
🎶We don't talk anymore 🎶 (Jane)
Ponsel Pricilla yang terletak di ranjangnya berdering sepagi ini tepatnya pukul 7.30, siapa lagi kalau bukan Jane sepupunya itu. Segera ia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari Jane.
"Ya, Jane?" jawabnya lalu mengambil jaket kulit berwarna hitam yang ada di sofa.
'Kau dimana? Cepatlah ke sekolah bantu aku'
"Baiklah, lima menit lagi aku akan segera sampai"
'Okay'
Pricilla memakai jaketnya yang ia tenteng tadi, lalu bercermin sebentar untuk menata rambutnya, namun Pricilla dikejutkan dengan kalung berliontin permata merah darah yang tiba-tiba ada di lehernya.
"Kalung? Sejak kapan aku memakai kalung sebagus ini?" gumamnya.
Kemudian ia mencoba melepaskan kalungnya tapi sayangnya...
"Aneh.. kenapa tidak bisa dilepas? Apa ada seseorang yang sengaja memakaikan kalung ini padaku?"
Ia memijat dahinya dengan kedua tangannya itu seolah-olah tidak mau memikirkan tentang kalung yang melingkari lehernya.
Keluar dari kamar dan segera menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat karena Pricilla sedang dikejar waktu.
"Berhenti disana!!"
Mendengar sang ayah menghentikan langkahnya ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap ayahnya.
"Duduklah nak ayahmu ingin bicara serius denganmu"
Pricilla menurut saja dengan sang ibu namun ia duduk dipinggiran sofa sambil melipat kedua tangannya.
"Pricilla! Sopan sedikit pada ayahmu" bisiknya dengan suara keras.
"Baiklah ibuku tersayang" dengan senyuman lebar pada ayahnya ia segera membenarkan posisinya di sofa.
"Apa benar kata Jane, kau tersambar petir akibat ucapanmu sendiri kemarin?" ucapnya tatapan matanya seperti mengintimidasi.
Jane!! Kau mengapa kau mengatakan hal memalukan ini pada ayahku!!
"Hehehe, ya dia benar" jawabnya sambil cengengesan.
"Kau mencintai bangsa vampir? Apa kau tahu larangan mencintai bangsa vampir? Itu artinya kau telah melanggar aturan"
Mencintai bangsa vampir? Apa maksudnya?
Ia baru tersadar dengan pertanyaan Jane kemarin, tapi ia sama sekali tidak menyukai bangsa vampir dari keluarga manapun, apalagi bertemu dengan bangsa vampir itu tidak mungkin karena yang ia temui adalah manusia.
"Ayah, salah paham aku mana mungkin mencintai bangsa vampir"
"Jika tidak, mengapa kau tersambar? Harusnya kau aman-aman saja dan tidak tersambar kan?"
Pertanyaan ayahnya semakin memojokkannya.
"Dan lagi.. kau melanggar aturan sekolah, pergi meninggalkan kelas dalam waktu pelajaran, tidak mau tinggal di asrama dan berlaku tidak sopan dengan gurumu" lanjutnya.
Gleekk
Tatapan mata ayahnya seperti irisan pisau yang tajam dan membuatnya tidak bisa berkutik lagi.
"Ibu..." nada bicaranya kini seperti anak kecil yang memohon bantuan pada ibunya.
"Ibu tidak bisa membantumu maafkan aku putriku"
Pricilla serasa ditindas oleh musuhnya.
"Pelayan! Siapkan koper putri!!"
"Baik yang mulia"
Haris Martinez raja serigala yang paling berkuasa di area hutan dan paling dihormati oleh bangsa serigala lainnya, mempunyai anak semata wayang bernama Sky Pricilla tepatnya calon ratu serigala yang akan memimpin pasukan serigala dimasa depan.
"Seleksi ratu serigala akan berakhir 2 minggu lagi, jadi kau harus berusaha lebih keras dan jika kau gagal maka Jane lah yang akan menjadi ratu serigala, Jadilah manusia serigala yang terlatih seperti calon suamimu"
Calon suami apanya!! Walau begitu Jane diam-diam menjadi sainganku untuk mendapatkan gelar ratu serigala? Tidak tidak!! Jane... hanya akulah yang akan terpilih menjadi ratu serigala.
Ia menggerutu dalam hatinya.
Pricilla menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan ibu dan ayahnya yang masih duduk di sofa.
"Pricilla!!" panggil Stella selaku ibunya.
Buru-buru Pricilla memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya.
Brruuummm
Haris dan Stella hanya menatap motor putrinya yang sudah menjauh dari pandangan mereka.
"Kau terlalu keras padanya, lihat sekarang? Dia jadi pembangkang seperti ini?" ucapnya menyalahkan Haris.
"Kau apa? Selalu memanjakannya!!" jawabnya meninggikan suaranya pada istrinya.
****
Parkiran Sekolah.
Baru saja sampai disekolah ia sudah didatangi oleh Rendra yang berdiri di hadapannya saat ini, tatapan mata lelaki itu penuh arti menatap wajah Pricilla dengan tatapan yang mendalam, walaupun wajah gadis itu saat ini tertutup oleh helm tapi Rendra bisa melihatnya dengan jelas.
Sekarang lelaki itu tersenyum lalu Rendra melepaskan helm yang menutupi wajah Pricilla. Dengan tatapan malas Pricilla menghindari pria yang ada di depan wajahnya.
Namun Rendra menariknya kedalam pelukannya dan memeluknya dari belakang.
"Sudah aku bilang, jika kau sudah tertangkap olehku kau tidak bisa lari"
"Lepas!! Lepaskan aku!! Ini sekolah jaga sikapmu!" ucapnya sambil meronta-ronta.
"Tidak mau, biarkan saja begini"
"Lepaskan dia!!"
Ansel segera menarik tangan Pricilla lalu menyembunyikannya di belakangnya.
"Kenapa kau selalu mencari masalah?" lanjutnya.
"Mencari masalah? Dia adalah wanitaku bagaimana bisa aku mencari masalah dengan wanitaku sendiri!!"
Emosinya meledak-ledak setiap berhadapan dengan Ansel.
"Wanitamu? Pricilla ini adalah tunanganku, jadi jangan berharap kau bisa merebutnya dariku!!"
__ADS_1
Tunanganku? Jangan-jangan dia ini... raja serigala?
Genggaman hangat terasa di sela-sela jarinya.
Cup
Dihadapan Rendra ia mencium tangan Pricilla dengan tatapan meledek seolah-olah mengisyaratkan bahwa Rendra kalah.
Apa benar kau tunangannya? Jawab aku Pricilla.
"Rendra!!"
Pricilla terkejut melihat siapa yang memanggil Rendra lalu memeluknya dengan erat.
"Olivia? Kau masih hidup? Lalu kau siapa?!!!" bentak Rendra yang masih memeluk gadis misterius itu.
"Heh, dia itu Pricilla orang yang kebetulan mirip dengannya dan.. Olivia bukankah kau sudah tiada?" tanya Ansel mengangkat alisnya.
Hatiku kenapa sakit? Tidak mungkin aku menyimpan perasaan terhadap manusia itu.
"Aku baru keluar dari rumah sakit, dan... tidak tahu mengapa aku bisa bangun dan seperti sekarang ini" ucapnya meyakinkan mereka terutama Rendra.
Wanita tadi adalah Olivia yang sudah tiada dan kembali lagi namun Ansel masih ragu jika itu benar-benar Olivia, kecuali Rendra ia tidak ragu sama sekali malahan ia memeluk wanitanya dan mencium dahinya.
"Sudahlah yang penting aku tahu kau masih hidup, dan kau jangan mencoba untuk mendekatiku lagi" tatapannya mengarah kepada Pricilla.
"Sebaiknya kita jangan bicara disini, aku tidak mau melihat dua orang itu"
Sifat dan karakternya jelas berbeda dengan Olivia White ia tidak pernah bersikap seperti itu, kecuali jika dirinya sedang emosi barulah sifatnya berubah dengan cepat.
"Baiklah tuan putri" ujarnya sambil menggenggam erat tangan Olivia.
Pricilla meneteskan air mata seolah-olah seperti diabaikan begitu saja setelah mereka berciuman kemarin.
"Aku tidak yakin Olivia masih hidup, apa kau berpikiran yang sama denganku?" tanya Ansel.
Buru-buru ia melepaskan tangannya dari genggaman Ansel.
"Eeerr.. kupikir memang benar dia adalah Olivia, lagipula bukankah bagus? Tidak ada lagi yang menganggapku sebagai Olivia? Kenapa kau tidak bereaksi yang sama dengan dia?"
"Kau tahu kan? Ketika seseorang dibutakan oleh cinta? Ya seperti itulah Rendra ketika menemukan gadis yang dicintainya dia tidak ragu ataupun curiga sama sekali dengan wanitanya"
Ansel bukanlah pria yang mudah percaya pada siapapun atau dibodohi oleh siapapun, meskipun sebenarnya ia ingin sekali memeluk gadis yang disukainya itu tapi Ansel merasa jika gadis itu bukanlah dia.
Pricilla menghapus air matanya yang menetes tadi dengan kasar.
"Aku.. harus pergi sekarang sepupuku sedang menungguku" segera ia berjalan menjauhi Ansel.
"Hati-hati, Pricilla" langkah kakinya terhenti saat Ansel menyebut namanya.
Ia menoleh kebelakang lalu tersenyum tipis melihat wajah Ansel yang menatapnya.
"Ya"
Melihat Pricilla menjauh dari hadapannya Ansel semakin yakin untuk mengejarnya, sampai ia benar-benar mendapatkan hatinya.
"Aku tahu kau reinkarnasi Olivia, cepat atau lambat ingatanmu pasti akan kembali dan.. gadis yang mengaku-ngaku sebagai Olivia, aku pastikan dia besok tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi"
****
Kantor Guru.
"Pffrrtt"
Pricilla tertawa kecil sambil bersandar di pintu masuk.
"Sky.. bantu aku untuk membujuk pak kepala sekolah agar aku bisa satu kelas dengamu" ucapnya sambil memohon.
"Haha baiklah baiklah, pak biarkan sepupu saya satu kelas denganku ya? Kasihan dia murid baru"
"Tidak bisa Pricilla kelas sejarah sudah penuh, sepupumu sudah bapak atur dikelas fisika aturan tetap aturan jangan membantah sedikit pun" jelasnya.
"Jika bapak tidak memperbolehkan aku untuk satu kelas dengan Pricilla, aku akan menyuruh direktur utama dari sekolah high school untuk memecat bapak" ancam Jane.
Triknya boleh juga walaupun dia mengadu.
"Yasudah kau boleh satu kelas dengan Pricilla"
"Yes!! Terima kasih bapak"
Koridor Sekolah.
Melihat bagaimana Rendra begitu menempel dengan gadis yang mengaku dirinya adalah Olivia hatinya seperti tertusuk duri, belum lagi melihat Viona yang menggenggam tangannya dan bersikap layaknya seperti seorang ibu terhadap gadis itu.
Seharusnya ia sedang karena sudah tidak ada orang yang menganggapnya sebagai Olivia lagi, tapi Pricilla merasa emosi dan kesal karena orang-orang itu menjauhinya.
"Sky!! Dia siapa? Apakah dia Olivia? Dia mirip sekali denganmu, tapi aku tidak yakin jika dia adalah gadis suci itu"
Jane juga ikut terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Gadis suci?" gumamnya.
Tangannya menggepal kuat ketika gadis itu menatapnya dengan tatapan kemenangan.
"Sky.. kau tenang.. tidak boleh berulah disini!! Kau mau identitasmu terbongkar?" bisiknya.
"Diam atau ku patahkan lehermu!!!"
Jane hanya mengangguk cepat karena tidak berani melawan seorang sepupunya itu.
Dilain tempat...
Olivia berhasil membuat emosi Pricilla memuncak hingga tangannya menggepal kuat begitu melihatnya, ia merasa terancam ketika Pricilla menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ibu, Rendra aku takut ditatap oleh dia! Dia siapa sih mirip sekali denganku apa dia operasi plastik agar mempunyai wajah sepertiku?"
Pricilla dan Jane datang menghampiri Olivia dengan emosi yang meledak-ledak.
Plaakk
Karena emosinya sudah tidak bisa tertahan lagi akhirnya Pricilla menampar Olivia dengan keras dihadapan Viona dan Rendra.
"JAGA UCAPANMU!! SEJAK KAPAN AKU OPERASI PLASTIK AGAR TERLIHAT MIRIP DENGANMU? Oh? Atau jangan-jangan kau yang meniru wajah orang yang sudah tiada!!?"
Kata-katanya berhasil membuat Olivia tertegun ketika mendengar sindiran darinya.
"Aku.."
"Pricilla kau keterlaluan mengapa kau menampar Olivia? Walaupun kalian mirip tapi setidaknya kau jangan kasar, apa kau benar operasi plastik agar mendapatkan perhatian semua orang terdekat Olivia?"
__ADS_1
Viona ikut-ikutan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Olivia tentangnya.
"Pricilla kau membuatku kecewa dengan sikapmu, jangan kau pikir kau adalah dia dan kau bisa seenaknya begini?"
Apa aku seperti itu dimata kalian? Aku hanya membela diri... Tapi malah jadi begini? batin Pricilla.
"Lebih baik kau tenangkan dirimu, jangan sampai membuat orang lain curiga biar urusan disini aku yang urus, sana pergi"
Sesuai instruksi darinya Pricilla pergi meninggalkan mereka yang masih berdebat.
"Kalian sudah, aku tidak apa-apa kok" ucapnya dengan lembut.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau sudah ditampar oleh si peniru itu"
Pricilla menghentikan langkahnya ketika Rendra mengatainya 'si peniru'.
Peniru? Sejak kapan? batin Pricilla.
"Pricilla adalah Pricilla dia sama sekali tidak merasa bahwa dirinya adalah kau, dan Ibu Viona aku sarankan kau lebih baik jangan terlalu percaya pada orang bisa saja dia menipu dengan cara yang berbeda"
"Kalau begitu saya permisi" lanjutnya.
Viona mencoba untuk mencerna perkataan Jane barusan, bisa saja dia menipu dengan cara yang berbeda? Viona masih tidak paham apa yang dimaksud gadis tadi.
Begitu pun Rendra mulai ada keraguan dihatinya dan perasaan bersalah karena sudah membentak Pricilla, namun ia mencoba menghilangkan perasaan itu dan fokus pada Olivia yang baru saja kembali.
Apa aku terlalu keras dengannya tadi? Tapi memang benar sekarang aku merasa ragu tapi tidak, dia adalah Olivia wanita yang kucintai tidak ada yang lain. batin Rendra.
"Sudah sudah lebih baik kalian masuk kedalam kelas, ibu akan menyusul"
Kelas Sejarah.
Viona mengumumkan kepada semua murid yang ada dikelas sejarah bahwa Olivia sudah kembali bersekolah. Reaksi K2 begitu terkejut sampai melebarkan mata mereka.
"Anak-anak Olivia White sudah kembali bersekolah seperti biasanya, ibu harap kalian bisa menjaga sikap kalian karena dia baru saja keluar dari rumah sakit"
Sialnya Richard membuat semua murid diam agar tidak bertepuk tangan atas kembalinya Olivia, karena ia juga merasa ragu dengan sosok gadis yang mengaku-ngaku dirinya adalah putri White.
Kenapa tidak ada sambutan untukku? Cih tidak seru sekali. batin Olivia.
"Baiklah Olivia tempat dudukmu disana" menunjuk ke kursi yang ditempatkan Pricilla.
"Tidak bisa, itu tempat duduk Pricilla bu!" ucap Kelvin yang menolak Olivia untuk duduk dimeja paling depan.
"Kak, kau ini kenapa? Aku adikmu bukan dia"
Jelas saja mereka berdua bersikap seperti tidak senang melihat kembalinya Olivia, karena bagi K2 adiknya selalu memiliki aroma khas gadis suci namun tidak bagi adiknya yang saat ini masih berdiri kokoh di tempatnya.
"Kalian berdua kakak macam apa? Dia adikmu bukan orang lain!!"
Braakk
"Cukup!!"
Ansel menggebrak mejanya lalu menganggukkan kepalanya untuk memberi isyarat kepada K2, mereka bertiga seperti merencanakan sesuatu untuk menangani masalah gadis yang mengaku-ngaku sebagai Olivia.
Kenzo mengeluarkan sihirnya untuk membuat semua orang yang ada dikelas terutama Viona tertidur pulas sekaligus menghapus ingatan tentang gadis peniru mendiang Olivia.
"Apa kau sudah buta? Dia ini bukan adikku!!"
"Buta apa wajahnya ini memang adikmu kenapa kau--"
"Dia adalah Angel!! Ansel bawa dia ke belakang sekolah"
Tak butuh waktu lama ia membawa Angel ke belakang sekolah dengan secepat kilat.
"Jika tidak percaya, kau bisa lihat sendiri" ucap Kenzo yang enggan menatap Rendra.
Diwaktu yang sama...
Pricilla melampiaskan kekesalannya dengan mencakar pohon yang ada di hadapannya saat ini.
Tidak menyangka kehadiran Olivia akan mempengaruhi semua orang terhadapnya bahkan Rendra menganggapnya peniru? Tidak masuk akal sekali baginya.
"Aku bukan peniru!! Apalagi operasi plastik hanya demi perhatian semua orang!!"
"Aarrgghh" dengan emosinya ia mencakar pohon itu lagi.
Bruukk
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya Ansel yang melempar Olivia kearahnya.
"Lampiaskan emosimu padanya, dia bukan Olivia tapi.. Angelina Albert bangsa vampir dari keluarga Albert yang mempunyai kemampuan sihir meniru seseorang"
"Berhenti!! Jangan sakiti dia!!"
Ansel menghalangi Rendra agar tidak menggangu Pricilla untuk menghabisi gadis itu.
"Kau yang berhenti!! Lihatlah bagaimana wajah asli gadis yang mengaku-ngaku sebagai wanitamu"
Gejolak serigalanya muncul saat berhadapan dengan musuhnya, Pricilla segera menendang wajah Angel dengan cara menyamping lalu memelintirkan tangan Angel dan mematahkannya menggunakan siku tangannya.
Braakk
Kraakk
"Apa kata-kata terakhirmu? Sebelum kehilangan kepalamu?"
Tidak ada jawaban sama sekali dari Angel.
"JAWAB?!"
"Aku.."
Dengan tidak sabaran Pricilla yang hendak memutar memelintirkan kepala Angel namun dihentikan oleh Ansel, ia juga mengingatkan Pricilla tentang seleksi ratu serigala.
"Tahan! Jangan sampai kau bunuh dia, kau ingat seleksi ratu serigala?"
Ekspresi wajah Pricilla berubah seketika. Sesuai perkataan Ansel ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghabisi Angel.
"Pergi atau aku berubah pikiran"
Angel dengan wajah yang sudah kembali seperti dirinya pergi meninggalkan mereka bertiga, Pricilla yang masih menggenggam pergelangan tangan Ansel ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
"Aku salah, aku akan tarik kata-kataku.. bahwa kau bukan peniru"
Lagi-lagi cahaya dari kalung takdir yang masih Pricilla pakai mengeluarkan asap berwarna merah gelap seperti darah, bukan! Itu adalah tanda darah yang mengelilingi tubuh Pricilla sehingga ia merasa aneh pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku dimana"