagia itu? Melihat Kelvin dihukum?" tanya Kenzo sekarang matanya menatap adiknya.
"Senang sekali, bahkan saat bu Viona membelaku tadi hehehe rasanya tidak menyangka" jawab Olivia.
"Baiklah, terus seperti ini" ujarnya sambil mengusap kepala adiknya.
Belajar tanpa Gevriel dan Kelvin rasanya tenang dan damai tidak ada suara cempreng dan tidak ada pengganggu.
"Kita mulai pelajaran hari ini, Olivia! Bisa kau jelaskan seperti apa hewan liar yang seringkali ada dihutan? Misalnya.. serigala" jelasnya.
Pelajaran ini membuat dirinya terjebak dalam situasi yang sulit, dengan terpaksa ia segera berdiri dari duduknya dan menjelaskannya.
"Manusia serigala (dikenal juga dengan likantrof atau likan) adalah sebuah mitos dari Eropa kuno berupa monster setengah manusia dan setengah serigala. Konon manusia serigala akan berubah pada saat bulan purnama tiba saat kekuatan mistiknya mencapai puncaknya. Dalam mitologi tersebut, manusia serigala senantiasa akan memburu manusia dan yang tergigit atau terkena cakarannya akan menjadi salah satu dari manusia serigala" jelas Olivia lalu teringat akan sesuatu.
Apa itu artinya... aku.. batin Olivia.
Olivia terhanyut dalam pikirannya sendiri, bahkan ia membayangkan bagaimana jika keduanya saling menggigit lehernya pada saat yang bersamaan, Rendra dengan taring vampirnya dan serigala itu dengan taring runcingnya.
"Jadilah gadis yang baik..." Rendra dengan taringnya menggigit lengannya.
Tidak bisa bersuara Olivia hanya bisa menahan apa yang ia rasakan saat ini.
"Anak baik harus jadi penurut.." manusia serigala itu mulai menggigit rakus leher Olivia.
Rendra sangat agresif menggigit lengan Olivia bahkan sampai berpindah ke lengan satunya, sedangkan manusia serigala itu dengan wujudnya yang seperti manusia sudah menggila bahkan rakus melahap leher Olivia.
"TIDAK MAU TIDAK MAU!!" teriak Olivia.
Teriakan Olivia membuat semua murid tertegun melihatnya, apalagi Rendra dan Ansel mereka seperti tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
__ADS_1
"Aku.. hanya... itu.." gugup Olivia.
Tanpa sadar Olivia melirik Rendra dan Ansel yang sedang menatapnya sambil mengerutkan dahi mereka, di situlah ia menyadari sesuatu.