
Ruang ICU.
Saat ini Olivia sudah tidak memiliki jantung namun ia masih tetap bisa bertahan walaupun tidak memiliki jantung bagaimana bisa? Jawabannya karena kalung takdir yang masih melingkari leher Olivia lagi lagi menyelamatkannya untuk yang kedua kalinya.
Masuk akal bukan? Yap, ternyata cahaya liontin dikalungnya selama ini adalah tanda darah yang berasal dari gabungan darah antara Rendra dan dirinya, gabungan darah itu akan mengumpal lalu membentuk seperti jantung.
Tanda darah itu masuk kedalam tubuhnya untuk mempertahankan hidup si pemilik walaupun hanya dalam waktu tiga hari, jika Olivia tidak menemukan pendonor jantung dalam waktu yang sudah ditentukan maka ia akan dinyatakan meninggal dunia.
"Detak jantung pasien sangat lemah, tapi tuan itu bilang gadis ini tidak memiliki jantung?"
"Sudah tidak ada waktu untuk berbicara, ambilkan aku alat pacu jantung"
"Baik"
Suster itu menyodorkan sebuah defibrilator atau alat pacu jantung untuk mengatasi irama jantung yang tidak beraturan, misalnya jantung berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat dengan ritme yang tidak biasa.
Alat ini akan mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantung untuk membantu merangsang agar detak jantung dan otot jantung kembali berfungsi dengan normal.
--tuutt.. tuutt.. tuutt..--
Terdengar suara dari EKG (Elektrokardiogram) yang sangat lambat, itu menunjukkan bahwa detak jantung Olivia sangat lemah dan kemungkinan tidak akan bertahan lama.
Dokter menempelkan defibrilator tepat di tengah dadanya satu kali percobaan masih tetap sama, namun setelah percobaan kedua tetap saja lambat tidak ada perubahan dari jantung Olivia, dokter itu menggelengkan lalu menatap kearah suster yang langsung mengangguk.
********
Disisi Lain...
Di luar ruangan ICU Ansel yang terus menundukkan kepalanya karena cemas dengan kondisi Olivia yang saat ini sedang ditangani oleh dokter.
Ansel akan menyesal seumur hidup jika Olivia benar-benar tidak bisa tertolong lagi, ia juga tidak akan memaafkan Rendra yang sudah membuatnya kehilangan nyawa.
--Kreekk--
Mendengar pintu terbuka Ansel segera menghampiri suster yang akan memberitahu kondisi Olivia.
"Suster bagaimana kondisinya?" tanyanya.
"Detak jantung pasien sangat lemah dia juga kehilangan banyak darah, sepertinya jantung Nona Olivia tidak akan bertahan lama"
"Maksudnya bagaimana? Jantung? Saya kan sudah bilang dia sudah tidak memiliki jantung"
Ansel masih bingung dengan apa yang dikatakan suster itu.
"Tapi tuan, jelas-jelas kami melihatnya sendiri detak jantung pasien masih berdetak walaupun lemah, apakah tuan keluarganya?"
"Saya... suaminya"
"Baiklah, selanjutnya kami akan meminta persetujuan dari keluarga pasien untuk melakukan operasi transplantasi jantung, tapi sebelum itu harus ada pendonor jantung yang tepat agar operasi tidak gagal" jelasnya.
Operasi? Jelas ia terkejut mendengar bahwa Olivia akan melakukan operasi transplantasi jantung, itu artinya Ansel harus memberitahu keluarga Sagara mereka juga berhak tahu bagaimana keadaan Olivia.
"Baik sus saya mengerti"
"Kalau begitu saya permisi"
Setelah membungkukkan tubuhnya suster itu pergi meninggalkannya.
Jantung? Bukankah Jantung Olivia sudah habis dimakan oleh Rendra? batin Ansel.
"Sekarang saatnya memberitahu keluarga Sagara"
Sebelum pergi ia mengintip Olivia dari celah pintu dan tersenyum tipis melihatnya yang masih tertidur tenang di hospital bed dengan alat bantu pernafasan.
*********
Ruang Rahasia Kediaman Xendrick.
Berulang kali Rendra memutar video rekaman CCTV tersebut dan melihat perbuatan keji yang dilakukan olehnya, melihat bagaimana Olivia meronta di CCTV itu semakin membuatnya menyesal dan lagi ia juga menampar pipinya dengan kasar.
__ADS_1
'Lepaskan aku... Aku mohon..'
'DIAM!! JANGAN MEMASANG WAJAH MENJIJIKKAN ITU!!'
Rendra terus memutar bagian itu karena merasa tidak percaya ia bisa mengatakan perkataan seperti itu apalagi kepada istrinya sendiri.
"Olivia... Aku benar-benar minta maaf, aku menyesal kalau kau mau aku berlutut dihadapan yang mulia raja akan aku lakukan.. untukmu"
"Untuk apa berlutut? Kau sudah melakukannya dengan benar"
Seseorang berbicara dari belakang ternyata ia adalah Angel utusan ibunya sendiri namun diam-diam mengkhianatinya.
"Kalau saja tadi bukan di sekolah aku pasti sudah membunuhmu"
Angel dan Ibunya sama sama tukang provokasi bahkan ia dengan bodohnya mudah terprovokasi oleh mereka.
"Seharusnya kau senang dia sudah tiada, bahkan jika bisa... aku akan menggantikan posisinya untuk memilikimu"
Tangannya mulai menyentuh bidang dada besar milik Rendra namun secepatnya ia menepis tangan gadis itu.
"Jangan sentuh aku dengan tangan menjijikanmu itu dan satu lagi, kau tidak bisa menggantikan posisi Olivia baik hatiku maupun tahta kerajaan"
"Vampir menyukai manusia bukankah melanggar aturan? Walaupun dia mewarisi darah ayahnya tapi itu masih jadi misteri belum sepenuhnya benar" jelasnya menbuat Rendra semakin kesal.
"Tidak peduli dengan aturan, uruslah urusanmu sendiri"
Rendra pergi meninggalkannya dengan membawa rekaman CCTV tadi.
Niat Angel bukanlah karena cinta atau menyukainya melainkan untuk mengadu domba Rendra dan Olivia, juga dengan keluarganya.
Ini permainan yang sesungguhnya. batin Angel.
***********
Ruang ICU.
Di manapun wanitanya berada di situ ada Rendra seakan-akan kalung takdir itu memanggilnya untuk menghampiri pemiliknya, menatap wajah Olivia dengan rasa bersalah ia semakin enggan untuk membayangkan apa yang sudah ia lakukan pada gadis yang ada di hadapannya itu.
Kini dahinya mengernyit heran karena menyadari detak jantung Olivia yang begitu lemah.
"Bukankah aku sudah... dimana tanda darah itu? Apakah itu jantung sementara? Tidak.. kau harus hidup, aku akan mencari donor jantung untukmu"
Walaupun Rendra berbicara sendiri tapi ia tahu Olivia sedang mendengarnya.
"Maafkan aku juga.. telah memberikanmu ingatan yang buruk" bisiknya di telinga Olivia.
Sebenarnya tidak rela untuk pergi dari sini namun apa boleh buat karena ia tahu nantinya akan ada keluarga Sagara yang menemaninya.
"Hei, Aku harus kembali, berjanjilah untuk tetap hidup mengerti?"
--Kriikk kriikk--
"Aku menganggap diammu itu 'ya' haha.. selamat beristirahat istriku" lanjutnya lalu mengecup dahi Olivia.
Segera setelah mengecupnya Rendra benar-benar pergi meninggalkan ruang ICU.
Dilain Tempat...
Mau tidak mau Ansel harus berhadapan dengan raja vampir tepatnya ayah Olivia, jika bukan karena memberitahu keadaannya ia tidak akan secepat ini berhadapan dengan ayahnya.
Merubah wujudnya seperti serigala setengah manusia agar K2 tidak mengenalinya sebagai Ansel murid dikelas sejarah.
Ansel langsung berhadapan dengan Amor yang selalu menjaga pintu masuk asrama kediaman Sagara.
"Bangsa serigala? Apa yang membuatmu kemari?"
"Aku ingin bertemu dengan rajamu, ini soal.. Putri White"
"Tanpa kau suruh asistenku aku akan datang langsung menemuimu"
__ADS_1
Vernon yang ditemai oleh kedua putranya segera berhadapan dengan bangsa serigala tepatnya pangeran dari keluarga Anderson.
"Kenapa putriku? Katakan"
"Kemarin.. klan vampir dari keluarga Xendrick berhasil mengambil jantung Putri White"
--Zziingg--
Ujung samurai milik Kenzo hampir mengenai hidungnya, dengan sorotan matanya yang berkilauan itu membuatnya hanya bisa menelan ludah.
--Gleekk--
"Apa Rendra? Atau.. ibunya? Jawab aku atau samurai ini akan mematahkan hidungmu!"
"Rendra.. saat ini putri sedang berada dirumah sakit dan membutuhkan pendonor untuk transplantasi jantung karena untuk sementara waktu putri hanya bisa menggunakan jantung sementara dari kalungnya itu" jelasnya.
Kenzo menarik kembali samurainya.
"Kerahkan pasukan di kastil untuk menyerang kediaman Xendrick!! Ini tidak bisa dimaafkan"
"Aku mengerti yang mulia" jawab Amor.
Rendra benar-benar salah langkah jika berurusan dengan keluarga Sagara, bahkan Vernon sampai mengerahkan seluruh pasukan yang ada di kastil kediamannya untuk mengepung keluarga Xendrick karena telah berani mengambil jantung putrinya.
Sesudah memberitahu mereka Ansel tanpa pamit pergi begitu saja, karena terlalu takut oleh samurai yang dipegang Kenzo tadi.
"K2, ayo lihat adikmu di rumah sakit ayah khawatir sekali dengannya"
"Baik ayah"
Kemudian mereka pergi untuk melihat keadaan Olivia yang sedang koma di rumah sakit.
*********
Koridor Rumah Sakit.
Viona yang sedang mengambil resep obat saat itu tidak sengaja mendengar kedua suster itu bergosip tentang gadis yang baru saja masuk ke ruang ICU, karena penasaran ia mencoba menguping pembicaraan mereka.
'kasihan sekali ya pasien di ruang ICU hidupnya tidak akan lama lagi'
'apalagi melihat luka gigitan di tubuhnya itu membuatku sangat merinding'
'apa keluarganya tahu? dengar-dengar dia dibawa oleh suaminya'
'entahlah aku bukan keluarganya mana mungkin aku tahu'
Siapa orang yang dirawat di ruangan ICU? Kenapa aku ingin tahu? batin Viona.
Rasa penasarannya semakin ingin mengetahui siapa yang berada diruang ICU, tidak ingin menunda lagi Viona langsung mencari ruang ICU yang dimaksud suster tadi.
Setelah menelusuri beberapa ruangan akhirnya ia menemukan ruang ICU yang terlihat seorang gadis terbaring di hospital bed, baginya gadis itu tidak begitu asing seperti pernah bertemu sebelumnya.
"Olivia?"
--Kreekk--
Tidak tahu mengapa saat melihat Olivia yang dimaksud oleh suster tadi hatinya terasa sakit melihatnya terbaring lemah dan belum sadarkan diri sampai sekarang.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau membuatku khawatir? Tidak melihatmu sehari saja membuatku gelisah"
Air mata turun membasahi pipi Viona ketika membelai rambut muridnya itu, kekhawatirannya bukan untuk muridnya tapi seperti ibu yang sedang khawatir dengan putrinya.
"Ibu..." suara lemah Olivia mulai terdengar.
"Ibu disini!"
Perlahan Olivia membuka matanya dengan lemah, ia berusaha meraih wajah Viona namun sayangnya matanya terpejam kembali lalu tangannya yang mulai melemah terjatuh begitu saja.
--Tiiitttt...--
__ADS_1
"Olivia! Kau kenapa?! Jangan tinggalkan ibu.."