
Satu rahasia lagi yang ia tidak tahu selama ini akhirnya terungkap ayahnya memberitahu Olivia tentang reinkarnasi sang ibu sosok wanita yang selalu ia cari-cari selama ratusan tahun. Vernon sudah memutuskan untuk memberitahu kebenarannya jika tidak mungkin putrinya akan membencinya karena kebohongan yang ia tutupi.
Sebelum ketiga anaknya berangkat ke sekolah Vernon menyuruh mereka untuk duduk sebentar karena ia ingin berbicara serius dengan anak-anaknya.
"Ada apa ayah?"
Vernon menghela nafas panjangnya ia ragu-ragu untuk mengatakannya padahal ia sudah memikirkan dengan matang akan memberitahu Olivia.
"Begini.. White, sebenarnya.. kau sudah menemukan dia"
Dengan ragu Vernon berbicara.
"Dia? Siapa ayah?"
Putrinya seperti tidak tahu apa yang selama ini ia cari.
"Ibumu"
--Braakk--
Olivia langsung menggebrak meja dengan keras karena perkataan ayahnya.
"Dimana ayah? Apa dia ada didekatku? Jadi selama ini aku telah menemukan ibu?"
Wajah bahagia Olivia terlihat oleh ayahnya dan K2.
Mereka memang mengharapkan reaksi yang seperti ini namun firasat tidak enak selalu saja muncul dibenak Vernon maupun K2.
"Ini foto ibumu, selama ini ayah selalu merahasiakannya darimu" lalu Vernon memberikan foto Sonya pada putrinya.
Dengan tangan gemetar Olivia perlahan membalikkan foto sang ibu.. Terlihatlah wajah sang ibu yang membuatnya begitu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata ia hanya bisa meneteskan air matanya sambil menggenggam erat foto ibunya.
"Ibu.. Dia ibuku?"
Air mata yang terus mengalir kini sudah membasahi pipi Olivia.
Ternyata selama ini ia sudah merasakan kasih sayang ibu dari ibu kandungnya sendiri dan bukan orang lain. Pelukan hangat saat diUKS, menghabiskan waktu bersama di perkemahan, saling bertukar cerita dan kekhawatiran dari sosok ibu jawabannya adalah benar Viona reinkarnasi Sonya White.
Saat ia hendak mencari Viona namun K2 menghentikannya.
"Jangan gegabah, jika kau menceritakan semuanya pada bu Viona.. apa kau yakin dia akan percaya? Aku takut kau akan dianggap halusinasi karena terlalu merindukan sosok ibu"
Perkataan Kenzo membuatnya tersadar benar apa katanya ia tidak boleh gegabah, hanya perlu waktu untuk menjelaskan dan meyakinkan Viona.
"Kendalikan emosimu, kau tidak sendirian aku selalu membantumu bagaimanapun aku dan Kenzo adalah kakakmu walaupun kita beda ibu" jelasnya.
"Ingatan dimasa lampau sulit untuk di kembalikan, jadi.. kau hanya perlu sering-sering meluangkan waktu dengan Viona" lanjut Kelvin yang menarik adiknya untuk duduk kembali.
Susah menerima semua ini setelah mengetahui reinkarnasi sang ibu tapi mau bagaimana lagi, tidak ada cara lain untuk meyakinkan Viona selain dengan perlahan-lahan tapi pasti.
"Ayah mohon kau tetap tenang, kemari nak"
Olivia segera memeluk tubuh ayahnya dan menumpahkan semua air matanya yang mengalir sampai membasahi pakaian ayahnya.
"Maafkan ayah karena menyembunyikannya darimu" Vernon terus menepuk-nepuk punggung putrinya.
__ADS_1
"Ayah ingin berjanji padaku satu.. hikss.. hal?"
Ia melepaskan pelukan ayahnya dan bersuara.
"Apa itu? Katakan ayah akan menepatinya"
Olivia mulai menghapus air matanya dengan kasar.
"Jika nanti ibu ingat semuanya aku ingin kita tetap tinggal di dunia manusia, tapi.. jika bu Viona memang bukan reinkarnasi ibu ayo kembali ke kastil"
Nada suaranya seperti menyerah jika ia akan menerima bahwa ibunya sudah benar-benar tiada dan tidak akan kembali lagi.
"Baiklah, sudah sana berangkat kalian K2 jaga adik kalian dengan benar" perintahnya.
"Kami tahu ayah"
Aku berharap kau adalah Sonya dan kau bisa menyembuhkan penderitaan White. batin Vernon.
**********
Parkiran Sekolah.
Sebelum mereka turun dari mobil Kelvin bisa melihat jelas dari mata adiknya itu, masih tertuju pada gurunya yang sedang menyapa para murid-muridnya dengan tatapan kosong.
K2 sangat tahu bahwa adiknya ingin sekali menghampiri Viona dan memeluknya lalu melepaskan rindunya pada sang ibu.
Segera Kenzo dan Kelvin sama-sama mengacak-acak rambut Olivia yang pada saat itu sedang melamun.
"Sudah sudah! Nanti ada saatnya kau bisa memeluk ibumu sepuasnya, sekarang kita masuk ke kelas yuk? Kita hampir telat" ujar Kenzo dengan lembut.
"Ayo tuan putri senyum, mana senyumnya? Mana kata-kata rempong atau gunung es? Itu kan julukan yang kau berikan untuk kami?" tanya Kelvin.
"Biarkan dia, dia perlu waktu sendiri"
Mereka juga segera menyusul Olivia yang sudah duluan pergi ke kelas.
**********
Kelas Sejarah.
Saat tiba dikelas Olivia yang diikuti K2 melihat kursi milik Rendra diduduki oleh seseorang, pikirannya terganggu lagi oleh ketidakhadiran pria yang selalu duduk disana dan memperhatikannya.
Dia kemana? Apa benar dia sudah tidak sekolah disini lagi dan kembali ke dunianya? batin Olivia.
"Apa kau mencarinya?"
Seseorang mengagetkannya ia sontak menoleh kearah sumber suara yang berhasil membuatnya terkejut.
"Apa?"
Orang itu tidak berani mengatakan sesuatu karena tatapan Olivia kali ini membuatnya merasa takut.
"T-tidak, lanjutkan lah"
Olivia hanya memutar bola matanya.
"Selamat pagi murid-murid ibu!"
__ADS_1
"Pagi juga bu Viona!"
Senyum cerahnya membuat ekspresi wajah Olivia berubah dengan sekejap mata ia yang tadinya dingin dan cuek sekarang mengeluarkan senyum manis seperti biasanya.
"Ibu.." gumamnya.
Seseorang tiba-tiba melemparkan segumpal kertas yang berisikan pesan untuknya Olivia mengambil surat itu dan membacanya.
Kau berbohong padaku? Mana buktinya kau ingin menghabisi Kelvin? Olivia! Jangan pernah bermain-main ya denganku.
Angel.
Jika bertanya siapa yang melemparkan surat itu? Jawabannya adalah Angel karena hanya ia yang menginginkan kakaknya mati.
Ia menoleh kearah Angel kemudian ia tersenyum meledek.
-Tak tak tak-
"Olive!!" teriak Gavriel dari luar kelas.
Gavriel yang baru datang langsung menghampiri temannya itu dan memasang wajah memelas.
"OMG! Wajahmu kenapa? Murung begini?" laniutnya dengan khawatir.
"Eehkhem! Gavriel duduk! Ini masih jam pelajaran bicaralah nanti setelah jam istirahat" ujar Viona sambil menunjuk ke kursinya.
"Baiklah bu" kemudian Gavriel duduk seperti biasa disamping temannya ini.
Suasana kelas kini berbeda dengan biasanya, Olivia yang selalu menoleh ke belakang tempat dimana Rendra selalu duduk disana kini tidak lagi, sekarang yang ia lihat adalah orang lain.
Apa dia kembali lagi ke kastil kediaman Xendrick? batin Olivia.
Kegelisahannya mulai menghantui pikirannya sendiri, sekarang ia merasa bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Ibu! Saya izin ke toilet sebentar" ujarnya segera bangkit dari duduknya.
"Silahkan" jawab Viona dengan senyum ramah.
**********
Koridor Sekolah.
Harusnya Olivia bahagia karena sudah menemukan reinkarnasi ibunya namun sayangnya tidak semudah itu untuk membuat ibunya yakin jika ia ini adalah putri kandung Viona.
Tiba-tiba Angel menghampirinya disaat-saat emosinya sedang naik, apalagi jika bukan menagih janjinya untuk membunuh Kelvin.
"Mana janjimu, kau sudah berani ingkar dengan kata-katamu sendiri? Apa kau masih ingin tinggal di dunia manusia?"
Olivia hanya mengangkat alisnya ketika Angel sedang mengintimidasinya.
"Coba saja kalau kau berani membongkar identitasku, aku sama sekali tidak takut denganmu"
"Aku yakin jika aku mengancammu dengan cara ini kau pasti tidak bisa menolaknya. Bunuh Kelvin atau aku akan menghabisi bu Viona, guru tersayangmu"
Bukannya menyerah Angel justru semakin nekat akan menghabisi gurunya agar ia mau mengikuti perintahnya.
--Bugh--
__ADS_1
"Kau yang akan aku habisi"